Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Bayi Bahagia


__ADS_3

Saat istirahat makan siang, Alex dan Lili memilih makan di parkiran basement dari pada bergabung di kantin dengan karyawan lainnya.


Mereka menjauhkan diri karena tak ingin di usik.


Orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka, malah semakin gencar melakukan perundungan kepada keduanya.


Alex dan Lili yang ingin bertahan hidup tengah-tengah susahnya mencari uang hanya bisa bersabar, dengan perlakuan orang-orang yang merasa benar dan suci.


Lalu mereka berdua duduk di sebuah bangku semen.


Kemudian Lili membuka kotak nasi berukuran sedang yang mereka bawa dari rumah.


Tak!


“Ayo kita makan mas,” seru Lili.


Karena belum gajian pasangan suami istri itu hanya makan nasi putih di temani garam.


Alex menatap sejenak bekal makanan yang di bawa istrinya.


Inikah yang dinamakan makan sepiring berdua? batin Alex.


Rugg!!


Meski batinnya menolak namun lambungnya memohon untuk di isi.


Ia yang tak mampu memberi terpaksa memakan apa yang ada di hadapannya.


“Kalau perut lapar apapun menunya akan terasa enak.” Lili hanya bisa tersenyum tanpa bisa menangis karena semua telah terjadi.


“Kau benar, garam rasanya seperti ikan asin,” ucap Alex.


...****************...


Jiya baru selesai mengganti pakaian di kamarnya keluar menuju ruang tamu.


Kinan yang melihat putrinya datang menyandang pun mulai bertanya.


“Kau mau kemana?” tanya Kinan penuh selidik.


“Mau ke rumah orang tuanya Dilan ma,” ujar Jiya.


“Memangnya harus sekarang?” Kinan yang masih rindu keberatan untuk mengizinkan putrinya pergi.


“Iya, karena nanti sore kami ingin pulang,” ujar Jiya.


“Apa? Buru-buru sekali?” mendengar pernyataan Jiya membuat Kinan syok.


“Tak mungkin, supermarket Lee Jiya ku tinggalkan lama-lama,” terang Jiya.


”Astaga, itu saja kau pikirkan, lagi pula untuk apa kau pergi ke rumah Dilan? Biarkan saja dia yang datang bersama orang tuanya kesini,” ucap Kinan.


“Tapi aku sudah berjanji akan pergi ke rumahnya hari ini ma, kasihan nanti dia menunggu ku disana.” sebenarnya tak masalah jika Jiya tidak pergi.


Namun Lyra merasa tidak enak, karena Dilan telah berjasa menyatukannya dengan kedua keluarganya.

__ADS_1


“Nanti mama yang akan telepon Dilan,” ucap Kinan.


“Mama mu benar nak, pokoknya hari ini kau tak boleh pergi ke mana-mana, waktu mu hanya untuk kami.” Arman menguatkan pendapat Kinan.


Karena kedua orang tuanya tak memberi izin akhirnya Jiya menetap di rumah.


Jiya pikir esok hari ibunya akan memberinya izin keluar rumah.


Namun Kinan yang ingin mengganti hari-hari yang telah lalu tanpa putrinya tak mau putrinya kemanapun.


Jiya yang sayang ibunya dan tak mau durhaka lagi hanya bisa menuruti apa yang di katakan orang tuanya itu.


Jiya pun menghabiskan waktu bersama keluarga saat ini akan pergi ada saja alasan ini ibu Ayah atau abangnya tak pergi meninggal.


Lyra yang memiliki firasat kalau ia akan cuti panjang akhirnya menyerahkan pekerjaan kepada asisten kepercayaannya di kantornya.


Benar saja, ia pun tak di bolehkan pulang lagi di kota S sebelum pernikahan antara ia dan Dilam selesai di laksanakan.


2 bulan 1 minggu kemudian, seminggu sebelum prosesi akad belum resepsi pernikahan di laksanakan keluarga Dilan pun datang untuk melamar Jiya.


“Apa nak Jiya bersedia membina rumah tangga bersama putra om yang bernama Dilan?” tanya David.


“Saya bersedia om.” Jiya tak menolak karena itu adalah keinginannya sendiri.


Dilan merasa bahagia saat mendengar lamarannya yang di wakilkan kepada ayahnya di terima.


Terimakasih Jiya, batin Dilan.


...****************...


1 bulan 2 minggu kemudian, saat Alex sedang mengepel lobi utama, ia pun melihat mantan istrinya turun dari dalam sebuah mobil yang sangat familiar di matanya.


“Sampai ketemu makan siang sayang.” Dilan melambaikan tangannya kepada istrinya.


Alex yang melihat kemesraan keduanya merasa sangat cemburu, tapi ia tak bisa berbuat apapun.


Bahkan kini ia merasa malu dan tak pantas melihat wajah Jiya.


Ia pun untuk menghindari mantan istrinya menjadi bosnya.


“Hai Jiya.” Lili menyapa Jiya yang sudah lama tak bertemu dengannya.


“Hai, bagaimana kabar mu dan kandungan mu?” meski Lili adalah penyebab hancurnya rumah tangga.


