
“Dasar enggak tahu malu, pada hal seluruh orang yang ada di Indonesia menghina mu, tapi kau masih bisa berkeliaran ya!” Ibu A menyunggingkan bibirnya.
“Memangnya aku salah apa?!” Lili yang tak membuka media sosialnya beberapa hari belakangan tak tahu jika dirinya telah menjadi artis dadakan.
“Kaukan perempuan yang telah merebut suami sahabat mu sendiri?! Kau juga tega berbuat senonoh di office Supermarket Lee Jiya! Memalukan!” Ibu A melempar wajah Lili dengan kerupuk jengkol yang ada di tangannya.
Deg!
Jantung Lili berdetak dengan kencang karena ia tak menyangka perselingkuhannya di ketahui oleh banyak orang lain.
Apa Jiya benar-benar mengunggah video itu ke media sosial? batin Lili.
“Itu bukan aku, ibu pasti salah orang.” Lili ketakutan tak mau mengakui kalau itu adalah dirinya.
“Jangan bohong ya! Lee Jiya itu menyorot wajah mu dengan sangat jelas! Kurang baik apa dia pada mu?! Kau benar-benar perempuan iblis!” Ibu B yang duduk di sebelah Lili tanpa pikir dua kali malah menjambak rambut Lili.
“Akh! Sakit, tolong hentikan!” Lili mencoba melepaskan tangan ibu B dari rambutnya.
“Diam, kau perlu di kasih pelajaran! Karena mu rumah tangga Jiya jadi hancur!” Ibu B pun memukul kepala Jiya.
Puk puk!
“Akhh!! Aku enggak bersalah sialan! Suaminya sendiri yang menggoda ku! Dia yang ingin menikah dengan ku!” Lili yang tak ingin di salahkan malah berteriak pada ibu B.
Ibu C yang suka perkelahian dengan cepat membatu ibu B untuk memberi Lili pelajaran.
“Wanita durjana!” ibu C mencubit paha mulus Lili sekuat-kuatnya.
“Akh!! Tolong!!” Lili berteriak histeris.
Bukannya kasihan atau takut, ibu A, B dan C malah mengkroyak Lili bersama-sama.
Ciiitt!!!
Sang supir angkot melakukan rem mendadak, karena ia takut Lili sampai mati dalam mobilnya.
Kemudian sang supir pun menoleh ke belakangnya.
“Berhenti kalian semua! Kalau ingin membunuh wanita itu, sebaiknya lakukan di tempat lain, ini sarana ku mencari rezeki ibu-ibu!” pekik supir angkot.
Sontak perkelahian itu pun berhenti, lalu ibu C pun berkata pada Lili.
“Turun sekarang atau kami telanjangi kau!” ibu C yang garang tentu serius dengan apa yang ia katakan.
Lili yang ketakutan pun tentu memilih pergi, sebab menatap akan membawa petaka untuknya.
Ia pun dengan segera turun dari angkot mengerikan itu.
Selanjutnya sang supir pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat
__ADS_1
Lili yang masih trauma pun memeluk dirinya sendiri.
“Hiks, kenapa ini semua terjadi pada ku ya Allah.” sampai titik itu Lili belum sadar jika itu adalah balasan yang kuasa untuknya.
Lili yang balik badan pun baru sadar jika dirinya di turunkan di depan supermarket Lee Jiya.
Brrr!!
Bulu kuduknya seketika berdiri, jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang.
Ia pun bergegas pergi dari sana karena ia takut bertemu dengan Jiya.
Saat Lili ingin melarikan diri ia tak melihat jalannya dengan benar. Tanpa sengaja kakinya tersandung batu.
Bruk!
Alhasil Lili jatuh ke tanah, hal itu pun membuat lutut Lili berdarah.
“Kau baik-baik saja?” sapa Jiya seraya memegang punggung Lili dari belakang.
Ji-Jiya? batin Lili.
Ia yang takut Jiya melihat wajahnya dengan cepat bangkit dari tanah, niat hatinya ingin melarikan diri, malah Lili yang malang menginjak batu yang sama untuk yang kedua kalinya.
Bruk!
Lagi-lagi Lili terjatuh, kali itu kakinya keseleo dan ia juga tak mampu untuk berdiri.
