Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek

Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek
Eps 44


__ADS_3

1 tahun berlalu, kini usia Rafa sudah menginjak 1 tahun dan Abian sudah mulai bersekolah di Taman Kanak-kanak, Abian yang sudah siap berangkat kesekolah dan hendak turun untuk sarapan,tiba-tiba si kecil Rafa bergelayut dikaki kecil Abian, kedekatan Abian dengan Rafa jangan di tanyakan lagi, dia sudah seperti kakak dan adik kandung, kemana-mana selalu bersama dan selalu ingin berdua, terutama Rafa yang sedari kecil memang sayang dengan Abian meskipun bukan Kakaknya kandungnya


"Ta au olah?"tanya Rafa dengan bahasanya yang hanya Abian,Hasna dan Arsita yang paham


"Iya Dedek Rafa, Kakak mau sekolah dulu, nanti pulang sekolah kita main"jawab Abian dengan menggendong Rafa


"Apa ain"ucap Rafa


"Mainnya nanti ya dek, Kakak harua sarapan trus sekolah, nanti kalo kakak udah sekolah kita baru main"jawab Abian dengan sabar pada adik sepupunya ini


"Rafa sayang, sama Mama ya, Kakak Iannya sekolah dulu ok, nanti kalian boleh main kalo kakak Iannya udah pulang"ajak Hasna berusaha membujuk putranya


"Da au"tolak Rafa yang semakin memeluk Rafa


"Ounty, Rafa kasih sama Om Arka aja ya, Ounty lagi hamil dedek nanti dedeknya kegencet kata Mama, Mama juga lagi hamil kaya Ounty"jawab Abian dengan menatap perut Hasna yang buncit,ya kini Hasna tengah hamil 5 bulan, dan Arsita dia tengah hamil 6 bulan, hanya selisih 1 bulan saja


"Gak papa sayang, kamu gak keberatan gendong dedek Rafa, dia kan gendut"ucap Hasna dengan terkekeh melihat putranya yang hendak menangis dikatai gendut


"Apa da dut"jawab Rafa yang mencoba menolak ejekan Mamanya


"Iya Rafa gak gendut, yang gendut Mama kok"ucap Hasna lalu pergi menghampiri Arka yang sudah siap untuk ke kantor


Rafa yang melihat sang Mama pergi begitu saja, dia menatap Mamanya,otaknya mulai berpikir, apakah Mamanya marah padanya?, apakah dia nakal?,pikirnya lalu turun dari gendongan Abian, Rafa melangkah dengan perlahan ke arah kedua orang tuanya, meski baru 1 tahun Rafa sudah bisa berbicara lancar meski belum terlalu jelas kosa katanya


Rafa memeluk kaki Papanya dan menatap kedua orang tuanya dari bawah sesuai ukuran tubuhnya yang masih mungil. Arka yang melihat anaknya seperti sedang merasa sedih karna suatu hal


"Anak Papa kenapa hmm?,kok masih pagi mukanya di tekuk gitu?"tanya Arka pada Rafa yang langsung menatap wajahnya saat mendengar Papanya berucap


Rafa tak menjawab tapi dia menatap Mamanya yang sedang menatapnya, lalu Rafa memeluk leher Papanya untuk menyembuyikan tangisnya. Arka menatap istrinya menanyakan kenapa dengan putranya dan Hasna hanya mengadikkan bahunya tak tau. Arka mengusap punggung putranya lembut lalu mengangkat kepala putranya berhadapan dengannya dan tersenyum melihat tingkah lucu anaknya ini

__ADS_1


"Kenapa sayang?,Mama nakal sama Rafa?"tanya Arka dengan duduk disofa ruang tamu,Rafa hanya menggeleng sebagai jawaban


"Trus anak Papa kenapa hmm?,Rafa bikin salah sama Mama?"tanya Arka kembali dan kali ini Rafa mengangguk dengan lemas


"Panggil Mama kesini sayang?"perintah Arka, Lagi-lagi Rafa menggeleng


"Kenapa?, Rafa takut di marahi Mama hmm?"jawaban Rafa hanya mengangguk atas pertanyaan Arka


"Ouhh anaknya Papa ini, bikin salah sama Mama,trus Rafa takut sama hmm?"tanya Arka


"Iya"jawab Rafa mulai membuka suaranya


"Om Ian berangkat sekolah dulu ya,dedek Kakak Ian sekolah dulu ya" pamit Abian pada Arka dan Rafa


