Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek

Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek
Extra Part


__ADS_3

Sampainya di UKS. Rafael segera merebahkan Syafira di ranjang dan seorang anak PMR disekolahnya telah datang dan terlihat khawatir apalagi dokter tersebut suka pada Rafael, tapi saat melihat seorang gadis yang tangannya setia digenggam oleh Rafael membuat dokter tersebut panas dan kebakaran jenggot tentunya


"Hai Rafa!, ada apa ini?"tanya anak PMR tersebut dengan menampilkan senyum terbaiknya


"Tolong periksa dia, suhu badannya cukup tinggi"perintah Rafael dengan nada dingin dan wajah datarnya


"Baiklah, tapi apa kau akan selalu menggenggam tangannya Rafa?"tanya anak PMR tersebut, Tiara Andara, panggilan Tiara


"Bukan urusanmu. Periksa saja dia"balas Rafael dengan wajah datarnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Syafira


10 menit pemeriksaan, akhirnya selesai juga dan Rafael bisa bernafas lega, karna sedari tadi Tiara selalu sengaja menempelkan tubuhnya pada Rafael seperti kesemparan emas untuk selalu menempel pada Rafael saat itu juga


"Bagaimana?"tanya Rafael datar


"Dia baik-baik saja, hanya saja kelelahan, kurang tidur, tadi pagi belum sarapan dari semalam. Hingga membuat asam lambungnya naik mengakibatkan dia seperti ini"jelas Tiara dengan detail berharap mendapat pujian dari Rafael, tapi itu hanya mimpi baginya. Karna Rafael tertarik pada Syafira, ehh..


"Hmm...keluarlah, karna kau dipanggil pak Bayu diruangannya"ucap Rafael dan dibalas senyuman licik oleh Tiara


"Untuk apa pak Bayu memanggilku?, aku tak memiliki urusannya. Aku hanya punya urusan denganmu"balas Tiara dengan melangkah mendekati Rafael dan Rafael hanya menunjukan smirknya


"Untuk apa aku berurusan dengan wanita sepertimu, kita tak memiliki urusan apapun bahkan aku tak mengenal dirimu, aku hanya tau kau bukan berarti aku kenal dirimu"balas Rafael dengan wajah datarnya


Tiara hanya menghentakkan kakinya merasa kesal dengan ucapan Rafael dan dia pastik akan merebut hati Rafael, meski dia sadar dia tak perawan lagi hanya untuk uang


"Fira, buka matamu. Kita pergi dari sini"bisik Rafael ditelinga Syafira dan seketika Syafira membuka matanya dan menatap Rafael yang tengah tersenyum padanya


"Kau baik-baik saja kan?"tanya Rafael dengan membantu Syafira duduk


"Aku baik-baik saja. Terimakasih karna telah membawaku kemari"balas Syafira dengan senyum manisnya. Sial!, kenapa dengan jantungku sekarang?, kenapa berdetak begitu cepat sekali?, apa aku terkena serangan jantung?" batin Rafael wajahnya mulai berubah merah sekarang


"Ah-a..iya sama-sama. Sekarang kita pergi ke kantin, kau perlu makan hmm?"ucap Rafael dengan menuntun Syafira yang hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban


baru saja keluar dari ruang UKS, mereka dikejutkan oleh kedatangan Melda,Farasya,Wildan dan kedua adik Rafael yang terlihat panik dan khawatir dengan membawa dua piring nasi goreng


"Abang gak papa kan?, Abang sakit?, Abang ada luka gak?, kita kerumah sakit ya?, kita jalan sekarang ya Bang?"ucap Anggara bertubi-tubi membuat Rafael menghela nafas


"Bisakah kau tenang dulu Angga?. Aish...bukan Abang yang sakit, tapi dia yang sakit"balas Rafael dengan wajah kesalnya, belum juga reda rasa kesalnya karna Tiara, sekarang ditambah lagi karna Anggara


