Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN

Mengubah Takdir: ADULT MEN ACT LIKE CHILDREN
MAAF ZAHRO.


__ADS_3

*┈┉━❖❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀❖━┉┈*


"Allah akan meringankan setiap langkah kita menuju kemudahan, Allah akan selalu memberi jalan yang terbaik dari setiap kebingungan yang membelenggu kita. Maka pastikan kita tidak pernah jenuh dalam berharap kepada-Nya.


__Quotes of the day__


*┈┉━━━━━•❖❀🤍❀❖•━━━━━┉┈*


Keesokan harinya.


Zahro yang merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik. Ia pun memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Karena ia merasa kesepian hanya sendiri saja didalam kamarnya. Karena sejak, Dewo memberikan hukuman ciuman padanya. Ia belum lagi melihat suami dinginnya itu. Dan itu artinya, mereka tidur tidak berada satu kamar.


"Loh Nyonya kok turun? Andakan masih sakit Nyonya? Ini Bibi baru mau ngantar sarapan keatas!" ujar Bi Darmi yang terlihat kaget saat melihat, Zahro sedang menuruni anak tangga.


"Saya sudah baikan kok Bi Darmi, jadi Bini tidak perlu, mengantar makanan keatas lagi," balas Zahro dengan lembut, dan tak lupa juga ia menyunggingkan senyuman manisnya pada Bi Darmi.


"Tapi Nyonya, Tuan tadi berpesan kalau Nyonya belum boleh keluar dari kamarnya dan saya.."


"Sssth.. itu kalau saya masih sakit Bi, tapi sekarang sayakan sudah sehat. Bibi lihat sendirikan saya sudah segaran?" potong Zahro, yang kemudian ia merangkul pundak Darmi. "Bibi jangan khawatir ya, Zahro sudah sehat wal'afiat kok Bi," lanjut Zahro sembari ia mengedipkan sebelah matanya.


"Eh, Nyonya bisa aja ya? Ya sudah kalau begitu Nyonya ingin sarapan dimana?" tanya Darmi yang masih memegang baki yang berisikan sarapan untuk Zahro.


"Saya boleh nggak sarapan di taman belakang Bi? Karena tadi saya lihat taman itu begitu indah," tanya Zahro kembali.


"Baiklah, tapi Bibi temanin Nyonya ya?"


"Baiklah Bi, Ayo kita kesana," ajak Zahro, yang kini ia berjalan sambil menggandeng tangan Bi Darmi.


"Maa shaa Allah, seperti istri tuan orang yang baik deh. Buktinya ia tidak jijik menggandeng tanganku, biasa para majikan pasti menjaga jarak, dengan pembantunya. Tapi Nyonya Zahro tidak," batin Darmi terlihat senang melihat majikan barunya tidak menjaga jarak darinya.

__ADS_1


"Kita duduk disana saja ya Bi?" ucap Zahro saat ia melihat sebuah joglo yang ditengah-tengahnya terdapat empat kursi kayu minimalis.


"Baiklah Nyonya" balas Bi Darmi, Dan akhirnya mereka sampai di joglo tersebut. Darmi pun meletakkan Baki berisikan makanan serta minuman itu di atas meja tepat di depan Zahro.


"Loh bibi kok tidak ikutan sarapan?"


"Tidak Nyonya, Bibi nanti saja. Karena tidak biasa sarapan pagi Nyonya," balas Darmi memberikan alasan.


"Ooh gitu, ya sudah Zahro sarapan dulu ya Bi?"


"Iya Nyonya silakan."


"Bi, bisa nggak jangan panggil saya Nyonya? Soalnya saya risih mendengarnya Bi" tanya Zahro, sembari ia mulai menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.


"Tapi Nyonya, nanti kalau Tuan..."


"Nggak ada tapi-taoian Bi, dan tuan juga nggak mungkin menghiraukan itu! Jadi Bini panggil saya nama saja ya?" kata Zahro lagi, dengan mulutnya yang terlihat penuh dengan makanannya.


"Itu lebih baik" katanya terlihat senang. "Oh iya Bi, saya kok dari tadi malam nggak melihat Bang Dewo ya? Apakah tadi malam dia tidak di irumah Bi?" tanya Zahro terlihat hati-hati sekali.


"Iya Neng, tadi malam Tuan pergi, Kan emang dari dulu Tuan jarang pulang Neng. Bibi juga nggak tahu Tuan tinggal dimana selama ini? Tapi Neng jangan khawatir, sekarangkan sudah ada Neng, nggak mungkin tuan pergi lama-lamakan?" balas Darmi terlihat ingin menghibur Zahro.


