
━━━>❁⚜️Kalam Ulama ⚜️❁<━━━
❝Ada 4 perkara yang dapat mengangkat derajat manusia ke derajat yang paling tinggi walaupun amal dan ilmunya sedikit yaitu kesabaran, keserderhanaan, kemurahan hati dan akhlak yang baik. Itulah kesempurnaan Iman.❞
( Imam Junaid Al-Baghdadi Rahimahullah Taala )
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم 💕
━━━━━━━━•⊰❁⚜️❁⊱•━━━━━━━━
Dhanu dan Dewo kini sudah kembali berada di rumah sakit, dengan wajah mereka yang terlihat lusuh. Membuat Darma yang melihat mereka jadi penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Assalamu'alaikum Kek" ucap mereka secara bersamaan.
"Wa'alaikumus salam. Mengapa wajah kalian terlihat begitu lusuh, apakah semuanya baik-baik saja Nak?" tanya Darma yang terlihat tidak sabaran, ingin mengetahui hasilnya.
"Kami baik-baik saja Kek" jawab Dhanu sambil ia duduk di kursi di depan ruang rawat Zahro. Begitu juga dengan Dewo yang ikut duduk di sebelah Dhanu.
"Lalu bagaimana dengan Dicky Nak? Apakah kalian berhasil menangkapnya Nak?" tanya Darma masih penasaran.
"Dicky sudah mati tertembak Kek, dan.." jawab Dhanu, yang kemudian ia menggantung perkataannya, dengan wajah yang terlihat ada kebingungan untuk di ungkapkannya.
"Dan apa Nak? Katakanlah dengan jelas Nak?" tanya Darma yang bertambah penasaran karena melihat raut wajah Dhanu langsung berubah pias.
"Dan Tante Susi, ikut meninggal Kek, ia tertembak karena Dicky menjadikannya sebagai tameng untuknya, dan Adhan bingung Kek cara menyampaikan berita ini pada anak-anaknya," jelas Dhanu, Membuat Darma sedikit kaget mendengarnya. Namun ia berusaha menenangkan Dhanu.
"Tidak usah kamu pikirkan itu Nak, biar itu menjadi tugas Kakek. Sekarang sebaiknya kamu bawalah Salwah pulang karena sudah pasti ia sangat lelah Nak" ujar Darma dengan lembut.
"Baiklah Kek, kalau begitu bentar Adhan panggil Salwa ya" balas Dhanu yang kemudian ia berdiri dan berjalan kesebuah kaca yang ada diruang instensif tersebut, karena suster melarang masuk lebih dari satu, makanya Dhanu memanggil Salwa dari kaca tersebut dengan cara mengetuk kaca dan Salwa pun langsung menoleh, dan Dhanu langsung melambaikan tangannya berisyarat memanggil Salwah.
Setelah Salwah paham ia pun mengangguk dan tak lama ia berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut. Dan tak berapa lama Salwah pun keluar dari ruangan intensif tersebut.
"Ada apa Mas?" tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
"Kita harus pulang sayang, ini sudah malam sudah waktunya kamu beristirahat," jawab Dhanu sambil merangkul pundak istrinya.
"Tapi Mas, Zahro siapa yang akan menjaganya dan gimana kalau ia sadar nanti Mas?" tanya Salwah yang terlihat ia enggan untuk di ajak pulang oleh Dhanu.
"Saya yang akan menjaganya Nyonya, menjadi tanggung jawab saya" timpal Dewo yang ternyata ia ikut mendengarkan perkataan Salwah.
"Tidak boleh!" tegas Salwah, "Karena kamu bukan muhrimnya Bang. Yang artinya Abang tidak boleh berada di ruangan yang sama, apalagi hanya berdua, karena Dia tidak halal bagi Abang!" jelasnya Salwah lagi pada Dewo.
"makanya Wo, secepatnya kamu halalkan dia, biar kamu bisa bebas menjaganya, "timpal Darma sambil tersenyum puas, karena ia tadi sempat menangkap wajah Dewo yang berubah sedih saat mendengar perkataan Salwah dan itu artinya dia bisa memancing Dewo agar ia bersedia menikahin Zahro.
"Tapi saya tidak bisa melakukan itu, karena dia sudah.." ungkap Dewo namun langsung dipotong oleh Darma
"Kalau soal itu, kamu tenang saja Nak, itu akan menjadi urusan Kakek, yang penting saat ini apakah kamu bersedia Nak?" potong Darma.
Mendengar pertanyaan Darma, dewa terlihat kebingungan untuk memberikan jawaban tersebut.
"S-saya.. saya.. saya tidak tahu kek," jawab dewa terlihat gugup.
