
Seminggu telah berlalu.
Sudah seminggu juga Dewo, ikut merawat dan menjaga Zahro. Walaupun mereka satu minggu berada diruangan yang sama. Namun Dewo masih tetap kaku, dan dingin pada Zahro. Membuat Zahro terkadang kesal padanya. Apalagi Zahro yang memang orangnya sedikit manja pada keluarganya. Makanya ia sedikit kesal melihat suami yang tidak pengertian dan membuatnya jadi enggan berbicara.
Seperti saat ini Zahro begitu malas melihat wajah Dewo.Dan Dewo sebenarnya dapat merasakan, perubahan pada Istrinya. Tetapi karena pada dasarnya Dewo orangnya cuek alhasil, mereka pun jadi semakin menjauh. Hingga suatu hari tiba-tiba dokter yang biasa menangani Zahro, digantikan dengan seorang Dokter muda dan tampan membuat hati Dewo, tiba-tiba terusik melihatnya.
Dan ternyata, Zahro dapat melihat perubahan suaminya itu bila Dokter itu datang untuk memperiksanya. Sehingga ia pun memiliki rencana untuk membuat Suaminya itu semakin cemburu. Dan keesokan harinya Dokter tersebut kembali memeriksanya dan ia pun langsung menjalankan rencananya.
"Selamat Pagi Nyonya?" sapa Dokter muda itu dengan ramah, di tambah lagi ia selalu nyunggingKan senyum ramahnya pada Zahro.
"Pagi juga Dokter tampan," balas Zahro dengan sedikit menekan kata tampan, agar bisa terdengar oleh Dewo yang terlihat sedang duduk disofa namun terlihat sedang fokus pada layar handphonenya. Dan benar saja mendengar itu Dewo langsung melihat kearahnya. Dan dengan cepat juga Zahro ikut memberikan senyuman manisnya pada sang Dokter.
Dewo yang melihat itu Wajahnya langsung mengeras. Dengan mata yang terlihat tajam mengarah ke sang Dokter. Namun untungnya si Dokter tak mengetahui itu, membuat Zahro semakin ingin terus mengusiknya.
"Bagaimana perasaan Nyonya sekarang? Apakah masih ada yang tidak nyaman?" tanya sang Dokter yang melakukan pemeriksaannya.
"Sudah lebih baikan kok Dok, ini berkat Dokter yang begitu perhatian pada saya," balas Zahro, masih memberikan senyuman manisnya pada sang Dokter.
"Syukurlah kalau begitu, dan sepertinya hari ini Nyonya juga, sudah boleh pulang kok, karena saya lukanya juga sudah mengering" ujar Sang Dokter lagi.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Dok," balas Zahro, yang kemudian ia menyalami tangan sang Dokter dengan kedua tangannya. Membuat Dewo langsung berdiri dan langsung menghampirinya. Dan langsung memisahkan tangan istrinya dari sang Dokter dengan berpura-pura ia menyalami Sang Dokter.
"Terima kasih banyak Dok, karena sudah menyembuhkan istri saya!" ucap Dewo, dengan menekan kata istri pada sang Dokter.
Oh iya, sama-sama Pak, itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi, dan jangan lupa untuk membawa istri Anda untuk kontrol ya Pak" ujar sang Dokter.
"Baik Dok, silakan!" balas Dewo sambil merentangkan tangan kanannya kearah pintu. seakan ia berharap sang dokter segera pergi. Karena merasa tidak enak, melihat sikap Dewo, sang Dokter pun langsung pergi.
__ADS_1
"Kenapa sikap Bang Dewo seperti itu sih? Nggak enak tahu sama Dokter itu" tegur Zahro setelah sang Dokter pergi.
"Kenapa? Apakah kamu merasa sedih akan berpisah dengan dokter itu hm?" tanya Dewo dengan tatapan datarnya.
"Apaan sih nggak nyambung banget perkataannya!" balas Zahro yang kini jadi kesal.
"Bukankah kamu tadi bilangkan kalau dokter itu, begitu perhatian, bahkan kamu mengatakan dia tampankan?" tanya Dewo yang kini terlihat diingin.
"Emang iyakan Dokter itu penuh perhatian! Tidak seperti seseorang, yang begitu dingin dan cuek. Siapa yang tahan di perlakukan seperti itu!" seru Zahro, yang akhirnya ia mengungkapkan kekesalannya selama ini. Karena Dewo yang sebenarnya memang tak pandai bersikap lembut pada wanita, ditambah lagi pernikahan mereka terjadi secara mendadak. Membuatnya bingung harus bersikap bagaimana pada seorang istri.
Mendengar perkataan Zahro, Dewo pun terdiam. Karena ia tahu, kalau perkataan istrinya sedang menyindir dirinya. Melihat Dewo hanya Diam Zahro, langsung turun dari ranjangnya, Lalu ia mengambil barang-barang dan memasukkan kedalam tas. Setelah itu ia bermaksud melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba Dewo malah menariknya sehingga ia langsung masuk kedalam pelukannya Dewo.
