
*┈┉━❖❀🌹Mutiara Hikmah🌹❀━┉┈*
"Kehidupan Ini Ibarat Sebuah Lukisan..
"ucapanmu Adalah Warnanya..
"Amalanmu Adalah Coraknya..
"Umurmu Adalah Bingkainya..
"Dan Kamu Adalah Pelukisnya..
So, buatlah lukisan yang indah agar kamu tak akan menyesal di kemudian harinya😉.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┉━━━━━•❖❀🌹❀❖•━━━━━┉┈*
Masih di WYP grup..
Melihat Dewo yang orangnya sangat teliti, Darma langsung mengalihkan pembicaraan mereka, dan sebenarnya sifat ini jugalah mengapa ia mengutus Dewo pada cucunya, dan ia juga orangnya penuh tanggung jawab, makanya Darma sudah menganggap Dewo seperti cucunya sendiri.
"Wo umur kamu berapa sekarang?" tanya Darma mengalihkan pembicaraan tentang Pria gahar.
"Eh, umur saya 29 Tuan besar" jawab Dewo sedikit heran, karena tak biasanya Darma bertanya soal pribadi dengannya.
"Hah?, ternyata umur kamu lebih tua dari Dhanu ya Wo? kenapa kamu belum menikah Wo?" tanya Darma sedikit kaget setelah mendengar umur Dewo
"Saya belum kepikiran soal itu Tuan" balas Dewo sopan.
"Wo bisa tidak kamu jangan memanggil saya seperti itu?" pinta Darma yang sebenarnya ia tak suka Dewo memanggil dirinya secara formal.
"Eh, lalu saya harus memanggil apa Tuan?"
"Panggil saya Kakek, sama seperti Dhanu dan Ratih, bisakan Wo?" pinta Darma yang sebenarnya sudah sejak ia menerima Dewo sebagai anak buahnya, ia melihat Dewo berbeda dari yang lainnya, di tambah lagi ternyata Dewo adalah anak teman ayah Dhanu sekaligus asistennya yang ikut meninggal di peristiwa naas itu.
__ADS_1
Yaa sejak hari ia mengetahui identitas Dewo sebenarnya, membuat Darma semakin menyayangi Dewo, bahkan ia menjadi tangan kanan Darma, maka dari itu ia mempercayai Dewo bisa menjaga Dhanu.
"Tapi Tuan..."
"Tidak ada tapi-tapian Wo..kamu itu sudah saya anggap sebagai cucu saya sendiri, jadi kamu harus memanggil saya kakek, kamu paham Wo!" potong Darma sedikit tegas, membuat Dewo tak berani membantahnya lagi
"Baiklah Tuan.."
"Dewo!" bentak Darma karena ia mendengar Dewo masih memakai kata Tuan.
"Eh maaf tuan..eh maksudnya kakek" kata Dewo sedikit canggung.
"Lalu kapan niat kamu menikah Wo?" tanya Darma menyambung pertanyaannya yang tadi.
"Eh, saya belum tahu tuan..eh kek" bales Dewo masih canggung manggil kakek.
"Wo ingat umur kamu sudah mendekati kepala 3 masa iya kamu mau gini-gini saja Wo? emang kamu tidak ingin memiliki istri dan anak hm?" tanya Darma, membuat Dewo semakin bingung untuk memberikan jawabannya.
"Eh, anu kek, saya belum memikirkan hal itu kek, seperti saya ingin masih ingin melihat Tuan muda bahagia dulu kek," jawab Dewo asal.
"Iya kek" jawab Dewo yang ia sendiri tak menyadari dengan perkataannya.
"Benaran Wo? Berati sekarang sudah waktunya kamu menikah Wo karena saat ini Tuan mudamu sudah menemukan kebahagiaannyakan?" kata Darma, membuat Dewo kaget mendengar perkataannya.
"Eh tidak Kek, maksudnya saya bukan seperti itu kek, saya belum siap menikah kek" sangkal Dewo yang sepertinya ia mulai terjebak oleh perkataannya sendiri.
"Wo, laki-laki sejati itu, yang di pegang adalah ucapannya Wo, kamu laki-laki sejatikan atau jangan-jangan kamu laki-laki melambai lagi? Yang sukanya sama lawan jenis alias gay," tanya Darma yang sekali lagi seperti ingin menjebak Dewo lagi.
Mendengar kata laki-laki melambai Dewo spontan kaget, "Eh, astaghfirullah saya bukan laki-laki melambai kek, saya normal kek" sanggah Dewo dengan cepat.
"Bagus, itu artinya sudah waktunya kakek mencarikan jodoh untuk kamu," ucap Darma sembari ia berdiri dari kursi kebesaran milik Dhanu yang kemudian ia langsung melangkah meninggalkan Dewo yang masih mencerna perkataan Darma.
