Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN

Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN
KEKHAWATIRAN DEWO.


__ADS_3

Dewo yang terlihat sangat mengkhawatirkan Zahro. Membuat ia tak menghiraukan Omelan dari Dhanu yang terlihat masih marah-marah padanya.


Namun lama kelamaan kupingnya terasa sakit karena sepanjang jalan Dhanu tak berhenti mengomel, hingga akhirnya ia pun buka suara.


"Maaf Tuan muda, saya khilaf itu karena nyawa seseorang sedang terancam Tuan muda" ucapnya berharap setelah ia meminta maaf Bosnya akan berhenti mengomelnya.


"Maaf? Kalau kata maaf bisa menyelesaikan masalah. Buat apa ada polisi!" balas Dhanu masih terlihat kesal.


"Sudahlah Mas, kok ngomel Mulu sih? pusing dengarnya tau, lagian Bang Dewo juga sudah minta maafkan" sela Salwah yang sebenarnya ia juga ikut pusing mendengar Omelan suaminya pada Dewo.


"Belain aja tuh si Dewo, suami kamu itu siapa sih?" Dhanu terlihat tidak senang karena Salwa membela Dewo.


"Astaghfirullah Mas! Ya kamulah suaminya Wawa" balas Salwah yang mulai bingung melihat sikap suaminya, "Eh bentar. kayaknya kok ada yang kelupaan ya Mas?" lanjut Salwah yang seperti ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Apa yang kelupaan emangnya?" tanya Dhanu terlihat penasaran.


"Astaghfirullah, Bi Marni Mas, Bi Marni masih di sana mas!" seru Salwah terlihat panik.


"Tenang saja Nyonya, nanti Bi Marni akan dibawa oleh anak buah saya," timpal Dewo.


"Benarkah?"


"Benar Nyonya, dan mereka juga akan membawa Nyonya Susi juga" kata Dewo lagi.


"Ooh.. Syukurlah kalau begitu," ucap Salwah terlihat ia bernafas lega. Di saat bersamaan Zahro tersadar.


"Ugh..uhuk.huk.huk."


"Zahro kamu sudah sadar?" sentak Salwah sambil memegang pipi Zahro.


Mendengar perkataan Salwah menyebut nama Zahro. Dhanu dan dewa langsung melihat ke belakang namun Dewo hanya bisa melihat singkat karena ia harus kembali fokus menyetir mobilnya.


"Ugh..A-na ma-sih hi-dup? kata Zahro dengan suara yang terbata-bata dan terdengar lemah.


"Anti ngomong apa sih? Ya tentu saja masih hidup buktinya masih mendengar Ana" balas Salwah


"Ugh.. Sa-kit se-kali, A-na ng-gak ta-han lagi, Sa-lwa..uhuk..huk..huk.." keluh Zahro sambil memegang dada sebelah kanannya.

__ADS_1


"Sssth.. Jangan ngomong yang aneh-aneh gitu, bertahanlah. Karena sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit Zahro," kata Salwah.


Mendengar perkataan Zahro, Dewo pun mempercepat laju mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Karena ia merasa bersalah, setelah ia mendengar keluhan Zahro dan anehnya ia seperti ikut merasakan sakit di bagian dadanya.


"Ta-pi a-na be-nar su-dah ti-dak ku-at la-gi Sa-lwa, ini sa-kit se-kali, uhuk..huk.." keluh Zahro lagi, sambil ia berusaha membuka sebuah cincin di jari manisnya.


"Bertahanlah Zahro ana mohon" kata Salwah yang kini pipinya sudah dibasahi oleh air matanya.


Zahro tersenyum terpaksa, sambil ia menyerahkan cincinnya pada Salwah.


"Apa ini Zahro?" tanya Salwah bingung.


"itu ci-ncin tuna-ngan Ana sebe-narnya hari ini adalah ha-ri perni-kahan Ana Sa-lwa" jawab Zahro.


Salwa tersentak kaget mendengar perkataan Zahro begitu juga dengan Dhanu dan Dewo.


"Astaghfirullah.. Maaf Zahro, karena ana anti jadi gagal menikah," katanya dengan penuh penyesalan


"Ti-dak pa-pa Sal-wa ugh..Jus-tru ana se-nang ti-dak ja-di meni-kah," ucap Zahro membuat Salwa terlihat bingung.


