
━━•⊰❁🤍 Mutiara Alfaqiroh 🤍❁⊱•━━
"Jika kamu sedang bahagia dan teringat seseorang artinya Kamu mencintai orang itu.
Jika kamu bersedih teringat seseorang
Artinya orang itu Mencintaimu"
___Ali Bin Abi Thalib___
━━━━━━━━•⊰❁🤍❁⊱•━━━━━━━━
Masih di pesawat jet pribadi milik Darma.
Dari saat Salwa menaiki pesawat pribadi milik Darma, di tambah saat ia melihat kabin-kabin pesawat tersebut, ia terlihat begitu takjub melihat isi setiap kabin di pesawat tersebut, seperti saat ini saat Dhanu mengajaknya ke kabin tempat istirahat mereka, terlihat sangat indah membuat ia tercengang melihatnya.
"Maa syaa Allah, baru kali ini aku melihat pesawat yang isinya seperti di sebuah hotel begitu indah, kakek Darma memang luar biasa, bisa memiliki pesawat pribadi seperti ini" _batin Salwah yang masih terkesima melihat isi dalam kabin tersebut.
Berbeda dengan Dhanu, yang sepertinya memiliki rencana terselubung, hingga ia tersenyum tipis melihat isi kabin tersebut, "Ada apa Wawa?" tanyanya sambil merangkul pundak istrinya.
"Tidak apa-apa Mas, Wawa hanya heran, biasanya Wawa naik pesawat hanya terdapat kursi penumpang saja Mas, tapi ini kok bisa ya di dalam pesawat milik kakek isinya seperti di dalam rumah, ada seperti ada ruang keluarga tempat menonton tv nah sekarang di sini ada kamar tidurnya maa syaa Allah banget ya kakek, bisa memiliki pesawat seperti ini " bales Salwa yang memang, selama ini Salwa menimbah ilmu sampai ke Kairo hanya memakai pesawat biasa saja, makanya saat melihat isi jet pribadi milik Darma ia begitu terkagum-kagum.
"Iya Mas juga nggak menyangka kalau kakek bisa memiliki pesawat seperti ini Wa, ya sudah sekarang kita istirahat yuk, karena perjalanan kita masih jauhkan" ajak Dhanu yang tangannya masih melingkar di pundak Salwa.
"Baiklah Mas.." Dhanu dan Salwa pun mulai berjalan menghampiri tempat tidur yang berada di sana. Sesampainya di ranjang mereka sama-sama duduk di tepi ranjang tersebut, namun Dhanu langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan posisi kaki masih berada di bawah tempat tertidur.
__ADS_1
"Ah, nyamannya" kata Dhanu dengan kedua tangan yang ia rentangkan di atas ranjang, "Wawa sini" katanya lagi sambil membelai isyarat agar Salwa ikut membaringkan tubuhnya,
"Iya Mas" Salwa pun menuruti keinginan suaminya, dengan membaringkan tubuhnya seperti posisi Dhanu dengan kaki yang masih berada di bawah tempat tidur, sedangkan kepalanya ia letakkan di lengan Dhanu.
"Wawa?" panggil Dhanu lembut, namun tatapan matanya mengarah ke langit-langit kabin pesawat, begitu juga dengan Salwa.
"Hmm?"
"Apakah kamu ingin mengetahui yang di bisikan kakek tadi?" tanya Dhanu dengan tatapan masih sama.
"Mas, kakek membisikkan sesuatu pada emas, itu tandanya ia tak ingin orang lain mengetahuinya Mas." balas Salwah dengan mata yang ikut menatap langit kabin.
"Tapi kamu wajib tahu Wawa, karena amanahnya berkaitan dengan kamu" kata Dhanu kini pandangannya beralih ke wajah Salwah.
"Eh, berkaitan sama Wawa Mas?, emang apa Mas" tanya Salwah lembut dengan wajah kini juga menatap wajah suaminya, yang otomatis mata mereka saling bertemu.
Salwah tersenyum lembut pada suaminya, ia pun memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.
"Ada apa Mas?, katakan saja, memang apa yang kakek katakan Mas?" tanyanya sambil membenarkan rambutnya Dhanu yang menyasar di wajahnya Dhanu.