"Alhamdulillah kalo bukan Abang yang sakit, kalo abang sakit, kita yang akan disemprot sama Mama dan kita akan di gantung dipohon toge sama Mama kalo abang sakit, nanti kita di klaim adik kurang becus menjaga abang, kita gak mau abang..emmhh..."ucapan Anggara terpotong saat Medina menyumpal mulutnya dengan nasi goreng dan menatap Anggara sinis, sementara Anggara hanya menunjukkan cengirannya

__ADS_1


"Makannya kalo punya mulut tuh direm, jangan asal nyerocos terus gak ada ujungnya kalo ngomong heran"sindir Melda dengan tertawa kecil


"Nyenyenye"balas Anggara mencibir Melda


"Cukup!!"seru Rafael membuat keduanya langsung berhenti adu mulut dan bergerak


"Balik ke kelas dan kalian berdua, pulang nanti setelah Abang selesai kumpul Osim"ucap Rafael dan di angguki oleh keduanya


"Melda...Fara...bawa Fira ke kelas, dan kau Wildan ikut aku ke ruang Osim, tolong izinkan kami nanti"ucap Rafael dan di angguki oleh mereka


"Rafa?"panggil Syafira dengan menggigit bibir bawahnya bagian dalam, dan Rafael langsung membalikkan tubuhnya menghadapnya


"Terimakasih untuk bantuannya"ucap Syafira dan diangguki oleh Rafael lalu melangkah meninggalkan mereka


"Kak.."ucap Medina bingung karna tak tau nama gadis yang memanggil Abangnya


"Syafira Putri Anastasya, panggil aja Fira atau Tasya. Kamu?"tanya Syafira setelah mengenalkan dirinya


"Medina Putri Rafendra, panggil aja Medina atau Dina, adik bungsu Abang Rafa"balas Medina dengan tersenyum malu


"Salam kenal Medina"ucap Syafira dengan senyum manisnya


"Baiklah, sekarang giliran aku yang mengenalkan diri. Eghem.."ucap Anggara dengan gaya sok gantengnya


"Salam kenal juga Angga"balas Syafira dengan tersenyum memperlihatkan lesung pipinya


"Baiklah kakak Ipar, kita balik ke kelas dulu ya, bye kakak Ipar"pamit Medina dengan menarik rambut Anggara membawanya pergi dari sana. Syafira hanya bisa membulatkan matanya dan blussing mendengar Medina memanggilnya Kakak Ipar


"Cieee...kakak Iparr....udah dapet restu aja dari adik-adik Rafa. Hahaha...blussing"goda Melda lalu tertawa bersama Farasya dan Wildan


"Hiss..apa sih!!. Udah yuk balik ke kelas!"ucap Syafira mencoba mengalihkan pembicaraan, sementara ketiganya hanya tertawa melihat Syafira salting


waktu terus berjalan, hingga kini jam pulang pun telah tiba, semua anak-anak sudah pulang dan ada juga yang pergi ke suatu tempat untuk tongkrong bersama. Syafira belum kembali karna dia masih mengerjakan tugas untuk besok, ya meski masih ada waktu sampai besok pagi, tapi namanya juga Syafira, dia mengerjakan semua tugas untuk besok, agar besok tak mengerjakan tugas dan pusing


Setelah selesai tugasnya, Syafira melangkahkan kakinya keluar dari kelas dengan membenarkan tasnya yang masih terbuka, tanpa dia sadari Rafael melangkah berlawanan dengannya dengan mengecek buku ditangannya, dan sesuatu hal terjadi membuat Anggara dan Medina melongo saat akan menghampiri Rafael untuk pulang


Bruk..


