
Pagi harinya, Arka sudah siap dengan jas kerjanya dan laptop dipangkuannya,tapi sayang dia hanya memakai celana kolor karna hari ini dia tidak pergi ke kantor dan meeting pun dia laksanakan dirumah sakit demi menemani Hasna
"Kamu kok gak pake celana panjang sih mas?, kenapa cuma pake kemeja sama jasnya doang?"tanya Hasna bingung dengan konsep pakaian Arka sekarang
"Sayangku..., hari ini aku gak kekantor, makanya aku mau pake pakaian santai aja, ehh si Adhi tiba-tiba telfon aku kalo ada meeting 10 menit lagi, maka dari itu aku langsung mandi dan ganti atasan pake kemeja sama atasan biar gampang ganti kaos nanti"balas Arka dengan menyiap beberapa berkas yang sudah Adhi kirim dan meminjam nakas kosong di samping ranjang Hasna untuk meletakkan laptopnya
"Udah mau mulai meetingnya?"tanya Hasna yang sebenarnya menahan tawa dari tadi melihat cara berpaian Arka yang lucu
"Iya, sebentar lagi. Aku meeting dulu ya?"ucap Arka lalu mencium bibir Hasna pelan lalu kembali ke sofa dan membuka laptopnya
Selama meeting, Arka menjelaskan beberapa beberapa penjelasan tentang proyek yang akan dibangun dan mendengarkan para pendapat dari beberapa klien dan juga bawahannya yang ada di seberang sana, sesekali Arka melirik Hasna yang tertawa bersama anak-anaknya membuat Arka menyunggingkan senyum tampannya meski tipis, tapi bisa membuat yang melihat berdebar dan terpesona dengan ketampanan serta senyuman Arka
"Tuan..."panggil Adhi diseberang sana karna Arka melamun menatap kearah lain dengan tersenyum-senyum sendiri
"Tuan Arka..."panggilnya kembali dan Hasna yang mendengar Adhi memanggil beberapa kali, lalu menatap Arka yang tersenyum kearahnya
ide jahil muncul diotak Hasna, dia meminta Rafael untuk melukis wajah Arka dengan sepidol yang Rafael pegang, dan benar saja Rafael mencoret wajah Arka dan itu dilihat oleh klien dan karyawan yang lain diseberang sana yang menahan tawanya
Lalu entah ide dari mana, Rafael mengambil es kopi yang Arka pesan dari kantin dan menempelkannya tepat di pipi Arka hingga membuat Arka terkejut dan berdiri dari tempatnya, para klien dan karyawan yang melihat itu tertawa karna kekonyolan Arka dan kejahilan putranya sendiri, terutama Hasna yang tergelak melihat Arka yang cemberut saat tau jika Rafael yang melakukannya
"Rafa nakal sama Papa?"tanya Arka dibelakang kamera tapi masih bisa didengar oleh mereka disana
"Alah ndili nyamun, aanya yapa atih es pipi apah"jawab Rafael dengan bahasanya
"Dasar nakal kamu ya?"ucap Arka dengan mencubit kedua pipi Rafael gemas dan menggigitnya kecil karna gemas membuat Rafael cemberut dan Arka tertawa melihat wajah kesal anaknya
__ADS_1
"Papa mau lanjut meeting, jadi jangan ganggu dulu ok?"perintah Arka dan di angguki oleh Rafael lalu melanjutkan kegiatannya menggambar kembali
"Ehmm...Maaf Tuan"ucap Adhi merasa ingin tertawa dan tak enak sebenarnya
"Ada apa?, kenapa kau seperti ingin tertawa hah?"tanya Arka penasaran
"Ehmm...Pipi anda"tunjuk Adhi kepada pipi Arka yang bergambar love dengan warna merah memenuhi pipinya membuat Arka membulatkan matanya
"Tertawalah jika ingin tertawa, aku akan mencuci wajahku dulu. Kita lanjut meeting nanti setelah makan siang"ucap Arka dan tak lama terdengar suara tawa diseberang sana terutama Adhi yang paling keras dari yang lain membuat Arka kesal
"Kok kamu ikut ketawa sih yang?, bantuin ilangin dong ihh!!"rengek Arka kepada Hasna yang sedang tertawa menatap wajah Arka yang merah karna sepidol Rafael
"Ya abis kamu lucu sih mas...Hahaha....muka udah merah kena sepidol Rafa, mana gambarnya hati gak jelas gitu, ditambah kamu pake kolor atasnya pake jas. Keren banget mas, Hhahaha...."balas Hasna dengan menatap Arka dari atas sampai bawah, tanpa sadar Arka tersenyum melihat Hasna tertawa dengan begitu renyahnya. Tak apa jika dengan dia menjadi bahan bullyan Hasna bisa tertawa, akan dia lakukan asal Hasna bisa tertawa serenyah dan secantik ini
