
Lalu Jiya pun membuka kaca mobilnya, Dilan yang melihat itu pun ikut membuka kaca mobilnya.
Treeett....
“Hati-hati bu,” ucap Dilan.
“Bapak juga.” Jiya tersenyum setelah itu menutup kaca mobilnya dan fokus menyetir.
Dilan yang ada dalam mobilnya tersenyum melihat Jiya yang hari itu nampak sangat berbeda dari biasanya.
Tak lama mereka pun sampai di restoran Lintas Timur, lalu mereka berdua pun parkir bersebelahan.
Dilan yang baru turun melihat Jiya dengan senyum yang mengembang.
“Pada hal kau mau cerai, tapi bisa ya wajah mu riang begitu,” ucap Alex.
“Tak ada satu orang pun yang ingin pernikahannya berantakan, tapi kalau hubungan yang di jalani hanyalah toxic, mungkin janda adalah pilihan yang lebih baik.” Setelah mengatakan itu, Jiya masuk terlebih dahulu ke dalam restoran itu.
“Pada hal suaminya baik,” gumam Dilan.
Kemudian Dilan pun menyusul langkah Jiya yang menuju lantai dua.
“Kita duduk di sana saja.” Jiya menunjuk ke arah salah satu meja yang letaknya paling sudut dan di sebelahnya adalah kaca.
Dari sana mereka dapat melihat pemandangan kebun cabai yang siap panen
“Baiklah.” Dilan hanya menurut apapun yang di katakan Jiya.
“Kau kesana saja duluan, aku mau memesan makanan dulu,” ujar Jiya.
“Oke, aku pesan menu langganan ya.” Alex tersenyum lalu menuju meja yang telah di pilih Jiya.
“Dasar, dia enggak pernah berubah, sesekali pesan menu yang beda, Dilan!” kemudian Jiya pun menuju kasir yang berdiri di depan meja besar sebagai pembatas pelanggan dan karyawan.
Di sana juga ada poster menu yang restoran itu jual.
“Ikan gurame bakar 1, di goreng satu, nasi 2 kepal, cah kangkung dan kelapa muda segar 2, jangan lupa cabainya harus banyak,” pinta Jiya.
“Baik kak, totalnya 850.000, apa masih ada yang lain kak?” tanya si kasir.
“Tidak cukup itu saja,” ucap Jiya.
Kemudian si kasir pun memberikan nomor meja 52 pada Jiya.
“Di tunggu sebentar ya kak,” ucap si kasir.
“Oke.” kemudian Jiya mengambil nomor 52 tersebut lalu beranjak ke meja yang ada Dilan nya.
__ADS_1
“Bagus kan?” ucap Jiya seraya duduk di kursi yang ada di hadapan Dilan.
“Iya, cabainya terlihat segar,” ujar Dilan.
“Iya, banyak yang bilang itu cabai janda,” terang Jiya.
“Serius?” Dilan pikir Jiya sedang bergurau padanya.
“Iya, ku rasa itu cabai paling pedas semuka bumi,” ucap Jiya.
“Berarti pedas banget dong,” gumam Dilan.
“Iya, sama seperti kehidupan yang ku jalani saat ini,” Jiya pun tersenyum pada Dilan.
“Apa aku penyebab kau bercerai dengan suami mu?” tanya Dilan dengan penasaran penuh.
“Tidak, itu murni karena urusan kami berdua, dia mirip dengan mu.” Jiya pun kembali menoleh ke arah kebun cabai.
“Apa maksud mu?” Dilan tak mengerti kenapa Jiya menyamakannya dengan Alex.
“Bedanya, dia nikah lagi, kau pacaran lagi, kau suka kerja sedangkan dia tidak,” terang Jiya.
“Kenapa kau mengatakan hal ini pada ku? Bukankah ini namanya aib?” ujar Dilan.
“Kau benar, tapi rasanya aku butuh teman cerita, tak ada yang bisa ku ajak bicara, selain kau,” ungkap Jiya.
“Kenapa? Bukannya aku juga menyakiti hati mu?” ucap Dilan yang ingin butuh ke jelasan.
“A-apa?” Dilan seketika menjadi gerogi.
“Iya, ayo berteman.” Jiya yang berlapang dada membuat Dilan senang.