"Udah bersedia saja Wo, lagian masa iya sih kamu tak menjaganya, dia seperti itu juga karena nolongin kamukan?" sindir Dhanu, yang sepertinya ia juga mendukung usulan Sang Kakek.
"Ah tidak ada tapi-tapian! Kamu harus secepatnya mengambil keputusan! Karena tidak ada yang bisa menjaga wanita itu selain kamu! Jadi besok pagi kamu harus sudah punya keputusan, kamu paham!" tegas Dhanu, membuat Dewo terlihat semakin kebingungan."Sekarang cepat antar kami!" titah Dhanu lagi.
"Baiklah Tuan muda" balas Dewo yang kemudian ia langsung meninggalkan Dhanu dan Salwah, karena ia harus mengambil mobil di tempat perparkiran rumah sakit.
Sedangkan Dhanu dan Salwah harus berpamitan terlebih dahulu pada Darma.
"Kek, Adhan dan Salwa pulang ya. Apakah kakek tidak ikut pulang? Kakekkan juga harus istirahat loh. Lagian teman Salwa dan Reza bisa di jaga oleh para perawat kek" ujar Dhanu pada Darma.
"Kamu tidak usah memikirkan kakek Nak, Kakek mah gampang untuk istirahat. Sekarang cepatlah hari semakin larut nggak baik untuk Salwah Nak" balas Darma sambil menepuk pundak Dhanu.
"Baiklah kalau begitu, ya sudah Adhan dan Salwa pulang ya Assalamu'alaikum" pamit Dhanu sembari menyalami tangan Darma, dan begitu juga dengan Salwa.
"Iya Nak, wa'alaikumus salam Nak"
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari Darma, Dhanu dan Salwa langsung beranjak pergi meninggalkan Darma yang masih memandang kepergian mereka. Hingga mereka tak terlihat lagi baru ia beranjak dari tempat itu menuju sebuah ruangan yang di dalamnya ada Reza yang masih dalam perawatan.
Saat ia memasuki kamar tersebut Darma kaget karena tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Kakek." Darma langsung menoleh ke sumber suara.
"Reza! Alhamdulillah kamu sudah sadar Nak?" tanyanya dan langsung menghampirinya Reza yang masih terbaring di ranjangnya.
"Apakah artinya Reza masih hidup kek?" tanya Reza dengan mata melihat sekeliling ruangan tersebut.
"Hah, pertanyaan bodoh! Tentu saja kamu masih hidup Nak, apa yang kamu rasakan Nak? Apakah ada yang sakit biar kakek memanggil dokter ya?" tanya Darma yang terlihat jelas ada perasaan senang karena melihat Reza telah sadar kembali.
"Tidak Kek, Reza merasa sudah baikan kok" balas Reza yang memang terlihat wajah sudah tidak terlalu pucat lagi.
"Alhamdulillah kalau begitu, sekarang sebaiknya kamu istirahat lagi ya. Biar besok pagi kamu semakin membaik ya Nak" ujar Darma sambil membenarkan selimutnya Reza.
"Oh iya kek, tadi Reza bermimpi Mami datang meminta maaf serta berpamitan pada Reza, dan Mami mengucap selamat tinggal Kek, apa arti mimpi itu Kek?" tanya Reza, membuat Darma kaget mendengarnya, dan jantungnya juga terpicu kencang.
DEGH!
Nampak Darma bingung untuk menjawabnya, karena ia takut untuk memberitahukan kebenarannya pada Reza yang kondisinya belum stabil itu. Karena sudah pasti akan berakibat buruk untuknya. Alhasil Darma memilih diam dan berpura-pura tidak tahu saja. Namun di dalam hatinya ia bertekad akan memberitahukan segalanya pada Reza setelah Ia sudah benar-benar sembuh.
"Mimpi hanya bunga tidur saja Nak? Tidak memiliki arti apa-apa, sekarang tidurlah jangan banyak bertanya lagi oke" titah Dharma sembari ia mengelus kepala Reza dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah Kek" balas Reza yang kemudian Iya pun kembali memejamkan matanya. Karena ia masih terpengaruh oleh obat-obatan membuat Reza dengan mudah langsung tertidur kembali. Dan itu terlihat dari nafasnya yang sudah mulai teratur.
Sedangkan Darma mengusap-usap kepala Reza dengan lembut, bak seorang ayah yang sedang mengelus rambut anaknya agar cepat tertidur.
"Maafkan Kakek Nak, tapi kakek melakukan ini demi kebaikan kamu"
_________
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😘
__ADS_1
Syukron 🙏😉🥰.