
Setalah mereka masuk kemobil, Arka dan Agam yang menyetir mobil yang mereka tumpangi. Arka membawa Hasna beserta kedua anaknya dan Kakek Nicholas dibelakang karna anak-anak tangin jauh darinya, sementara di mobil lain, terdapat Agam sebagai sopir, Ayah Arga, Opa Abraham dan Rafael, dia memilih ikut dengan Opanya karna lebih luas di banding mobil Papanya penuh karna adik-adiknya
mereka menempuh perjalanan selama 1 jam menuju lokasi dimana pulai tempat Carlos membangun istananya, belum lagi mereka harus naik kapal untuk melewati lautan hingga memakan waktu kembali. Jika mau kakek Nicholas akan menghilang dari pada naik mobil seperti, tapi dia akan kehilangan tenaga jika membawa 6 orang sekaligus menghilang dengan kekuatannya
"Sayang?"panggil Arka kepada Hasna yang sedang memakan cemilannya
"Kenapa mas?"tanya Hasna menatap Arka dengan mulut penuh makanan, membuat Arka terkekeh
"Kamu ini. Habisin dulu yang dimulut, baru jawab panggilan aku"ucap Arka membuat Hasna tersenyum menunjukkan giginya
"Maaf mas, habisnya aku laper. Karna kita buru-buru aku cuma sarapan dikit doang tadi"jawab Hasna dengan memakan makanannya kembali, membuat Arka menggelengkan kepalanya
"Kan aku udah pernah bilang sama kamu. Gak usah takut di tinggal, aku akan tungguin kamu kok. Lagian barang-barang juga udah beres didalam koper, tinggal kita bawa aja. Gak perlu buru-buru, sekarang kamu kelaparan kan karna makan sedikit?"jelas Arka dan Hasna hanya diam dengan menganggukan kepalanya
"Maaf mas"balas Hasna
"Gak papa, lain kali jangan diulangi lagi ya, kalo banyak habisin, jangan buru-buru apalagi sampai sisain makanan kamu"ucap Arka
"Siap!!. Gak lagi"jawab Hasna dengan memberikan hormat membuat Arka tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Hasna
"Istri cantik yang pintar"puji Arka dan tanpa dia sadari Hasna blussing karna pujian Arka
"Mas...Kita mampir hotel ya?, kasihan anak-anak harus tidur di mobil. Mereka pasti capek banget karna perjalanan lumayan lama dan jauh"pinta Hasna dan di angguki oleh Arka
Arka mengambil telfonnya, lalu menghubungi Agam agar mampir ke hotel untuk beristirahat sebentar. Setelah mematikan telfonnya Arka menuju sebuah hotel yang dekat dengan laut yang menuju pulau dimana Carlos berada, bahkan pulaunya terlihat dari sana
"Bang, tolong gendong Rafa yah?, aku gendong Angga sama Medina dulu"pinta Arka
"Beres!, ouh iya. Udah pesan 5 kamar kan?"tanya Agam kepada adik iparnya
"Itu, Nana yang pesan didalem, kita tinggal masuk aja"balas Arka dan di angguki oleh Agam, lalu melangkah masuk kedalam hotel dan diikuti oleh Ayah dan Opa di belakang mereka
Arka langsung menghampiri Hasna yang sudah mendapatkan kunci kamar disana, yang jelas kamar itu harus berdekatan, kalau bisa berjejeran
"Udah dapet sayang?"tanya Arka disamping Hasna dengan menggendong kedua anaknya
__ADS_1
"Udah nih mas"jawab Hasna dengan menujukkan kuncinya
"Ouh iya. Ini kunci kamar Abang No 182, Kamar anak-anak No 181, Opa sama kakek No 184, aku sama mas Arka No 180, Ayah kamar No 183"jelas Hasna dengan memberikan kunci kamar kepada mereka
"Kenapa aku harus satu kamar dengan Nicho?"tanya Opa Abraham
"Maafkan aku Opa. Kakek yang minta satu kamar dengammu"jawab Hasna tak enak hati
"Ya sudah tak apa, aku akan satu kamar dengan setan ini. Aku duluan"ucap Opa Abraham lalu melenggang pergi ke kamarnya
"Mas...Opa marah ya sama aku?"tanya Hasna kepada Arka
"No honey. Opa gak marah kok sama kamu. Opa pasti hanya capek aja sayang, trus Opa juga masih kesal dengan kakek karna kemarin kakek bikin Opa ngambek sampai gak mau keluar kamar"jelas Arka memang benar adanya
"Beneran, Opa gak marah sama aku?"tanya Hasna masih takut jika Opa akan marah padanya
"Enggak dong sayang. Mana mungkin Opa marah hanya karna ini.Gak usah khawatir ya? Opa gak marah kok"jawab Arka dengan menuntun Hasna masuk ke kamar hotel
Mereka melangkah masuk ke kamar anak-anak terlebih dahulu, disana sudah ada Agam yang menunggu bersama Rafael yang masih tidur dengan nyenyak, tak lupa Arka mengucapkan terimakasih kepada Agam sebelum Agam pergi dari sana. Arka merebahkan kedua anaknya di ranjang dengan hati-hati lalu meninggalkannya di sana setelah dirasa nyaman untuk anak-anaknya.Lalu mereka melangkah pergi ke kamar mereka, dan sampainya di kamar. Arka melempar dirinya di tengah ranjang hotel dan tertidur
