
“Jiya! Jiya, bangun Jiya!” Lili menepuk-nepuk wajah sahabatnya.
Tak lama Jiya pun bangun dari pingsannya dengan penuh keringat.
Ketika Jiya telah membuka mata ia pun melihat sahabat dan suami ada di sebelah kanannya, sedangkan mantan kekasihnya ada di sabelah kirinya.
Ternyata yang tadi hanya mimpi? batin Jiya.
Melihat wajah ketiganya membuat Jiya naik pitam.
Akan ku beri dua pasangan ini pelajaran! batin Jiya.
Ia pun perlahan bangkit dari ranjang dan menatap tajam ke arah suami dan sahabatnya
“Jiya, ada apa sayang? Bagaimana yang sakit?” Alex menjadi sok sibuk dan perhatian pada Jiya.
“Aku tadi menelepon mas Alex pas mendengar kabar kau di rawat disini” Lili memijat menggenggam tangan kanan Jiya, matanya pun berkaca-kaca menahan sedih.
Kurang ajar! Mereka berdua pintar akting, sejak kapan kalian mengkhianati ku? batin Jiya.
Alex dan Lili merasa senang saat Jiya yang mereka ajak bicara tak kunjung bergeming. Mereka kira Jiya struk atau lupa ingatan.
Dilan yang melihat hal itu langsung meletakkan telapak tangannya ke kening Jiya.
“Enggak panas kok, apa setelah pingsan yang kedua kau jadi bisu?” ucap Dilan.
Sontak Jiya menoleh ke arah mantan kekasih yang pernah ia puja-puja di masa lalu.
“Aku baik-baik saja.” lalu Jiya mengalihkan pandangannya pada Lili dan Alex.
“Terimakasih sudah datang menjenguk ku.” Jiya tersenyum pada Lili dan Alex.
”Sama-sama Ji, ya Allah aku khawatir banget pada mu, kalau ada apa-apa bilang pada ku dong, kitakan sahabat.” Lili memeluk Jiya dengan suara bergetar.
“Iya Li.” Jiya membalas pelukan Lili dengan senyuman penuh makna.
“Bagaimana perasaan mu saat ini?” tanya Alex dengan tatapan sendu.
“Aku sudah sehat bang.” Jiya menggenggam tangan Alex yang ada di pinggir ranjang Jiya.
Si jelek ini bodoh atau apa sih, sudah jelas-jelas aku selingkuh tapi masih saja mengemis cinta pada ku, menjijikkan, batin Alex.
Dasar Jiya, goblok banget jadi perempuan, tapi kalau suami ku tinggal bersamanya lagi itu artinya peluang untuk mengurus surat-surat itu akan lebih mudah, hehehe! batin Lili.
Lili yang dengki pun menyusun serangkaian rencana untuk membuat Jiya jatuh miskin.
Awas saja! Akan ku balas perbuatan kalian berdua, sepertinya menyiksa batin kalian lebih seru dari pada menghajar kalian secara fisik, Alex! Aku terima saja bagian mu! Kau tidak akan mendapat apapun dariku lagi! batin Jiya.
“Syukurlah, ayo kita pulang sekarang.” Alex pun membantu Jiya turun dari ranjang
__ADS_1
“Terimakasih banyak sudah menyelamatkan istri ku.” Alex pun menjabat tangan Dilan yang gagah dan juga tampan.
“Sama-sama.” Dilan terseyum pada suami mantan kekasihnya.
Sedang Jiya tak mengucapkan sepatah kata pun pada Dilan yang telah berjasa padanya.
“Ayo kita pulang.” pinta Jiya dengan suara yang lemah.
“Iya sayang.” lalu Alex membantu Jiya untuk di kursi roda, setelah itu ketiganya keluar dari ruang rawat tersebut.
Dilan yang masih ada di sana merasa iba pada Jiya.
“Pada hal dulu dia cantik dan imut, kenapa sekarang dia jadi jelek, mirip wanita 40 tahun, apa suaminya pelit atau batinnya selalu tersiksa?” Dilan tak bisa membayangkan penderitaan Jiya dari wanita cantik menjadi buruk rupa.
