
Alex yang telah sampai di kamar melihat Lili menangis seraya memeluk dress-dress indahnya.
Kondisi kamar yang berantakan membuat Alex bingung dengan apa yang terjadi.
“Emas ku... hiks, emas ku ada dimana?” mata Lili terpejam karena merasa sangat kehilangan pada barang berharga yang ia kumpulkan selama ini.
“Lili, ada apa sayang? Kenapa kau mengacak-acak kamar kita?” Alex sangat penasaran dengan alasan Lili yang sebenarnya.
“Emas yang ku simpan disini hilang entah kemana mas, hiks...” Lili menunjukkan kotak perhiasannya pada suaminya.
“Apa? Kok bisa? Apa mungkin maling masuk kesini?” Alex yang tak tahu apapun bingung harus berbuat apa.
“Enggak mungkin mas! Karena kamar ini selalu ku kunci kalau aku keluar, lemari ini juga begitu, kalau aku sudah selesai mengganti baju, aku selalu membawanya kuncinya kemana-mana, jadi enggak mungkin ada orang lain yang masuk selain kita sekeluarga.” Mengingat kata keluarga Lili pun menatap tajam mata Alex.
“Jangan-jangan kau ya mas yang mengambilnya?!” Lili menuduh Alex tanpa bukti.
“Jangan sembarangan ya! Aku enggak mungkin mengambil itu, aku kan jarang disini!” Alex yang tak bersalah membela dirinya.
“Lalu siapa?” Lili tak tahu jika ibunya yang tamak dan serakah lah yang melakukannya.
“Pada hal itu modal buat buka apotik, ya Tuhan... aku kesal! Akhh!!” Lili menghentak-hentakkan kakinya ke lantai layaknya anak kecil.
“Sayang tenang dulu, mungkin saja kau salah letak.” Alex memeluk Lili yang tidak hentinya menangis.
Sedang Rosa yang mengintip dari mulut pintu merasa deg degan sekaligus marah pada putrinya yang menurutnya sangat pelit padanya.
Itu hanya emas, kalau nyawa manusia baru dia meraung-raung seperti orang gila! batin Rosa.
Rosa yang pernah mengambil kunci kamar dan lemari putrinya saat sedang tidur siang, dengan cepat membawanya ke tukang duplikat kunci.
Setelah ia berhasil mendapat kunci yang sama, Rosa dengan leluasa mengambil apapun yang menurutnya bisa di jual.
”Kita harus bagaimana? Belum lagi anak ini akan lahir! Aaaaaakh!! Kenapa kesialan selalu menimpa ku, huah!!” Lili terus menangis hingga membuat telinga Rosa yang mendengarnya jadi sakit dan hampir pecah.
Kesabaran Rosa yang telah habis membuat amarah dalam hatinya berkobar.
__ADS_1
“Berisik!” hardik Rosa.
Seketika Lili dan Alex menoleh ke arah Rosa yang berdiri di mulut pintu.
“Bu, emas Lili...”
“Aku sudah dengar!” Rosa memotong kalimat yang belum selesai Alex ucapkan.
“Apa ibu pernah melihatnya?” Lili bertanya pada ibunya karena ia curiga jika ibunya yang mengambil emas-emasnya.
“Aku sudah menjualnya!” jawab Rosa dengan lantang dan lugas.
“Apa?” mata Alex dan Lili membelalak sempurna saat Rosa mengatakannya tanpa beban dan rasa bersalah.
Sialan! Pasti uang yang telah membeli emas itu, kurang ajar juga mertua tak tahu diri ini, harusnya kan kami sudah bisa hidup enak, batin Alex.
“Kenapa ibu melakukan itu? Pada hal aku sudah memberi apa yang ibu mau, kebutuhan ibu ku cukupi. Bu, itu modal untuk membuka apotik, kenapa ibu sampai hati begitu pada ku, hiks...” Lili kecewa pada ibunya yang telah tega mengkhianati kepercayaannya.
“Aku kurang baik apa sih bu?” Lili memeluk Alex karena tak mampu untuk duduk dengan benar.
Hati Alex sungguh tak sanggup melihat air mata Lili yang terus bercucuran.
