Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Alex Kabur


__ADS_3

“Baiklah.” Jiya pun mengangkat kelingking mereka tinggi-tinggi.


Dilan yang telah kembali perasaannya ke masa lalu tanpa sengaja memeluk Jiya karena terlalu bersemangat.


“Dilan!”


Nyut!!


Jiya mencubit perut Dilan, hingga pria tampan itu melepas pelukan eratnya.


“Jiya, setelah putus dengan mu, aku pacaran dengan 4 wanita, semuanya baik, tapi tak ada yang seperti mu,” ucap Dilan.


“Maksudnya bagaimana?” Jiya tak mengerti dengan apa yang Dilan katakan.


“Intinya hanya kau yang bisa membuat ku nyaman, bersama mu aku merasa bahagia.” setelah sekian lama akhirnya Dilan mencurahkan isi hatinya pada wanita yang pernah mengisi ruang hatinya.


Lalu Jiya menatap mata Dilan dengan seksama.


“Sayangnya aku tidak, hahaha...” Jiya menertawai pria tampan yang sedang kasmaran padanya.


“Sialan! Sudahlah, ayo kita berangkat!” Alex yang kesal balik kanan dan masuk ke dalam mobilnya.


“Ya Tuhan, pada hal aku cuma bercanda, kenapa dia malah tersinggung?” kemudian Jiya masuk ke dalam mobilnya, lalu menyusul Alex yang telah melaju terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alex yang baru saja sampai ke rumah masuk dengan perasaan campur aduk, ia takut jika kena amuk Lili karena tak membawa bahan dapur.


“Mas?” Lili yang baru datang ke ruang tamu melihat Alex datang dengan tangan kosong.


“Li-Lili.” sahut Alex dengan kikuk.


“Kita belum masak nih, mana ikannya?” tanya Lili.


“Itu...” Alex tak tahu harus menjawab apa.


“Mas, aku dari tadi sudah lapar loh! Kau tahukan, art juga sudah ku pecat karena kita tak mampu untuk membayar upahnya lagi?” ucap Lili.


“Iya sayang, aku tahu. Tapi... aku minta maaf banget pada mu, karena uangnya tak sengaja hilang.” Alex terpaksa berbohong karena tak ingin tambah di marah oleh Lili.


“Mas! Kau ini bagaimana sih? Pada hal kau tahu keuangan kita menipis! Hilang atau kau belikan ke rokok?!” Lili tak percaya begitu saja pada Alex.


“Hilang.” sahut Alex dengan menundukkan kepalanya.


“Bodoh! Ini yang aku enggak suka dari mu mas! Kau itu ceroboh, lamban, tolol pula!” Lili menghina suaminya dengan sangat kasar.

__ADS_1


“Maafkan aku sayang, aku salah.” sampai tahap itu Alex masih mencoba bersabar menghadapi sikap Lili.


“Sialan! Aku menyesal sudah menjadi istri mu, kau memang enggak bisa di andalkan! Mati saja kau kalau tak memberi manfaat pada manusia lain!” Lili pun meninggalkan Alex yang sudah tak bisa memberikannya uang.


Alex yang masih berdiri di tempat menyeka air matanya yang terus menetes.


Pada hal dulu Jiya tak pernah memperlakukan ku seperti ini, meski aku tak kerja, dia tetap menghormati ku sebagai suami, bahkan dia selalu memanjakan ku, aku sangat nyaman dengannya, kasih sayangnya membuat ku merasa dia seperti ibu ku, batin Alex.


Alex yang tamak dan tak tahu diri kini kena batunya.


“Harusnya aku bertahan dengan Jiya, meski pun dia jelek, harusnya dari dulu aku suruh dia perawatan, mungkin semua tidak akan seperti ini, ibu... ayah... tolong aku, hiks...” Alex tanpa Jiya ternyata hanyalah butiran debu.


Bahkan untuk berdiri sendiri Alex tak punya nyali.


Alex yang masih ingin menangis menghapus air matanya karena merasa lapar, ia pun segera menuju dapur.


Di dapur ia pun melihat Lili yang sedang makan nasi putih di temani telur ceplok.


Lalu Alex pun masuk dengan perasaan takut, Lili yang melihat kedatangan suaminya langsung menunjukkan taringnya.


