
1 tahun berlalu
hari ini adalah haru ulang tahun Anggara untuk yang pertama, Hasna sudah menyiapkan semua persiapan dengan rapi dan tentunya mewah atas permintaan Opa Abraham dan Kakek Nicholas, kedua lansia itu meminta kepada cucunya untuk membuat pesta mewah untuk Anggara
Hasna yang selalu bolak-balik memasang ini itu dan membuat berbagai macam hiasan untuk pesta yang di adakan di aula rumah utama. Arka yang sedari tadi mengawasi dan meningatkan Hasna agar tak terlalu lelah,malah dia yang lelah untuk berbicara dengan Hasna yang keras kepala
"Sayang, istirahat aja dulu. Kamu pucet banget itu mukanya, jangan di paksain kalo sakit yang"ucap Arka entah yang keberapa kali mengingatkan dan Hasna jawab gak papa, baik-baik aja kok. Ya kata itu selalu Hasna ucapkan ketika Arka melarang ini dan itu
Baru saja Arka berucap,hampir saja dia jatuh jika Arka tak ada di belakangnya. Dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, Hasna di gendong oleh Arka ke arah sofa dan mendudukkannya di sana untuk istrinya beristirahat sebentar. Karna sedari pagi Hasna selalu saja mondar-mandir dan saat Arka belum bangun pun istrinya sudah berkutat di dapur
"Kamu kenapa?, kamu sakit hmm?"tanya Arka dengan memijit pelipis Hasna
"Nih, minum air hangat dulu biar mendingan"ucap Arsita dengan menyerahkan segelas air hangat
"Makasih kak"balas Hasna dengan menerima gelas tersebut, baru saja akan meminumnya dia sudah mual dan berlari ke kamar mandi untuk memuntakan semua makanannya
"Nana kenapa Si?"tanya Bunda Klarisa yang mendengar menantunya muntah-muntah di kamar mandi kepada Arsita yang hendak menyusulnya
"Aku juga gak tau Bund, dari pagi emang wajahnya udah pucat banget dan udah kelihatan sakit gitu, tapi Nana jawab gak papa, dia gak ngerasa apapun dari pagi. Ini baru aja hampir jatuh kalo gak ada Arka dibelakangnya dan aku kasih minum anget dia mutah"jelas Arsita membuat Bunda Klarisa sedikit pusing mendengarnya
tak lama Arka datang dengan menggendong Hasna yang sudah tak sadarkan diri membuat anggota keluarga panik, Arka membawa Hasna ke kamarnya dan merebahkannya di ranjang dengan perlahan lalu mengambil telfonnya untuk menghubungi dokter
"Hallo..."ucap Arka saat sambungat terjawab, dengan wajah paniknya dia menggosok tubuh Hasna yang berkeringat dingin dan terlihat begitu pucat
"Gimana Ka?"tanya Bunda Klarisa dengan memberikan minyak angin di sekitar dahi dan bawah hidungnya
"Lagi kesini Bund, Nana gak akan kenapa-napa kan Bund?"jawab Arka dengan bertanya pada Bunda Klarisa yang sedang menatapnya
"Dia gak akan kenapa-napa sayang, Nana kan wanita hebat, dia kut. Dia pasti akan sembuh kok"balas Bunda Klarisa lalu memeluk Arka
"Permisi??"sapa seorang dokter yang baru saja datang
"Tolong periksa menantu saya dok, dia tadi tiba-tiba muntah terus pingsan"ucap Bunda Klarisa memberikan konfirmasi
"Baiklah, Pak, Bu. Biar saya periksa dulu kondisinya"jawab Dokter lalu melakukan pemeriksaan
__ADS_1
sekitar 5 menit, pemeriksaan pun selesai. Dokter senyenyum setelah memeriksa kondisi Hasna, dia menatap Arka dan yang lainnya yang ada di ruangan tersebut dengan senyum ramahnya
"Kok dokter senyum sih, kan adik ipar aku lagi pingsan kenapa malah senyum gitu?"celetuk Arsita lalu mendapat geplakan ringan di lengannya oleh Bunda Klarisa
"Diam dulu Arsi, dengerin dokter ngomong, jangan main jeplak aja"ucap Bunda Klarisa menatap tajam Arsita yang di tatap hanya cengengesan
"Begini Pak, Bu. Kondisi Nona baik-baik saja,dia hanya lerlu istirahat karna kandungannya lemah untuk saat ini. Jika di paksakan beraktifitas yang berat hingga kelelahan, itu akan membahayakan kondisi janin dan Nona"jelas dokter tersebut membuat semua keluarga terkejut. Apa tadi?, kandungan?, Hasna hamil?