"Iya sayang, hati-hati ya, ouh ya. Ian lihat Ounty Nana gak?"tanya Arka l


"Ounty ada di taman belakang sama Mama Om"jawab Abian lalu berlari ke arah mobil yang sudah di siapkan


"Kenapa mas?,kok kesini?,gak kerja?"tanya Hasna meletakkan gelasnya di meja taman


"Aku berangkat siang nanti, meetingnya di undur. Aku cuma mau tanya sama kamu, Kamu. marah sama Rafa?"tanya Arka lembut pada istrinya


"Enggak..."jawab Hasna menatap Rafa yang masih memeluk Arka


"Rafa bilang dia takut sama kamu, makanya aku mikir kamu marah sama dia"ucap Arka


"Aku gak marah sama Rafa, tadi aku cuma mau ngajak dia ke sini, karna Abian mau berangkat sekolah, tapi Rafanya gak mau, ya udah aku pergi ke dapur minta coklat hangat dan duduk disini sama kak Arsi, tapi Kak Arsi pergi ke kamarnya"jelas Hasna membuat Arka paham sekarang


"Sayangnya Papa lihat Papa nak?,hei..Rafa..?"panggil Arka pada Rafa yang sudah menangis tapi tak bersuara

__ADS_1


"Kok nangis sayang?,kan Mama gak marah sama Rafa, Mama hanya ngingetin Rafa kalo kakak Ian itu kan sekolah, Rafa belum boleh ikut Kakak, kalo Rafa ikut Kakak, Mama sama siapa?,nanti Mama nangis di tinggal Rafa pergi. Nanti ya, kalo Rafa udah gede kaya kakak Ian, Rafa boleh ikut kakak, Ian boleh pergi kaya Kakak. Untuk sekarang Rafa nurut sama Mama sama Papa ya nak?"jelas Arka mencoba memberikan pengertian, entah anak itu mengerti atau tidak yang pasti dia akan memberikan pengertian untuknya


"He em"jawab Rafa menganggukan kepalanya,lalu turun ke arah Mamanya dan duduk dipangkuan Mamanya. Dia menatap Hasna dengan wajah cemberut dan detik berikutnya memeluk leher Mamanya erat


"Maap?"ucap Rafa pada Hasna dan mendapat pelukan oleh Hasna


"Gak papa sayang, sekarang Rafa siap-siap,mandi,kita ikut Papa ke kantor ya?"jawab Hasna dan memberikan perintah untuk Rafa


"Yeeeeeeeyyy"sorak Rafa lalu turun ke arah Bi Marni untuk mandi


"Sayang.. awassss"ucap Arka menarik istrinya kepelukannya dan berhasil menghindar dari serangan asap hitam yang tiba-tiba muncul dari belakang pohon mangga


"Kamu gak papa?"tanya Arka cemas


"Mas.. sakit... "keluh Hasna pada perutnya yang tiba-tiba kram,dia mencengkeramkuat lengan Arka


"Sial!!!"umpat Arka lalu membaca mantra memanggil kakek Nicholas


"Aku akan menangani ini di sini, kau pergi bawa istri dan anakmu segera dari sini"ucap Kakek Nicholas entah dari manam, hanya terdengar suaranya saja membuat asap hitam itu tertawa


"Tahan sayang, kita ke rumah sakit sekarang. Bi Marniii.... Bii....?"panggil Arka dengan berteriak membuat Rafa terkejut mendengar suara Papanya


"Mari den?"ajak Bi Marni pada Rafa lalu keluar melihat Arka sedang menggendong Hasna yang sudah kesakitan


"Rafa sekarang Rafa ikut ke rumah Oma ya sayang. Papa mau ke rumah bu dokter anter Mama"ucap Arka membuat Rafa mengangguk


"Good Boyy,ayok bi"ucap Arka lalu pergi


10 menit perjalanan mereka sampai di rumah utama, Rafa masuk bersama Bi Marni,beby siternya.Dan Arka dengan langkah cepatnya masuk menemui Bundanya dan berbisik di telinga Bundanya dan Bundanya terkejut terlihat jelas di wajahnya saat Arka membisikan sesuatu

__ADS_1


"Rafa, disini dulu ya sama Oma, nanti kakak Ian, pulang kok kesini, Nanti Papa sama Mama jemput Rafa kesini"ucap Arka lalu mengecup dahi anaknya dan pergi begitu saja


__ADS_2