
Ada, tapi bagian administrasi, apa kau bisa? 📲 Jiya.
Iya, aku bisa Ji! 📲 Lili.
Ya sudah, kau boleh datang sekarang juga, nanti aku kirim ongkos mu, 📲 Jiya.
Terimakasih banyak Jiya, kau memang malaikat penolong ku, 📲 Lili.
Sama-sama, sudah dulu ya karena aku masih harus kunjungan ke toko cabang, 📲 Jiya.
Baiklah, aku akan berangkat setelah kau transfer ongkos ku, 📲 Lili.
Oke, nanti ku kirim alamatnya ya,📲 Jiya.
Setelah mematikan telepon dari Lili Jiya pun langsung mengirim ongkos sahabatnya tersebut.
Keesokan harinya tepat pada pukul 09:00 pagi Lili sampai ke alamat yang di Jiya kirim.
“Apa benar ini rumahnya?” Lili merasa kagum dengan rumah indah sahabatnya.
Untuk memastikannya Lili pun menelepon Jiya.
Ji, aku sudah sampai ke alamat yang kau kirim, tapi apa benar rumah cat putih tulang ini adalah rumah mu? 📲 Lili.
Iya benar, masuk saja Li, nanti ada art disitu, aku dan Alex sudah berangkat kerja soalnya, aku juga sudah menyiapkan kamar untuk mu, 📲 Jiya.
Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya, 📲 Lili.
Iya, sampai nanti, 📲 Lili.
Sampai jumpa, cepat pulang ya Ji, 📲 Lili.
Selesai melakukan panggilan, Lili pun menyimpan handphonenya ke dalam saku bajunya.
Lalu ia pun menekan bel pagar rumah sahabatnya yang ada dia sebelah tiang pagar.
Ting dong!
Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
Melihat kehadiran Lili yang telah di beritahu Jiya sebelumnya membuat Winda langsung menyambut baik kedatangan sahabat majikannya itu.
“Non Lili kan?” ucap Winda dengan ramah.
“Iya bu,” sahut Lili.
Kemudian Winda membuka pagar lalu mengangkat barang bawaan Lili si gadis cantik yang lebih mementingkan skincare dari pada makan.
“Mari non.” Winda pun menuntun jalan Lili untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Terimakasih banyak ya bu.” ucap Lili dengan terseyum manis.
“Sama-sama non,” sahut Winda.
Nyonya enggak salah nih? Masa kasih izin buat wanita secantik ini tinggal di rumah? batin Winda.
Wanita yang telah beranak 4 itu takut jika rumah tangga majikannya berantakan jika Lili tinggal bersama mereka.
Tapi apa hak ku untuk menasehati nyonya? batin Winda.
Winda memilih diam karena ia merasa tidak akan rugi apapun apabila tuan dan sang nyonya berpisah.
Sesampainya ke dalam rumah Winda pun menunjukkan kamar yang akan di tempati Lili, tepatnya ada di dekat dapur.
“Terimakasih banyak ya bu, sekarang saya mau istirahat dulu.” Lili yang lelah ingin tidur saat itu juga.
“Iya non, kalau mau makan silahkan datang ke dapur,” ucap Winda.
“Iya bu.” setelah itu Lili menutup pintu kamarnya. Saat Lili ingin tidur tiba-tiba ia merasa lapar.
“Aku makan dulu deh baru tidur.” Lili pun bangkit dari duduknya lalu keluar kamar menuju dapur.
Sesampainya Lili di dapur ia melihat Alex yang sedang makan.
“Mas Alex!” Lili yang sudah lama tak bertemu Alex sang mantan kekasih waktu ia SMP merasa senang bukan main.
“Bukannya kau kerja mas? Kenapa malah disini?” Lili yang merasa akrab meremas bahu Alex dengan Erat.
Mendapat perlakuan demikian Alex merasa tertegun.
“Aku ketinggalan handphone ku, kebetulan aku lapar makanya ku sempatkan makan dulu.” ucap Alex dengan perasaan berdebar-debar.
“Aku juga lapar mas.” kemudian Lili mengambil nasinya lalu duduk di sebelah Alex.
“Jam berapa kau sampai?” tanya Alex sebagai basa-basi.
