Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN

Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN
RENCANA BULAN MADU.


__ADS_3

━━•⊰❁🌸 Mutiara Alfaqiroh 🌸❁⊱•━━


"Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya justru menjadi obat penyembuh"


____Ali bin Abi Thalib____


━━━━━━━━•⊰❁🌸❁⊱•━━━━━━━━


Di dalam Mobil Dhanu...


Setelah menyaksikan kepergian Eriko bersama polisi, Dhanu pun mengajak Darma untuk ikut bersamanya, Darma pun menyetujuinya ia ikut naik kedalam mobilnya Dhanu, di dalam mobil..


"Wo, kita ke rumah Riko!" titah Darma saat ia sudah berada di dalam mobil.


"Baiklah Tuan besar" jawab Dewo yang berada di belakang kemudinya.


"Loh kok ke rumah Om Riko kek?, bukankah katanya kekek mau ketemu cucu mantu?" tanya Dhanu heran.


"Iya nak, Kitakan belum ngasih tahu ke Ratih, kalau Papinya sedang di hukum Nak" balas Darma lembut.


"Eh, iya juga ya, lalu apakah dia akan tinggal bersama kita juga kek?"


"Tidak Nak, biar nanti dia tinggal bersama kakek saja,"


"Loh bukankah, kakek akan tinggal bersama Ardhankan?"


"Tidak Nak"


"Kenapa kek?"


"Biar kakek cepat dapat cicit nak" balas Darma sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dhanu, membuat mata Dhanu membulat melihat tingkah sang kakek.


"Iiss, kenapa kakek jadi genit sih!, lagian apa hubungannya tinggal di rumah Ardhan, sama cicit kek?" protes Dhanu, terlihat agak kesal karena sudah dua kali sang kakek menggodanya dengan mata genitnya.


"Hahaha, kamu jelek Nak, kalau memasang tampang seperti itu," balas Darma sambil tertawa saat melihat wajah kesalnya Dhanu, "Ada dong Nak, kamu tahukan istri kamu itu wanita yang baik dan Sholehah, otomatis kalau kakek disana maka perhatiannya terhadap kamu akan berkurang, lalu lama deh kakek dapat cicit dari kamu," jelas sang kakek lagi membuat Dhanu mengerutkan keningnya, karena sepertinya ia tidak memahami perkataan sang kakek.ma


"Mengapa Salwa bisa mengurangi perhatiann amya kek?, apa artinya ia sudah nggak suka sama Ardhan?" tanya Dhanu dengan wajah polosnya.KK


"Hahaha kamu kok polos banget sih Nak, sudah jangan di pikirkan lagi, karena kakek punya cara agar kamu secepatnya memberikan kakek cicit" balas Darma sambil menepuk pundak Dhanu.


Dhanu kembali mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan kakeknya, "Apa maksudnya kakek sih?, Ardhan kok gagal paham ya?" kata Dhanu polos.

__ADS_1


"Haiiis, ternyata berbicara dengan orang yang baru normal, lebih sulit dari pada berbicara sama bayi ya" kata Darma sambil menepuk dahinya, dan ternyata mendengar perkataan Darma membuat Dewo tidak bisa menahan tawanya, namun karena ia takut bosnya marah dengan cepat ia langsung menutup mulutnya.


"Kenapa kamu tertawa hah?" tanya Dhanu yang ternyata ia mendengar tawaan tertahan Dewo.


"Eh, tidak tuan" sangkal Dewo, sambil memasang wajah datarnya.


"Cih, kalian berdua memang cocok, sama-sama gaje, dan kamu Dewo mulai besok kamu kembalilah sama kakek, karena aku sudah tidak butuh kamu!" ujar Dhanu yang terlihat sangat kesal pada Darma dan Dewo.


"Hahahaha, kamu bisa merajuk juga ya Nak, jangan marah Nak, kami hanya bercanda kok," balas Darma masih terlihat terkekeh karena melihat Dhanu yang terlihat lucu di saat merajuk, "Dan maksudnya perkataan kakek yang tadi, kakek ingin merencanakan bulan madu kamu dan Salwa Nak, apakah kamu mau? berbulan madu bersama Salwa Nak?" lanjut Darma menjelaskan perkataannya tadi, yang merencanakan bulan madu untuk sang cucu.


"Rencana bulan madu?, apa itu berbulan madu kek?" tanya Dhanu dan lagi-lagi ia memasang wajah polosnya membuat darma tercengang.


"Hah?, alamak.." kembali Darma menepuk keningnya "Rakaa... kenapa kau memiliki anak sepolos ini sih" gumam Darma namun masih terdengar oleh Dhanu.


"Apa maksudnya kakek, kenapa kakek malah menyalahkan Papa?"


"Tidak tidak Nak, kakek tidak menyalahkan siapa-siapa kok, ya sudah lupakan itu" sangkal Darma yang terlihat kalau ia mulai bingung untuk menjelaskan pada sang Cucu polosnya itu.


