Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Darah Suci


__ADS_3

“Kau tidur apa mati suri sih Jiya?” Dilan mengelus puncak kepala kekasihnya berulang kali.


Dilan yang ingin beranjak dari ranjang tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari Jiya yang sangat cantik di matanya.


“Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?” Dilan yang hanya manusia biasa berusaha untuk menahan ajaran setan yang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang salah pada Jiya.


“Akh!” Dilan menjauh dari Jiya lalu turun dari ranjang untuk menuju jendela.


“Hujannya belum reda juga.” Dilan tanpa sengaja melihat tulisan yang ada di kaca.


“Ck! Inikan kerjaan anak SD.” Dilan tertawa, lalu ia pun meniup kaca yang di bawah tulisan Dilan love Jiya.


“Haaah!” lalu anak muda tampan itu pun menuliskan forever.


Deg!


Jantungnya berdetak dengan kencang saat sahabat sehidup sematinya bangun.


“Astaga! Apa-apaan ini?!” Dilan sangat malu pada dirinya sendiri.


“Hei! Tidur lagi!” Dilan memarahi Joninya yang ingin mencari mangsa.


Namun seberapa kuat pun Dilan menepis niat jahatnya, namun naluri lelakinya menggoyahkan imannya.


Ia pun perlahan-lahan kembali ke ranjang dan menghantarkan wajahnya ke wajah Jiya.


“Ji-Jiya! Ayo bangun.” Dilan menguji kesadaran kekasihnya.


Jiya yang tak ada reaksi membuat Dilan berani untuk coba-coba.


Pertama ia mengecup lembut bibir Jiya. Jiya yang hanyut dalam mimpi indahnya mandi di pantai tak sadar jika kini dirinya dalam bahaya.


Dilan yang merasa semua akan baik-baik saja dan tak akan ketahuan melucuti bajunya dan juga Jiya hingga tak meninggalkan apapun di tubuh mereka.


Lekuk tubuh Jiya yang begitu molek bagai gitar spanyol membuat hati Dilan makin berdenyut.


Belum lagi gundukan 2 bukit kembar yang padat dan besar hampir meledakkan jantung Dilan.


“Haah haah haah!” seketika ia menjadi sesak nafas.


Mata indah Dilan yang memiliki 2 lipatan beralih ke bagian bawah.


Di sana ia pun melihat surga dunia yang begitu bersih tanpa ada sisa rumput.


Deg!!!


Dilan yang ingin melancarkan serangan bergetar, ia tak tahu harus memulai darimana.


“Langsung saja biar cepat.” setelah itu Dilan yang tanpa pengalaman sebelumnya menerobos pintu masuk yang tak boleh di buka dengan kasar.


Blu-blu-bluuss!!

__ADS_1


Jiya yang tidur tiba-tiba terbangun karena ia merasa sakit tiada dua di bagian sensitifnya.


“Kau!” matanya membulat sempurna saat Dilan dan dirinya mirip seperti bayi yang di lahir kan ke dunia polos tanpa memakai apapun.


Dilan yang melihat Jiya telah kembali ke kesadarannya menjadi serba salah.


Mundur atau pun maju hasilnya akan sama saja, karena kini ia merasakan desiran darah suci yang begitu hangat membasahi Joninya.


“Menyingkir kau dari ku Dilan!” Jiya mendorong tubuh Dilan yang ada di atasnya.


“Maafkan aku Jiya.” Dilan yang telah termakan rayuan setan yang terkutuk melanjutkan aksi bejadnya.


“Dilan! Hentikan, sakit Dilan!” Jiya berteriak seraya terus mencoba mendorong tubuh Dilan yang mengunci ruang geraknya.


“Sebentar saja, aku berjanji akan selalu bersama mu.” hanya kata itu yang keluar dari mulut Dilan yang napasnya terengah-engah.


“Bangsat! Ku pikir otak mu sehat!” Jiya yang terlalu polos dari awal tak mengerti jika yang ia lakukan membahayakan dirinya.


1 jam kemudian, setelah Dilan mencapai puncak dan memuntahkan benihnya di terowongan indah itu, lalu Dilan pun bangkit dari tubuh Jiya dengan penuh keringat.