Tapi Jiya sama sekali tak dendam, ia pun bersikap ramah pada wanita yang telah mengambil uangnya secara diam-diam.


Karena menurutnya alam dan masyarakat telah memberi hukuman pada Lili pernah ia anggap sahabat.


“Kabar kami baik, eh... hari ini ulang tahun ku, apa tidak ingin memberikan kado untuk ku?” Lili yang selalu kekurangan uang sering minta-minta kepada orang yang ia kenal.


”Oh ya?” Jiya menganggukkan kepalanya.


“Iya, kalau kau mau memberi, kasih uang untuk ku saja, karena untuk perlengkapan bayi ku, anak ku belum punya popok, bedong minyak, sabun pokoknya semuanya belum ada.” Lili merasa sedih akan nasib anak pertama yang kurang beruntung.


Jiya yang iba pun mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.

__ADS_1


Ia yang tahu nomor rekening Lili langsung mentransfer uang sebesar 10 juta rupiah.


“Ini sedekah ku untuk mu.” Jiya menunjukkan bukti transferan yang yang baru saja ia kirim.


“Terimakasih banyak Jiya.” Lily sangat senang atas bantuan yang diberikan oleh Jiya.


“Sama-sama, itu semua ku lakukan sebagai tanda syukur karena sekarang aku juga sedang mengandung.” Jiya mengelus perutnya yang kini berisi seorang Malaika kecil.


Alex yang ternyata mendengar percakapan keduanya merasa lemas dan ingin pingsan.


Andai aku bersabar, pasti kalau bayi adalah darah daging ku, batin Alex.


Tak ada penyesalan yang paling perih selain meninggalkan istri pertama yang telah berjuang malaikat derajat selama ini.


Kini Alex hanya dapat melihat wanita yang pernah ia sia-siakan hidup bahagia dengan pria lain.


Lili sendiri tersenyum dan memberikan selamat pada wanita ia rebut suaminya.


“Aku ikut bahagia, selamat ya Jiya.” setelah itu Lili kembali ke dalam supermarket untuk membersihkan toilet wanita.


Sementara Jiya melangkah menuju office yang ada di lantai dua.


Tuhan memang tidak tidur, terbukti dengan menunjukkan dan menjauhkan aku dari orang-orang yang tidak tulus dariku, dan balas Tuhan itu mutlak, lebih tepat dari pada rencana manusia yang ingin balas dendam setiap kali hatinya tersakiti, kebersamaan ku bersama Alex adalah sebuah pelajaran besar, aku tak boleh terlalu mencintai seseorang melebihi diriku karena itu bisa saja akan menjadi bumerang untuk ku. Aku juga tidak akan pernah memperlihatkan isi hati ku sepenuhnya kepada siapapun, aku juga akan merawat diriku tentu tujuan utamanya untuk ku sendiri, karena tidak ada yang bisa menghargai dirimu selain kau sendiri, I love you myself.


Jiya yang telah sampai di ruang office mau mulai aktivitas saya seperti biasa.


Orang-orang yang tahu kabar kehamilan Jiya memberikan selamat penuh suka cita dan tak sabar menunggu kelahiran bayi itu.


9 bulan kemudian Jiya pun melahirkan bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki.


“Alhamdulillah sayang.” Dilan sangat bahagia, sekaligus bersedih karena ia teringat akan bayi mereka di masa lalu.


Ia yang kini telah menjadi ayah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga kedua buah hatinya dan sang istri tercinta yang memperjuangkan hidup dan matinya demi dua malaikat kecil yang di titipkan Ilahi Robbi kepada mereka.


...****************...


Alex yang sedang mengayun putrinya di rumah merasa patah hati mendengar kabar kabar bahagia dari Jiya.


“Hiks... harusnya itu anak ku.” ia pun menangis sesungukan, Alex sangat membenci dirimu membuat kesalahan besar sehingga menghancurkan masa depannya yang masih panjang.


“Kau kenapa mas?” tanya Lili yang baru selesai mencuci pakaian putri mereka.


“Tidak ada.” Alex enggan mengatakannya ternyata ingin bertengkar.


“Oh.” Lili yang lelah tak memperpanjang pertanyaannya, ia pun melanjutkan pekerjaannya yaitu menjemur baju bayinya di tali jemuran yang di ikat dari rumah ke pohon mangga yang ada di depan rumah mereka.


...****************...


Malam harinya, saat dan keluarganya berkumpul kediaman orang tua Dilan.


Jiya dan Dilan pun mengumumkan nama putra kembar mereka.


“Si abang namanya Adam, yang ade Pahlevi, jika di gabungkan artinya adalah manusia pertama di bumi yang pemberani.” Jiya pun tersenyum setelah menjelaskannya.


“Benar, sehat-sehat ya anak papa, kalau sudah besar jaga mama dan papa.” Dilan mengecup kening kedua putranya secara bergantian.

__ADS_1


Kedua belah pihak yang mendengar nama itu pun setuju, tak ada yang berani mengatakan keluhan selagi artinya nama itu bagus.


Selesai.


__ADS_2