"Atas nama mbak Hasna?"tanya pelayan tersebut
"Iya..."jawab Hasna canggung dan bingung
"Ini makanan yang suami anda pesan dengan nama anda, mau di diletakkan dimana mbak?"tanya pelayan hotel tersebut
"Itu...letakkan dekat nakas saja. Terimakasih mas?"ucap Hasna
"Sama-sama Mbak, permisi"pamit pelatan setelah meletakkan makanan yang mereka bawa di samping nakas
Setelah pelayan pergi, Hasna melangkah ke arah ranjang untuk membangunkan Arka, dia mengelus wajah Arka yang tertidur nyenyak di kasur empuknya. Arka menggeliet merasakan sentuhan di wajahnya, Arka tak membuka matanya, tapi dia menangkap tangan Hasna dan menariknya hingga Hasna jatuh kepelukkannya
"Ihh...apa sih mas, lepasin mas"ucap Hasna dengan kesal
"Gak mau,temenin aku tidur"jawab Arka dengan suara seraknya karna bangun tidur
__ADS_1
"Hei, kalo kamu tidur, trus nanti gimana dengan perjalanan kita. Ini aja udah jam 11.00 siang, kita akan semakin kesiangan kalo sampe ketiduran. Bangun ihh mas...makan siang udah dateng itu"kesal Hasna mencoba melepas tangan Arka yang melingkar di pinggangnya
"Nanti aja sayang, aku mau..."ucapan Arka terpotong karna suara ketukan pintu menganggu waktu berduanya
"Aku mau buka pintu dulu. Lepasin mas..."ucap Hasna terpaksa mencubit kecil tangan Arka hingga Arka melepas pelukkannya
"Auwss...sayang...kok di cubit sih?"tanya Arka tak suka
"Ya maaf...Tapi kamunya juga salah, kan aku udah minta lepasin pelukkan kamu, ehh kamu malah semakin meluk"balas Hasna
"Udah gak papa, gak sakit kok. Aku panggil anak-anak dulu buat makan siang"ucap Arka lalu berlalu pergi meninggalkan Hasna di kamar ,tak lupa dia mencium dahi Hasna
"Mas, jangan lupa suruh Rafael bawa buku prnya ya? Tadi dia minta bantuin kerjain prnya"ucap Hasna kepada Arka dan di balas Arka dengan anggukan lalu pergi
setelah mereka makan dan membantu Rafael mengerjakan prnya. Mereka mulai melakukan perjalanan kembali pulau dimana istana Carlos berada, setelah ½ jam perjalanan. Mereka sampai di pesisir lautan dan menyewa sebuah kapal berukuran sedang, sepanjang perjalanan anak-anak begitu menikmati perjalan laut mereka, air yang jernih, bersih dan masih alami
"Mama?"panggil Rafael kepada Hasna saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya
"Kenapa nak?"tanya Hasna menatap Rafael lembut
"Ada ikan besal dibawah kapal kita"jawab Rafael menunjuk kebawah kapal, dan benar saja. Ternyata ada ikan lumba-lumba yang berenang berputar dibawah kapal
"Wahh...lumba-lumba sayang"balas Hasna takjub melihat lumba-lumba yang berenang dibawah kapalnya
"Wahh...yumba-yumba Bang, Ma?"tanya Anggara ikut penasaran melihat kebawah kapal
"Angga..jangan seperti itu nak, nanti kamu jatuh kebawah. Duduk yang benar, lumba-lumbanya kelihatan kok tuh"peringatan Hasna dan menunjuk kearah lumba-lumba yang berenang menjauh dari mereka
"Yah...to egi?"ucap Medina dengan wajah sedihnya menatap lumba- lumba itu pergi
"Hai princess. Lumba-lumba kan punya rumah dan punya keluarga, jadi lumba-lumba pergi kerumahnya untuk pulang dan menemui keluarganya. Sama seperti Medina. Medina punya rumah, punya keluarga, maka dari itu Medina pulang kerumah Papa karna Medina keluarga Papa. Lumba-lumba juga seperti itu, jadi jangan nangis ok. Jelek princess Papa kalo nangis"ejek Arka kepada Medina yang menghapus air matanya lalu tersenyum lucu kepada Papanya
"Ya sudah, sekarang kita nikmati perjalan ini ya. Setelah ini kita akan cape"ucap Hasna dan di angguki oleh semuanya
Opa Abraham yang melihat Arka menasehati anaknya dan mendengar ucapan Arka yang begitu lembut dan bijak, membuat Opa Abraham meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka, jika cucunnya yang dulu dia gendong, nyanyikan lagu, memandikan, bermain bola, dan masa kecil Arka yang membuat kakek Nicholas meneteskan air matanya. Arka sudah dewasa, dia sudah menjadi seorang Papa, sudah menjadi laki-laki yang begitu dewasa ,bijak dan bertanggung jawab atas keluarganya
__ADS_1
"Opa begitu sayang padamu Ka"gumam Opa Abraham dengan menatap Arka yang sedang tertawa bersama anak-anaknya dan yang lainnya