“Mau apa kau kemari?!” pekik Lili.


“A-aku mau makan.” ucap Alex dengan nada suara kikuk.


“Lili, aku lapar! Aku belum makan dari siang,” pekik Alex.


“Kembalikan dulu uang yang 100 ribu itu, baru kau boleh makan! Mengerti! Sekarang kau pergi saja!” Lili mengusir suaminya yang gemetaran karena lapar.


“Lili, uang yang kau pakai itu uang ku juga, lagi pula aku sudah dapat kerja, nanti aku ganti!” Alex yang bosan di remehkan membentak istrinya.


“Benarkah? Kau dapat kerja dimana mas?” tanya Lili dengan penasaran penuh.


“Di Supermarket Lee Jiya,” jawab Alex.


“Apa?!” mata Jiya membelalak sempurna, ia tak menyangka Alex akan menjilat ludahn yang telah ia buang.


“Apa kau waras? Terus, apa dia menerima mu kerja?” tanya Lili lebih lanjut.


“Iya,” sahut Alex.


“Jadi apa? Manager? Area manager? Atau apa?” Lili ingin tahu kebaikan Jiya sampai dimana.


“OB.” Alex sangat malu saat mengatakan itu.


“Gila! Benar-benar sinting!! Apa yang kau pikirkan mas Alex yang sangat cerdas?!!! Itu sih merupakan suatu penghinaan besar pada mu! Kalau kau sampai kerja disana, aku enggak akan mau mengenal mu lagi!” pekik Lili.

__ADS_1


“Lili, aku sudah mencari kesana kemari, tapi tak ada yang mau menerima ku, hanya Jiya yang mau membantu ku,” terang Alex.


“Kalau kau berani kesana, ku ceraikan kau saat itu juga!” Lili yang tak ingin ikut di rendahkan oleh Jiya memilih berpisah dengan Alex.


Alex yang merasa stres tak menjawab apa pun yang di katakan Lili, kemudian ia keluar dari dalam dapur dengan langkah yang kasar.


“Dasar! laki-laki enggak punya otak!” Lili mengoceh karena kesal.


Alex yang ada di kamar tak bisa meredam amarahnya, ia yang tak tahan dengan sikap Lili memilih pergi.


Ia yang hanya memiliki beberapa baju di lemari Lili dengan cepat menyusunnya ke dalam tas ranselnya.


Setelah itu Alex pergi dengan membawa motor Lili tanpa izin.


Sedangkan Lili yang telah kenyang segera menuju kamarnya.


“Sejak hamil makan ku jadi tambah banyak, sialan!” umpat Lili.


Ia takut jika dirinya menjadi gendut dan tak cantik lagi.


Sesampainya Lili ke kamar ia pun melihat lemarinya yang terbuka.


“Apa si bodoh lagi mandi?” Lili pun menuju lemari, saat ia akan menutup pintu lemarinya, ia pun melihat lipatan bajunya yang sebelumnya rapi menjadi berantakan.


“Ya Tuhan!” saat Lili ingin kembali mengoceh, ia pun baru sadar jika baju Alex sudah tak ada lagi disana.


“Jangan-jangan dia pergi lagi!” Lili pun memeriksa Alex ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Brak!


“Mas Alex!” mata Lili melihat ke setiap sudut kamar mandi, namun tak ada suaminya disana.


“Gawat!” hati Lili menjadi resah.


Kemudian ia melanjut mencari Alex ke seluruh penjuruh rumah, tapi tetap saja Alex tak ada dimana-mana.


“Motor ku?” Lili yang baru ingat akan kendaraan andalannya mencari ke ruang tamu tempat ia biasa menaruh motor kalau sudah pulang kerja.


“Tidak ada? Astaga... apa dia membawanya? Kemana dia pergi?” Lalu Lili mengambil handphone yang ada dalam sakunya.


Kemudian ia mendial nomor suami yang membuat ia kalang kabut.


Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi, ucap operator telepon.


“Sialan! Jangan-jangan dia akan pergi selamanya! Lalu, bagaimana dengan kandungan ku? Bagaimana aku akan membesarkan anak ini? Hiks... apa yang harus ku lakukan?” Lili menangis sejadi-jadinya

__ADS_1


__ADS_2