Darah merah yang telah merembes kemana-mana membuat Dilan kalang kabut.


“Gawat kalau pegawai hotel melihat ini.” Dilan yang panik pun melihat wajah Jiya yang telah basah akan air mata.


“Ji-Jiya!” Dilan menyeka wajah Jiya dengan jemarinya yang lentik.


“Minggir anjingg! Jangan sentuh aku lagi!” Jiya bangkit dari ranjang dengan tubuh yang remuk dan bagian bawahnya nyeri, perih dan pegal.


Plak!


“Aku benci kau! Kau jahat!” Jiya pun mengambil bajunya yang berserakan di ranjang.


“Jiya, maafkan aku sayang aku salah, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akan bertanggung jawab penuh.” Dilan sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan.


“Bacot! Lebih baik tutup mulut mu dan jangan pernah temui aku lagi!” setelah selesai memakai baju, Jiya pun turun dari ranjang dengan langkah menjinjit.


“Jiya ini masih hujan, kita tunggu reda ya baru kita pulang bersama.” ucap Dilan dengan perasaan bersalah.


“Diam! Jangan ganggu aku lagi! Aku enggak mau lagi pada mu! Aku benci kau!” Jiya memukul dada bidang Dilan.


Puk puk!


“Jiya...” Dilan menyesal dengan semua yang ia lakukan.


Jiya yang telah selesai merapikan rambutnya mengambil tasnya, setelah itu ia keluar dari dalam kamar meninggalkan Dilan dengan perasaan campur aduk.


“Enggak, aku harus mengejarnya.” Dilan pun memakai bajunya lalu mengambil tasnya.


Kakinya yang jenjang pun berlari untuk menyusul kekasihnya.


Jiya yang ada di lobby utama melihat desiran hujan yang tak kunjung reda.

__ADS_1


Ia yang ingin menerobos melihat jam di handphonenya.


“Jam 03:00?” tentunya saat itu tak ada transportasi umum yang akan membawanya pulang.


“Aku harus bagaimana?” tapi Jiya yang tak ingin bertemu Dilan lagi memikirkan ragam cara agar ia bisa pulang.


Sampai akhirnya ia melihat salah satu pegawai hotel datang dengan mengendarai motor Supra X 125.


“Tunggu!” Jiya pun mendatangi lelaki yang sedang memakai jas hujan tersebut.


“Ada apa kak?” si pria seraya memberhentikan motornya.


“Antar aku pulang ke jalan mangga hijau,” pinta Jiya.


“Maaf kak, saya lagi buru-buru pulang.” si pria menolak karena merasa malas.


“300 ribu, hanya 30 menit dari sini, enggak apa-apakan?” Jiya memberikan ongkos berkali-kali lipat.


Andai Jiya naik angkot ongkosnya hanya 3 ribu dan 5 ribu untuk naik ojek.


Si pria yang memiliki gaji 1 juta sebulan tentu mau mengantar Jiya.


“Baiklah, silahkan naik kak,” ucap si pria dengan bersemangat.


Jiya pun naik ke atas motor pria itu, kemudian si pria karyawan hotel mengendarai motornya membelah jalan raya yang minim kendaraan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilan yang baru sampai ke lobby tak melihat Jiya dimana-mana.


Ia yang ingin tahu posisi Jiya memutuskan untuk mendial nomor kekasihnya.


Truttt...


Status panggilan berdering, namun tak kunjung di angkat.


Dilan yang khawatir pada Jiya dengan cepat menuju parkiran untuk mengambil motor.


Setelah itu Dilan menaiki motornya dan menyalakan mesinnya, selanjutkan ia meluncur menyusuri jalan raya untuk mencari keberadaan Jiya.


Bremmmm!!


“Kau dimana Jiya?” mata Dilan yang perih karena hujan harus tetap terbuka lebar.


Dilan takut jika ia melewatkan kekasihnya jika sempat menutup mata sejenak.


Hingga mata hari terbit menyinari tanah ibu kota Dilan tak kunjung menemukan Jiya.


Ia yang ingin ke rumah Jiya harus terkendala sebab Dilan tak tahu alamat rumah kekasihnya.


__ADS_1


__ADS_2