Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Super Jiya


__ADS_3

Jiya si gadis kuat dan ulet serta pantang menyerah bangkit dari duduknya.


Ia yang lebih tinggi dari teman-teman sekelasnya memberi tatapan mata tajam pada Rena dan Siska.


“Gosip apa itu sialan! Apa kau punya bukti?!” Jiya yang power full menjambak rambut Rena.


“A-apa-apaan kau! Lepaskan aku!” pekik Rena.


Lalu Jiya yang hanya ingin menggertak melepas rambut hitam bagai arang milik Rena.


“Orang bodoh sebaiknya belajar keras biar lulus ujian, bukan malah menyebar berita bohong! Dasar, kelihatan banget sih gobloknya!” setelah membungkam mulut Rena Jiya duduk lagi ke kursinya.


Lalu ia pun menoleh ke arah Siska yang mengendus kesal padanya.


“Kembali ke bangku mu, dasar enggak tahu diri! Pada hal baru 2 minggu kemarin aku membantu mu untuk melunasi uang yang kau curi dari dompet bu Lisa, tapi bisa-bisanya kau ikut-ikutan memfitnah ku! Apa otak mu sehat?”


Karena mulut Siska remnya blong akhirnya aib yang Jiya tutup malah muncul ke permukaan.


Sontak Siska menundukkan kepalanya, lalu orang-orang pun mulai membicarakan Siska.


Seketika itu dia di cap maling yang harus di hindari.


Melihat Jiya yang dapat mengatasi segalanya membuat hati Lili murka, karena rencananya untuk merusak mental Jiya gagal total.


Namun meski begitu Lili tak menyerah begitu saja, ia terus menyebar berita bohong lainnya menggunakan nomor yang berbeda-beda setiap harinya.


Dalam pesan elektronik yang paling membuat hati Jiya tak dapat memakluminya adalah.


Jiya itu simpanan om-om, hamil 2 kali dan kandungannya di gugurkan, benar-benar wanita berhati iblis, ✉️ anonim.


Jiya yang tak terima sebenarnya ingin berontak, namun ia memilih diam karena ia tak ingin kepikiran dengan masalah yang ia hadapi.


Jiya yang rusak di dalam harus sedia topeng bahagia setiap saat.


Ia tak ingin kelemahannya di lihat oleh orang lain.


Meski pihak sekolah telah mencoba mengatasi perundungan secara verbal itu, namun nyatanya Lili yang cerdik selalu berhasil membuat hati siapa saja bergejolak kesal melihat Jiya.


Jiya yang di jauhi semua orang kecuali Lili merasa tak jadi masalah.


“It's okay, I'm fine.” itu adalah kalimat penyemangat untuk seorang Jiya yang pantang menyerah


Meski kenyataannya hatinya tak pernah baik-baik saja.

__ADS_1


Jiya yang tak mau pantang menyerah selalu membalas orang-orang yang menganggap remeh dirinya dengan prestasi.


Hingga Lili yang menjadi musuh dalam selimut pun panas dingin


Walau begitu Lili yang lebih pintar akting dari pada Jiya dengan mudah mengelabui sahabatnya, hubungan keduanya pun semakin erat hingga Lili menawarkan laki-laki untuk Jiya yaitu Alex sang mantan kekasih Lili sewaktu SMP.


Awalnya Jiya tak mau berkenalan pada Alex namun karena Lili bersikukuh Jiya pun merasa tak enak hati.


Jiya juga sulit menolak karena berhutang budi pada Lili yang setia menemaninya selama orang lain menjauhinya.


Alhasil Jiya pun bertemu dengan Alex yang wajahnya lumayan tampan.


Ternyata Alex tak seburuk yang di pikirkan Jiya, ia pikir Alex sama seperti Dilan yang sudah meninggalkannya.


Selama sebulan mereka berkenalan Alex sudah menyatakan perasaan cinta padanya sebanyak 10 kali.


“Jiya terima saja, dia itu abang kelas ku waktu SMP orangnya baik dan juga setia, yakinlah.” Lili terus mendorong Jiya untuk mau berpacaran dengan Alex dengan harapan keduanya berjodoh suatu saat nanti.


