
Dhanu, Darma dan Dewo, langsung tercengang saat melihat tingkah Ratih yang terlihat begitu senang saat bertemu dengan Salwa, bahkan ia memeluk Salwa berkali-kali, membuat Dhanu penasaran.
"Ada apa ini?, kenapa kalian terlihat begitu senang?" tanya Dhanu terlihat penasaran hingga ia lupa mengucapkan salam.
"Eh, Mas Ardhan kok nggak kedengaran salamnya?" tanya Salwah yang terlihat kaget saat ia melihat Darma yang berada di belakangnya.
"Eh, ada kakek juga, Assalamu'alaikum kek" lanjutnya yang kemudian ia langsung menghampiri Darma dan juga langsung meraih tangannya serta menciumnya juga.
"Wa'alaikumus salam Nak, bagaimana kabar kamu Nak?" balas Darma menyambut salaman tangannya Salwah.
"Alhamdulillah Salwa baik kek, sendiri bagaimana?" tanya Salwa kembali.
"Alhamdulillah senang kakek dengarnya, kalau kakek Alhamdulillah juga sehat walafiat Nak" balas Darma lembut.
"Alhamdulillah, Salwa juga senang mendengarnya kek" balas Salwah yang memang ia terlihat senang melihat kedatangan Darma.
"Hanya Kakek sajakah yang di sambut, dan melupakan suaminya sendiri hm?" protes Dhanu karena ia merasa di abaikan oleh Salwa.
"Eh Maaf mas, Salwakan menghargai yang tua dulu Mas," balas Salwah sembari ia juga meraih tangan kanan Dhanu yang kemudian ia juga menciumnya.
"Huh!, ternyata benar kata kakek kalau kakek di sini bisa-bisa Ardhan bakalan diabaikan terus atau di nomor duain," keluh Dhanu dengan wajah terlihat sedang merajuk, Darma yang masih itu langsung tertawa.
"hahaha, kamu terlihat lucu nak kalau seperti ini..Nah ini dia maksudnya kakek, makanya saat kamu mengajak kakek untuk tinggal bersama kamu, kakek menolaknya, karena sudah pasti kamu akan cemburu setiap hari sama kakek, seperti saat ini Nak" ujar sang kakek mengingatkan Dhanu akan perkataannya saat di mobil tadi.
"Eh, apa maksudnya kakek tadi, apa Mas Adhan cemburu sama kakeknya sendiri?" tanya Salwa yang terlihat penasaran karena mendengar perkataan Dharma.
"Eh nggak kok Wawa mana mungkin Mas Adhan cemburu sama kakek sendiri," kilah Dhanu, karena ia tak ingin Salwah berpikir yang tidak-tidak.
"Hmm iyakah?'
__ADS_1
"Iya loh Wawa, oh iya ngomong-ngomong ada apa tadi kamu sama Ratih kok jingkrak-jingkrak kesenangan gitu sih?" tanya Dhanu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bentar-bentar, jadi Abang suaminya Salwa?" tanya Ratih yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka bertiga.
"Iya Abang suaminya Salwa, kenapa?, kamu nggak akan proteskan?" tanya Dhanu sambil ia mengerutkan keningnya.
"Hah?, kok bisa sih?, bang Adan yang seperti ini memiliki seorang istri seorang ustadzah?" tanya Ratih, dengan wajah yang sepertinya meremehkan Dhanu, hingga ia menatap Dhanu dari bawah keatas dengan tatapan meremehkan.
Mendengar Ratih, mengatakan bahwa Salwah seorang ustadzah Dhanu terlihat terkejut,"Apa kamu bilang? Salwah seorang ustadzah?" tanyanya seperti tak percaya dengan perkataan Ratih.
"Iya Bang, aku mengenal Ustadzah Salwah ketika Ratih kuliah di Kairo, lalu dua bulan lalu ia di nyatakan lulus, makanya dia lebih dulu pulang, sedangkan Ratih harus mengejar satu tahun lagi, sebenarnya Ratih belum waktunya pulang sih, tapi gara-gara Ratih begitu sulit menghubungi Mami dan papi, dan di tambah perasaan Ratih tidak enak, makanya Ratih Ambi cuti bang" jelas Ratih panjang lebar, membuat Dhanu terdiam dan seketika pandangan Dhanu langsung beralih pada wanita bercadar yang berdiri tidak jauh darinya yang saat ini wanita itu sedang menatap Ratih yang sedang berbicara.
"Hmm, pantas saja ia begitu menerima aku apa adanya dan selalu memberikanku pembelajaran tentang agama dan dengan sabar juga ia mengajarkan aku, banyak hal, ternyata istriku seorang Ustadzah?"_batin Dhanu yang masih menatap wajah istrinya itu.
