
*┈┉━❖❀🤍Mutiara Alfaqiroh🤍❀━┉┈*
“𝑺𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉 𝒘𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒎𝒃𝒖𝒏𝒚𝒊𝒌𝒂𝒏 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 40 𝑻𝒂𝒉𝒖𝒏, 𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒕𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒈𝒖𝒑 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒎𝒃𝒖𝒏𝒚𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒄𝒆𝒎𝒃𝒖𝒓𝒖 𝒎𝒆𝒔𝒌𝒊 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒂𝒂𝒕”
(Ali Bin Abi Thalib)
*┈┉━━━━━•❖❀🤍❀❖•━━━━━┉┈*
Dua Minggu lebih telah terlewati.
Salwah sudah kembali Fit seperti semula. Mereka juga sudah berjalan-jalan berbagai tempat yang di Indah di kota Mekkah, dan kemesraan mereka juga bertambah merekah bagaikan insan yang tak bisa di pisahkan, kemana pun mereka berjalan selalu bergandengan tangan. Seperti saat ini mereka sedang berbelanja oleh-oleh untuk keluarga mereka di tanah air.
"Mas kita beli apa ya untuk kakek dan Ratih?" tanya Salwah, dengan tangan yang melingkar di lengannya Dhanu sedangkan matanya melihat sekeliling seperti mencari-cari sesuatu.
"Terserah kamu saja sayang, apapun pilihan kamu Mas mah setuju saja" balas Dhanu yang terlihat mengikuti langkah Salwah kemanapun, "Tapi sayang kamu jangan lupa juga loh untuk membelikan Jaddun, Umi, dan Abi, nanti setelah pulang kitakan akan mengunjungi mereka juga sayang" lanjutnya mengingatkan Salwah akan keluarganya.
"Baiklah Mas, kalau begitu kita cari baju-baju jubah yuk, karena Jaddun dan Abi suka baju jubah" ajak Salwah dengan lembut.
"Baiklah Sayang, Oh Iya, kakek juga belikan jubah juga sayang pasti beliau akan suka sayang" kata Dhanu karna ia teringat kalau kakeknya adalah sahabatnya kakek Salwa jadi otomatis apa yang di suka kakek Salwa kakeknya pasti akan suka.
"Oke Mas" balas Salwah dengan semangat lalu mereka pun memilih berbagai macam busana muslim untuk para kakek mereka serta kedua orang tuanya Salwah.
"Sayang belikan satu untuk Dewo juga, lengkap sama surbannya ya" kata Dhanu lagi sambil tersenyum lucu, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu untuk Dewo.
"Iya Mas," balas Salwah lembut, "Oh Mas juga ya" katanya lagi mata menatap wajah suaminya.
"Eh, kok Emas sayang, untuk apa?..buat Dewo aja Sayang"
"Loh kok buat apa sih Mas, ya buat sholat dong"
"Eh iya iya, ya sudah deh belikan Mas juga kalau begitu" ujar Dhanu terlihat pasrah "Ah nggak jadi deh ngerjain Dewo padahal tadinya aku mau menyuruh dia memakai baju jubah saat dia bertugas, pasti lucu lihatnya" batin Dhanu sangat terlihat ia tersenyum-senyum saat membayangkan Dewo bertugas memakai baju jubah.
__ADS_1
"Mas kok senyum-senyum sendiri, lagi melihat apa sih?" tanya Salwah dengan mata mengikuti arah pandangan Dhanu yang kebetulan matanya mengarah ke seorang wanita yang kebetulan membalas senyumannya Dhanu, tapi sebenarnya pandangannya Dhanu sedang kosong karena sebenarnya ia sedang membayangkan Dewo.
"Eh, Mas Adhan lagi senyum-senyum sama akhwat itu ya?" tanya Salwah, dari tatapan matanya ada kekesalan karena ia menyangka suaminya sedang membalas senyumanya pada wanita lain.
"Eh, Akhwat?, apa itu Akhwat?" tanya Dhanu terlihat polos.
"Akhwat itu wanita!, Mas Ardhan lagi tersenyumkan sama wanita itukan!" tanya Salwah sedikit ketus.
“Astaghfirullah, nggak sayang Mas tidak tersenyum dengan wanita itu kok" sangkal Dhanu sambil ia memandang kembali wajah wanita itu yang ternyata masih tersenyum padanya, Dhanu pun membalasnya dengan tatapan dingin dan sekali lagi Salwah memergokinya lagi.
"Huh!, belum puas tebar pesonanya ya!, masih aja memandang diakan, ya sudah sebaiknya mas pandang-pandangan saja sama dia!" kata Salwah yang terlihat kesal, lalu ia langsung berlalu hendak meninggalkan Dhanu.