Tujuan Lili tak lain hanya ingin membuat Jiya susah, karena Lili tahu betul Alex adalah orang yang super malas dan suka memeras uang perempuan.


Karena terus di bujuk oleh Lili akhirnya Jiya mau menerima Alex.


Mulanya Jiya tak memiliki perasaan sedikitpun pada Alex, sampai satu tahun kemudian Jiya mengungkapkan kalau dirinya sudah tak gadis dan pernah menggugurkan anak.


Dari situ Jiya yakin untuk membuka hatinya pada kekasihnya.


Sampai saat akan lulus sekolah Alex yang kerja serabutan melamar Jiya yang telah menjadi kekasihnya hampir 2 tahun.


Jiya yang terlanjur cinta pun menerima lamaran itu meski di tentang orang tuanya.


...Flash Back Off...


“Kira-kira kenapa waktu itu Jiya datang ke sekolah ku ya?” Dilan kembali penasaran sebab sampai saat ini ia belum menemukan jawabannya.


“Pada hal waktu itu aku menelepon nomornya tapi malah tidak aktif.” seketika Dilan merindukan Jiya


“Coba aku cari tahu tentang dia.” Dilan yang baru pindah tugas ke kota itu tak tahu jika Jiya adalah seorang wanita karir sukses disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya Lili ke toko cabang Anggrek ia pun mulai menjalankan tugas yang di berikan padanya.


“Aduh!!! Kok price tag nya enggak ada sih!” Lili yang kesal berjalan menuju kasir.

__ADS_1


“Hei bodoh! Kau itu di gaji penuh setiap bulan, kenapa masalah price tag saja kau enggak beres?! Hah!” Lili membentak karyawati toko yang sedang berjaga di kasir.


“Anda siapa?!” pekik karyawati toko.


“Pakai nanya lagi! Cepat perbaiki POP dan lainnya! Atau ku pecat kau! Kirim buktinya pada ku kalau sudah rapi, tak ada yang boleh pulang kalau masalah toko belum selesai!” lalu Lili menulis nomornya dalam secarik kertas.


“Jangan macam-macam! Ku buang kalian semua kalau tidak patuh!” setelah itu Lili meninggalkan toko.


Lili yang cerdik memberikan tugas yang amanah kan Jiya pada karyawan toko.


Setelah itu Jiya menuju toko selanjutnya dengan menaiki motornya.


Bremmm!!!


Saat dalam perjalanan hujan pun turun dengan sangat deras.


Zaaarrr!!!


“Kurang ajar! Apes banget sih aku!” Lili yang ingin berteduh hanya melihat sebuah saung kecil yang di sekitarnya adalah pemakaman umum.


“Sial! Bagaimana ini?” Lili yang ingin melanjutkan perjalanan merasa ragu karena hujan yang sangat lebat mengaburkan pandangannya.


Belum lagi kabut tiba-tiba turun, akan sangat berbahaya jika Lili melanjutkan perjalanannya.


“Bismillah! Apa boleh buat.” Lili yang belum menikmati kekayaan Jiya memilih menepikan motornya tepat di depan saung tanpa penerangan itu.


“Lebih baik bertemu hantu dari pada malaikat maut,” ucap Lili.


Tubuh Lili yang basah kuyup pun bergetar karena kedinginan.


“Hatciu!! Hatciu!!” Lili bersin berulang kali hingga ingusnya keluar.


“Dasar Jiya! Kenapa malah menyuruh ku melakukan pekerjaan yang bukan tanggung jawab ku sih?! Menyebalkan, dasar nenek jelek!” Lili marah-marah sendiri karena kesal pada sahabatnya.


“Gelap banget ya Allah, sebenarnya ini jam berapa sih?” Lili pun membuka tas sandang yang ia bawa-bawa kesana kemari.


“Bangsat!” umpat Lili.


Karena handphone Apel keluaran baru yang baru ia beli telah mandi sore.


“Ya ampun!!!” Lili yang panik dan kalang kabut bingung harus mengeringkan handphonenya dengan apa sebab semua baju dan isi tasnya basah.


__ADS_1



__ADS_2