"Aku nggak papa kok Bi. Dia nggak pulang-pulang juga nggak masalah kok! Lagian nggak ngaruh juga dia ada Bi. Manusia dingin kaya dia mah, nggak penting bagi saya Bi!" ujar Zahro, yang wajahnya terlihat biasa-biasa saja, bahkan ia tak terlihat sedih sedikitpun.


"Benarkah saya tidak penting bagi kamu hm?" Suara bariton seorang pria, yang entah dari mana datangnya, membuat Azhro, tersentak kaget, sehingga ia membuat ia tersedak.


"Bang Dewo!" sentaknya. "Uhuk..huk..huk..huk..!"


Melihat majikannya tersedak Darmi langsung mengambil gelas berisikan air putih, dan kemudian ia langsung menyerahkannya Pada Zahro.

__ADS_1


"Nyonya, minumlah airnya dulu" ujar Darmi, sembari ia menyodorkan segelas air putih pada Zahro. Dan dengan cepat Zahro pun mengambilnya dan langsung meneguknya. Setelah dilihatnya sang majikan sudah terlihat membaik. Darmi pun langsung menghampiri, sang pemilik Suara Bariton tersebut. yang ternyata dia adalah Dewo.


"Maaf tuan..! Tadi saya..."


"Sudah nggak papa Bi! Anda sudah boleh pergi biar saya saja yang menemani isteri saya makan!" potong Dewo, sembari ia berjalan menghampiri Zahro, yang wajahnya masih terlihat memerah akibat ia tersedak tadi.


"Kenapa kamu keluar dari kamar kamu hm? Emangnya kamu sudah merasa sehatkah?" tanya Dewo terdengar datar. Membuat Zahro, yang mendengarnya jadi enggan membalas pertanyaannya.


Dewo mengerenyitkan dahinya, tatkala pertanyaannya tak dijawab oleh Zahro."Kenapa diam? Apakah kamu bisu hm?" tanyanya lagi yang kali ini terdengar dingin.


"Menurut Pak Dewo yang terhormat bagaimana? Apakah Saya masih terlihat sakitkah?" tanya Zahro, yang ia sengaja memasang wajah dingin juga terhadap Dewo.


"Ooh.. Sepertinya kamu sudah sehat ya? Sehingga kamu sudah berani melawanku sepertinya hm?" balas Dewo, sembari ia menyunggingkan senyuman tipisnya, yang terlihat mengerikan bagi Zahro. Sehingga rasanya ia ingin pergi saja dari tempat yang tadinya indah kini berubah menjadi menyeramkan bagi Zahro.


"Terserah penilaian Abang saja! Toh saya tidak punya hak atas diri saya sendiri. Jadi bila Abang ingin saya mati juga saya akan teri...ummm...!!"


Perkataan Zahro langsung terhenti, dikarenakan bibir Dewo sudah mendarat dengan sempurna. Pada awalnya, ciuman Dewo, sedikit kasar. Namun lama kelamaan, ciuman itu pun menjadi lembut, sehingga tanpa sadar Zahro ikut menikmati ciuman lembutnya Dewo.


"Maaf Zahro," ucap Dewo lirih, setelah ia melepaskan tautan bibirnya. Mendengar ucapan maaf Dewo membuat Zahro seperti sedang bermimpi, sehingga ia tak percaya dengan pendengarannya.


"Apa Bang?"


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


Dear my Readers ***🙏🥰


Author ingin berterus-terang, Mengapa novel ini terhenti ditengah jalan?


Itu karena novel ini sedang anjlok levelnya. Dan penyebabnya karena Pembaca setianya mundur satu persatu. Mungkin karena ia bermaksud menabung Bab. Tapi malah membuat novel ini langsung Anjlok, seanjloknya. Hingga rasanya sedih bila ingin meneruskan novel ini. Tapi ya sudahlah ikhlaskan saja mungkin rezeki novel ini emang hanya sampai segitu.

__ADS_1


Tapi karena ini sudah memasuki akhir bulan Boleh tidak Author minta tolong 🙏🤭 Author Mohon bantuan dari para Readers pencinta Adan dan Wawa. untuk VOTE NOVEL INI***.


Karena dengan cara ini Novel ini akan kembali seperti semula. Jadi sekali lagi Author Mohon tolongin Author ya bantu Author dengan cara VOTE Novel ini. Please 🙏🥰 Syukron 🥰


__ADS_2