"D-dokter serius kan?"tanya Arka dengan wakah terkejut bercampur bahagia
"Benar Tuan, jika ingin lebih pastinya. Silahkan Tuan Muda membawa Nona ke rumah sakit menemui dokter Vania untuk mengetahui lebih jelasnya"jawab dokter tersebut lalu undur diri
Hasna mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya masuk ke matanya, yang pertama kali dia lihat adalah kedua putranya yang duduk disamping kanan dengan Anggara dalam pangkuan Arka, serta semua angota keluarga ada didalam kamarnya
"Kenapa rame banget disini?"tanya Hasna pada Arka yang ada di atasnya dengan senyum tampannya
"Mereka jagain kamu sayang, selamat ya. Kamu hamil!"ucap Arka lalu mengecup dahi Hasna lembut
"H-hamil?"beonya karna ingin mendengar lebih jelas lagi kepastiannya
"Kok Princess, kan belum tau dia cewek atau cowok"balas Hasna dengan kesal
"Dia akan tumbuh menjadi seorang gadis cantik Lia"ucap kakek Nicholas entah dari mana tiba-tiba terdengar suaranya membuat semua keluarga merinding terutama Agam yang belum pernah melihat kakek Nicholas
"Hai Nicho, jangan kau membuat cucu-cucuku ketakutan ya. Keluar kau!!"ucap Opa Abraham kesal
"Ya baiklah, aku akan keluar. Yang Raja siapa?,yang memerintah siapa?. Dasar Abra!!"cibir kakek Nicholas lalu muncul di samping Arka
"Kau mengataiku kan tadi?"tanya Opa Abraham yang kesal dengan sikap sahabatnya ini
"Kupingmu bermasalah Abra?, aku tidak mengataimu sama sekali"elak kakek Nicholas lalu menghilang kembali
"Heh dasar kau yah,tukang ngilang!!"pekik Opa Abraham, yang lain hanya menutup telinganya karna sakit
"Sudahlah Papa, kau ini begitu emosian jika berhadapan apa lagi bercanda dengan kakek Nicholas"ucap Ayah Arga menengahi pertengkaran konyol antara keduanya
__ADS_1
Tak lama kakek Nicholas muncul kembali tepat dibelakang Opa Abraham lalu menoel telinganya,kemudian menghilang kembali. Agam yang melihat itu hanya bergidik ngeri karna dia baru pertama kali melihat hantu tang begitu tampan dan terlihat masih sangat muda,bahkan bisa di bilang seperti seorang remaja 17 tahun. Opa Abraham yang sudah tau pelakunya hanya pura-pura tak tau, dan saat kakek Nicholas muncul, Opa Abraham langsung menangkap tangan kakek Nicholas dan menarik talinganya
"Akhh...ampun Abra..sakit..., Ya...ya...ya. Ampun..maaf..."pekik kakek Nicholas merasakan kupingnya panas
Yang lain hanya terkikik sementara Rafael dan Anggara tertawa melihat itu. Tunggu dulu!. Kuping kakek Nicholas panas?,sakit?,bagaimana mungkin?,bukannya dia sukma?. Opa Abraham langsung melepas tarikan tangannya dan menatap kakek Nicholas yang menatapnya dengan wajah terkejut
"Abra?"
"Nicho?"panggil keduanya bersamaan membuat yang lain melihatnya bingung
"Kau. Aku?"ucap mereka kembali bersamaan
"Ini pada kenapa sih?,kok pada tatap-tatapan gitu?,mana wajahnya kaget gitu?"tanya Arka
"Coba kau menghadap kecermin itu"pinta Opa Abraham
"Bayanganmu ada disana Nicho!!,kau menjadi manusia kembali"pekik Opa Abraham lalu memeluk kakek Nicholas, dan pernyataan itu membuat yang lain terkejut
"Maksudnya?"tanya Hasna bingung
"Kakekmu hidup kembali Na, dia berhasil masuk ke dalam raga aslinya yang disimpan olehku di dalam peti, di lantai bawah tanah. Berarti selama ini ku tak tau jika kau sudah berhasil masuk kedalam ragamu?, jika iya kau juga tak tau jika ilmumu bertambah?""jawab Opa Abraham dengab bertanya pada kakek Nicholas
"Seperti itulah Abra, akh...akhirnya aku bisa merasakan kehangatan keluarga kembali dengan raga asliku,meskipun ada sisa luka yang belum tertutup sempurna di dadaku ini. Tapi aku bersyukur jika aku bisa mengenal kalian dan hidup kembali menjadi manusia karna kalian"jelas kakek Nicholas dengan memeluk Hasna cucunya
"Coba kau pukul lenganku Ka?"pinta Kakek Nicholas dan langsung di geplak oleh Arka di lengannya
"Hei... sakit bodoh!!. Kau ini menyebalkan sekali"pekik Kakek Nicholas merasa panas di lengannya
"Kan kakek yang minta tadi, kenapa jadi salahin Arka?"elak Arka
"Kau kan bisa pukul dengan pelan bukan sekenjang kau membalas dendam"kesal kakek Nicholas dengan menatap tajam Arka
"Jangan tatap suamiku setajam itu kakek"ucap Hasna membuat Arka menjulurkan lidahnya karna mendapat belaan oleh Istrinya, sementara kakek Nicholas dia mendengus kesal
"Dasar kau ini,sama saja dengan Abra"gumam kakek Nicholas mencibir Arka
__ADS_1
"Aku mendengarmu Nicho, jangan kau bawa istriku ya, atau ku potong Nagamu itu"ancam Opa Abraham membuat kakek Nicholas menghilang,meski sudah menjadi manusia kembali. Namun kekuatannya tak hilang bahkan bertambah