
🦋🦋🦋 Mutiara Alfaqiroh🦋🦋🦋
_"Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin kan dan sabar menahan diri atas apa yang kau inginkan"_
___Ali Bin Abi Thalib___
✧ ⃟ ⃟ ⃟ ━ ⃟ ⃟ ⃟✧━ ⃟ ⃟ ⃟✧━ ⃟ ⃟ ⃟✧✧ ⃟ ⃟ ⃟ ━✧ ⃟ ⃟ ⃟ ━✧ ⃟ ⃟ ⃟ ━✧ ⃟ ⃟ ⃟
"Aku juga tahu Om!, kalau Om juga ikutan berencana untuk menghabisi aku jugakan?" tanya Dhanu dengan wajah datarnya.
Mendengar perkataan Dhanu Eriko terlihat begitu kaget ia tak menyangka kalau keponakannya itu telah mengetahui segalanya.
"Ka..kamu me..mengetahuinya nak?," tanya Eriko gagap.
"Aku mengetahui semuanya Om, jadi menurut Om, aku harus bagaimana?, "tanya Danu masih memasang wajah datarnya
Eriko tampak bingung setelah mendengar pertanyaan Dhanu, ia tak tahu harus menjawab apa, alhasil ia hanya terdiam membisu.
"Kenapa diam Om?, katakanlah Om, apa yang harus aku lakukan terhadap Omku ini yang sudah melindungi orang yang telah membunuh orang tuaku, yaitu kakak kandung om sendiri, dan bahkan Om juga telah memberikan dukungan kepadanya untuk membunuh aku, jadi katakanlah apa yang harus aku lakukan hah?!" seru Dhanu yang kali ini suaranya mengeras, karena ia telah memendam kemarahannya selama ini.
Mendengar ucapan Dhanu, membuat Eriko terlihat semakin merasa bersalah terhadap apa yang terlihat ia perbuat, "Hukumlah Om nak, Om akan menerimanya dengan ikhlas," kata Eriko lirih, namun masih terdengar oleh Dhanu.
"Heh!, lalu hukuman apa yang pantas aku berikan untuk Om?," tanya Dhanu dengan wajah datarnya kembali.
"Terserah kamu Nak, apapun hukuman yang akan kamu berikan pada Om... Om akan terima dengan ikhlas sekalipun Om harus membayar dengan nyawa ini Om juga akan terima Nak, " balas Eriko yang terlihat ia sudah pasrah, menerima segala konsekwensinya yang akan di berikan oleh Dhanu.
"Bagus!, tapi aku bukan seperti Om yang tega mengorbankan segalanya demi kesenangan Om, jadi untuk itu, tunggulah akan aku pikirkan hukuman apa yang pas untuk Om!." ujar Dhanu sembari ia melangkah menuju pintu keluar ruangan Eriko di rawat.
"Pasti Nak, Om akan menunggunya, dan Om harap secepatnyalah kamu memutuskan hukum Om, agar rasa sesak di hati Om, terobati nak." balas Eriko yang masih melihat kepergian Dhanu dengan wajah yang terlihat sedih.
"Oke Om." kata Dhanu yang kemudian ia pun menghilang di balik pintu ruangan tersebut, tinggallah Eriko seorang diri yang berada di ruangan tersebut dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca.
"Maaf.. maafkan Om Nak..hiks.. Maafkan segala kesalahan Om hiks.. hiks..Om begitu bodoh..hiks.. karena telah memelihara wanita iblis hiiks.. Maaf..hiks.. maaf Bang.. hiks.. maaf... huhuhu.." tangisnya Eriko pecah saat ia teringat wajah Ayah Dhanu, perasaan bersalahnya semakin memuncak, ia menangis sejadi-jadinya.
_______
Sementara di sisi lain di sebuah mobil.
Dewo memperhatikan wajah bosnya dari kaca spion tengahnya, terlihat kalau bosnya sepertinya sedang bersedih, dan kemudian ia teringat pada sebuah janji akan bertemu dengan Diany.
"Maaf tuan muda, apakah kita jadi meeting dengan Bu Diany?, " tanya Dewo terlihat sangat berhati-hati sekali.
"cancel saja Wo, sekarang kita ke kampung santri saja!," tegas Dhanu dengan tatapan mengarah ke jendela mobil, dan masih ada kesedihan yang terpancar dari matanya.
"Baiklah Tuan Muda!," Dewo pun tak berani membantah bosnya, ia pun mengarahkan mobilnya menuju perkampungan santri, seperti yang telah di perintahkan oleh Dhanu, suasana mobil begitu hening, karena ternyata Dhanu telah tertidur, mungkin karena ia terlalu lelah dengan problem yang dihadapinya saat ini.
