Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Berdamai


__ADS_3

Selesai mengirim pesan itu Jiya tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha... mana mungkin Dilan menyukai ku, perempuan ini memang orangnya posesif banget.” Jiya tak menyangka ada perempuan lain yang cemburu padanya, pada hal ia merasa dirinya tidak cantik.


“Sebaiknya aku blokir dia.” Jiya yang ingin hidup tenang memilih keputusan itu, ia juga membuat akunnya jadi private agar orang-orang yang tak ia kenal tak dapat melihat aktivitas yang ia lakukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fitri yang mendapat respon di luar dugaan merasa syok.


“Haah!! Ternyata kecurigaan ku selama ini benar, kalian berdua benar-benar jahanam!” Fitri menitikkan air matanya.


Ia sangat sedih dengan hal malang yang menimpanya.


“Aku tidak akan memaafkan kalian.” tangis Jiya semakin pecah karena ulahnya sendiri.


Ia yang akan mengirim pesan balasan makin terkejut, karena ternyata Jiya telah memblokir dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilan yang baru selesai meeting dengan pemilik tanah yang ada di ujung pandang saling bersalaman.


“Terimakasih pak, berarti tanah itu sudah menjadi milik PT. Golden Market,” ucap Dilan.


“Iya pak Dilan, memangnya kapan rencana pembangunannya?” tanya pak Karto.


“Besok sudah akan mulai membeli bahan-bahan bangunan, rencana akan segera di bangun setelah mendapat tukang,” terang Dilan.


“Oh, baiklah pak, semoga pembangunannya lancar ya pak.” ucap Karto dengan tersenyum hangat.


“Iya pak, Terimakasih atas do'a baiknya.” Dilan sangat senang bekerja sama dengan pak Karto yang ramah.


“Kalau begitu saya permisi dulu pak, nanti saya akan hubungi bapak kalau ada tukang handal yang amanah untuk membangun Supermarket bapak.” Karto berniat membantu Dilan yang telah membeli tanahnya dengan harga mahal.


“Oh, terimakasih kasih banyak pak, saya sih sudah punya 15 orang yang sengaja saya minta dari kota, tapi saya masih butuh 15 orang lagi, tujuannya agar lebih cepat selesai pak,” ujar Dilan.


“Baik pak saya mengerti, semoga semua berjalan lancar dan usaha bapak maju,” ucap Karto.


“Aamiin pak, terimakasih banyak.” Setelah itu Karto beranjak keluar dari office Supermarket Golden Market.


Dilan pun mengantar Karto sampai ke lobby utama.


Ketika Karto telah masuk ke dalam mobilnya, Dilan tanpa sengaja melihat Jiya yang memakai gaun putih dengan motif bunga edelweis sepanjang semata kaki sedang berbicara dengan seorang laki-laki berjas hitam menenteng tas kulit di tangannya.


“Siapa laki-laki itu?” Dilan sangat penasaran karena ia tak mengenali lelaki paruh baya tersebut.


Tak lama pria di sebrang jalan itu pun masuk ke dalam mobilnya dan beranjak dari Supermarket Lee Jiya.


Jiya yang kebetulan menoleh lurus ke depannya melihat Dilan berdiri sejajar dengannya.


Jiya yang telah berdamai dengan keadaan melambaikan tangannya pada Dilan.

__ADS_1


“Hai,” ucap Jiya dengan tersenyum ramah.


Deg!


Dilan yang mendapat sapaan tak terduga merasa tak percaya dengan yang di lakukan Jiya.


Ia pun membalas lambaian Jiya tersebut dan berkata.


“Apa kau baik-baik saja?” namun karena banyaknya kendaraan lalu lalang serta kalimat Dilan yang cukup panjang membuat Jiya tak mengerti apa yang di katakan Dilan.


“Dia bilang apa ya kira-kira?” Jiya yang ingin tahu pun mendial nomor Dilan.


Drrrtt!!


Getaran handphone tersebut begitu terasa di paha Dilan.


Ia pun mengambil handphonenya dari dalam saku celananya.


Kau bilang apa? 📲 Jiya.


Apa kau baik-baik saja? Siapa laki-laki yang kau temui tadi? 📲 Dilan.


Pengacara ku, 📲 Jiya.


Untuk apa kau bertemu pengacara? 📲 Dilan.


