
═ ✥.❖.✥ 💥Kalam Habaib💥✥.❖.✥ ═
"Mengapa orang baik sering tersakiti? Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.
[ Al Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri ]"
اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّی عَلَيْهِ وَسَلِّمْ ❤️
✥.❖.✥ ═✥.❖.✥ ═💥═✥.❖.✥ ═✥.❖.✥
Mendengar pengakuan Dewo, membuat mereka yang ada di sana begitu senang, termasuk Ayahnya Zahro. Hanya satu orang saja yang terlihat tidak senang yaitu Rina, Tantenya Zahro. Ia terlihat kesal karena rencananya telah gagal, untuk menikahkan Kirana pada anak seorang rentenir.
"Bagaimana Pak Iwan? Apakah Anda menyetujui niat baik cucu saya?" tanya Darma, pada ayahnya Zahro.
Iwan tidak langsung menjawab pertanyaan Dharma. Ia justru menatap Dewo, seakan ia mencari kesungguhanya. Lalu Iwan kembali beralih ke Darma, dengan wajah yang dihiasi senyum kepuasan.
"Saya sangat setuju Pak!" jawab Iwan dengan tegas.
"Alhamdulillah.. saya sangat senang mendengarnya Pak, kalau begitu kita tidak boleh menunda-nundanya lagi, gimana kalau nanti malam kita langsung laksanakan saja ijab qobulnya," ujar Darma terlihat senang.
"Tunggu Bang! Kita tidak bisa membatalkan pernikahan Zahro dengan anak Pak Jarwo dong Bang! Karena merekakan sudah memberikan banyak uang pinangan!" sergah Rina terlihat antusias.
"Pinangan? Siapa yang mendapatkannya hah? Kami tidak merasa mendapatkan uang pinangan tersebut! Dan setahu saya, kamukan yang menerimanya? Jadi itu bukan urusan saya!" balas Iwan terlihat dengan tatapan dingin pada Rina.
Rina yang melihat itu langsung melingkarkan tangannya pada sang Suami. "Mas kamu kok diam saja sih! Bilang sama Abang kamu, kalau Pak Jarwo sudah mempersiapkan pesta pernikahan yang megah untuk anak Abang kamu!" katanya pada sang Suami.
"Itu bukan urusanku! Kamu atasin sendiri masalah kamu!" tegas Budi yang terlihat ia juga kesal pada istrinya. "Mas aku pulang ya. Sorry saya tidak bisa menghadiri acara pernikahan anak kamu, tapi aku doakan semoga pernikahannya berjalan dengan sempurna," lanjut Budi pada Iwan.
__ADS_1
"Aamiin, terimakasih ya Dek"
"Sama-sama Bang, ya sudah saya pamit Assalamu'alaikum." pamit Budi yang kemudian menyalami semua yang ada disana.
"Wa'alaikumus salam" jawab mereka secara bersamaan. Dan Budi pun langsung beranjak pergi, Rina terlihat bingung melihat kepergian suaminya.
"Loh kok pergi Mas? Gimana dengan Pak Jarwo nanti?" tanya Rina yang akhirnya mengikuti suaminya tanpa pamit, pada Iwan serta lainnya.
"Sudah aku bilang, itu bukan urusanku!" tegas Budi yang terlihat berjalan semakin cepat, sehingga Rina yang mengikutinya agak sedikit berlari.
"Mas tunggu!" teriaknya namun tak di hiraukan oleh Budi, Ia terus berjalan hingga menghilang dari pandangan Iwan serta yang lainnya.
"Maaf kelakuan adik ipar saya ya Pak Darma. Saya jadi tidak enak hati," ujar Iwan, setelah kepergian Budi dan Rina.
"Iya Pak Iwan nggak papa saya maklumi kok" balas Darma sambil tersenyum lembut. "Lalu bagaimana Pak apakah Anda setuju dengan usul saya tadi?" tanya Darma mengingatkan usulnya tadi.
"Tunggu Kek? Apakah boleh seorang wanita di nikahi dalam keadaan tidak sadar?" tanya Dewo yang terlihat ragu.
Sang Ayah mengucapkan ijab, yaitu lafadz yang intinya beliau menikahkan si calon menantu dengan anak gadisnya. Dan si calon menantu akan mengucapkan lafadz qabul, yang intinya adalah persetujuan atas ijab tersebut.
Kalau ijab dan qabul itu terjadi dan disaksikan oleh minimal dua orang laki-laki yang muslim, baligh, aqil, dan adil, maka akad nikah itu sah," jelas Salwah panjang lebar.
"Lalu bagaimana dengan si gadis Nak? Tidak adakah peranan yang dimilikinya? Tidakkah si gadis itu harus dimintai persetujuanya?" tanya Iwan yang sepertinya ia juga ragu sama seperti Dewo.
" Om, dalam hukum seorang gadis dengan ayah kandungnya. kita mengenal istilah wali mujbir, yaitu wali yang punya hak sepenuhnya atas diri seorang gadis tersebut. Dari sekian deret orang yang berwenang menjadi wali, yang posisinya sampai berhak 'memaksa' hanyalah ayah dan kakek (ayahnya ayah).
Dan kewenangan wali mujbir memang sampai bisa menikahkan si anak gadis, dengan atau tanpa persetujuanya. Setidaknya, akad yang dilakukan oleh seorang wali mujbir itu hukumnya sah." jelas Salwah lagi.
__ADS_1
"Om, Mazhab Imam Syafi’i menyatakan, pernikahan yang dilaksanakan dalam kondisi sakit, hukumnya sah sekalipun kebutuhan biologis salah satu pasangan tidak bisa terpenuhi. Dalam kasus seperti ini, sang suami berkewajiban membayar mahar mitsil." lanjut Salwah lagi. Membuat Dewo mau pun Iwan akhirnya Paham.
"Maa shaa Allah, kalau sudah begitu, saya tidak ingin menunda-nundanya, saya setuju pak Darma!" ujar Iwan terdengar tegas.
"Alhamdulillah.. lalu bagaimana dengan kamu Wo? Apakah kamu siap?" tanya Darma pada Dewo, yang sepertinya masih ada keraguan.
"Apakah tidak papa Kek? Saya takut akan jadi penyesalan bagi Zahro Kek," kata Dewo.
"Tidak akan ada penyesalan Nak, Bapak yakin Zahro pasti akan senang bila ia mengetahui, kalau calon suaminya adalah lelaki yang penuh tanggung jawab" timpal Iwan, meyakinkan Dewo.
"Tuh apa lagi Nak? Ayahnya saja sangat yakin pada putrinya. Lagian bukankah kamu ingin menjaganya?" sambung Darma juga.
"Sudah Wo, kamu jangan kebanyakan mikir deh, ini kesempatan baik buat kamu" timpal Dhanu juga yang ikut memberikan support untuk asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Baiklah saya setuju! Kek, Pak, Tuan muda" kata Dewo dengan tegas.
"Alhamdulillah.." jawab mereka secara bersamaan. Mereka juga terlihat begitu senang.
"Baiklah kalau begitu mari kita persiapkan acara pernikahanmu nanti malam Wo," kata Darma lagi. Membuat Dewo tersentak, karena sebenarnya ia tadi tidak begitu menyimak pembicaraan Iwan Dan Darma.
"Hah! Nanti malam?!"
_________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Author😉.
__ADS_1
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.