Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek

Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek
Eps 69


__ADS_3

Akhirnya setelah perjuangan panjang, menguras tenaga dan juga emosi. Kini mereka sedang dalam perjalanan meninggalkan pulau, dan sebentar lagi, mereka akan sampai di pesisir pantai


"Rafa kenapa sayang?"tanya Arka yang melihat Rafael sedari tadi memejamkan matanya lalu kembali membukanya


"Lapa ngantuk Papa, Lapa mau bobo, tapi ini masih dilaut"jawab Rafael polos, membuat yang lain terkekeh mendengarnya


"Rafa kalo mau tidur, tidur saja nak. Sini bobo paha Mama untuk jadi bantal Rafa"ucap Hasna dengan menepuk paha kirinya


"Enggak Mama, nanti Mama capek. Lapa kuat kok untuk tahan ngantuk"jawab Rafael dengan mengganjal mata dengan jari agar tidak terpejam, karna sudah saking ngantuknya. Akhirnya dia tumbang kepangkuan Hasna


"Dasar keras kepala, udah tau ngantukan kalo perjalanan jauh, masih saja maksa"gumam Arka menatap Rafael yang sudah tidur dengan lelap


tak lama kemudian, kapal yang mereka tumpangi sampai dipesisir pantai. Hasna mengangkat Medina yang tidur di pelukannya dan kepala Rafael dipahanya


"Biar abang aja yang bawa Rafa, kamu pasti susah sekarang, karna bawa Medina"bisik Agam dengan menggendong Rafael


"Makasih ya bang, maaf repotin lagi"ucap Hasna dengan senyum tulusnya


"Sama-sama. Gak kok, gak ngerepotin sama sekali, aku palah seneng bisa gendong anak kecil lagi, semenjak Abian mulai kelas 5 SD, dia jadi jarang mau digendong sama aku. Katanya malu sama temennya karna udah besar"balas Agam sambil sedikit bercerita


"Ya namanya anak, emang gitu Bang. Mereka kalo udah kenal dunia luar, kadang malu kalo diperlakukan manja sama orang tuanya. Mereka hanya ingin terlihat mandiri bukan terlihat seperti anak dimanja oleh orang tuanya dan diperlakukan layaknya seorang pangeran. Kadang anak juga ada yang mengatai mereka, karna mereka terlalu manja sama Ayahnya, mereka diejek anak manja Ayah"jelas Arka yang ikut mendengerkan pembicaraan Agam dan Hasna setelah mereka meletakan anak-anak dimobil


"Kau benar Ka, tapi aku merasa seperti jauh dengan putraku sendiri setelah dia masuk sekolah, tidak seperti dulu. Abian yang selalu menungguku pulang dari kantor, dengan dia berdiri didepan pintu lalu memberikan kecupan sayang padaku dan meminta janjiku, yaitu mainan dan coklat kesukaannya. Abian yang selalu menangis tak ingin ditinggal olehku, bahkan aku sampai membawa dia kekantor, karna saking susahnya lepas dariku. Tapi sekarang, dia bahkan tak ingin aku menciumnya, menggendongnya,bahkan aku tak pernah melihat dia menungguku pulang lagi didepan pintu dan tak ada lagi Abian manis.


Yang selalu meminta mainan dan coklat kesukaannya padaku saat aku pulang kantor, di tambah lagi tangisannya yang meminta aku tetap dirumah tak terdengar ditelingaku. Aku begitu merindukan dia yang dulu, yang selalu menjadi sumber tawaku dan bahagiaku saat aku banyak masalah dikantor ataupun keluargaku. Aku kehilangan semua itu sekarang"cerita Agam membuat Arka meneteskan air mataya, dia tau bagaimana perasaan Agam saat ini, karna dia juga seorang Ayah yang memiliki 2 orang putra sekaligus yang sekarang mulai tumbuh


"Abang gak boleh sedih dong, nanti kalo Abian tau abang sedih, dia akan sedih juga. Gini aja, nanti setelah sampai dirumah, aku akan tanya sama Abian dan cari tau kenapa Abian menjauh dari orang tuanya dan yang aku yakin ada pengaruh teman-temannya yang gak baik"ucap Arka dan di angguki oleh Agam

__ADS_1


"Ya udah abang balik ya kemobil"pamit Agam lalu melangkah pergi


mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju hotel yang mereka tempati kemarin sebelum kepesisir pantai. Lumayan jauh dan memakan waktu juga, karna tidak hanya jauh tapi saat ini hujan turun dengan deras membuat jalanan menjadi macet parah. Akhirnya mereka berhenti dipinggir jalan, depan warung kopi


"Bu?, pesen kopi 5, teh anget 1 ya?"pinta Arka kepada ibu penjual kopi


"Siap mas, ditunggu!!"seru ibu penjual yang sedang menuangkan air panas


"Mas, aku keibu itu dulu ya?Mau minta air panas, buat bikin susu anak-anak" ucap Hasna dan diangguki oleh Arka


