
“Mungkin mulai sekarang aku harus tidur disini,” ucap Jiya.
Berkat insiden tadi malam Jiya pun memutuskan untuk pindah kamar.
Jiya yang kembali memejamkan mata tiba-tiba mendengar handphonenya berbunyi.
Tididing!
Jiya pun membuka matanya lalu melihat layar handphonenya.
“Dilan?” Jiya langsung membuka sandi handphonenya.
Lalu membaca pesan manis dari sang mantan yang kini mendekatinya kembali.
Bangun nanas, jangan sampai kesiangan! 🍍 ✉️ Dilan.
“Apa-apaan dia, dia pikir kita masih muda apa?” Jiya merasa Dilan terlalu kekanak-kanakan.
Meski merasa geli namun Jiya tetap membalas pesan itu demi menghargai orang yang kini berusaha mendapatkan hatinya.
Aku sudah bangun jagung, jangan lupa minum kopi biar waras, ✉️ Jiya.
“Hehehe... kenapa jadi seperti orang pacaran ya?” Jiya pun turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilan yang masih di balut selimut tersenyum melihat balasan pesan dari Jiya.
“Jagung? Mungkinkah itu panggilan sayang?” Dilan pun berulang kali membaca pesan Jiya.
“Jagung? Enggak buruk juga, nanas dan jagung adalah pasangan yang serasi.” semakin memikirkan Jiya, hati Dilan makin menyayangi mantan kekasihnya hingga ia tak sadar telah melupakan Fitri yang masih sangat menyayanginya.
“Semangat, hari ini aku harus terlihat keren, agar Jiya yakin kalau aku pantas bersamanya.” Dilan pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Tepat pada pukul 07:00 pagi, Dilan yang telah selesai sarapan menuju pintu utama karena ia memarkirkan mobilnya disana.
Tangannya yang jenjang pun meraih gagang pintu.
Ceklek!
Ketika pintu terbuka lebar Dilan kaget bukan main karena Fitri sang mantan kekasih telah berdiri tegap di hadapannya dengan mata bengkak hidung merah berair.
“Fitri...” Dilan menatap sang mantan dengan penuh rasa iba.
“Dilan, kenapa kau malah memutuskan ku? Pada hal aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu pada mu, aku... hiks.. masih sangat menyayangi mu, huahhh...” Fitri menangis sesungukan lalu memeluk Dilan dengan erat.
“Fitri, kenapa kau datang pagi-pagi kesini?” tanya Dilan.
“Aku rindu kau, aku masih sangat mencintai mu Dilan, ku mohon jangan tinggalkan aku.” Fitri mengungkapkan isi hatinya.
Ini enggak benar, aku tidak mungkin menyakiti Jiya untuk yang kedua kalinya, lagi pula aku ingin bersama Jiya, batin Dilan.
__ADS_1
Dilan yang ingin konsisten dengan keputusannya akhirnya bertindak tegas pada Fitri.
“Ayo, masuk dulu.” Dilan yang ingin bicara baik-baik pun mengajak Fitri masuk ke dalam rumahnya.
Akhirnya aku berbaikan juga dengan Dilan, batin Fitri.
Ia berpikir kalau mantan kekasihnya akan luluh dengan usahanya jauh-jauh mendatangi pria tampan itu ke kota kecil tersebut.
Sesampainya di ruang tamu Dilan dan Fitri duduk di atas sofa.
“Apa kau sudah makan?” tanya Dilan.
“Sudah.” jawab Lili yang masih terus memeluk Dilan.
“Fitri, aku ingin jujur pada mu.” Dilan yang tak ingin menyakiti keduanya mengutarakan apa yang ada dalam hatinya pada Fitri.
“Soal apa?” sahut Fitri.
“Aku, tidak bisa menjadi kekasih mu lagi.”
Duar!!
Bak tersambar halilintar di pagi hari, Fitri yang telah menurunkan egonya malah mendapatkan hasil yang tidak sepadan.
Alih-alih mendapat respon baik, ia justru terhempas jauh akibat keputusannya sendiri.
“Aku enggak mau, aku masih sangat menyayangi mu.” Fitri yang masih cinta tak mau di putuskan oleh Dilan.
“Fit, kita berdua itu tak cocok, kau tahu sendirikan, aku tak pernah bisa memberi apa yang kau mau, aku juga tak mampu menjadi seperti yang kau inginkan, Fit... aku ingin kau bahagia.” Dilan pun melepas pelukan Fitri darinya.
