Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN

Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN
SEDANG GEMPA.


__ADS_3

Di sebuah gedung bertuliskan DSK grup.


Terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya, dengan wajah yang terlihat di penuhi dengan kemarahan. Di saat seorang pria yang sepertinya ia adalah asisten pria yang sedang yang duduk di kursi kebesarannya. Melaporkan sesuatu yang tidak menyenangkan baginya.


BRAAK!! Pria yang duduk di kursi kebesarannya itu langsung memukul meja kerjanya dengan penuh kemarahan.


"Sialan!, Aku telah meremehkan perusahaan yang yang tidak dikenal itu!, ternyata dia telah berani mengambil semua klien yang sudah bekerja sama denganku!." ujar pria itu dengan " Nick apakah kau tahu pemilik perusahaan itu?." Tanyanya pada Pria yang bernama Nick, yang tadi ia sempat kaget karena melihat bosnya menggebrak meja kerjanya.


"Saya tidak tahu pak Diky, cuma yang saya tahu CEOnya bernama Ardhan, dan ia belum lama menjabat CEO di DHIA grup, karena selama ini ia berada di luar negeri pak Diky." ujar pria yang bernama Nick.


"Ardhan?, hmm Aku jadi penasaran!," kata pria yang bernama Diky. " Nick kau selidiki tentang dia dan jangan sampai tertinggal sedikit pun!, Kau paham!" kata Diky, dengan tatapan datar pada Nick.


"Paham Pak!." balas Nick tegas. Dan di saat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok..tok..tok..


"Masuk! " seru Diky lantang, dan lama pintu pun terbuka, dan masuklah seorang wanita cantik.


"Permisi pak, ada seorang wanita ingin bertemu dengan Anda, katanya ia bernama Susi." kata wanita cantik itu.


"Suruh dia masuk!." titah Diky.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi." balas Wanita cantik lagi, lalu ia pun kembali keluar dari ruangan tersebut, dan tak berapa lama seorang wanita paruh baya memasuki ruangan tersebut.


"Kamu duduk di sana dulu." ujar Diky setelah melihat Wanita yang baru saja datang.


" Baik Mas. " balas wanita itu yang sudah pasti ia Susi istrinya Eriko. lalu Susi pun mengikuti perkataan Diky dan ia menghampiri sebuah sofa yang ada di ruangan itu kemudian ia pun duduk di atasnya. Sementara itu Dicky kembali bicara pada Nick hanya sebentar lalu tak lama Nick pun pergi meninggalkan ruang kerja Dicky.


"Kenapa wajah kamu suram begitu sayang?." tanya Dicky sembari ia bangkit dari kursi kursi kebesarannya lalu ia berjalan menghampiri Susi yang sedang berada di sofa.


"Mas, ternyata Riko belum mati Mas, aku harus bagaimana Mas?, aku tidak mau masuk penjara." balas Susi yang terlihat ketakutan.


"Kamu tenang saja sayang, aku pastikan kamu tidak akan masuk penjara, sebaiknya kamu sekarang pergilah Fillah ku yang ada A, kamu akan Aman di sana." ujar Dicky sembari ia memberikan kecupan pada leher Susi dengan hasrat. hingga tanpa sadar Susi mengeluarkan suara lenguhannya.

__ADS_1


"Uhmm Mas, aku sedang ketakutan ukhm..kamu jangan seperti ini Mas..hum..aku lagi tidak mood..humm.." kata Susi, dengan suara yang terdengar bergetar menahan hasrat yang mulai timbul akibat tangan nakal Dicky.


"Ukh, bibir kamu mengatakan tidak mood sayang, tapi lihatlah tubuh kamu ia meminta aku melakukan hal yang lebih sayang humm.." ujar Dicky yang masih menelusuri leher Susi yang jenjang itu sembari tangannya mulai membuka resleting baju Susi yang berada di belakang tubuhnya.


"Uhmm tapi ini kantor Mas, nanti kalau ada yang datang bagaimana Ahh.." kata Susi yang tubuhnya mulai bergeliat, mengikuti irama yang di ciptakan oleh Dicky.


"Nikmatilah sayang, jangan pikirkan hal yang lainnya uhmm.." kata Dicky yang terlihat permainannya mulai ganas, dan Susi yang terbiasa dengan permainan Dicky ia terlihat begitu menikmati, hingga keduanya terbuai dengan permainan yang terlarang itu.


__________


Sementara di luar ruangan.