"Maaf! Maafkan saya, karena tak memahami perasaanmu. Itu karena saya, memang tidak tahu, harus beelaku sikap seperti apa terhadap kamu. Jujur, selama ini aku tidak pernah berpikir, akan sedekat ini pada wanita." ungkap Dewo, dalam posisi mereka yang masih berpelukan.
"Eh, apa itu artinya, Zahro yang pertama bagi Bang Dewo?" tanya Zahro yang kini tatapannya mengarah kewajah Dewo. Dan otomatis, tatapan Dewo pun mengarah kepadanya dengan tangan mereka yang masih melingkar ketubuh pasangannya.
Zahro langsung tersenyum mendengarnya, dan ia kembali memeluk suaminya itu. "Terima kasih Bang, Zahro senang mendengarnya" ucapnya lirih namun masih terdengar oleh Dewo yang akhirnya ia terlihat bernafas lega. Karena ternyata sejak tadi ia begitu tengang di tambah lagi jantungnya yang tidak pernah berhenti bergemuruh.
"Ya sudah, sekarang kita pulang yuk Bang? Eh tapi ngomong-ngomong kita pulang kemana?" tanya Zahro terlihat polos.
"Kita lihat saja nanti, sekarang ayo kita pergi dulu dari sini," kata Dewo yang kemudian ia pun melepaskan pelukannya. Setelah ia mengambil sebuah kursi roda dan mendekatkannya pada Zahro. "Naiklah, biar secepatnya kita pergi" katanya masih terlihat kaku.
"Oke suamiku!" kata Zahro. Dan sekali lagi jantung Dewo kembali berdetak kencang saat mendengar Zahro menyebutkan kata suamiku.
"Eh, apa yang terjadi padaku ya, kenapa mendengar dia mengatakan suamiku saja jantungku langsung berdegup kencang begini," batin Dewo. Terlihat ia malah termenung sambil melihat istrinya yang kini sudah duduk dalam kursi rodanya.
"Loh kok malah bengong Bang? Ayo kita berangkat," tegur Zahro membuat Dewo langsung tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Ah iya maaf! Ya sudah ayo kita berangkat" balas Dewo yang akhirnya ia pun mulai mendorong kursi rodanya Zahro, menuju ke lobiy rumah sakit.
Setibanya di depan lobiy, ternyata disana telah menunggu sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam, dengan seorang pria yang sudah membuka pintu mobil tersebut.
"Selamat siang Tuan, Nyonya," sapa Pria tersebut. Dan tak menjawabnya dan ia langsung mengangkat tubuh istrinya memasuki mobil tersebut. Setelah itu ia pun ikut masuk dan duduk disebelah Zahro. Setelah Pria itu ikut masuk, dan duduk di kursi belakang kemudinya Dewo pun buka suara.
"Rian, kita ke Villa xz, cepat!" tegasnya pada pria yang di panggilnya Rian.
"Baik Bos!" balas Rian dan ia pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Sehingga hanya membutuhkan waktu satu jam setengah mereka pun memasuki sebuah gerbang tinggi, yang begitu masuk, terlihatlah sebuah villa yang terlihat indah. Sehingga Zahro yang melihatnya begitu terkagum-kagum.
"Maa shaa Allah, cantik banget rumahnya Bang. Ini rumah siapa?" tanyanya dengan mata masih terfokus pada villa tersebut.
"Punya kamu!'
"Eh, kok?"
"Benarkan? Bukankah setelah menikah apapun milik suaminya akan menjadi milik si istri?"
"Eh, jadi ini rumah Abang?"
"Bukan tapi Rumah kita! Ayo sekarang kita turun" ajak Dewo, yang kemudian ia pun langsung menggendong Zahro kembali. Dan Zahro hanya bisa pasrah membiarkan suaminya membawa dirinya.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, selamat datang di villa Xz" kata seorang wanita paruh baya, dan seorang pria paruh baya juga secara bersamaan.
"Terima kasih Bi Darmi, pak Udin," jawab Dewo sambil ia berjalan menuju sebuah anak tangga. Dewo terus berjalan dengan mata menatap wajah Zaho, entah kenapa jantungnya selalu berdegup kencang saat menatap wajah istrinya. Apalagi saat ini tangan Zahro sedang melingkar di lehernya.
Begitu juga dengan Zahro tatapan matanya tak lepas juga dari tatapan Dewo. Dan jantung juga merasakan hal yang sama. Hingga akhirnya mereka sampai di dalam sebuah kamar yang terlihat besar. Dan Dewo entah mengapa tiba-tiba bibir Dewo seakan tertarik oleh bibirnya Zahro yang kini kedua bibir itu sudah saling bertautan.
__ADS_1
━━•❖❀🤍❀❖•━━