Menikah Saja Dengan Ku

Menikah Saja Dengan Ku
Chapter 6


__ADS_3


" Thanks God, Pagi ini masih bisa nemenin dia dengan segala rutinitasnya " Batin Willy saat sedang berhenti di persimpangan jalan menunggu antrian traffic lamp.


Shacsya memang sedari kecil bukan perempuan yang manja, walaupun serba kecukupan namun dia tetap bersikap sederhana dan bahkan lebih memilih untuk terlihat biasa saja.


Pagi ini shacsya memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit, bukan karena dia sakit hanya ingin memastikan anak dari tukang ojek yang menolongnya kemaren mendapat perawatan yang terbaik disana.


" Koko " Panggil shacsya yang masih berhenti karena terlalu macet jalanan menuju cafe dan Rumah Sakit.


" Mau anterin ke Rumah Sakit dulu nggak ? "


Willy menggelengkan kepala " Mau ada meeting jam sepuluh dek "


Shacsya memberikan kode dengan melingkarkan ibu jari dan telunjuk, dan di balas anggukan kepala oleh willy.


Willy mengambil arah ke Cafe dan Shacsya memacu motornya menuju Rumah Sakit, pagi ini memang dia lumayan santai karena baru ada job sekitar jam 14.00.


Ketika masuk ke dalam Rumah Sakit, suasana masih cukup begitu lengang dan shacsya segera melangkah menuju sebuah Ruang yang bertuliskan Direktur Utama.


Tokk tokk tokk


Kepala shacsya menyembul masuk memastikan orang yang dia cari ada di dalam sana, dan benar saja Pria bertubuh tegap itu sedang duduk mengenakan jas putihnya.


" pagi om Adit " Seru shacsya yang langsung di balas dengan pelukan hangat dari pria itu.


" Kesini kenapa nggak ngasih kabar om dulu, kamu sakit ? " Pria itu memastikan jika ponakannya ini tidak kurang suatu apapun, karena bagaimanapun juga dia merasa ikut bertanggungjawab dengan nasib ponakannya ini.

__ADS_1


" hehehe, sehat kog om " shacsya hanya nyengir mengetahui jika masih ada orang lain yang sangat peduli padanya.


" Syukurlah, kalau kamu sampai kenapa-kenapa nggak tau lagi om mesti bereaksi seperti apa "


" hahaha om adit berlebihan lah, shacsya duduk ya om "


" Iya, iyaaa silahkan " jawab pria itu yang masih sibuk menyeduh teh.


" Minum ini teh kesukaan kamu kalau kamu datang kesini "


" Om masih ingat aja "


" Kamu ponakan om satu-satunya sha " Jawabnya dengan nada yang rendah, terselip kekecewaan yang mendalam.


" Hahaha, jangan gitu om. Masih ada Nandini loh "


" Ah "


" Kamu ada apa kesini ? "


" Om, bisa tolong chekin pasien dengan nama Teguh nggak ? "


" Ada apa dengan dia ? Pacar kamu ? " Selidik pria yang duduk di hadapan shacsya.


" Mana ada si om pacar, bapaknya kemarin nolongin aku "


" Kamu kenapa ? "

__ADS_1


" Cuma jalannya macet ajah si, trus bapaknya nolongin shacsya gitu "


" Ah iyaa "


" Om, bisakah kasih perawatan yang terbaik kalau memungkinkan kasih gratis gak apa. Biar shacsya yang nanggung biayanya "


" Hahaha, santai aja sha nanti om usahain ya. Soal biaya nanti bisa kita atur "


" Om biarin shacsya yang nanggung nggak apa loh "


" Iya iyaaa om faham cantik, ponakannya om ini memang luar biasa dulu orangtua kamu juga seperti ini. Oh iya soal butik "


Shacsya membuang nafas dengan kasarnya dan memejamkan matanya, Adit tahu banget ada luka yang menyayat hatinya.


" Nggak usah bahas itu deh om "


" Om cuma mau kasih tau kalau bran yang di keluarkan butik itu masih menjadi milikmu sepenuhnya karena merknya masih terdaftar atas nama kamu, jadi keuntungan dari bran itu masih masuk rekening kamu yang om kelola "


" Buat tambah operasional Rumah Sakit aja deh om "


" Janganlah sayang, kamu berhak loh atas uang itu "


" Yaudah 25% di transfer ke rekening pribadi ku lainnya buat operasional Rumah Sakit "


" Om nggak salah, mempertahankan Rumah Sakit ini buat kamu "


" Thanks you so much om adit " Ucap Shacsya lalu memeluk pria yang usianya memang hanya terpaut hampir tujuh tahunan itu.

__ADS_1


Oh iya lupa memperkenalkan siapa itu om adit, om adit adalah adik papa juga alias adik paling bontotnya papa dia berbeda dari orangtua Nandini.


...****************...


__ADS_2