"Begini ya Nak, bulan madu itu, kamu bisa berjalan-jalan sama Salwa sepuas, dan hanya berdua saja, jadi kamu bisa bersenang-senang dengannya, Nak" jelas Darma seadanya saja.


"Eh, berdua saja sama Wawa?"


"Iya Nak, kamu maukan?"


"Alhamdulillah akhirnya... baiklah Nak, besok kamu sudah bisa berangkat, kamu ingin kemana nak?" balas Darma terlihat ia bernafas lega, karena tidak harus menjelaskannya secara detail pada Dhanu.


"Eh, kemana ya?, Adan nggak tahu kakek" jawab Dhanu terlihat bingung.


Untuk kali ini Darma memaklumi Dhanu, karena sudah pasti ia tak tahu, tentang negara luar, makanya ia pun meminta Dewo untuk merekomendasikan tempat yang pas untuk bulan madu Salwa dan Dhanu.


"Wo, ini tugas kamu, cari tempat-tempat yang paling romantis untuk berbulan madu" titah Darma pada Dewo.


"Baik, tuan besar, saya akan segera mencari tahu" jawab Dewo, bertepatan ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Eriko.


"Bagus!, ya sudah ayo kita turun," ajak Darma


"Baik kek" lalu ketiganya pun turun dari mobil Dhanu, dan baru saja mereka keluar dari mobil, tiba-tiba terdengar suara ketus seorang wanita.


"Siapa kalian?, dan mau apa kesini?" tanya seorang wanita yang terlihat masih belia.


"Ratih?, kamu tidak mengenalku?" tanya Dhanu pada wanita belia itu yang ternyata dia adalah Ratih anaknya Eriko.

__ADS_1


"Eh, kamu..kamu.. mirip bang Adan, atau memang kamu ini bang Adankah?" tanya Ratih yang terlihat penasaran.


"Ah syukurlah kamu mengenali ku, iya Ratih, aku bang Adan" balas Dhanu sambil tersenyum lembut pada Ratih.


"Eh, benarkah ini bang Adan, tapi kenapa bang Adan sang berbeda, tidak bertingkah seperti anak kecil lagi?" tanya Ratih heran ia juga seperti tak percaya dengan perkataan Dhanu.


"Itu karena Abang kamu sudah sembuh Nak, makanya ia tidak bertingkah seperti anak-anak lagi" jelas Darma, membuat pandangan Ratih langsung beralih ke Darma.


"Eh, Kakek ini siapa?, apakah kita pernah bertemu?, mengapa wajah kakek sangat tidak asing?" tanya Ratih, yang terlihat ia seperti berusaha mengingat wajah Darma.


"Apakah kamu mengenali wajah kakek di ruangan kerja Papi kamukah Nak?" tanya Darma lembut.


"Aah, iya iya benar benar banget, wajah kakek sama dengan sebuah foto yang ada di ruang kerja Papi, dan Papi bilang beliau adalah orang tua Papi, yang juga kakeknya Ratih," kata Ratih terlihat bersemangat saat menceritakan saat ia pernah bertanya tentang sebuah foto pada sang Ayahnya.


"Eh, tunggu dulu apa itu artinya foto yang di ruang kerja Papi adalah foto kakek?" tanya Ratih terlihat penasaran, Darma menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut pada Ratih. "A.. apakah i..itu a..artinya Papanya Papi masih hidup?, bukankah Papi mengatakan kakek sudah meninggal?" tanyanya lagi yang kini ia terlihat gugup, antara rasa takut dan rasa penasaran menjadi satu.


Darma tersenyum lagi pada Ratih, "Iya Nak, kakek adalah Papanya Papi kamu, dan kakek masih hidup Nak" balasnya seraya berjalan mendekati Ratih.


"Be.. benarkah.. kalau begitu Ratih akan telpon Papi dulu ya kek" kata Ratih yang kemudian ia hendak membalikkan tubuhnya bermaksud ingin menelpon Eriko, Namun tangannya tertahan karena Darma sudah menggenggam tangan Ratih.


" Tidak usah Nak, Papi kamu sudah mengetahuinya, dan Papi kamu juga sudah menitipkan kamu pada Kakek, karena saat ini Papi kamu sedang menjalani hukumannya." jelas Darma.


"Hukuman apa maksudnya kakek?" tanya Ratih terlihat bingung.


Darma tidak langsung menjawab pertanyaan Ratih, ia lebih memilih memeluk Ratih,"Apakah kamu tidak merindukan kakekmu ini nak?" tanya Darma di dalam pelukannya.


"Rindu kek, Ratih rindu kok" kata Ratih terlihat canggung, "Tapi Ratih ingin telpon Papi biar ia segera pulang kek" lanjutnya lagi.


"Tapi Papi kamu memang tidak bisa pulang nak, karena saat ini Papi sedang di penjara untuk menjalankan hukumannya" jelas Darma terlihat berhati-hati sekali.


"Apa kek?!"


___________


TETAP DUKUNG AUTHOR TERUS YA.,🙏😇


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..

__ADS_1


Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.


__ADS_2