“Baiklah, oh ya... tolong maafkan Fitri, ku yakin dia masih mengganggu mu.” Dilan dapat menebak karena ia tahu watak dan kebiasaan kekasihnya.
“Iya, tadi dia juga pakai akun palsu karena aku memblokir akun aslinya,” terang Jiya.
Astaga, Fitri! batin Dilan.
Ia sangat malu dengan tindakan berlebihan kekasihnya.
“Katanya akh ada main gila dengan mu.” Jiya mengatakan sedikit apa yang di katakan Fitri padanya.
“Dia memang begitu,” ujar Dilan.
“Tapi, kalau aku belum menikah, mungkin aku akan menuruti apa yang dia katakan.” Jiya yang ingin balas dendam memberi lampu hijau pada Dilan.
Dilan pun milihat wajah Jiya yang berkata demikian padanya.
__ADS_1
Aku harus jawab apa? batin Dilan.
Ia takut kalau ia salah bicar Jiya malah memutus tali pertemanan mereka.
Sejenak keduanya jadi canggung sampai seorang pramusaji membawa pesanan mereka dengan nampan yang sangat besar.
“Maaf ya kak, sudah lama menunggu,” ucap sang pramusaji.
Keduanya pun tersenyum dan mempersilahkan pramusaji itu menata makanan di atas meja mereka.
“Selamat menikmati.” setelah itu sang pramusaji pun meninggalkan meja Dilan dan Jiya.
“Apa ini?” makanan yang Dilan minta tidak sesuai pesanan.
“Sesekali ganti menu, enggak bosan apa makan spaghetti terus?” Dilan tak mengerti kalau itu adalah ungkapan lembaran baru bagi kehidupan Jiya.
“Ya, kau benar juga, ayo makan.” keduanya melepas rasa lapar yang dari tadi mereka tahan.
Setelah selesai makan Dilan pun iseng bertanya pada Jiya.
“Apa kabar, ibu dan ayah mu?” ucap Dilan seraya menyeka mulutnya dengan tisu kering.
“Enggak tahu, aku sudah lama enggak bertemu mereka,” jawab Jiya
“Kenapa? Apa karena kau sibuk kerja?” Dilan yang tak punya topik obrolan tetap membahas keluarga Jiya.
“Aku di buang karena telah memilih Alex.” Jiya merasa sedih saat mengingat peretemun terakhirnya dengan keluarganya.
“Sudah tahu tak di restui kenapa masih lanjut?” tanya Dilan lebih lanjut.
“Karena hanya dia yang mau menerima ku, dengan segala kekurangan ku. Dulu ku pikir wanita dengan masa lalu kelam seperti ku akan susah mendapatkan jodoh, ternyata aku salah, masih banyak laki-laki yang mencintai wanita dari segi cocoknya, bukan perawan nya,” terang Jiya.
Dilan terdiam mendengar penjelasan dari Jiya, karena ia merasa tersindir.
“Apa kau baik-baik saja?” Jiya melihat wajah resah dari Dilan.
“Apa kau ingin aku menikahi mu?” Dilan berpikir Jiya ingin ia bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.
“A-apa?” Jiya tak menyangka jika Dilan akan mengatakan itu padanya.
“Bukankah tujuan mu mengatakan ini agar aku kembali lagi pada mu?” sikap terus terang Dilan cukup membuat Jiya terkejut.
“Jangan main-main soal pernikahan, itu tidak sama dengan pacaran.” Jiya tak ingin Dilan mempermainkannya lagi.
“Aku tahu, karena itu aku belum menikah sampai sekarang, aku memang sayang Fitri, tapi aku juga memikirkan mu beberapa tahun setelah kita putus, aku bukan menduakan mu waktu itu, kau yang tak ada kabar selama 3 bulan membuat ku cukup patah hati, ku rasa wajar saja kalau aku pacaran lagi dengan wanita lain,” terang Dilan.
“Maaf, waktu itu aku sangat membenci perbuatan mu,” ungkap Jiya.
__ADS_1
“Aku juga benci kau yang mendadak hilang, waktu itu kau hanya menjadikan ku sekedar pacar, aku tak tahu apapun tentang mu, kau juga tak pernah mengizinkan ku untuk mengantar atau menjemput mu ke rumah mu, kau sangat tertutup, sampai disini apa kau masih membenci ku?” Dilan menjelaskan alasan ia tak mengejar Jiya selama ini.