“Bisa, sebelum dengan ku kau juga baik-baik saja,” ucap Dilan.
“Tidak, jangan begini pada ku Dilan, hiks...” Fitri meraung-raung karena tak ingin berpisah dengan Dilan.
“Maaf, sebaiknya kau pulang sekarang, aku masih harus kerja.” Dilan yang akan serius dengan Jiya terpaksa bersikap tega pada Fitri.
“Di-Dilan, jangan lupakan segala yang telah kita lalui selama ini.” Fitri mencoba mempengaruhi keteguhan hati Dilan.
“Aku masih ingat, tapi selama itu juga aku sudah mengenal mu, aku takut jika kita memaksakan takdir yang salah, kau dan aku tidak akan bahagia.” Dilan pun mengelus puncak kepala Fitri.
“Aku yakin kau akan dapatkan pengganti yang lebih baik dari ku,” ujar Dilan.
“Enggak akan, hiks...tak yang seperti dirimu lagi Dilan” Fitri masih bersikukuh untuk tetap bersama dengan Dilan.
“Ayo.” Dilan menarik tangan Fitri untuk bangkit dari sofa.
“Mau kemana?” tanya Fitri.
“Keluar, tidak baik berlama-lama dalam rumah laki-laki yang bukan siapa-siapa mu lagi.” kata-kata Dilan membuat perasaan Fitri hancur berkeping-keping.
“Baiklah.” Fitri yang di tolak total mencoba berdamai dengan keadaan meski merasa berat.
__ADS_1
Ia pun mengikuti langkah Dilan yang masih memegang tangannya dengan erat.
Aku tidak akan bisa merasakan kehangatan ini lagi, batin Fitri.
Sesampainya di pintu utama Dilan melepaskan tangan Fitri.
Lalu Dilan pun mengambil uang dari sakunya, setelah itu Dilan memberikannya pada Fitri.
“Ini, pulanglah, hati-hati di jalan.” Dilan yang teguh pendirian melepas kepergian Fitri sang mantan kekasih dengan ikhlas.
“Baiklah.” Fitri pun balik kanan dan meninggalkan rumah kekasihnya dengan penuh kesedihan dalam hatinya.
Dilan sendiri menatap kepergian Fitri seraya berdo'a dalam hati.
Semoga kau menemukan orang yang tepat, Fitri, batin Dilan.
Setelah Fitri luput dari pandangan matanya, Dilan pun masuk ke dalam mobilnya, kemudian melaju membelah jalan raya menuju Golden Market.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lili yang sedang sarapan lontong sayur tiba-tiba mendapatkan ide bagus.
“Benar juga, sepertinya uang 250 juta cukup untuk membuka apotik, aku juga sudah melihat, di kabupaten ini hanya ada empat apotik, itu juga jaraknya jauh-jauh, kalau di pusat pasar jaya sepertinya belum ada.” Lili yang mendapat pencerahan pun merasa bersemangat.
Lalu Ia pun segera menyelesaikan sarapan paginya.
Selanjutnya Lili menuju kamar dan membuka lemari bajunya.
Ceklek!
Krieett!!
Kemudian Lili mengambil kotak emasnya yang ia simpan di bawah tumpukan baju yang tak ia pakai.
“Eh, kok ringan?” jantung Lili jadi berdebar tak karuan.
Tak!
“Haaaah!” seketika Lili merasa sesak napas saat ia melihat kotak perhiasannya kosong, bersih tak meninggalkan apapun.
“Di-dimana?” Lili menjadi panik.
Kemudian ia pun membuang kotak perhiasannya ke lantai, lalu tangannya pun sibuk membuka setiap lipatan bajunya yang telah di setrika rapi.
“Dimana? Ya Tuhan... kemana emas-emas ku!!! Hiks.” Lili yang belum menemukannya pun menarik dengan sembarang baju-bajunya hingga semua pakaiannya tercecer di lantai.
“Aaaaaakkhhh!!” teriakan Lili menggema hingga ke seluruh penjuru rumah.
Alex yang sedang cuci piring pun dapat mendengarnya, ia yang khawatir segera membasuh tangannya lalu berlari menuju kamar.
Sedangkan Rosa yang sedang fokus yoga merasa terganggu akan teriakan putrinya.
__ADS_1
“Dia kenapa sih?!” Rosa pun keluar kamarnya dan menuju kamar Lili.