Hasna melangkah menghampiri ibu penjual kopi tersebut, lalu meminta air panas padanya. Setelah mendapatkan izin. Hasna mengeluarkan sekotak susu dan gelas khusus yang dia bawa dari rumah, jika anak-anak ingin susu. Tanpa Hasna sadari sedari tadi ada asap hitam yang selalu mengikutinya dari kejauhan, bahkan kakek Nicholas tak tau jika ada asap hitam mengikuti mereka


Rafael yang begitu peka terhadap kehadiran makhluk asap itu, langsung menghampiri Papanya dan meminta di atar kepada Mamanya, perasaannya tak enak mengenai Mamanya karna kehadiran asap itu. Mereka menghampiri Hasna yang sedang menuang air panas dan Rafael melihat makhluk asap hitam itu akan masuk kedalam perut Mamanya, langsung saja Rafael melempar kalung miliknya kearah makhluk asap hitam itu hingga makhluk itu berteriak kepanasan lalu menghilang


"Mama ndak papa?"tanya Rafael menatap Hasna khawatir


"Tadi ada makhluk asap hitam yang mau mau masuk ke pelut Mama, tlus Lapa lempal aja pake kalung Lapa. Untung aja kalung Lapa ndak ilang, kalo ilang, kakek akan ngamuk"jelas Rafael tertawa pelan dengan memasang kembali kalungnya yang dia lempar, penjelasan Rafael membuat Arka dan Hasna terkejut


"Kamu serius sayang?"tanya Arka kepada Rafael dengan berjongkok


"Iya Papa. Tapi udah pelgi kok, kalna aku lempal pake kalung yang kakek beri"jawab Rafael dengan mencium kedua pipi Arka


"Hebat anak Papa. Kamu gak papa Yang?"tanya Arka setelah memuji Rafael


"Aku gak papa mas, aku malahan gak tau kalo ada makhluk mau nyakitin aku"balas Hasna dengan khawatir, lalu tatapannya beralih kepada Rafael


"Kamu gak papa kan sayang?, kamu gak luka kan?"tanya Hasna khawatir kepada putranya

__ADS_1


"Lapa ndak papa Mama, justlu Lapa khawatil sama Mama, kalna asap hitam itu mau bikin Mama sakit"balas Rafael yang langsung mendapat pelukkan erat dari Hasna


"Alhamdulillah kalo kamu gak papa sayang, Mama takut kamu kenapa-napa sayang"ucap Hasna yang langsung menghapus air matanya


"Ihh...Mama cengeng banget sih, kan Lapa helo, jadi Lapa halus kuat dan hebat. Nanti siapa yang mau jagain Mama kalo bukan anak Mama ini"balas Rafael dengan tawanya dan Hasna tersenyum menatap anak sulungnya yang ternyata sudah besar


"Emm...My Hero"ucap Hasna dengan mencubit pipi Cubby anaknya membuat Rafael cemberut


"Ya udah, sekarang kita kedepan. Angga sama Medina udah nunggu susunya"ajak Arka dan diangguki oleh Hasna


"Setelah sampai dibangkunya dan mengambil susu miliknya. Rafael segera menghampiri kakek Nicholas bersama dengan Opa Abraham yang sedang berbicara berdua


"Kakek?"panggil Rafael kepada kakek Nicholas dan membuat kedua lansia itu menatapnya


"Ada apa Rafa?"tanya Opa Abraham


"Apa boleh aku beltanya dan membelitahu sesuatu pada kalian?"tanya Rafael dengan menatap keduanya yang tersenyum


"Boleh dong sayangnya kakek. Ada apa?"balas kakek Nicholas dengan mengambil Rafa dan meletakkannya di pangkuannya


"Kakek, apa makhluk asap hitam anak buah dali Callos itu masih ada dan akan membahayakan Mama?"tanya Rafael kepada kakek Nicholas


"Bukankah kau sendiri juga melihat bagaimana dunia gelepan milik Carlos hancur tak tersisa sayang, dan mereka sudah ada dalam kalung giok milik Opa. Kenapa kau bertanya seperti itu?"tanya kakek Nicholas yang merasakan cucunya ini telah melihat atau melakukan sesuatu pada makhluk asap itu


"Tadi ada makhluk hitam datang kakek, dia mau masuk ke pelut Mama,tlus Lapa lempal aja pake kalung yang kakek beri dulu waktu aku masih bayi, dan makhluk itu belteliak keras dan menghilang, untung saja tak ada yang mendengalnya"balas Rafael membuat kakek Nicholas terkejut


Bagaimana mungkin makhluk itu masih ada, sementara raja kegelapan mereka telah tiada dan apakah ada yang lolos dan kehancuran saat itu, apa ada yang saat itu tak ada didalam istana atau sekitar pulau, sehingga dia bisa lolos dari kehancuran. Oh ****...sungguh sial!! jika dia lolos berati Kalia dalam bahaya.Aku harus berbuat sesuatu,dia pasti sedang mengincar rahim Kalia untuk melahirkan Raja kegelapan kembali, tidal itu tidak akan terjadi. batin kakek Nicholas dengan menatap cucunya yang sedang tertawa bersama Arka, Agam, Ayah Arga dan anak-anak

__ADS_1


__ADS_2