"Astaghfirullah sayang, maafkan Mas, tapi benaran Mas tersenyum bukan karena melihat dia sayang" kata Dhanu sambil mengikuti istrinya yang terlihat sedang marah karena cemburu.
Salwah tak merespon perkataannya Dhanu ia masih terus berjalan bahkan mempercepat langkahnya, membuat Dhanu pun langsung mempercepat juga langkahnya, karena memang langkah Dhanu lebih lebar, membuat ia gampang meraih tangan istri cantiknya itu.
"Sayang dengarkan Mas dulu, Mas berani bersumpah Mas tidak tersenyum dengan wanita itu sayang" katanya sambil menggenggam tangan Salwah dan ia langsung berdiri di hadapan istrinya menghadang langkahnya.
"Mungkin iya saat itu kamu melihat Mas tersenyum padanya, tapi Mas bersumpah demi Allah sayang, saat itu Mas tersenyum karena membayangkan Dewo bertugas memakai jubah dan sorban, bukan tersenyum pada wanita itu" jelas Dhanu yang akhirnya ia mengungkapkan yang sebenarnya karena ia tak ingin berlama-lama melihat istrinya salah paham padanya.
Mendengar Dhanu bersumpah bahkan menyebut nama Rabbnya membuat Salwa merasa bersalah dan sekaligus malu, karena telah menuduh suaminya tebar pesona pada wanita lain.
"Maaf Mas, Wawa sudah su'uzon sama Mas Adan" ucap Salwah sambil menundukkan wajahnya, dengan suara yang kini telah kembali lembut.
"Iya sayang sudah Mas Maafkan kok," balas Dhanu sembari ia memeluk istrinya dan Salwa pun langsung menyembunyikan wajah malunya kedada bidang suaminya, "Ya sudah kita ambil baju-baju yang tadi dulu ya, setelah itu kita pergi makan ya, Mas sudah lapar nih" ajak Dhanu dan di anggukkan oleh Salwah dan akhirnya mereka pun kembali ke toko tempat mereka tadi memilih baju jubah untuk para keluarga mereka.
Setelah Dhanu membayar semuanya, Ia pun langsung mengajak Salwah ke sebuah restoran, yang menyediakan makanan khas orang Indonesia.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Dhanu lembut, sembari ia menyerahkan daftar menu pada Salwah.
"Mas, Wawa kayaknya ingin makan gado-gado deh, tapi pakai lontong Mas" pinta Salwah dan Dhanu langsung melihat Daftar menu yang ternyata tidak ada yang di minta oleh Salwah. Namun ia langsung bertanya pada seorang pelayan yang sedang berdiri di dekat meja mereka.
__ADS_1
"Permisi pak, apakah di restoran ini tersedia gado-gado?" tanya Dhanu pada pelayan laki-laki tersebut.
"Maaf pak, sepertinya yang bapak minta tidak ada tersedia disini" balas sang pelayan.
"Sayang, yang kamu minta tidak ada, ganti menu yang lain saja ya" ujar Dhanu pada Salwah.
"Nggak mau akh Mas, Wawa cuma ingin makan gado-gado saja," balas Salwah terdengar manja.
"Tapi sayang kita masih di Mekah, dimana mencari gado-gado di sini, kita makan yang lain dulu ya, baru nanti kita cari lagi Ok" Dhanu masih berusaha merayu Istrinya agar ia mau makan menu yang lainnya.
Karena tak ingin melihat suaminya kecewa akhirnya Salwa mengikuti keinginan suaminya yang memesan menu lainnya, Dhanu pun terlihat senang dan dengan semangat ia memesan berbagai makanan yang biasanya di sukai oleh Salwah, dan tak berapa lama pesanan mereka pun datang.
"Selamat makan Sayang" ucap Dhanu yang kemudian setelah doa Dhanu pun mulai menyantap makanannya dengan lahap, tapi tidak untuk Salwa ia hanya memandangi makanan yang ada di depan matanya dengan tatapan yang terlihat takut.
"Sayang kenapa tidak di makan, ayo dong makan sedikit" rayu Dhanu sambil ia menyuapi makanannya ke mulut Salwah dan di sambut oleh Salwah namun baru beberapa kali di kunyah.
"Hueg..Hugh.!" Salwah langsung menutup mulutnya dengan tangannya yang tadi tertutup oleh cadarnya dan ia langsung berlari setelah bertanya toilet sedangkan Dhanu hanya terperangah melihat istrinya yang terlihat terburu-buru.
"Ada apa dengan Wawa?"
___________
TETAP DUKUNG AUTHOR TERUS YA.,🙏😇
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..
Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.
__ADS_1