
Selesai membaca pesan dari Lili Jiya pun menuju room 5.
Sesampainya ia, Jiya berdiri tepat di hadapan room yang ada Lili di dalamnya, Jiya pun menggeser pintu tersebut.
Drarrkk!!
Setelah pintu terbuka Jiya pun melihat Lili yang sedang duduk bersila di pojok ruangan.
“Kau sudah datang?” Sapa Lili dengan senyum yang begitu mempesona, gigi Lili yang baru di veneer pun menambah kesan menawan dan elegan yang begitu memukau.
Baru sebulan enggak ketemu Lili makin cantik dan mulus saja, batin Jiya.
Ia tak tahu segala kecantikan yang perempuan itu dapatkan dari hasil kerja keras yang membuatnya di usir keluarga dan mengabaikan kebutuhan perut dan wajahnya.
“Iya, kau sudah pesan makanan?” tanya Jiya yang merasa lapar setelah bertemu Lili.
“Aku hanya pesan jus mangga,” ujar Lili
“Oh, apa kau enggak makan?” tanya Jiya kembali.
“Aku lagi diet karena aku, tadi pagi menimbang ternyata naik 2 kilo,” ujar Lili.
“Oh...” Jiya jadi ragu untuk makan mendengar Lili yang diet untuk menjaga keindahan tubuhnya.
“Pesan saja kalau kau mau makan Ji, lagi pula kau makan banyak juga enggak akan gemuk, hehehe...” Lili tertawa kecil.
“Enggak usah, lagi pula aku baru makan.” Jiya tersenyum pada Lili.
“Ku pikir belum, oh ya? Bagaimana perasaan mu sekarang?” Lili mengelus pundak Jiya.
“Aku masih syok Li, yang jelas aku enggak habis pikir dia bisa menduakan aku.” Jiya pun bercerita panjang lebar soal tertangkap basahnya perselingkuhan suaminya.
“Ya Allah Ji, kau kuat banget sih selama ini, lalu sekarang kau maunya gimana?” Lili penasaran dengan langkah Jiya selanjutnya.
“Aku mau cerai!” ucap Jiya dengan tegas.
“Jangan gegabah Jiya, cerai itu enggak mudah, kau juga harus berpikir panjang jangan sampai kau menyesal dengan keputusan mu yang sekarang, tunggu dulu sampai emosi mu mereda, kalau setelah itu kau masih yakin untuk berpisah ya terserah kau saja, yang penting jangan dalam keadaan marah.” Lili tak mau jika keduanya berpisah sebelum seluruh surat-surat harta kekayaan Jiya di balik nama.
“Judi dan minuman masih ku maafkan, tapi kalau main wanita aku enggak terima, batin ku enggak ikhlas Li, semua sudah ku lakukan, keluarga juga ku korbankan, jadi aku sudah benar-benar yakin untuk berpisah dengannya.” Jiya yang lelah tak ingin melanjutkan hubungannya lagi dengan Alex.
“Iya aku tahu, tapi pikirkan lagi Ji, kau sudah 10 tahun bersama mas Alex masa karena wanita yang baru hadir di hidup mas kalian kau mau menyerah begitu saja? Jiya... rumah tangga itu rumit, enggak ada yang mulus, sebaiknya kau perjuangkan rumah tangga mu, kau harus buktikan pada wanita selingkuhan suami mu bahwa kau lebih berhak memilikinya.”
Lili terus berusaha agar Jiya tak jadi cerai dalam waktu dekat.
Jiya yang melihat Lili tak seperti biasanya merasa aneh dan bingung.
Bukannya dia sendiri yang ingin aku cerai dari dulu? batin Jiya
__ADS_1
“Akan ku pikirkan nasehat mu.” meski ia sudah bosan tapi seorang Jiya akan menyaring setiap apa yang masuk ke telinganya.
“Nah! Begitu dong.” Lili tertawa karena rencananya dan suaminya akan berjalan mulus.
Saat mereka akan melanjutkan obrolan pramusaji pun datang membawa pesanan mereka.
“Ayo di minum, karena kau lagi sedih aku yang traktir.” Lili tertawa berbeda dari biasanya.
Jiya pun merasakan ada sesuatu di balik tawa Lili yang penuh makna.