"Eh..apa maksudnya kakek?," gumam Dewo sembari ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Kek apa Mak.."perkataan Dewo langsung terhenti karena ternyata Darma sudah tidak ada di ruangan tersebut, "Loh kemana kakek Darma tadi?" gumam Dewo sambil ia berjalan menuju pintu keluar, dan benar saja saat pintu di buka kakek Darma sudah mendekati pintu lift, Dewo pun langsung mempercepat langkahnya mengejar Darma.
"Kek tunggu!," panggil Dewo saat melihat Darma sudah berada di dalam lift.
__ADS_1
"Ada apa Wo? Kamukan masih belum menyelesaikan tugas kamu?" tanya Darma berpura-pura lupa dengan perkataannya yang tadi.
"Tapi Kitakan belum selesai kek?" kata Dewo yang kini sudah berada di dalam lift juga
"Apanya yang belum selesai?"
"Lah tadi kakek ngomong, kakek mau cari jodoh untuk sayakan?"
"Kalau iya kenapa Wo? Sudah waktunya juga kamu bahagiakan Wo, emang kamu tidak ingin seperti Dhanu yang bahagia bersama istrinya Wo?" tanya Darma sambil menepuk pundak Dewo.
"Keinginan pasti ada kek, tapi tidak sekarang, karena masih banyak kasus yang belum terpecahkan kek, salah satunya kita belum menemukan tempat persembunyian Susi dan Dicky, dan itu berarti anak kakek Riko belum bisa di bebaskan, apa kakek tidak ingin tuan Riko bebas?" tanya Dewo lagi, seperti mengalihkan pembicaraannya tentang jodoh.
"Soal itu kamu tenang saja Wo, karena aku sudah dapat info kalau Susi sekarang ada di tangan anaknya, kita tinggal mendekati Reza saja" ujar Darma, bertepatan pintu lift terbuka, dan tepat di depan pintu lift telah berdiri seorang pria yang sangat mereka kenalin. Membuat Darma dan Dewo sedikit kaget, begitu juga dengan Pria yang di hadapan mereka.
"Kakek!" sentak pria tersebut saat melihat Darma.
"Reza?" kata Darma juga dengan spontan saat melihat pria itu yang ternyata dia adalah Reza.
"Benarkah ini kakek Darma,?" tanya Reza yang sepertinya ia tak percaya dengan pandangannya.
"Iya nak ini kakek Darma" kata Darma sambil tersenyum lembut pada reza.
Mendengar ucapan Darma Reza langsung memeluk Darma dengan erat "Kakek! hiks..Reza kangen kakek.." ucap Reza, yang memang ada perasaa rindu menyelimuti hati Reza, karena sebenarnya Rezalah yang pernah melihat sosok Darma saat ia masih kecil, tapi tidak bagi Ratih, karena saat Ratih lahir Darma sudah menghilang hanya Rezalah yang bisa mengenali Darma.
"Kakek juga kangen kamu Nak" balas Darma dengan tulus, sambil ia mengelus lembut punggung serta rambut Reza dengan lembut penuh kasih sayang.
Yaa sebenarnya Darma sudah mengetahui kalau Reza bukanlah cucu kandungnya, namun karena sedari bayi hingga usia Reza 7 tahun, Darma ikut membesarkannya, jadi perasaan sayang sudah ada sedari ia kecil, maka dari itu Darma berkomitmen bila Reza masih menganggap ia sebagai kakeknya dan ia masih bisa mengikuti perkataannya maka Darma akan menganggap Reza seperti cucu kandungnya juga
"Kakek kemana saja sih?..hiks mengapa baru muncul sekarang..hiks.. waktu papi mengatakan kakek meninggal, Reza nggak percaya kek, hiks.. perasaan Reza mengatakan kakek masih hidup..hiks ternyata terbukti kakek masih hidupkan? berati kata hati Reza itu benar kek.. tapi tidak ada yang percaya, termasuk papi kek" ujar Reza yang tanpa sadar ia sudah meneteskan air matanya, hingga terdengar jelas suara isakannya.
"Iya Nak kakek masih hidup, sekarang kakek sudah ada di sinikan bersama kamu, ya sudah sekarang kita pulang dulu ya, kasihan Ratih di rumah sendirian" ajak Darma sambil mengusap air mata Reza.
"Baiklah kek" Balas Reza yang akhirnya mereka berjalan menuju pintu lobiy kantor Dhanu, yang kebetulan mobil Darma sudah terparkir di sana, dan akhirnya ketiganya pun menaiki mobil tersebut, dan tak berapa lama juga mobil mulai melaju dengan perlahan meninggalkan gedung bertingkat itu.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏.