
Sentuhan lembut bibir Jiya membuat Dilan semakin bergairah. Dilan yang ingin ikut andil membalas ciuman Jiya.
Pengecap rasa Dilan pun menerobos masuk ke dalam rongga mulut Jiya.
Sesi romantis itu pun berhasil membangkitkan perasaan membara yang sempat padam bertahun-tahun lamanya.
Kedua insan yang di balut rasa cinta itu terus beradu rasa sampai-sampai lupa waktu.
Setelah 10 menit berlalu, Dilan yang tak bisa bernapas dengan benar menghentikan kecupan mereka.
“Ada apa? Kenapa berhenti?” Jiya yang ketagihan mencoba mencium Dilan lagi.
“Jangan-jangan!” Dilan menolak karena takut kalau pasar seperti masa lalu.
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang atau mau di sini selamanya?” Jiya mengajak Dilan bercanda.
“Disini juga enggak apa-apa, asal bersama mu.” Dilan meraih tangan Jiya, Lalu menggigit kelingking manis wanita cantik itu.
Jiya yang sudah lama tak mendapat kehangatan dari seorang pria merasa sangat bahagia.
“Dilan, berjanjilah kalau kau tidak main-main lagi pada ku, karena jika kau meninggalkan ku di saat aku telah mencintai mu, aku tidak akan membuka pintu hati ku lagi pada mu.” Jiya berharap kalau Dilan serius padanya.
“Tenang saja, asal kau menetap, aku tidak akan mencari pengganti mu.” kemudian Dilan memeluk Jiya dengan erat.
“Jiya, aku mencintai mu.” Dilan kembali menyatakan perasaannya pada wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya di masa depan.
“Aku juga.” tanpa di duga Jiya memberi tanggapan positif.
“Terima kasih sayang.” setelah itu Dilan melepas pelukannya dan mulai menyetir kembali mobilnya menuju pantai yang akan menjadi tempat mereka berkencan.
***
Lili yang baru sampai di rumah suaminya tercengang bukan main pasalnya ia melihat rumah masa kecil suaminya jauh dari apa yang ia bayangkan.
Ini sih kandang ayam, batin Lili.
Hatinya pun berkecamuk, sedih, kesal, marah dan tak terima dengan keadaan yang menimpanya.
“Meski selama ini hidup ku susah dengan ibu, tapi ini sungguh sangat mengerikan.” seketika Lili merasa sesak nafas, ia juga takut jika tak betah tinggal di rumah itu.
__ADS_1
Namun dirinya yang sebatang kara, hamil muda dan tidak punya siapa-siapa tak bisa pergi kemanapun, alhasil ia hanya bisa menerima apa yang ditakdirkan Tuhan padanya.
Ya Allah aku mohon berikan hamba kekuatan dan ketabahan menerima cobaan yang engkau berikan saat ini pada ku, tolong ya Ilahi segera akhiri penderitaan ini, kirim seorang pria kaya yang bersedia menerima ku dan juga bayi ku, sejujurnya kau juga tahu ya Rahman Aku tidak bisa hidup susah, Lili berdoa dalam hatinya.
“Kau kenapa Li? Ayo turun.” Alex pun berjalan menuju pintu rumahnya.
“Ah, iya Mas.” kemudian Lili mengikuti langkah suaminya.
Lalu Alex membuka pintu dan saat itulah Lili melihat kalau di dalam rumah kecil itu tidak ada perabotan apapun.
Apa tidak ada TV? Astaga, pasti hidup ku sangat membosankan di sini, batin Lili.
Lili mengelus dadanya yang terasa sesak lalu ia pun masuk ke dalam rumah panggung suaminya.
“Silahkan duduk.” ucap Alex menunjuk ke arah lantai papan yang mereka pijak.
“Iya mas.” kemudian Lili mendaratkan bokongnya di lantai papan tersebut, begitu pula dengan Alex.
“Mas aku haus, tolong ambilkan aku minum,” pinta Lili.
“Ambil saja ke sumur,” ucap Alex.
