Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Glow Up


__ADS_3

“Ya ampun inikan harganya mahal!!!” Lili pun mencoba menyalakan handphonenya.


“Ya ampun bagaimana ini? Malah mati lagi.” Lili hampir menangis karena nasib handphonenya yang malang.


“Aku enggak bisa nelpon siapa-siapa lagi dong?” Lili merasa sedih karena untuk membeli yang baru tentunya Alex tak akan bisa memberikan uang padanya saat itu karena ia baru saja meminta uang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alex yang sedang berbaring di dalam ruang rawatnya menatap nanar ke arah plafon yang memiliki cat putih.


“Kenapa Lili belum datang juga menjenguk ku? Pada hal diakan tahu kalau Jiya enggak akan datang kesini.” Alex yang sendirian merasa kesepian.


“Aku tahu Jiya juga sakit, apa enggak bisa sekedar menelepon atau mengirim pesan pada ku?” Alex merasa sedih di saat ia sakit tak ada satu pun istrinya yang bisa menemaninya.


“Pada hal ini semua gara-gara Lili, dia membuat racun enggak bilang-bilang pada ku, dia tak berniat untuk membunuh ku jugakan?” Alex menjadi curiga pada istri keduanya.


Alex benar-benar ingin pulang saat itu juga tapi karena kondisinya masih belum pulih dokter pun tak mengizinkannya pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku mau gaya rambut yang ini.” Jiya menunjuk model Classic Bob Hairstyle yang ada dalam katalog salon sekaligus klinik kecantikan yang memiliki dokter ahli yang telah meraih banyak sertifikat itu.


“Aku juga mau facial, rapikan alis, bersihkan pori-pori dan totok wajah, lalukan apapun agar aku cantik, oh ya! Aku mau laser flek hitam dan suntik putih!” Jiya yang ingin glow up secara instan rela merogoh uang yang sangat banyak.


“Baik, apa tak sekalian suntik vitamin di bibir dan veneer gigi?” si resepsionis menawarkan perawatan lainnya pada Jiya.


“Aku ambil, pokoknya aku harus kembali seperti ini!” Jiya pun menunjukkan photonya 10 tahun yang lalu.


“Ini sih harus operasi plastik kak, apa kakak mau operasi juga?” ujar si resepsionis.


“Tidak, aku lebih suka yang alami, tapi minimal 50% biasakan? Kalau berhasil aku akan bayar lebih.” Jiya yang ingin balas dendam pada suaminya berusaha mempercantik dirinya.


Dari pada buang-buang uang pada orang lain lebih baik ku pakai untuk diriku sendiri, batin Jiya.


Setelah selesai melakukan pendaftaran Jiya pun duduk di sofa pelanggan untuk menunggu giliran.


“Kau harus tahu kalau pembalasan yang akan ku lakukan akan membuat mu menyesal seumur hidup,” gumam Jiya.


Meski itu sudah malam namun Jiya yang telah membayar lunas segala biaya perawatan yang ia minta mendapat pelayanan spesial dari pihak klinik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 23:00 malam, hujan yang belum reda membuat Lili menangis.


Sebab ia sangat takut di tempat yang memiliki penduduk sombong itu.


Belum hilang ketakutannya tiba-tiba Lili mendengar ada yang melempar dinding papan saung yang ia singgahi dengan kerikil.


Tuk tuk tuk!

__ADS_1


“Apa itu?” mata Lili menatap waspada ke segala arah, namun ia tak menemukan apapun.


“Ya Allah aku takut banget.” Lili yang basah semakin menggigil di tambah ada angin sedingin es berhembus di tengkuknya.


Wusss...


Berrr....


Seketika Lili merasa merinding, suasana yang gelap karena mati lampu membuat tempat itu semakin mencekam.


Wak... wak....


Mata Lili melihat ke lantai saung yang ia duduki.


“Kok ada gagak sih?!” Lili yang ketakutan bangkit dari duduknya.


“Lebih baik aku pergi dari pada ketemu hantu!” Lili pun naik ke atas motornya lalu ia pun melajukan motornya dengan pelan-pelan agar tak terjatuh sebab jalanan saat itu sangat licin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 06:00 pagi, Jiya baru selesai perawatan pun menatap wajahnya ke cermin yang ada di meja dokter.