Rafael menabrak Syafira hingga buku ditangannya jatuh kelantai dan berserakan, karna Rafael menangkap tubuh Syafira agar tak jauh ke lantai dengan keras dengan Syafira yang jatuh pada lengan tangan kanan Rafael. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa berkedip. Rafael dapat melihat dengan jelas bola mata biru Syafira yang indah dan nafas Syafira yang menerpa wajahnya. Begitupun sebaliknya, Syafira menatap bola mata Rafael yang indah dan menawan nafas Rafael yang menerpa wajahnya membuat Syafira memejamkan matanya

__ADS_1


"Abang..."pekik Medina membuat keduanya terkejut dan tanpa sengaja Rafael terpeleset dan mereka jatuh bersama ke lantai dengan Rafael menindih tubuh Syafira


"Abang gila!!!, Abang mau ngapain anak orang hoi!!"pekik Anggara membuat Rafael sadar dan langsung bangun dan berdiri dengan normal. Rafael membantu Syafira berdiri dan mengucapkan kata maaf, setelahnya dia membereskan bukunya dilantai dan pergi ke kelasnya mengambil tas


"Ayo pulang"ucap Rafael lalu melangkah pergi setelah mengambil tasnya


"Kakak Fira belum dijemput ya?"tanya Medina yang sudah naik kemotor Anggara


"Mungkin sebentar lagi"balas Syafira dengan memeriksa hpnya


"Gimana kak?"tanya Medina kembali


"Supir aku gak bisa jemput sekarang, mungkin nanti 2 jam lagi baru dateng, soalnya ban mobilnya bocor kena paku. Sementara Papa dia masih belum pulang dari kantor"balas Syafira dengan wajah cemberutnya


"Terus saudara kakak atau mungkin Mama kakak?"tanya Anggara dengan memakai helmnya


"Mama sama kakak aku udah meninggal karna kecelakaan"balas Syafira dengan raut wajah berubah sedih


"Astaghfiullah. Maaf kak, aku gak tau"ucap Anggara dengan menunjukkan wajah bersalahnya


"Ya udah kakak ikut kita aja, nanti biar dijemput dirumah kita, atau mungkin bisa abang-abang aku yang anter kakak, dari pada kakak sendirian disini, ini udah sepi dan gerbangnya juga udah mau ditutup. Kasihan kakak nunggu sendirian disini mana mau gelap lagi"ucap Medina di angguki oleh Anggara


"Tapi..."ucapan Syafira terpotong saat Rafael membuka suara


"Naik sekarang atau ditinggal sendirian disini"ucap Rafael membuat Syafira berlari menghampirinya


"Naik"pinta Rafael tapi Syafira hanya menunduk


"Emm...aku gak bisa bonceng motor besar kalo pake rok sekolah"balas Syafira


"Gini"ucap Medina turun dari montor Anggara dan membantu Syafira naik ke motor Rafael


"Nah udah kan, peganggan pinggang Abang Rafa ya, bair nanti pas tancap gas kakak gak kejengkang"ucap Media dengan terkekeh bersama Anggara sementara Rafael menyunggingkan senyum tampannya dibalik kaca helmnya yang berwarna hitam gelap dari luar


"Udah?"tanya Rafael dengan memegang punggung tangan Syafira diperutnya


"Udah kok. Pelan-pelan ya Rafa?, aku gak terbiasa naik montor, karna takut"ucap Syafira dan di angguki oleh Rafael dan mereka mulai meninggalkan sekolah bersama


tak henti-hentinya Rafael tersenyum dibalik kaca helm gelapnya saat merasakan pelukkan Syafira diperutnya semakin erat, bahkan Rafael dapat melihat wajah Syafira yang memejamkan mata karna takut saat dia menaikkan kecepatannya, terlihat imut dan lucu menurut Rafael

__ADS_1


"Rafa jangan cepet-cepet ya, aku takut"ucap Syafira dengan memeluk Rafael dari belakang dengan kencang


"Iya ini udah pelan kok. Tenang aja, gak akan terjadi apa-apa kok"balas Rafael dengan memelankan kecepatan montornya karna melihat Syafira yang memejamkan mata dari spion montornya dan pelukkan diperutnya semakin kencang


__ADS_2