Saat Dilan ingin pulang tanpa sengaja netranya menoleh ke arah nakas yang ada di sebelah ranjang.
“Inikan tasnya?” Dilan pun mengambil tas CD yang baru Jiya beli.
“Inikan harganya mahal, berarti suaminya royal, apa Jiya yang malas perawatan?” Dilan menjadi kepikiran pada Jiya yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
“Aku harus mengembalikannya.” Dilan pun bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Mereka naik mobil atau apa ya?” Dilan pun menoleh ke segala arah, namun ia tak menemukan ketiganya dimana pun.
“Mungkin aku tunggu di pintu rumah sakit saja.” Dilan pun menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Setelah sampai di parkiran Dilan masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju pintu masuk rumah sakit.
“Besok aku kesini lagi deh.” Dilan merasa jika Jiya akan kembali lagi esok jari.
🏵️
Jiya yang duduk di kuris kedua dari belakang kemudi merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya.
“Aku masih pusing bang.” Jiya meremas lutut Alex.
Lili yang ada di kursi depan bersama Aji sang supir melihat kejadian itu dari kaca spion bagian dalam mobil.
Apa-apaan dia? batin Lili.
Lili merasa cemburu melihat suaminya di sentuh oleh madunya.
“Nanti sampai rumah kau minum obat mu ya.” kemudian Alex mengelus puncak kepala Jiya.
Hal itu malah membuat Lili makin kepanasan, ia juga salah tanggap akan sikap lembut suaminya pada Jiya.
Harusnya kalau mau bermesraan di belakang ku saja, batin Lili.
“Malam ini abang harus tidur di rumah, aku rindu sekali pada mu bang.” Jiya membenamkan wajahnya di antara dua paha Alex.
__ADS_1
“Iya sayang.” sahut Alex dengan lembut.
“Ck!” tanpa sadar Lili berdecak menahan kesal.
Alex yang mendengar itu menoleh ke Lili yang duduk di hadapannya.
Sesampainya di rumah Jiya yang telah pulih pura-pura tak berdaya.
Ia yang baru keluar dari dalam mobil memegang pelipisnya seraya memejamkan mata.
“Sakit sekali, ssstt!!” gumam Jiya dengan sengaja.
“Kau masih sakit?” ucap Alex seraya memegang bahu Jiya.
“Iya, rasanya aku enggak kuat untuk berjalan.” Jiya menggenggam lengan suaminya.
“Astaga, apa kita perlu ke rumah sakit lagi?” ujar Alex.
“Enggak usah mas, gendong aku saja ke kamar.” pinta Jiya dengan manja.
“Baiklah.” Alex pun menggendong istri tuanya ala bridal style menuju kamar.
“Hufff!” Lili yang ada di belakang suaminya menghela napas panjang.
“Sialan!” pekik Lili.
Meski begitu ia tak bisa berbuat apapun karena dirinya hanyalah istri simpanan.
Lalu Lili mengikuti langkah keduanya menuju rumah.
Setelah sampai di dalam kamar Alex merebahkan tubuh istrinya ke atas ranjang.
Alex yang akan pergi di tahan oleh Jiya dengan raut wajah memelas.
“Apa tidak bisa kau temani aku sebentar saja bang?” Jiya berencana mengikat Alex di ketiaknya, agar pria itu tidak pergi kemana-mana.
Alex yang ingin merebut kepercayaan Jiya pun mengangguk setuju akan permintaan istrinya.
“Baiklah, apa yang harus ku lakukan?” tanya Alex.
“Tidurlah di sebelah ku, aku rindu pada mu bang.” permintaan sederhana Jiya membuat Alex berpikir keras karena ia takut Lili marah padanya.
“Apa kau tidak mau bang? Apa permintaan ku terlalu berat?” wajah tak berdaya Jiya membuat Alex tak enak hati.
“Tidak.” lalu Alex naik ke atas ranjang dan tidur di samping Jiya tepat di sebelah dinding.
Setelah itu Jiya memeluk Alex dengan mesra seolah tak mau lepas.
Lili yang baru sampai ke pintu kamar melihat pemandangan yang membuat tanduk kepalanya tumbuh.
__ADS_1