
" Pernikahan kamu bagaimana ? " tanya seseorang dari balik smartphone milik shacsya, saat wanita itu sedang duduk di teras sebuah Villa di Puncak.
" Happy uncle, kita sedang di pundak. Om dimana ? "
" Om ini juga ada di puncak "
" Wah meet up om, kangen tau " walaupun shacsya sudah menikah, tetapi dia masih saja manja.
" izin dulu sama suami "
" Okee "
Belum sempat shacsya menekan tombol merah di layar ponselnya, tiba-tiba Khev sudah berdiri di dekatnya.
" Bisa kita bicara " Kali ini Khev terlihat begitu serius bahkan selama ini mau genting seperti apapun dia tetap terlihat santai.
" Bisa mas " Shacsya lalu mengode untuk mengakhiri panggilan telponnya " Uncle nanti shacsya telpon lagi "
" Oke cantik "
Saat shacsya sudah meletakkan ponsel nya tiba-tiba lengan shacsya di genggam cukup erat oleh Khev, Ada aura kemarahan yang terpancar dari sorot matanya.
" Kenapa mas ? " Shacsya masih cukup tenang dengan sikap suaminya, karena dia tidak ingin terbawa suasana.
" Maksud kamu apa ? " Khev melempar beberapa kertas kearah meja dimana ponsel shacsya di letakkan, membuat shacsya mengingat sesuatu.
" Oh soal Atasya yang kuliah ya " Jawab shacsya dengan nada santai sambil merapikan kertas-kertas yang di lempar suaminya.
" Atas dasar apa kamu mengizinkan dia kuliah ? Bahkan Maurin yang urus semuanya "
" Pertama dia kuliah pakai uang pribadi saya, tidak ngambil dari uang pemberian mas Khev yang kedua dia pinter kog boleh dong saya memberikan apa yang dia pengen "
" Kenapa kamu tidak melibatkan saya ? "
__ADS_1
" Mas, persoalan yang mas hadapi itu jauh lebih buanyak dan lebih menguras pikiran mas, kalau masalah beginian harus lapor sama mas bagaimana dengan hal yang lebih butuh kamu ? " Shacsya bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh suaminya, walaupun terasa begitu canggung karena ini kali pertama shacsya memeluk duluan suaminya.
" Setidaknya saya tahu sha " Nada bicara Khev mulai menurun dan melandai saat shacsya memeluknya, ternyata trick ini cukup ampuh untuk mengatasi amarah Khev.
" Lain kali bakal bilang mas, tentang apapun itu. Oke "
Shacsya melepas pelukannya lalu beralih kearah smartphone miliknya yang sedari tadi bergetar.
" Hallo kak Maurin, kenapa kak ? "
" kamu dimana dek ? " Tanya perempuan yang sudah shacsya anggap sebagai kakak dan juga asisten sang Uncle.
" Di puncak kak "
" Bisa kita bertemu ? " Karena sedari tadi memang panggilan itu di loud speaker oleh shacsya, shacsya hanya melihat kearah Khev untuk memberikan jawaban yang selanjutnya.
" Ada hal penting apa ? " Perkataan itulah yang muncul dari mulut sang suami, membuat dahi shacsya berkerut dan bibir yang manyun.
" Bukan cafe itu yang mengelola adik saya ? "
" shacsya memiliki cafe yang lain, yang sengaja di persiapkan oleh Tuan Raditya untuk keperluan sosial dia "
" Kamu dimana ? Saya akan antar istri saya bertemu dengan kamu "
" Baik Tuan, saya akan kirim maps ke shacsya. Kebetulan Tuan Raditya juga ada di puncak "
" Okay kakak, thanks ya "
Khev menyadari sedari tadi istrinya manyun, membuat pria itu gemas namun masih ada amarah yang menyelimuti hatinya.
" Kenapa manyun ? "
" ya kenapa juga mas mesti mau anter, ini harta peninggalan orangtuaku. Nggak ada hubungan sama mas khev " Protes shacsya, bukan shacsya tidak mau suaminya mengetahui semua hal tentang dia namun wanita ini memang belum terbiasa dengan hal itu karena selama ini dia selalu bisa menyelesaikan sendiri.
__ADS_1
" Saya suami kamu, walaupun saya tidak membutuhkan semua itu tapi saya setidaknya tahu jika nanti terjadi apa-apa saya tetap bisa melindungi kamu. Kamu faham ! "
" iya deh iya "
" Udah kamu siap-siap dulu "
***
Khev sudah bersiap, namun shacsya masih duduk di sofa kamar tidurnya membuat pria itu semakin geram dengan sikap sang istri.
" kenapa lagi ? Nggak suka saya ikut ? "
" Ya elah mas, mas juga kan yang bilang ke kakak bakal nganter tanpa persetujuan saya. Yaudah berangkat ya berangkat aja, toh apa peduli mas sama perasaan ku "
' Astaga shacsya ini wujud dari pedulinya aku sama kamu, kenapa si makin kesini bukannya kamu semakin jatuh cinta sama saya malah semakin membuat saya marah '
" Kalau memang kamu gak suka saya antar, silahkan pergi dengan pak pujo dia ada di bawah " Titah Khev yang langsung berjalan kearah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya diatas sana.
" eh nggak gitu juga " Shacsya cukup kelimpungan melihat sikap sang suami, sebenarnya dia happy di temenin suaminya dan shacsya juga menyadari betapa perhatian suaminya itu tapi dia harus meninggalkan Aiza di Villa karena gadis kecil itu sedang tidur siang.
" Terus mau kamu apa Neysha Malika "
" Ai gimana mas ? Masa iya kita tinggal ? "
" Ada bibi disini, toh semua ART kan kamu bawa kesini " Hal ini juga cukup membuat Khev sebal namun pada akhirnya dia mencoba memahami maksud sang istri.
" Kasian mas, bawa bolehkan ? "
" Ya, udah sana siap-siap. Saya tunggu di mobil "
Khev keluar membiarkan sang istri bersiap, padahal sebenarnya Khev hanya ingin berduaan dengan shacsya menikmati suasana puncak yang sejuk namun wanita itu memaksa untuk membawa sang anak.
***
__ADS_1