Untuk mengurus harta dan aset-aset yang ku punya, aku juga membutuhkan dia untuk membela ku di persidangan, hari ini aku telah mengisi formulir cerai, Dilan, 📲 Jiya.


Deg!


Ayo bicara langsung, 📲 Dilan.


Dilan berpikir retaknya rumah tangga Jiya di sebabkan oleh dirinya.


Baiklah, setelah pulang kerja kita bertemu di kafe Paragon, 📲 Jiya.


Baiklah, 📲 Alex.


Setelah mendapat kesepakatan Dilan pun mematikan panggilan suara dari Jiya.


Jiya yang ingin masuk ke dalam supermarket pun melambaikan tangannya pada Dilan.


“Sampai nanti.” ucap Jiya dengan menggerakkan mulutnya secara intens agar Dilan mengerti.


Lalu Dilan yang ada di pinggir jalan menganggukkan kepalanya.


Setelah Jiya hilang dari pandangannya, Dilan pun melihat kembali handphone yang tadinya baru ia hidupkan.


“Humm?” Lalu ia pun baru menyadari banyak panggilan telepon dan pesan singkat elektronik dari Fitri.


“Kalau ku maafkan sekarang pasti dia masih cari gara-gara pada ku.” Alex pun mengabaikan kekasihnya dengan tujuan agar Fitri bisa jera dan tak mengulangi kesalahan yang sama berulang-ulang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lili yang ada di rumah menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu.


“Lama banget sih dia! Ini sudah jam 16:00, tapi dia entah kemana dan ngapain saja di luar sana!” Lili khawatir jika Alex membawa kabur motornya.


“Kenapa aku harus hamil di saat yang tidak tepat? Hah! Jadinya kan aku harus menetap di rumah selama sembilan bulan di tambah lagi masa melahirkan, syukur-syukur si Alex bisa kasih nafkah cukup, kalau enggak bisa gawat lagi!” Lili yang biasa kerja tak tahan di rumah lama-lama.


Selain itu tanggungannya juga berat, sebab sang ibunya begitu boros dan suka hura-hura di bar.


Rosa yang dasarnya liar dan suka main judi selalu menyusahkan Lili putri pertamanya.


Lili sendiri tak dapat melawan karena ibunya sangat keras padanya.


Rosa juga selalu menuntut Lili untuk balas jasa karena telah melahirkan dan menyekolahkannya hingga lulus SMA.


Meski tertekan namun Lili tak bisa melawan dan menolak kehendak ibunya.


“Apa benar mas Alex bisa di andalkan? Apa aku harus melahirkan anak ini?” Lili memegang perutnya.


Ia takut kalau anaknya tak memiliki masa depan jika ia nekat membesarkan buah hatinya.


“Memang sih aku ada tabungan, tapi membesarkan anak kan tidak mudah.” di saat Lili sedang gelisah tiba-tiba Rosa pulang dengan membawa buah-buahan yang banyak.


“Hei, kau sedang memikirkan apa Lili?” tanya Rosa, karena ia lihat wajah Lili sangat tertekan.


“Bu, aku enggak ingin anak ini,” ucap Lili.


“Tutup mulut mu, anak itu adalah ladang rezeki, awas saja kalau kau macam-macam pada kandungan mu!” kemudian Rosa duduk di sebelah putrinya.


“Kau itu butuh keturunan untuk mengurus hari tua mu,” ujar Rosa.


“Pastinya butuh biaya banyak bu,” ucap Lili.


“Anak mu akan membayarnya setelah ia dewasa.” bagi Rosa keturunan adalah alat mencari uang.


Lili menatap nanar ibunya yang berkata demikian padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pulang kerja Jiya yang ada di parkiran depan Supermarket melihat mobil Dilan yang akan keluar dari Golden Market.


Kemudian Jiya pun masuk ke dalam mobilnya, setalah itu meluncur menuju restoran Paragon.


Dilan yang melihat Jiya jalan terlebih dahulu dengan segera menyusul di belakangnya.


Bremmm...


Jiya yang sedang menyetir melihat ke spion yang ada dalam mobilnya.


Tintin!

__ADS_1


Jiya pun membunyikan klakson mobilnya, lalu Dilan pun mempercepat lajunya hingga mobil mereka berdua sejajar.



__ADS_2