"Mau cuci muka, nanti suster sama dokter takut lagi liat muka aku kaya drakula"ucap Arka lalu masuk ke kamar mandi membuat Hasna semakin tertawa dan membuat Anggara terbangun
"Ssstt...sayang...maaf nak, kaget ya anak Mama?. Bobo lagi ya sayang?. Rafa bobo ya sayang, udah siang nak. Naiknya sama Papa sayang, jangan naik ke kursi nak!, nanti Rafa jatuh sayang"ucap Hasna kepada Rafael yang berusaha menaiki kursi disebelah ranjang Hasna supaya bisa memeluk Mamanya
"Pelan-pelan sayang,tunggu Papa aja ya naiknya. Turun sayang, jangan naik kursi nak"ucapnya saat melihat Arka keluar dari kamar dengan wajah sudah bersih dan baju sudah normal kembali
"Astaghfirullah Rafa!!..,kamu ngapain sayang?"tanya Arka panik melihat Rafael sudah akan berhasil menaiki kursi tersebut dan saat di angkat oleh Arka,Rafael menangis tak ingin di angkat
"Taro sini mas sebelah aku"pinta Hasna dan Arka menurunkan Rafael di pangkuan Hasna lalu mengambil Anggara dan memindahkannya di sofa bad yang sudah tertidur
"Sss...ushh...sayangnya Mama...Papa gak nakal sayang, Papa gak mau Rafa jatuh, nanti Rafa cakit kalo jatuh. Sekarang Rafa bobo ya biar Papa gak nakal"bujuk Hasna kepada Rafael yang mengangguk dan mulai tertidur dalam pelukan Hasna
__ADS_1
"Udah bobo Rafanya yang?"tanya Arka kepada Hasna yang sedang menepuk pantat Rafael supaya tertidur lebih nyenyak
"Udah mas, ini juga udah jam-nya dia buat tidur, makanya langsung tidur dia"jawab Hasna lalu memberikan Rafael kepada Arka
"Mimpi indah ganteng-ganteng Papi"bisik Arka kepada kedua anaknya yang sudah lelap dalam mimpinya
tak lama setalah Arka duduk di kursi samping ranjang, kakek Nicholas datang ditempat bermain anak-anak dan tanpa sengaja dia menginjak bola kecil mainan Rafael yang memang belum sempat dibereskan hingga membuat dia terjantuh terduduk dengan pantatnya menimpa bongkahan balok mainan milik Rafael membuat kakek Nicholas memekikkan suaranya karna merasa nyeri dipantatnya
"Akhh....Si-all..."pekik kakek Nicholas dengan memukul lantai membuat dia semakin memekik sakit lalu melampiaskan sakitnya dengan menendang meja didepannya, bukannya meja itu bergeser atau mental, tapi kakinya yang terkilir membuatnya semakin menjerit sakit. Arka dan Hasna yang melihat itu hanya menatap ngilu dan menahan tawa mereka
"Cukup kakek, kakek hanya akan menyakiti diri sendiri jika kau seperti itu terus. Duduk di bangku itu aku ambilkan salep dan es batu jika ada yang lebab"ucap Arka menghentikan gerakan kakek Nicholas yang akan meninju meja lemari didepannya
"Cepat Arka....ini sangat sakit. Uhh...pantatku...kuyakin pantatku sudah berubah biru bukan putih lagi"ucap kakek Nicholas
"Ini, kakek oleskan dipantatmu, aku akan mengoleskan ini dikaki dan tangan kirimu itu kek"pinta Arka dan laksanakan oleh kakek Nicholas
"Akhh..sakit..sekali pantatku ini. Pasti biru bukan?"tanya kakek Nicholas pada Arka
"Ayolah kakek, aku tak mungkin menatap pantatmu itu"balas Arka dan tak lama suara bom terdengar menggema diseluruh ruang rawat Hasna
"Akhhh.....sial...Jorok sekali kau ini Kakek Nicholas!!!"pekik Arka kesal karna kakek Nicholas kentut tepat diwajah Arka
"Hahaha...bagaimana angin ajaibku?, nikmat bukan?..ahahaha"tanya kakek Nicholas sedikit berteriak tapi masih didengar oleh Arka dengan tawanya yang menggema diruangan Hasna, untung saja dua bocah kecil itu tidak terbangun dari tidur nyenyaknya
"Sial memang kau...bau bunga bangkai sekali. Kau ingin membunuhku hah!!"teriak Arka dari kamar mandi dengan memuntahkan semua isi perutnya dan Hasna yang sudah tertidur dia hanya menutup wajahnya dengan bantal karna bau kentut kakek Nicholas benar-benar membuat indra penciuman orang yang menghirupnya rusak seketika
__ADS_1