
Tak terasa hubungan antara Lili dan Alex telah memasuki satu setengah tahun, Lili juga sudah tak tinggal dengan Jiya lagi, karena Alex telah membelinya rumah tak jauh dari kantor Lili di tugaskan.
Alex dan Lili juga semakin mesra dan lengket seolah tak dapat di pisahkan.
Saat keduanya sedang liburan ke pantai Lili pun meminta uang lagi pada Alex.
“Mas, aku mau beli serum kecantikan dari produksi Mawar yang lagi viral itu loh, banyak yang bilang itu bagus, boleh ya mas biar kau makin cantik.” Lili memeluk mesra Alex, ia tahu jika Alex di beri pelayanan ekstra maka semua keinginannya akan di penuhi.
“Akukan baru memberi mu 100 juta untuk operasi flek hitam dan kerutan halus di area wajah mu.” Alex merasa keberatan karena uang yang ia ambil adalah omset salah satu toko mereka.
“Tapi mas... cream itu bagus banget, dan aku mau itu!” Lili merengek manja pada bank berjalannya.
“Lili, aku akan berikan tapi enggak sekarang juga karena aku baru saja mengambil uang, nanti kalau ketahuan urusannya akan ribet.” Alex tahu petaka akan datang jika ia menuruti keinginan istri mudanya dalam waktu yang berdekatan.
“Aku hanya minta sedikit kok mas, ayolah...” Lili mengecup bibir Alex berulang kali untuk membujuknya.
Alex yang tak bisa menghentikan istrinya pun terpaksa memenuhinya.
“Hufft... memangnya berapa sayang?” tanya Alex dengan menghela napas panjang.
“50 juta doang mas.” Lili mengatakannya dengan santai tanpa sungkan sedikit pun.
“Astaga, itu banyak banget.” Alex ragu untuk memenuhi keinginan istri cantiknya.
“Pokoknya harus ada! Mas wajib memberikannya!” Lili yang tak ingin dapat penolakan langsung menggunakan jurus andalannya.
Wanita menggoda itu pun mendorong tubuh Alex yang sedang duduk ke atas pasir putih pantai yang begitu indah.
Selanjutnya ia duduk di perut suaminya dan melucuti semua bajunya.
“Jangan disini sayang! Nanti ada yang lihat.” Perbuatan nekat Lili membuat Alex ketar-ketir.
Pasalnya jika keduanya tertangkap basah oleh pengunjung mereka bisa terancam masuk penjara.
“Tenang saja mas kita aman kok, karena tadi aku melihat di daftar tamu saat mengisi data diri baru kita yang datang kesini,” ujar Lili.
“Di resort saja kalau kau mau bercinta!” meski begitu Alex tetap takut kalau mereka akan bernasib sial.
__ADS_1
Tapi Lili yang berani langsung membuka baju Alex dan melakukan penyatuan di alam terbuka tersebut.
Berkat ke gigihan Lili, akhirnya Alex memberikan uang yang ia minta.
🏵️
Jiya yang ada di toko Lee Jiya cabang 2 melihat keanehan pada toko tersebut pada saat ia meminta laporan sales bulan itu.
Dimana Jiya melihat report sales dalam komputer di minggu kedua bulan itu menunjukkan 1 milyar rupiah.
Jiya pun membuka aplikasi mbanking dari handphonenya.
Lalu ia memastikan jumlah uang dari toko itu sama atau tidak dengan yang di komputer.
“Apa-apaan ini? Kenapa hanya ada 900 juta?” Jiya sengaja membuat akun bank untuk setiap toko yang mana rekeningnya ia pegang sendiri.
Ia melakukan itu dengan tujuan agar memudahkan dirinya melihat selisih penjualan setiap tokonya.
“Yanto.” Jiya memanggil manager tokonya yang sedang sibuk mencek barang masuk dengan memegang faktur di tangannya.
“Iya bu?” Yanto pun menunda sebentar pekerjaannya lalu mendatangi Jiya ke bagian office.