“I-ibu juga ambil uang yang ada di atm ku?” mata Lili membelalak tak percaya.
Ia yang tahu dirinya tak punya apapun lagi selain rumah yang ia tinggali tiba-tiba menjadi stres dan histeris.
“Aaaa!! Aaaa!!” Lili mendorong tubuh Alex darinya, lalu ia pun berdiri dan berjalan cepat menuju ibunya.
Alex yang tahu Lili akan berbuat kasar sama sekali tak mencegahnya, sebab ia sendiri ingin menjual mertuanya ke mafia perdagangan manusia agar menghasilkan uang.
“Mau apa kau, Lili?!” Rosa menurunkan alisnya, bibirnya bergetar seolah akan mencerca putrinya dengan makian kasar.
“Keluar dari rumah ku, sialan!!!” Lili mendorong bahu ibunya dengan kedua tangannya.
Bruk!
__ADS_1
Rosa pun jatuh telentang ke lantai, lalu wanita licik itu langsung duduk dan menatap marah pada putrinya.
“Durhaka! Kau pikir aku adik mu? Pembantu mu? Hati-hati Lili! Jangan sampai ku laknat hidup mu jadi menderita! Ingat Lili surga itu di bawah telapak kaki ibu! Apa kau mengerti, bangsat!” Rosa yang merasa benar dan selalu di tuakan tak terima dengan tindakan tak terpuji Lili.
Ia juga merasa sakit hati dan di rendahkan oleh Lili, apa lagi itu terjadi di hadapan menantunya.
“Aku bosan bu! Ibu tak pernah memikirkan perasaan ku, bagaimana usaha ku selama ini, terlalu! Ibu sudah keterlaluan!” ucap Lili dengan lantang.
Rosa yang tidak terima pun menantang putrinya.
“Lalu kau mau apa? Hah! Aku juga sudah berjuang membesarkan mu mulai dari kandungan sampai sekarang!” Rosa mengungkit apa yang telah ia lakukan.
“Jangan salahkan aku kenapa terlahir ke dunia ini! Sebaiknya ibu pergi! Pulang ke Jakarta bu! Jangan pernah temui aku lagi!” Lili mengusir ibunya.
“Apa?! Beraninya kau!” Rosa jelas ketakutan, karena ia yang malas kerja dan bisanya hanya menghabiskan uang tentu tak bisa hidup sendirian tanpa bantuan Lili.
“Keluar bu! Pergi, aku sudah tidak mau mengenal ibu!” Lili tetap ingin ibunya minggat dari rumahnya.
“Alex... nasehati istri mu, aku ini ibunya.” Rosa meminta pembelaan Alex.
“Maaf bu, aku setuju dengan pendapat Lili, harusnya ibu tak melakukan kesalahan itu, meski Lili adalah putri ibu, tapi mengambil sesuatu yang bukan milik kita itu mencuri namanya, meski pun yang punya adalah anak kita,” terang Alex.
Ia sama sekali tak membela mertuanya, karena ia juga ingin wanita tua yang ada di hadapannya menghilang dari kehidupan mereka.
“Alex, kau?!!” Rosa yang tak punya pembela menelan salivanya.
Ia benar-benar gentar untuk melangkah, apa lagi tak ada yang akan mengirim uang belanja padanya.
“Ayo, bu. Ku antar ke depan.” Alex yang gagah memegang lengan mertuanya.
“Jangan sentuh aku menantu tak berguna! Aku bisa sendiri, ingat ya Lili! Ku minta pada Tuhan untuk menjadikan hidup mu sengsara dan tidak akan pernah bahagia!” setelah mengatakan itu Rosa melenggang pergi.
Alex yang di tinggal berdua dalam kamar kembali memeluk istrinya.
“Jangan menangis Lili, besok aku akan cari kerja, aku pasti bisa membahagiakan keluarga kecil kita.” Alex menyakinkan Lili kalau ia mampu menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.
__ADS_1
Lili yang tak punya pilihan lain terpaksa berdamai dengan keadaan dari pada menanggung beban itu sendirian.
“Tolong serius mas, pokoknya kau harus dapat kerja apapun caranya, aku enggak mau sampai kelaparan,” ucap Lili.