“Baru saja hehehe, ngomong-ngomong aku enggak menyangka kalau kau bisa sukses mas.” Lili tersenyum hangat pada Alex yang terlihat grogi.
“Iya, ini semua berkat kerja keras ku dan Jiya, tapi kau mau apa kesini?” tanya Alex yang tak tahu tujuan Lili ada di rumah mereka.
“Aku akan jadi administrasi di supermarket kalian, aku minta tolong kemarin pada Jiya, ya ampun mas aku enggak menyangka kita bertiga bisa bertemu lagi loh.” Lili begitu senang melihat Alex yang sekarang jauh terlihat tampan dari waktu mereka pacaran.
“Aku juga, 11 tahun enggak bertemu, kau jadi makin cantik Li, bagi rahasianya dong pada Jiya, sekarang dia jelek banget karena sibuk cari uang, pada hal aku mengizinkannya untuk melakukan perawatan.” Alex yang ingin bicara lebih banyak dengan Lili tanpa sengaja merendahkan istrinya di hadapan mantannya.
“Yang pentingkan dia pintar cari uang wajah bisa nomor dua mas, jangan seperti aku enggak punya apapun,” ujar Lila.
“Uang memang penting tapi penampilan jauh lebih penting, apa boleh aku meminta nomor mu Li??” Alex yang tertarik pada Lili berniat untuk menggoda wanita cantik dan seksi itu.
“Boleh.” Lili dan Alex pun saling bertukar nomor. Setelah itu Alex berangkat kerja lagi.
__ADS_1
Lili yang ada di meja makan memegang dadanya yang berdebar kencang.
“Astaga! Aku hampir saja tak bernapas, gila! Alex sekarang glow up banget.” Lili yang telah lama sendiri merasa rindu akan kenangannya bersama Alex yang pernah mengguncang hatinya.
Mereka yang sempat menjalin hubungan selama 2 tahun kembali mengingat masa-masa indah yang mereka lalui.
Sayangnya Jiya tak tahu Jika Alex dan Lili adalah pasangan kekasih sebelum akhirnya Alex menjalin hubungan dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada sore harinya Jiya yang pulang kerja melihat sahabatnya sedang duduk di ruang tamu seraya bermain handphone.
“Lili?” Jiya yang sudah lama tak bertemu sahabatnya merasa senang bukan main.
“Jiya.” lalu Lili bangkit dari duduknya dan memeluk sahabat lamanya.
“Lili! Aku kangen banget pada mu, aku senang bisa bertemu kau lagi.” mata Jiya berkaca-kaca menahan haru.
“Aku juga,” sahut Lili.
Saat kedua wanita itu masih berbincang Alex datang dengan membawa martabak di tangan kanannya.
Jantung Alex pun berdebar kencang saat melihat Lili yang manis memakai piyama merah muda dengan tangan pendek dan celana panjang.
Lili yang memiliki kulit putih bening membuat aura mantannya itu semakin bersinar.
Sejurus dengan itu Alex menoleh ke istrinya yang terlihat lusuh, hitam dan penampilannya berantakan.
Jiya pantasnya jadi ibu Lili, dasar muka boros, batin Alex.
Matanya pun semakin risih memandang istrinya yang telah berjuang keras mengangkat derajat mereka.
Dari yang mencari kerja merangkak jadi pemberi kerja bagi orang lain.
Meski merasa jijik dan geli Alex tak bisa berbuat apapun karena ia yang tak ada bakat di bisnis takut jika bangkrut dan jadi orang miskin lagi kalau menceraikan istrinya.
Ia pun harus bertahan dengan segala kepalsuannya agar tetap hidup enak.
“Sayang, ini aku bawa martabak, loh ini Lili kan?” Alex pura-pura tak tahu jika Lili datang ke rumah mereka.
“Iya Lex, dia mau kerja katanya,” ujar Jiya.
“Oh, apa kabar Li?” Alex pun mengulurkan tangannya pada Lili.
“Kabar baik mas Alex.” kemudian Lili menerima jabatan tangan mantannya.
“Syukurlah kalau begitu.” saat akan melepas tangan Lili, Alex masih sempat untuk menggaruk telapak tangan Lili dengan telunjuknya.
__ADS_1