"Hmm..Itu Wawa, kata kakek hmm..kita itu..kata kakek.. kita harus, sering-sering itu Wawa" kata Dhanu terlihat ragu-ragu, membuat Salwa semakin bingung melihat tingkah Suaminya.
"Sering-sering apa Mas?, katakan saja Mas, jangan ragu-ragu dong Mas" Salwa mengusap pipi suaminya ia juga memberikan kecupan disana agar suaminya tidak merasa canggung lagi dengannya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Dhanu merasa kalau Salwa memberikan lampu hijau padanya, dan tanpa ragu ia langsung meraih bibir yang sejak tadi ia dambakan, "Kata kakek kita harus sering melakukan ini agar secepatnya kita memberikan ia cicit Wawa" katanya setelah tautan bibirnya sudah terlepas.
"Eh, kakek ngomong begitu Mas?" tanya Salwah, yang kini wajahnya memerah membayangkan perkataan sang Kakek, ada perasaan malu yang mendatang begitu saja.
__ADS_1
"Iya Sayang, jadi apakah Mas Adan boleh melakukannya sekarang Wawa? Mas ingin segera memberikan kakek cicit sayang," kata Dhanu dengan suara yang mulai berubah, "Jadi sekarang kita harus secepatnya membikinkan cicit untuk kakek," katanya lagi, seraya tangannya mulai membuka hijab Salwa, dan terlihat leher jenjang nan putih, membuat ia tak sabar ingin menelusuri leher tersebut.
Salwah yang mendapatkan serangan mendadak membuat tubuh seperti di sengat listrik hingga membuat tubuhnya bereaksi bahkan suara lenguhannya tanpa sadar pun lolos begitu saja "Huum..Mas..ja..jangan..ki..hum..kita masih di dalam pesawat, malu kalau ketahuan Mas nan ukhm..." ucapannya terhenti karena bibirnya telah di bungkam oleh bibirnya Dhanu dengan lembut, Membuat Salwah tak mampu menolaknya bahkan ia ikut terhanyut dalam nikmatnya permainan yang dimainkan oleh Dhanu.
"Mas.. nanti saja..uhm..kalau kita sudah sampai.. akh.. Mas..ukhm..kita masih di dalam pesawat mas..umh.." lain di mulut lain di bahasa tubuh, mulutnya mengatakan tidak, namun tubuhnya tak mampu menolak dari tangan nakal Dhanu yang mulai bertualang kesana-kemari, bahkan ia sudah tidak bisa mengehentikan tangan Dhanu yang sudah mulai membuka satu persatu bajunya.
"Sayang, nikmatilah..hum.. tidak akan ada yang mengganggu kita, jadi kamu cukup fokus ya sayang..ukhm.." Dhanu sudah tak bisa di cegah lagi, jiwanya sudah di penuhi dengan hasrat yang begitu membara, hingga membuat Salwa akhirnya ikutan hanyut dalam lautan samudera percintaan yang Dhanu ciptakan. setelah itu terserah mereka dah..😁
_______
Sebilan jam pun terlewati..
Akhirnya pesawat mendarat di Jeddah Arab Saudi, yaitu di Mekah, terlihat wajah Dhanu maupun Salwa nampak begitu ceriah, karena mereka telah cukup beristirahat setelah pertempurannya tadi. Dan terlihat juga keduanya begitu bahagia setelah kaki mereka memijakkan tanah suci Makkah.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga ya mas" ucap Salwa dengan penuh rasa syukur, karena akhirnya ia bisa memijak kakinya ketanah suci, tanah yang amat di rindukan oleh para umat muslim, seperti mimpi rasanya bagi Salwa.
"Iya sayang, Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga di kota para Nabi, ya sayang, seperti mimpi rasanya" ucap Dhanu yang terlihat sedikit terharu, bahkan ia bersujud syukur, ia juga mencium tanahnya, "Terima kasih ya Allah, terimakasih untuk kesehatan, serta kesempatan yang telah engkau berikan pada hambamu yang lemah ini, semoga setelah ini kebahagiaan akan selalu menyertai hamba dan keluarga hamba" _batin Dhanu, yang tanpa terasa ia menitikan air mata, Karena ia amat bersyukur sekali pada sang pemberi kesembuhan hingga ia bisa hidup normal.
_________
TETAP DUKUNG AUTHOR TERUS YA.,🙏😇
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..
__ADS_1
Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.