“Terimakasih banyak, sering-sering ya,” ucap Jiya.
“Do'akan saja aku sukses, pasti ku traktir sepuasnya,” ujar Lili.
“Pasti.” saat Jiya ingin meminum jus mangganya dengan sedotan tanpa sengaja Jiya melihat jam tangan baru Lili.
Rolax? Bukankah itu harganya puluhan juta? batin Jiya.
Meski Jiya tak memakai barang mahal namun ia tahu karena ia suka melihat-lihat katalog barang-barang mewah.
Dapat uang dari mana dia? Gajinya saja hanya 5 juta sebulan, kemarin juga dia baru beli handphone iPhone, apa Lili punya pacar kaya? batin Jiya.
Jiya penasaran dimana Lili mendapatkan uang sebanyak itu.
Jiya sedikit penasaran dengan kehidupan Lili, Jiya yang sibuk tak pernah sempat bertanya hal pribadi pada Lili.
“Apa?” Lili yang mendapat pertanyaan itu cukup terkejut pasalnya Jiya tak pernah mau tahu soal dirinya.
“Ku tanya apa kau sudah punya pacar?” ucap Jiya kembali.
“Tentu saja ada.” Lili tak berbohong pada Jiya.
“Ku pikir enggak ada, sesekali kenalkan pada ku ya” ujar Jiya.
“Iya, kalau waktunya sudah tiba pasti akan ku bawa ke hadapan mu.” Lili tersenyum pada Jiya.
Setelah mereka selesai berbincang Jiya dan Lili pulang ke tujuan mereka masing-masing.
“Mungkin pacarnya orang kaya, beruntung bangat hidupnya,” gumam Jiya.
Ia senang sahabatnya menemukan orang sukses.
Jiya pun tak berburuk sangka pada sahabatnya tersebut.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan Jiya pun sampai di rumah, mobil yang ia bawa pun langsung masuk garasi.
Selanjutnya Jiya turun dari mobil lalu menuju kamar.
__ADS_1
Krieeeet...
Saat pintu kamar terbuka lebar ia tak mendapati suaminya dimana pun.
Rasa sepi dan sunyi pun mendera hari kecilnya, tapi apa boleh buat suami yang ia sayang tak pantas untuk di pertahankan.
Jiya yang masih kepikiran soal Lady selingkuhan suaminya mencoba mencari tahu dalam tas kerja yang Alex bawa kemana-mana.
Tas itu tergantung di dinding yang ada di dekat pintu masuk kamar.
Setelah mengambil tas itu, Jiya menuju ranjang agar lebih nyaman saat menggeledah isi tas suaminya.
Tab!
Jiya mendaratkan bokongnya ke ranjang empuk miliknya.
Setelah itu ia membuka resleting tas ransel hitam suaminya.
Sreeet....
Setelah terbuka Jiya pun mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalamnya, yang mana itu adalah pulpen, buku beberapa faktur dan juga sebuah struk dan kartu ucapan terimakasih.
Jiya pun membaca apa yang tertulis dalam kartu ucapan berwarna hitam putih tersebut.
“Tas CD 85 juta rupiah? Atas nama nyonya L?” Jiya yang semula akan luluh menjadi meradang.
“Pasti untuk si Lady, enggak salah lagi, apa aku harus ke toko ini agar tahu siapa pembelinya? Sepertinya ini limited edition.” Jiya yang penasaran pun berencana ke toko barang branded tersebut esok hari.
“Sempat ku temukan wanita itu, ku buat dia menyesal karena seenaknya memakai uang ku.” Jiya yang tak pernah menikmati secara boros hasil keringatnya merasa tak rela wanita simpanan suaminya menikmati uangnya.
🏵️
Lili yang baru sampai ke rumah bertemu suaminya yang sedang merokok di teras.
“Kau sudah pulang?” ucap Alex seraya menghembuskan asap rokoknya ke udara.
“Iya mas.” sahut Lili dengan wajah kusut.
“Ada apa sayang? Apa ada masalah?” ujar Alex.
“Iya mas, istri mu tetap ingin menceraikan mu, tapi aku sudah membujuknya sih, semoga saja hatinya benar-benar mubah,” ucap Lili.
.
__ADS_1