"Iya ta-pi Ana ti-dak ingin meni-kah ka-rena peng-ganti hu-tang. Salwah Ana di jo-dohkan oleh Tan-te Ana. Dan Ana su-dah meno-laknya, tapi Tante Ana sa-ngat mema-ksa. Itu ka-rena ia punya hu-tang pa-da ke-luarga pria itu, seba-gai ga-ntinya Ana ha-rus meni-kah deng-annya," jelas Zahro dengan mata yang sudah merem melek, seperti ia sulit membukanya lagi.


"Astaghfirullah, kenapa Tante anti sekarang jadi jahat begitu ya? tanya Salwah yang sepertinya ia sedang memancing Zahro agar tetap tersadar.


"Ana ti-dak ta-hu Sa-lwa.. Cu-ma ana mau mi-nta to-long sa-ma Anti, ugh..huk..huk.. Wah..bila ana meni-nggal to-long be-ri cin-cin ini pa-da Ta-nte ana ya.huk..huk..ugh..hesss.." ucap Zahro dengan suara yang semakin lemah.


"Kamu ngomong apa sih! Ingat kamu tidak boleh meninggal sebelum kamu bahagia Zahro!" kata Salwah terdengar seperti pemerintah.


Mendengar perkataan salah kembali Zahra tersenyum keterpaksa. Namun sepertinya ia sudah tidak punya kekuatan untuk membalas perkataan Salwah lagi. bahkan matanya semakin sulit untuk di bukanya.


"Ugh..Uhuk..huk..hms.." Zahro langsung memejamkan matanya, membuat Salwa kaget melihatnya,


"Zahro! Tidak tidak..buka mata anti Zahro!" teriak Salwah, membuat Dhanu dan Dewo kaget mendengarnya.


Dan itu bertepatan Dewo memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah sakit. Hingga dengan cepat ia langsung turun dan langsung membuka pintu bagian belakang mobil dan langsung mengambil tubuh Zahro dari pangkuan Salwah dan ia pun langsung membawanya ke ruang UGD.


"Dokter! Cepat selamatkan dia!" teriak Dewo terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Baik Pak! Tapi sebaiknya Anda keluar dulu" titah sang Dokter. Dan Dewo langsung keluar dengan wajah terlihat kusut, membuat Dhanu menjadi heran akan perubahannya serta kekhawatiran Dewo.


"Ada denganmu Wo? Jangan bilang kamu sekarang menyukai dia ya?" tanya Dhanu yang ternyata ia sudah berada di depan Ruang UGD.


"Tidak Tuan muda, hanya saja dia seperti itu karena saya. Seeharusnya saya kenak tembak Tuan muda, cuma Nona Zahro malah mendorong saya dan akhirnya peluru berpindah padanya," jelas Dewo terlihat ada penyesalan di raut wajahnya.


"Apa? Jadi seharusnya..." sela Salwah.


"Iya Nyonya.. Seharusnya saya yang tertembak" potong Dewo, "Maaf Nyonya, karena saya lengah teman Anda jadi tertembak, tapi Anda tidak perlu khawatir saya akan mempertanggung jawabkan semuanya." ucapnya lagi mantap.


"Bagus! Apa itu artinya kamu siap juga untuk menikahinya Dewo?" ucap seseorang yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Membuat Dhanu dan Dewo spontan menoleh ke belakang.


"Kakek!" sentak mereka secara bersamaan.


"Kenapa kakek bisa tahu kami ada disini?" tanya Dhanu heran,


Namun tidak bagi Dewo, karena sebelum ia di tugaskan untuk menjaga dhanuy, Dewo lebih dulu bekerja dengan Darma. Makanya Ia tahu mengapa Darma tiba-tiba muncul di dekat mereka.


"Kenapa? Apa itu penting untuk di jawab nak?" tanya Darma.


"Nggak penting juga sih kek, cuma Adan heran aja. Kenapa Kakek selalu tahu di manapun kami berada?" tanya Dhanu terlihat penasaran.


"Hanya insting Nak" jawab Darma asal.


"Sebentar Nak, tadi Kakek bertanya pada seseorang tapi kayaknya belum dijawab ya?" kata Darma dengan mata melirik kearah Dewo.


"Kakek bertanya apa tadi?" tanya Dewo yang langsung paham akan lirikkan Darma cuma memang sepertinya ia tak menyimak pertanyaan Darma.


"Tadi kakek mendengar kamu mengatakan akan mempertanggung jawabkan semuanya bukan?" tanya Darma pada Dewo dan di balas Dewo dengan anggukan kepala saja.


"Lalu Kakek bertanya, apa itu artinya kamu siap menikahinya Nak?" tanya Darma lagi membuat Dewo kaget.


"Eh.. Apa Menikahinya?!"


___________


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2