Yanto geleng-geleng kepala dan tak berani menatap mata Jiya.
“Maaf bu, saya enggak tahu.” Yanto bungkam karena Alex telah mengancamnya, jika ia buka suara maka ia akan di pecat.
“Kok bisa enggak tahu sih?!” lalu Jiya menunjukkan bukti mutasi rekening toko itu.
“Surya itu siapa? Kenapa kau transfer ke dia 100 juta? Apa otak mu sehat? Harusnya kau tahu kalau itu akan ketahuan kenapa kau masih nekat melakukannya?!” Jiya marah besar pada pria berkepala tiga itu.
“Maafkan saya bu.” Yanto yang terpojok bingung harus mengatakan fakta yang sesungguhnya atau tidak.
“Maaf, maaf! Itu uang Yanto! Bukan daun, meski pun aku memecat mu aku masih rugi kecuali kau ganti!” Jiya yang naik pitam ingin uangnya kembali.
“Saya enggak punya uang sebanyak itu bu.” Yanto bergidik ngeri mendengar perkataan Jiya.
“Aku enggak mau tahu! Harus kau ganti sekarang juga, kalau enggak ku tuntut kau ke kantor polisi!” Jiya yang tegas tidak mau mengasihani orang yang tak bertanggung jawab seperti Yanto.
__ADS_1
Yanto yang tak ingin menuai hasil perbuatan Alex memilih buka suara.
“Bu, saya enggak bersalah, saya melakukannya atas pemintaan pak Alex, kalau saya menolak maka aku akan di pecat.” tubuh Yanto bergetar karena ketakutan.
“Kau serius? Yanto, mana mungkin pak Alex melakukan itu, bicara yang jujur atau kau akan menyesal!” Jiya tak percaya dengan pernyataan managernya.
“Saya enggak bohong bu, saya juga takut waktu itu, tapi saya di ancam.” Yanto pun menceritakan kronologi lengkap saat Alex memaksanya untuk mengirim uang tersebut.
Sontak Jiya ingat waktu suaminya mencuri uangnya untuk judi.
“Baiklah, aku akan pastikan sendiri, kalau kau terbukti bersalah maka kau akan ku buang ke penjara!” Jiya yang murka tak main-main dengan perkataanya.
Sebab kesuksesan yang Jiya capai sekarang ia dapat bukan dengan cara instan.
Setelah itu Jiya bangkit dari duduknya dan beranjak pulang.
Selama perjalan Jiya yang duduk bangku belakang supir terus berusaha mendial nomor suaminya, tapi Alex yang sedang sibuk menikmati sunset dengan Lili jelas tak mengangkatnya.
“Siapa mas?” tanya Lili.
“Biasa sayang, si nenek keriput, hehehe...” Alex tertawa cengengesan.
“Yakin enggak di angkat mas? Nanti kalau ada yang penting gimana?” perasaan Lili tak enak saat Jiya masih terus memanggil nomor Alex.
“Paling dia hanya minta jatah, maklumlah sayang inikan Kamis malam,” ujar Alex.
“Oh iya mas benar juga, harusnya kita pilih tanggal lain, kau sih mas ikut-ikutan cuti!” Lili kesal dengan suaminya karena bagaimana pun ia takut kalau sampai Jiya mencium aroma perselingkuhan mereka.
“Sudahlah sayang jangan bahas dia di hari bahagia kita.” Alex yang berpikir semua baik-baik saja malah santai dan semakin berani menghabiskan uang Jiya.
🏵️
“Kemana dia? Kenapa enggak mau mengangkat telepon ku?” Jiya yang lelah menahan emosi makin murka pada suaminya yang entah kemana.
“Awas saja kalau semua benar, ku beri kau perhitungan! Dasar setan!” umpat Jiya.
Sesampainya di rumah Jiya langsung memeriksa semua buku tabungan ke 12 super marketnya.
__ADS_1
“Semuanya lengkap, ku pikir ada yang hilang.” Jiya merasa sedikit lega karena ia tak menemukan bukti kalau suaminya bersalah.