Alex yang tak biasa di suruh-suruh merasa keberatan atas permintaan kecil istrinya yang sedang hamil muda.
“Maaf sayang aku sangat lelah, kau saja yang ambil, nanti sekalian masakan nasi untuk kita,” ucap Alex.
Mendengar perkataan Alex Lili syok bukan main, Alex yang biasa lembut dan menuruti segala keinginannya kini malah berbalik 90 derajat.
Lili yang malas berdebat pun bangkit dari duduknya dan menuju dapur yang berada tepat di hadapannya.
Kemudian Lili yang haus pun mengangkat ceret plastik yang ada di atas meja.
“Ha? Enggak ada air?” guman Lili.
Ia pun menatap kesal ke arah suaminya yang duduk santai seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Dasar suami malas!” Lili yang sudah sangat haus tak tertahankan akhirnya pergi ke sumur yang ada di belakang rumah tersebut.
Lalu Lili melihat air sumur itu begitu jernih, akhirnya ia pun menimbanya dan langsung mengkonsumsinya tanpa memasak terlebih dahulu.
__ADS_1
Gluk gluk gluk...
“Akh... bener-bener seger aku suka.” setelah itu Lili kembali ke dapur untuk memasak namun sayang ia tak menemukan beras di manapun.
“Mas, berasnya ada di mana?” tanya Lili.
“Oh iya aku lupa, aku belum beli beras tolong kau beli ke supermarket Lee Jiya yang ada di depan, jalan kaki paling hanya 7 menit,” ucap Alex.
“Apa?! Kau bilang apa tadi mas? Apa kau gila? Bisa-bisanya mas menyuruh ku pergi ke sana?” emosi yang Lili tahan sedari tadi akhirnya meledak.
”Apa salahnya? Kita kan beli bukan maling.” Alex yang bermuka tebal merasa tidak masalah jika mereka pergi berbelanja ke sana.
“Kau saja, aku sih enggak mau!” Lili lebih memilih menahan perutnya yang keroncongan dari pada pergi menjalankan kakinya ke supermarket mantan madunya.
“Ya baiklah, nanti ku beli setelah aku bangun tidur.” Alex yang ngantuk tak perduli jika istrinya sangat kelaparan.
“Nanti kapan mas? Ini sudah malam, sebentar lagi supermarket itu akan tutup, kalau terlambat bisa-bisa kita enggak makan mas Alex yang paling tampan!” Lili kesal bukan main pada suaminya.
“Lili, besok aku akan pergi bekerja, jadi tolong jangan kau suruh suruh aku lagi, aku tidak suka!” Alex yang tidak memiliki apapun ditambah Lili yang telah jatuh miskin, membuat keromantisan di antara keduanya lenyap.
Tak ada lagi bujuk membujuk di antara keduanya.
“Ya sudah! Kalau itu mau mu, lebih baik kita mati kelaparan!” Lili yang tak ingin di hina orang yang tak ia kenal memilih menyiksa dirinya sendiri.
“Terserah kau saja.” Alex pun bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar.
Lili pun merasa lemas dan bergetar karena belum makan seharian, ia yang merasa berduka menitikkan air matanya.
Tes!
“Takdir sialan! Pada hal aku tak pernah menyakiti hati orang lain, tapi Tuhan malah menghukum ku sampai seberat ini, kalau masalah Alex! Bukankah itu salahnya sendiri? Dia yang mengejar ku!” Lili yang merasa benar tak sadar dengan kesalahan yang telah ia perbuat.
Malam itu pun Lili memilih tidur di ruang tamu yang hanya dapat menampung 5 orang jika duduk bersila.
***
Keesokan harinya, Alex yang telah mandi dan berpakaian rapi bersiap untuk berangkat ke tempat kerja.
“Mas, sebelum pergi beli beras dulu,” ucap Lili.
__ADS_1
“Kau sajalah, aku sudah terlambat.” Alex yang egois tetap tak mau membantu istrinya padahal dirinya ke mana-mana mengendarai sepeda motor.