
“Iya sayang.” lalu Alex meletakkan kedua tangannya di kepala Jiya.
Kenapa si nenek ini jadi tiba-tiba manja? batin Alex.
Tapi apa boleh buat, dia harus tetap melakukannya demi tujuan besarnya.
15 menit kemudian Lili datang dengan membawa bubur dalam mangkok kaca yang ia letakkan di atas nampan.
“Jiya sayang, ini buburnya sudah matang.” Lili pun meletakkan bubur tersebut di atas meja.
Lalu Alex yang duduk di atas kursi pun menoleh ke arah Lili.
“Makan dulu Ji, dari tadi kau sibuk banget kayaknya,” ujar Alex.
“Iya Li.” sahut Jiya seraya bangkit dari ranjang dengan raut wajah kesakitan.
“Harusnya kau enggak usah duduk dulu sayang,” ujar Alex.
“Enggak apa-apa mas, aku sudah lumayan sehat kok.” Jiya tersenyum seraya menggenggam tangan suaminya.
“Ya sudah, apa kau mau di suap?” tanya Alex dengan lembut.
“Biar aku saja mas,” ucap Jiya.
“Tapi kaukan belum sehat sayang.” Alex pura-pura perhatian pada Jiya.
“Enggak apa-apa mas, aku lebih suka makan sendiri.” lalu Jiya mengambil bubur yang ada di atas meja.
Lili yang sudah membuat racikan ektra tersenyum saat Jiya mengaduk bubur dalam mangkok itu dengan sendok.
Semoga kau kena tipus atau apapun itu yang membuat mu sakit parah, batin Lili.
Jiya yang kebetulan melihat senyuman jahat Lili menjadi curiga ada yang tidak beres.
“Bang Alex.” Jiya menoleh ke arah suaminya yang ada di sebelahnya.
“Iya sayang?” sahut Alex.
“Apa abang sudah makan?” tanya Jiya dengan tersenyum ramah.
“Belum, setelah kau makan aku dan Lili akan ke dapur Ji,” ujar Alex.
“Benarkah?” Jiya menganggukkan kepalanya, lalu ia pun mengisi penuh sendok makannya.
“Aaak buka mulut mu bang.” Jiya menyodorkan bubur masakan Lili pada Alex.
Lili yang melihat hal itu menjadi panik, ingin melerai takut ketahuan akan perbuatan kejinya.
Ya Tuhan, mas Alex bisa celaka kalau begini! batin Lili.
“Enggak usah sayang itukan untuk mu.” Alex menolak karena tak mau di marahi Lili karena Jiya menyuapnya.
__ADS_1
“Ayolah bang, aku khawatir tahu kalau kau sampai sakit.” Jiya tetap memaksa, apa lagi ia lihat wajah Lili makin tegang saat ia akan memberikan bubur itu pada Alex.
“Jiya, itukan ku buat khusus untuk mu agar kau cepat sembuh, jadi kau wajib menghabiskannya ya.” Lili tak ingin Jika Alex jadi korbannya.
“Terimakasih Li, kau baik sekali, tapi aku juga ingin jagoan terkasih ku bugar, ayo di makan bang?!” Jiya yang ingin menguji masakan Lili, terus menyodorkan buburnya pada Alex.
“Iya sayang.” Alex yang tak tahu apapun malah memakan bubur itu.
Astaga! Bodoh banget sih kau mas! teriak Lili dalam hatinya.
“Bagaimana rasanya bang?” tanya Jiya seraya terus menyuap suaminya.
“Enak gurih dan nikmat, masakan Lili luar biasa.” Alex mengangkat jempol kanannya.
“Apa ku bilang, dia memang pintar memasak bang, ayo habiskan bang.” lalu Jiya memberikan mangkok yang masih berisik bubur tersebut pada suaminya.
Lalu Alex pun menerimanya seraya menoleh ke arah Lili.
“Apa masih ada di dapur? Aku masih mau tambah nih.” Alex ketagihan dengan cita rasa masakan istrinya yang sangat lezat.
“Masih ada mas, oh ya... kenapa kau enggak jadi makan? Apa mau ku ambilkan mangkuk baru?” Lili yang jengkel ingin agar Jiya tetap memakan bubur tersebut.