“Bagaimana kak? Bukannya nampak berbeda dari sebelumnya?” tanya si dokter.


Jiya pun tersenyum karena kini kulitnya jadi mulus, setitik flek hitam pun tak ada lagi di wajahnya.


“Cukup sebulan sekali.” lalu sang dokter memberikan tas berisi skincare di dalamnya.


“Kak Jiya harus rutin melakukan perawatan di rumah ya, semua sudah ada disini, mulai dari sabun cuci wajah, sikat wajah, toner, serum, krim siang dan malam dan masih banyak lainnya, saya juga kasih bonus handbody untuk kak Jiya, fungsinya untuk melembabkan mengkenyal kan serta membuat kulit tubuh putih berseri, mana tahu cocok kakak bisa pesan secara online.” sang dokter menerangkan nilai lebih barang dagangnya agar Jiya mau membelinya.


“Baiklah, aku pasti membelinya kalau memang bagus di kulit ku,” ucap Jiya.


“Siap, di tunggu kak Jiya,” ujar si dokter.


“Iya dok, terimakasih banyak dok.” lalu Jiya bangkit dari duduknya.


“Sama-sama kak.” sang dokter tersenyum pada Jiya yang memborong banyak paket perawatan pada mereka.


“Permisi dok.” lalu Jiya beranjak meninggalkan klinik tersebut.


Setelah Jiya berada di parkiran ia pun masuk ke dalam mobilnya.


Lalu Jiya bercermin di layar handphone Apel miliknya.


“Cantik!” Jiya suka dengan hasil kinerja klinik itu.


Untuk mengabadikan dirinya yang terlahir kembali menjadi wanita cantik, Jiya pun mengambil photo selfi pertamanya.


Cekrek!

__ADS_1


Di rasa cukup bagus Jiya pun mengunggahnya ke feed Instagram nya dengan caption.


“Cantik itu relatif, tergantung hatinya dan juga perawatannya.” setelah itu Jiya menyalakan mesin mobilnya lalu melaju membelah jalan raya menuju supermarket cabangnya.


Meski tahu suaminya masih berada di rumah sakit namun Jiya tak mau menjenguknya.


Bremmm!!


Jiya pun mengemudi mobilnya dengan santai sebab tak ada yang harus di kejar hari itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alex yang tak dapat tidur bangkit dari ranjang, ia pun melihat ke arah jendela yang telah disinari matahari.


“Kau dimana Li?” Alex masih berharap kalau istri mudanya datang menemaninya.


Lalu ia pun melihat pesan yang ia kirim 4 jam yang lalu melalui WhatsApp pada Lili.


Aku di rumah sakit RMK, datanglah sayang aku tak punya teman disini, ✉️ Alex.


“Ck!” hati Alex merasa resah sebab status pesannya masih centang satu.


“Kau dimana sayang? Apa kau lagi sakit?” meski Lili telah meracuninya namun Alex tak membenci istri keduanya sedikit pun.


“Andai Jiya tak meminta bubur pasti aku enggak berkata asal.” bahkan Alex menyalahkan dirinya dan Jiya atas perbuatan Lili yang hampir merenggut nyawanya.


Alex yang merindukan Lili pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjang kembali.


“Aku sangat bersyukur ada Jiya yang menyatukan kita kembali, jujur saja ku katakan aku tak pernah melupakan mu sejak kau memutuskan aku waktu kita SMP.” ternyata selama ini Alex tak pernah mencintai Jiya sepenuh hati.


Di hatinya hanya ada Lili yang pintar bertutur kata dan selalu bisa menjaga penampilannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jiya yang baru sampai ke toko terkejut saat ia melihat Dilan sedang duduk di bangku besi teras tokonya.


Kok dia bisa ada disini? batin Jiya.


Dilan yang akan menyalakan rokok kreteknya tanpa sengaja melihat Jiya yang masih berdiri di depan mobilnya.


“Apa yang terjadi?” Dilan bingung saat Jiya yang ada di depan matanya berubah menjadi cantik.


“Bukannya kemarin dia dekil dan tua?” gumam Dilan.


“Kenapa aku jadi grogi untuk lewat di hadapannya?” Jiya yang memiliki pekerjaan penting mau tak mau berjalan menuju toko.



__ADS_1


__ADS_2