
Pagi hari di kamar Khev Bawika
Pria itu masih terlelap dengan lengan yang masih melingkar di tubuh sang istri, namun sebenarnya shacsya sudah terbangun dari setengah jam yang lalu ingin mencoba memindahkan lengan itu takut si empunya ikut bangun.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.00 akhirnya shacsya memindah lengan itu dan bergegas ke kamar mandi lalu pergi ke dapur dan disana sudah siap Bi inah serta Bi Surti.
" Masak apa nyonya pagi ini ? " Tanya Bi inah yang memindai bahan makanan di dalam lemari pendingin.
" Ada request nggak ? " Shacsya bukan memberikan jawaban malah memberi pertanyaan, tiba-tiba alat komunikasi yang ada disana berbunyi.
" Bi Inah istri saya suruh ke kamar segera " titah Khev dari balik Handy talkie (HT).
" Mau bikin sarapan dulu mas " Shacsya langsung menyahut.
" Keatas dulu sayang " titahnya kembali tanpa memperdulikan alasan yang diberikan oleh shacsya.
Bi Inah dan Bi Surti kompak tersenyum " Sudah nyonya naik jarang-jarang kami melihat hal seperti ini dulu, tapi sepertinya sekarang akan menjadi sering " Goda Bi Surti.
" Benar mb Surti, si Tuan kenapa jadi bucin ya. Padahal dulu menikah hampir lima tahun kita nggak pernah melihat tuan manis banget memperlakukan nyonya Audi di rumah. Kalau di luar rumah memang mereka sama-sama ingin terlihat mesra " Shacsya hanya mencuri dengar ucapan kedua ART nya membuat hatinya menghangat.
" Sayang " Panggil Khev dari lantai dua kali ini benar-benar lantang membuat shacsya yang sudah mulai menaiki anak tangga langsung berlari.
" Apaan si " Ucap Shacsya dengan pipi yang mulai merona menjadi merah jambu, padahal selama ini dia tidak pernah merasakan hal ini.
Khev langsung menarik lengan shacsya, agar wanita itu masuk ke dalam kamar kembali.
" Mas, aku belum masak sarapan buat kalian " protes shacsya yang lengannya masih di tarik sang suami.
" Kan ada bibi "
" Apa salahnya si kalau aku yang masak buat kalian "
" Enggak salah, tapi pagi ini bisa temani saya ? "
__ADS_1
" Mas kenapa si, aneh sekali "
Khev langsung memeluk tubuh istrinya, shacsya yang belum siap dengan perlakuan ini membuat dia terasa sedikit tidak nyaman.
" Mas, bisa lepasin pelukanmu "
" Kenapa ? "
" Bukan setiap pagi kamu olahraga ? " Shacsya bertanya dengan nada yang pelan karena pria itu sedang memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu shacsya.
" Pagi ini pengen meluk kamu saja "
' Apa dulu dia juga selalu seperti ini jika bersama Audi ? Bukan tidak ingin dia peluk dia seperti ini, tapi rasanya sikap dingin bak gunung es itu sudah mencair begitu saja '
" Mas "
" Hmm, kenapa sayang ? "
" Sebelum makan siang aku harus sudah pulang dari kantor ya "
" Kenapa ? "
" Kamu masih make up ? " Pria itu kini menempelkan pipinya ke pipi shacsya, bahkan shacsya sedikit bisa merasakan deru detak jantung yang lebih cepat.
" Nggak boleh ? "
" Boleh sayang, lakukan apa yang kamu mau "
" Thanks mas "
" Sama-sama sayang "
" Mas, mandi deh sana kalau gitu. Aku buatin sandwich "
__ADS_1
" Ya " jawab itu memang terdengar dia memberikan izin sang istri pergi namun dia masih saja memeluknya dengan erat.
" Mas "
" Iya, bajuku tolong disiapkan "
" Iya yaa " Kali ini shacsya yang berini insiatif melepas pelukan itu lalu berjalan ke walk in closed.
Sebenarnya baju disini sudah tersusun dengan rapi sesuai kegunaannya, entah kenapa pagi ini terkesan dia ingin selalu bersama dengan shacsya.
" Udah disiapin ya "
" Iya " Jawab pria itu dengan tatapan mata yang tertuju pada Ipad yang ada di tangannya.
Shacsya membuka pintu kamarnya namun saat hendak akan melangkah turun tiba-tiba ada pelukan dari jemari kecil sang anak.
" Ai udah bagun sayang ? "
Gadis itu mengangguk lalu mengacungkan tangannya minta untuk di gendong, dan shacsya mau tidak mau menggendong anak itu masuk ke dalam lift turun ke bawah.
" Ai mau sarapan apaa sayang ? "
" Papa sarapan apa mom ? "
" Sandwich "
" Mau nasi goreng aja boleh mom ? "
" Boleh dong, momma bikinin "
Ibu dan anak itu berjalan ke dapur, hal ini tidak luput dari pandangan Khev yang memantau dari cctv yang sengaja dia hubungkan di smartphone miliknya.
' Mereka bukan ibu dan anak kandung tapi bisa sedekat ini, dan rasanya pernikahan ku kali ini benar. Aku merasa seperti memiliki keluarga yang utuh, istri yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk suami dan anaknya walaupun aku tau dia belum bisa jatuh cinta padaku. Aku pikir, dia yang akan lebih dulu jatuh cinta ternyata benteng pertahanan ku lebih mudah goyah '
__ADS_1
***