“Tiba-tiba aku kenyang dan juga ngantuk, apa karena efek pil yang ku minum tadi ya?” Jiya pura-pura bingung agar Lili makin kesal padanya.
“Bisa jadi, kalau begitu kau istirahat saja sayang, aku mau makan ke dapur dulu, nanti aku kembali lagi,” ujar Alex.
“Tapi aku lapar bang, mau makan nasi biasa.” lalu Jiya menoleh ke arah Lili.
“Iya Ji.” Lili sebenarnya tak mau melakukannya tapi dirinya yang berperan sebagai sahabat karib tak bisa menghindari permintaan Jiya.
“Terimakasih Li.” lalu Jiya turun dari ranjang dan merangkul bahu sahabatnya.
“Hati-hati Jiya.” Lili pun memapah Jiya untuk keluar kamar.
“Biar ku gendong saja sayang.” Alex menawarkan bantuan agar Lili tak kerepotan membawa Jiya ke dapur.
“Enggak apa-apa bang, sebaiknya abang ke dapur duluan, buat 1 mangkuk bubur lagi untuk Lili,” pinta Jiya.
Sontak Lili menoleh ke arah Jiya dengan mata melotot.
Tentu saja Jiya melihat itu dari sudut ekor matanya.
Hahaha... entah apa yang kau lakukan, tapi yang jelas bukan sesuatu yang bagus untuk ku konsumsi, batin Jiya.
“Aku lagi enggak selera makan bubur Ji, aku lagi diet.” ujar Lili sebagai alasan karena ia tentunya takut kena senjata makan tuan.
“Oh gitu ya.” Jiya mengangguk setuju, setelah itu ia dan Lili pun menuju dapur dengan langkah perlahan.
Sesampainya keduanya di dapur Jiya dan Lili melihat Alex muntah-muntah hebat di wastafel.
“Hoek! Hoek!”
__ADS_1
“Abang! Kau kenapa?!” tanya Jiya dengan berlagak panik.
Oh, jadi kau taruh sesuatu di bubur itu? batin Jiya.
Astaga, apa mas Alex akan celaka? batin Lili.
Ia sangat khawatir sekaligus takut melihat suaminya mendapat getah akibat ulahnya.
“Apa abang baik-baik saja?” Jiya pun melepaskan tangannya dari bahu Lili.
Setelah itu ia menuju Alex yang masih muntah.
“Abang kenapa? Apa masuk angin?!” tanya Jiya seraya menepuk-nepuk punggung Alex.
“Enggak tahu, hoek!” belum selesai muntah tiba-tiba Alex ingin buang air besar.
Puuuutt!!
Ia pun buang gas dengan bau yang sangat pekat dan menyengat.
Sontak Jiya menutup hidungnya karena tak tahan akan baunya.
“Maaf Ji, aku ke kamar mandi dulu.” Alex pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur tersebut.
Lili yang berdiri di belakang Jiya bergetar, wajahnya jadi pucat karena takut ketahuan.
Lalu Jiya menoleh ke arah Lili dengan tatapan penuh curiga.
“Apa bang Alex salah makan?” ucap Jiya.
“Eng-enggak tahu juga Ji.” sahut Lili dengan suara kikuk.
“Ya Tuhan, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bang Alex?” Jiya menitikkan air mata buaya pertamanya.
“Iya Ji, apa kita bawa dia ke rumah sakit saja?” Lili memberi saran agar Alex cepat di tangani.
“Enggak usah Li, aku punya obat sakit perut dan masuk angin kok di kamar,” ujar Jiya.
Ia yang telah di sakiti kini ingin balas dendam melalui tangan Lili.
Keduanya terus menunggu sampai Alex dengan perasaan harap-harap cemas.
Lili cemas Alex keracunan lalu dirinya akan di selidiki polisi.
Sedangkan Jiya cemas kalau suaminya sampai baik-baik saja. Keduanya begitu tegang sampai lupa makan.
1 jam kemudian Alex pun keluar dengan memegang perutnya.
Rambut dan badannya pun basah, wajahnya juga pucat karena menahan sakit yang belum pernah ia alami sebelumnya.
__ADS_1