__ADS_1
Dewo mempercepat laju mobilnya, karena ia berharap saat memasuki jalanan yang rusak dan terjal, hari masih terang karena ia teringat ketika mereka datang di malam hari membuat mereka hampir celaka, dan tak berapa lama mereka pun memasuki jalan rusak itu, membuat Dhanu terbangun karena guncangan mobilnya.
"Eh, tumben udah sampai sini aja Wo?!," tanya Dhanu heran.
"Iya tuan muda tadi saya agak mempercepat mobilnya, saat jalan masih langsam, " balas Dewo santai.
"Ooh," Dhanu kembali diam, karena pikirannya masih teringat pada sang pamannya, dan masih terpancar kesedihan yang tersirat di matanya.
30 menit telah berlalu, dan akhirnya mobil Dhanu memasuki kawasan kampung santri, dan tak berapa lama mobil pun berhenti tepat didepan depan rumah kyai Zainal Abidin, Dhanu pun segera turun dari mobilnya, dan terlihat juga di depan rumah sudah berdiri kyai Zainal di sana.
"Assalamu'alaikum Jaddun." salam Dhanu saat sudah di dekat Zainal, sambil menyalami tangan beliau.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, mari masuk Nak, " balas Zainal.
"Iya Jaddun, Salwah dimana Jaddun?," tanya Dhanu setelah ia memasuki rumah kyai Zainal.
"Mungkin di kamarnya Nak, pergilah temui istrimu dulu," ujar Kyai Zainal lagi.
"Baiklah Jaddun, kalau begitu Ardhan ke kamar dulu ya," pamit Dhanu.
"Iya nak, pergilah" setelah mendapatkan jawaban dari sang kakek Dhanu pun langsung pergi menuju ke kamarnya Salwah sesampainya di depan pintu ia pun mengetuk pintu kamarnya, dan tak berapa lama pintu pun terbuka.
"Mas Ardhan?" Salwah terlihat sedikit kaget.
" Assalamu'alaikum Wawa?," salam Dhanu saat melihat sang istri.
"Mas kenapa?" tanya Salwah, bukannya menjawab Dhanu malah menarik tangan dan kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang Salwah dengan wajah yang ia sembunyikan di perutnya Salwah, karna posisi Salwah saat ini sedang berdiri,
Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Salwah sedikit kaget, "Ada apa mas?, kenapa Awah lihat mas sepertinya sedang sedih?" tanyanya yang ternyata ia menangkap siratan kesedihan pada Dhanu.
"Kamu benar Wawa, mas memang lagi sedih banget, jadi biarkan mas seperti ini sebentar ya," kata Dhanu yang masih menyembunyikan wajahnya di perut Salwah.
"Baiklah Mas," kata Salwah yang kemudian ia pun membiarkan Dhanu memeluk dirinya, dan ia hanya mengelus rambutnya Dhanu saja.
"Wawa?" panggil Dhanu lirih.
"Iya Mas?"
"Apa yang akan kamu lakukan, bila orang yang kamu sayangi, melakukan kesalahan yang sangat fatal, apakah kamu akan menghukumnya?" tanya Dhanu dengan posisi yang masih sama.
"Tidak Mas,"
"Kenapa?"
" Mas tahu Asmaul Husna, Ya Afuww artinya Yang Maha Pemaaf dan maaf adalah salah satu sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Dia memaafkan hamba-hamba-Nya, padahal Dia mampu menyiksa mereka, lalu apa hak kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, Mas, Allah sangat menyukai orang yang pemaaf, itu yang di katakan Rasulullah di dalam sebuah hadits
__ADS_1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إن الله يحب العفو ))
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyukai sikap maaf.”
"Allah juga memerintahkan agar hamba-hambanya untuk saling memaafkan:
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال تعالى: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾ [النور: 22]
"dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS. An-Nuur:22)
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال تعالى: ﴿ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴾ [ الأعراف: 199]
"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."
(QS. al-A’raaf:199)
"Dan Allah juga memperintahkan kita untuk menahan amarahnya, seperti firman-Nya :
قال تعالى: ﴿ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴾ [آل عمران:
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(QS. Ali Imran:134).
قال تعالى : ﴿ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada taqwa.. (QS. al-Baqarah:237).
"Jadilah pemaaf Mas itu lebih baik, dari pada kita menyimpan dendam." jelas Salwah, membuat Dhanu terdiam sesaat, mendengar penjelasan dari Salwah dan perasaan Aneh yang mengalir di dalam hatinya.
_____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
__ADS_1
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..
Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.