Jiya yang kasihan pada wanita berpenampilan acak-acakan itu berniat untuk membawanya berobat.
“Dino!” Jiya memanggil manager tokonya.
“Iya bu!” sahut Dino seraya berjalan menuju Jiya dan Lili.
Lili yang semakin takut dan malu mencoba melepaskan diri dari Jiya.
“Biarkan aku pergi!” Lili menghempaskan tangan Jiya dari kedua lengannya.
Mendengar suara Lili Jiya langsung menjauh. “Ngapain kau datang kesini?” Jiya berpikir kalau Lili ingin berbuat jahat padanya.
“Aku hanya kebetulan lewat!” Lili yang tak ingin di remehkan malah menjawab sinis.
“Oh! Kalau begitu segera pergi dari sini!” Jiya mengusir Lili dari area supermarket nya.
“Aku juga sudah mau pergi kok!” Lili yang angkuh mulai melangkahkan kaki.
“Au!” namun kakinya yang sakit tak bisa ia paksakan untuk berjalan.
Lili yang malang pun memegang lututnya dengan sangat erat.
__ADS_1
Kondisi Lili yang menyedihkan cukup membuat Jiya prihatin.
“Ada apa bu?” tanya Dino yang kini berdiri di sebelah Jiya.
“Tunggu sebentar.”Jiya berpikir untuk menolong Lili atau tidak.
Tapi Lili yang tak kunjung bergerak membuat hati kecil Jiya iba.
Aku tahu dia adalah ular, tapi sekarang dia sedang kesulitan, bagaimana pun dia sangat berjasa untuk ku, berkatnya aku bisa lepas dari Alex yang hanya memanfaatkan selama ini, batin Jiya.
Jiya yang tak mencintai Alex dengan berlapang dada mendekati Lili terlebih dahulu.
“Lili...” saat Jiya akan memegang tangan Lili, Lili langsung menepisnya.
Dino yang melihat tindakan Jiya merasa kalau bosnya sangatlah bodoh.
Untuk apa bu Jiya membantu wanita brengsek itu, batin Dino.
“Jangan sentuh aku, aku bisa berjalan sendiri.” Lili yang tak ingin harga dirinya jelek tak mau menerima bantuan Jiya.
“Jelas kau sangat kesakitan, ayo! Kita pergi ke klinik,” ucap Jiya.
“Tidak, sebaiknya kau pergi!” Lili berlagak tegar agar tak dikasihani Jiya.
“Kalau begitu telpon Alex biar datang menjemput mu,” ujar Jiya.
“Berisik!” Lili tak ingin bertatap muka dengan Jiya yang kini jauh lebih elegan dan berwibawa darinya.
“Ya sudah kalau begitu.” Jiya pun meninggalkan Lili yang menolak niat baiknya. Begitu juga dengan Dino.
Lili yang kacau menahan air matanya yang ingin menetes.
Ia juga menundukkan kepalanya karena tak sanggup melihat wajah orang-orang yang kalau lalang ke Supermarket itu.
Lili yang ketiban sial terus menunggu angkot datang, namun sayangnya tak ada satu pun yang lewat.
Lili yang tak sabaran pun akhirnya memanggil ojek yang kebetulan mangkal di seberang jalan.
“Pak! Kesini sebentar!” Lili melambaikan tangannya, lalu tukang ojek itu pun datang menghampiri Lili.
“Pak, antarkan aku ke jalan merpati,” pinta Lili.
“Siap neng, ayo naik,” ujar tukang ojek.
“Kesana ongkosnya berapa ya pak?” Lili bertanya karena takut uangnya kurang.
“40.000 saja neng, enggak mahal kok,” ucap tukang ojek.
Lily yang tak punya uang merasa syok, baginya itu malah terlalu mahal.
__ADS_1
Bagaimana ini, kalau aku naik ojek nanti aku enggak akan makan, tapi kalau aku menunggu angkot, aku harus siap menanggung malu, pasti Jiya akan menertawai ku, batin Lili.
Lili yang ingin segera pergi dari sana terpaksa mengambil resiko besar dengan merelakan uangnya belanjanya habis untuk ongkos pulang.