Nampak dua wanita yang sedang duduk di belakang meja yang di atasnya dapat sebuah tulisan sekretaris. sedang saling pandang, karena keduanya sama-sama sedang mendengar suara yang aneh di ruangan bosnya.


"Apakah kamu mendengar sesuatu Mbak Lia?." tanya salah satu wanita yang duduk di belakang meja sekertaris.


"Iya Aku mendengar juga Tina." kata wanita yang di panggil Lia.


"Sepertinya sedang gempa!" jawab Lia Asal.


"Eh, kok gempa seperti itu Mbak?." tanya Tina lagi yang sepertinya belum paham.


"Hus!, jangan tanya-tanya, itu urusan orang dewasa, kamu masih muda untuk tahu hal itu." Ujar Lia yang seperti ia paham apa yang telah terjadi di ruangan bosnya.


"Emang kenapa Mbak Lia?, kok Tina nggak boleh tahu?." tanya Tina lagi dan ia terlihat semakin penasaran dengan suara-suara yang menurutnya sangat aneh.


"karena memang belum saatnya kamu tahu Tina, ya sudah kamu abaikan suara itu, sebaiknya kamu Buat laporan untuk hasil magang kamu, bukan sebentar lagi magang kamu akan berakhir." ujar Lia yang sepertinya ia ingin mengalihkan pertanyaan Tina.


"Baiklah Mbak Lia." balas Tina yang kini ia bermaksud fokus kembali pada layar laptopnya, Namun suara-suara yang terdengar makin Aneh menurutnya semakin keras hingga ia tak dapat berkonsentrasi pada kerjaannya.


"Ikh, kok suaranya makin kencang ya mbak, membuat Tina merinding dengarnya." keluh Tina. sebenarnya bukan hanya Tina yang pikirannya terganggu oleh suara lenguhan yang terdengar di dalam ruangan bosnya, Lia sebenarnya juga sama apalagi ia adalah wanita yang dewasa paham hal itu, membuat birahinya ikut bergejolak.


Di saat bersamaan, muncul seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik, bahkan lebih cantik dari Susi. Ia berdiri di depan meja sekertaris.

__ADS_1


"Lia kamu sedang Apa?." tanya Wanita itu saat melihat Lia sedang menutup telinganya.


"Eh, Astaghfirullah Bu Diany?!." sentak Lia saat melihat, seorang wanita yang ia kenali tiba-tiba berada di depannya.


"Kenapa kamu kaget seperti itu sih?." tanya wanita yang di panggil Diany oleh Lia.


"Eh, n..nggak papa Bu." ujar Lia lagi yang terlihat gugup.


"Ah sudahlah, Pak Dicky ada di dalamkan?" tanya Diany yang mulai melangkah mendekati pintu ruangan Dicky.


"Eh, Bu..itu..pa..pak Dicky anu.. itu ." tampak Lia bingung dan gugup saat melihat Diany mendekati pintu ruangan bosnya.


"Ada apa dengan pak Dicky Hmm?." tanya Diany yang terlihat heran melihat Lia yang terlihat ketakutan itu. Namun belum lagi Lia menjawab, Diany sudah mendengar sesuatu yang ganjal di dalam ruangan Dicky dan terlihat juga wajahnya langsung berubah seketika.


"Siapa yang berada di dalam hah?!" tanya Diany yang terlihat mulai marah.


"Eh, i..itu Bu..sa..saya..itu.bu.."


Melihat Lia yang begitu sulit menjawab pertanyaannya, membuat Diany semakin kesal.


"Akh, sudahlah!, tidak usah kau Jawab sekarang pergilah ke mejamu sana!." bentak Diany, membuat Lia tak bisa membantah lagi dan akhirnya ia menuruti perintah Diany, dan ia pun kembali duduk.


Sedangkan Diany yang terlihat di penuhi dengan kemarahan karena mendengar suara-suara di dalam ruangan Dicky, langsung membuka pintu ruangan tersebut, dan terlihatlah dua pasang manusia sedang memadu kasih tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka, membuat Diany yang melihat itu semakin marah hingga ia membuka kedua sepatu high heelsnya dan kemudian ia lemparkan kearah mereka, hingga tepat mengenai kepala Dicky yang berada di atas tubuh Susi.


"Aakh!." pekik Dicky dan ia pun langsung menoleh kearah lemparan tersebut, dan betapa terkejutnya ia setelah melihat orang yang telah melempar high heels kepadanya dan dengan spontan ia pun langsung mencabut pedangnya.


"Diany?".


________


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😘


. Jangan pelit loh 😁🤭.

__ADS_1


__ADS_2