Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN

Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN
SUAMI SEDINGIN ES.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈


"Jalani hidup apa adanya. Jangan memaksa dan jangan terpaksa. Yakini bahwa setiap rencana Allah selalu berakhir baik."


So, Ingatlah "bersama kesulitan ada kemudahan" tugas kita mencari kemudahan itu dengan ikhtiar dan berdoa.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Dewo, tak menyadari sama sekali, kalau bibir sudah menempel di bibir Zahro, dengan posisi ia masih menggendong Zahro. Begitu juga dengan Zahro, yang hanya terlihat pasrah mengikuti permainan suaminya. Dewo masih terus menikmati permainan barunya, dengan posisi ia masih melangkah, hingga langkahnya terhenti tepat di sisi sebuah ranjang dan ia pun langsung tersentak. Den dengan segera ia pun melepaskan tautannya.


"Aah.! Maaf Zahro, aku sudah lancang..aku..." sentak Dewo yang baru menyadari kelancangannya yang meraih bibirnya Zahro, tanpa meminta izin terlebih dahulu pada istrinya itu.


Saat Dewo mengatakan 'Aku' untuk kedua kalinya spontan tangan Zahro, langsung menutup mulutnya Dewo. "Sssth..tidak perlu meminta maaf Bang. Ingat Zahro, istrinya Abang, yang artinya sudah sah dan halal menjadi milik Bang Dewo." ucap Zahro terdengar lembut ditelinganya Dewo.


"Hmm.. apa itu artinya, aku sudah boleh, melakukan itu?" tanya Dewo dengan lirih.

__ADS_1


"Itu? Maksudnya bang Dewo apa?" tanya Zahro, yang sebenarnya ia tahu arah perkataan suaminya itu. Namun ia ingin menggodanya, karena berbicara pada Dewo, sangatlah sulit. Yang memang pringainya yang selalu dingin pada siapapun. Dan itu membuat Zahro tertantang ingin menaklukkan hati suami dinginnya itu.


"Sudah lupakan saja! Kamu sebaiknya istirahatlah, kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan. Kamu tinggal panggil Bi Darmi ya," ucap Dewo, terdengar dingin, sembari ia membaringkan tubuh Zahro diatas ranjang yang berukuran besar, dengan sperai berwarna putih. Setelah itu ia langsung melangkah pergi begitu saja. Membuat Zahro menjadi kesal melihat suami dinginnya itu.


"Saya tidak membutuhkan apa-apa! Saya hanya ingin pulang!" teriak Zahro, pada Dewo, yang terlihat ia sedang membuka pintu kamarnya, bermaksud Pergi.


Mendengar teriakkan Zahro, spontan Dewo menoleh kearah Zahro, yang terlihat wajahnya sudah memerah karena kesal. "Apa yang kamu katakan tadi? Ingin pulang?" tanyanya dengan dahi terlihat sedang mengerut.


"Iyaa! Saya ingin pulang ke kampung! Itu lebih menyenangkan, dari pada saya tinggal disini! Jadi biarkan saya pulang saja dan saya janji tidak akan menuntut apapun dari Bang Dewo!" ujar Zahro dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"Sekarang katakanlah mengapa kamu ingin pulang hm?" tanya Dewo, sembari tangannya mengusap air mata Zahro.


"Karena ana tidak betah disini! Ana tidak terbiasa tinggal di tempat dingin seperti ini! Di tambah lagi penghuni juga sama dinginnya! Ana bisa mati beku disini! Jadi biarkan saya hidup di tempat saya sendiri! Saya merindukan rumah saya, walaupun rumah itu kecil, tapi terasa hangat bagi saya! Jadi please cerai.." belum habis ungkapan Zahro, Dewo sudah menutup mulut Zahro dengan bibirnya.


"Umm..! Umm..!" Zahro terlihat kaget, membuat matanya terbelalak, saat bibir Dewo sudah menempel di bibirnya. Apalagi cara ciuman Dewo sedikit kasar dari yang tadi, membuat Zahro hampir kehabisan nafas, sampai ia memukuli dada bidangnya Dewo dengan sekuat tenaganya. Hingga akhirnya Dewo pun melepaskan tautannya.


"Akh..! ha..ha..ha..! Bang Dewo sudah gilakah?! ha..ha.." tanya Zahro, dengan nafas yang terlihat tersengal-sengal.

__ADS_1


"Ini adalah hukuman! Karena kamu tadi berkata cerai! Jadi ingat jangan sampai aku mendengar lagi! Kalau itu kamu ucapkannya lagi, maka bukan nafas kamu saja yang akan habis! Tapi nyawa kamu pun ikut habis!" ancam Dewo, membuat Zahro, terlihat ketakutan.


"Dan satu lagi, bila kamu hanya bermaksud ingin mengunjungi orang tua kamu. Maka aku akan mengantarmu. Namun bila kamu bermaksud untuk tinggal disana, maka rumah kamu akan saya hancurkan, camkan itu! Sekarang kamu istirahatlah dengan baik, biar luka kamu secepatnya sembuh!" pungkas Rio yang kemudian ia kembali bangkit dan langsung pergi begitu saja.


Sedangkan Zahro seketika bergidik, setelah kepergian suaminya. "Astaghfirullah, dosa apa yang telah ana perbuat? Sehingga ana memiliki seorang Suami sedingin es seperti dia sih.!" batin Zahro, yang kembali bergidik, seakan ia kedinginan.


"Astaghfirullah, kenapa juga aku mengeluh? Inikan sudah pilihan Allah, jadi Ana kudu harus bersyukur. Bukankah rencana Allah adalah yang terbaik?" gumam Zahro, yang kini hatinya mulai ikhlas.


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2