MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
TELPON DARI MAMA


__ADS_3

Tapi bagaimana perkembangan proyek yang di sabotase yang sedang di cek Sony? mengapa dia tidak menghubungi Andra kembali? biarlah Sony akan mampu menangani proyek di sana.



Tin! tin! tin!



suara klakson mobil Andra yang sedang di depan pintu gerbang kediamannya, dan langsung dibuka oleh satpam yang menjaga rumah besar tersebut.


"Andra anak nakal yang jarang pulang ke rumah, apa tidak ingat di rumah ini ada Mami yang menanti anak kesayangannya pulang." gerutu Indira yang sudah berdiri di depan pintu masuk kediamannya.


"Iya Mami aku sayang, maafkan Andra lagi banyak kerjaan jadi Andra terpaksa tidur di kantor. Andra bawakan makanan kesukaan Mami." ucap Andra membujuk.


"kamu ini kebiasaan, tapi terima kasih Mami sudah lama tidak menikmati makanan ini Andra. kamu tahu saja kalau masalah menyenangkan hati Mami." ucap Indira tersenyum senang.


"Andra anak Mami bukan? jelaslah jadi tahu kesukaan Maminya, ya sudah Andra ke kamar dulu mau mandi." pamit Andra dan mencium pipi Maminya.


sedangkan di dalam kamar yang temaram minim cahaya lampu, Emma masih terlihat kesal atas sikap Andra dan dibuatnya bingung sejak kapan Andra tahu alamat kontrakannya, seingatnya dia juga tadi tidak menyebutkan alamat kontrakannya. boro-boro bertanya alamat, dia hanya terdiam saja dan fokus menyetir mobilnya tanpa menoleh maupun melirik kanan kirinya.


"apa sih salah aku, kenapa dia terlihat cuek dan acuh tak acuh serta dingin sekali, seolah sok bossy habis, apa yang dia mau wajib diturutin." gerutu Emma kesal.


"kenapa aku jadi memikirkannya, memikirkannya malah jadi emosi sendiri akan perubahan sikapnya. tapi kalau dilihat-lihat dia tampan dan mempesona, wanita mana yang tidak terpikat akan ketampanannya. pasti semua wanita bakalan mengantri untuk bisa bersanding dengannya. apalah daya aku hanya seorang pelayan itu pun harus bermimpi dahulu." batin Emma entah sudah berapa lama dia hanya membolak-balikkan badannya dan berusaha untuk tidur, tapi dia tidak bisa juga tertidur karena yang sedang dipikirkan hanyalah Andra. entah jam berapa Emma akhirnya bisa tertidur juga.

__ADS_1


selesai mandi Andra segera turun untuk menemui Maminya yang sudah menunggunya.


"sudah makan sayang?" tanya Indira tersenyum menatap putra tunggalnya.


"sudah Mami, tadi sebelum Andra pulang. Andra makan bareng klien sekalian meeting." ucap Andra yang duduk santai di samping Maminya.


"Andra apa kamu sudah memiliki kekasih? apa mau dikenalin belum ke Mami?" tanya Indira serius.


"apa sih Mami, itu terus yang dibahas. aku masih muda Mami. Sony saja yang Mami suruh menikah dahulu." ucap Andra sambil menikmati martabak di depannya.


"kamu sudah dewasa Nak, kamu tidak kasihan melihat Mami dan Papi kesepian di hari tuanya nanti." protes Mami dengan suara lirih.


"Iya iya Mami, kalau sudah ada kekasih Andra akan mengenalkan ke Mami. Andra pasti langsung menikahinya, tapi ingat Mami Andra tidak mau dijodohkan." ucap Andra mengutarakan unek-uneknya.


"Andra mampu mencari yang terbaik buat Andra sendiri Mami, yang jalanin nanti Andra. Mami percayakan semua sama Andra." ucap Andra menjelaskan singkat.


sebenarnya Andra sendiri juga bingung entah perasaan apa yang dia rasakan sekarang. apa benar dia mencintai Emma? dia pun belum yakin akan hal itu. biarlah semua akan berjalan apa adanya. Andra tidak ingin gagal kembali dalam membuka hati. cukup sekali dan tidak ingin mengulang sekali kisah seperti dahulu. dia akan lebih fokus dalam pekerjaan dan menemukan orang yang menyabotase proyek di luar negeri, akan ada balasan setimpal nantinya. siapapun yang akan mengganggu ketenangan Andra tidak akan ada kata ampun sama sekali.


Dret! Drett!



"siapa pagi-pagi begini yang menelepon aku." ucap Emma karena dia masih sangat mengantuk.

__ADS_1


"halo!" ucap Emma dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"baru bangun tidur Nak." ucap Mama Emma dari seberang sana.


Iya Mah, kemarin Emma full jadi Emma kecapean akhirnya bangunnya kesiangan. ada apa Mama pagi-pagi begini telpon Emma?" tanya Emma penasaran.


"jangan terlalu di forsir dalam bekerja Nak, Mama tidak mau dengar kamu sakit, kamu jauh dari Mama. jadi kamu harus bisa jaga kesehatan sayang. Mama hubungi kamu karena Mama rindu dengar suara kamu Nak, sudah lama kamu tidak menghubungi Mama." ucap Mama melampiaskan kerinduan lewat telpon.


"Emma juga kangen sama Mama, tapi Emma belum bisa untuk mengambil jatah cuti untuk menemui Mama. Emma lakukan ini juga buat Mama, Papa dan adik-adik. tapi Emma janji awal tahun Emma akan pulang." ucap Emma bersedih.


Ya, Emma sudah hampir 2 tahun tidak pulang menemui kedua orang tuanya, hanya lewat komunikasi saja mereka berhubungan selama ini. hanya akhir-akhir ini saja Emma jarang menghubungi kedua orang tuanya karena terlalu sibuk dan pulang kerja juga langsung dia pakai untuk beristirahat apalagi dia kini menjadi penanggung jawab cafe selama Farhan tidak ada.


"Ya, sudah Emma kamu segera bangun jangan lupa sarapan selalu sebelum kamu berangkat bekerja. ingat jaga kesehatan kamu Emma." ucap Mama memberi nasehat.


"Iya Mama, Mama juga jaga kesehatan, salam untuk Papa dan adik-adik." ucap Emma mengakhiri sambungan telponnya.


setelah telpon dimatikan, Emma bergegas mandi dan dia akan memasak. kebetulan kemarin dia sudah berbelanja cukup untuk kebutuhan 2 hari kedepan jadi lebih hemat waktu.


"wangi banget Emma masakan kamu, suami kamu besok bakalan ketagihan sama masakan kamu, seperti aku yang ketagihan semua masakan yang kamu buat." ucap Qonita setelah dia selesai membereskan rumah.


"kamu itu apaan sih Nit, pagi-pagi sudah bahas suami pula, dilamar saja belum, tidak usah mulai duluan. sudah sana kamu mandi setelah itu kita sarapan. aku akan ke cafe pagi ini." ucap Emma mengutarakan niatnya.


"kamu tidak lelah, setiap hari bekerja. ambillah waktu libur walau hanya sehari saja. bukannya sudah ada Sindy, Lisa, Banu juga Fani yang bakalan menghandle pekerjaan kamu, di saat kamu sedang libur Emma?" tanya Qonita heran.

__ADS_1


"memang mereka yang bakalan menghandle pekerjaan aku, tapi aku belum begitu yakin. lagi pula aku harus bertanggung jawab juga atas cafe selama pak Farhan tidak dapat datang ke cafe." jawab Emma tegas.


__ADS_2