Melihat Dhanu yang terdiam membuat Darma seperti paham dengan apa yang sedang di pikirkan oleh sang cucu, dan ia pun menepuk pundak Dhanu seraya berkata, "Bersyukurlah Nak, karena kesabaran dan keikhlasanmu waktu terdzolimin ketika kamu di hadiahkan sebuah ujian yang mengharuskan kamu berlaku seperti anak kecil saat itu, kini telah berbuah manis Nak, kamu di hadiahkan mutiara yang begitu indah, makanya banyaklah bersyukur pada Rabb kami Nak" ujar Darma lembut dengan wajah yang tak pernah lekat dari senyuman lembut membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan keteduhan hati.
"Iya kek, Alhamdulillah Ardhan sangat bersyukur banget, karena Allah memberikan Ardhan seorang bidadari surga," balas Dhanu dengan pandangannya yang masih mengarah ke istri cantiknya itu.
"Wah, kebenaran banget nih, kakek juga udah lapar, ya ayo Dhan" kata Darma yang ia juga menggandeng cucunya dan di ikuti juga oleh Dewo,
Sesampainya di ruang makan ternyata meja sudah di penuhi dengan berbagai macam masakan bahkan menunya lebih banyak dari yang di katakan oleh Salwah.
"Wah banyak banget makanannya, kayaknya enak banget nih," kata Darma yang langsung duduk menghadap meja makan.
"Hehehe, kakek bisa saja, belum juga di rasain kek" kata Salwah terlihat malu, "Ayo Mas duduk di sini" lanjutnya sambil menarik kursi untuk Dhanu.
"Eh, kamu aja yang duduk Wawa, Mas duduk di sini saja" kata Dhanu yang terlihat tidak enak karena Salwa menarikan kursi untuknya, lalu ia langsung menarik kursi yang di sebelah Salwa tarik tadi, dan kemudian ia langsung mendudukinya.
"Oh, baiklah Mas" kata Salwa yang akhirnya ia pun duduk di sebelah Dhanu, setelah itu ia pun mengambilkan makanan untuk sang Kakek, dan kemudian untuk Dhanu, lalu ia mengambil lagi makanannya dan bermaksud menyerahkan pada Dewo, namun langsung di ambil sama Dhanu.
__ADS_1
"Ini untuk kamu saja Wawa, Dewo dan Ratih punya tangan sendiri, jadi mereka bisa mengambil makanannya dengan tangan mereka sendiri" kata Dhanu sambil meletakkan piring yang tadi mau di serahkan Dewo, ke hadapan Salwa.
"Eh, tapikan.."
"Tidak ada tapi-tapian sekarang makanlah" kata Dhanu memotong perkataan Salwah.
"Huh!, bang Adan pelit banget sih!, padahal bang Adan juga punya tangan sendiri, tapi tetap minta ambilin tuh ma Ustadzah" protes Ratih, dengan memasang wajah kesal melihat Dhanu.
"Biarin week, emang masalah buat kamu hm?" tanya Dhanu, sambil mengejek Ratih.
"Eeeh, Mas Adhan, kok gitu sih," tegur Salwah karena melihat suaminya yang menjulurkan lidahnya ke arah Ratih seperti anak kecil, " Ya sudah sini piring Ratihnya, biar kak Salwa ambilkan nasinya" Katanya lagi pada Ratih, sambil menadahkan tangannya bermaksud meminta piring yang ada di hadapannya Ratih, namun lagi-lagi Dhanu langsung menarik tangan Salwah.
"Sudah tidak usah Wawa, Ratih bisa ngambil sendiri, sebaiknya kamu sekarang makanlah" kata Dhanu sambil meletakkan sendok di tangan Salwa yang tadi.
"Huh!" dengus Ratih kesal sambil memandang Dhanu, "Iya Ustadzah, Ratih bisa kok ngambil sendiri" kata Ratih sambil matanya menatap wajah Dhanu kesal, dan di balas Dhanu dengan senyuman mengejek pada Ratih.
Sedangkan Darma hanya tersenyum melihat kedua cucunya sambil menggelengkan kepalanya saja.
"Ya sudah mari kita makan, jangan lupa berdoa ya," katanya kepada para cucunya.
"Baik kek," balas mereka serentak, setelah itu mereka berdoa masing-masing dan setelah itu mereka pun mulai memakan makanannya, dan suasana pun langsung hening karena mereka sedang menikmati makanannya.
_____________
TETAP DUKUNG AUTHOR TERUS YA.,🙏😇
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
__ADS_1
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..
Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.