
"apa yang sedang kamu rencanakan Indira?" tanya Yoga Pradipta Wijaya saat mereka sudah berada di dalam kamarnya.
"aku tidak merencanakan apa-apa. Yuna hanya ingin bertemu dengan Andra saja, dia merindukan Andra. sudah lama Yuna tidak menemuinya, bukankah dari mereka kecil selalu bersama-sama." ucap Indira menjelaskan.
"hanya itu saja, tidak ada niatan lain untuk kamu menjodohkan Andra dengan Yuna?" tanya Yoga Pradipta Wijaya sedikit menaruh curiga.
"bukankah kita sudah sama-sama tahu siapa Yuna dan keluarganya. Yuna anak yang baik, pintar, cantik, keluarganya juga kita mengenalnya dan kita menjalin kerjasama bisnis bukan, pih?" tanya Indira tersenyum senang.
"kita memang menjalin bisnis dengan keluarganya, tapi bukan berarti kita membuat anak kita menjalani pernikahan bisnis, itu tidak benar adanya. bukankah Andra juga pernah bilang dia tidak ingin di jodohkan atau pun menjalani pernikahan bisnis bukan?" tegur Yoga pada Indira.
"Iya aku tahu, pih! tapi apa salahnya mencoba mendekati mereka, siapa tahu mereka cocok dan berjodoh bukan? Yuna juga mengatakan dia mencintai anak kita Andra." jawab Indira melakukan pembelaan.
"aku harap kamu tidak usah lagi mencampuri urusan mereka, biarkanlah Andra yang menentukannya sendiri. biarkanlah dia yang memilih ingin menikah dengan siapa nantinya, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya saja. bukankah begitu?" ucap Yoga mengingatkan kembali Indira.
"Iya Papi, maafkan Mami yang sudah punya pikiran seperti itu. Mami hanya ingin melihat Andra segera menikah dan memiliki keturunan untuk menghibur Mami. semua teman-teman Mami sudah memiliki cucu." ucap Indira berkeluh kesah.
"jangan ulangi kembali, buang jauh-jauh pikiran kotor kamu untuk menjodoh-jodohkan mereka, aku tidak menyetujuinya. kebahagiaan Andra itu yang utama. jika Andra bahagia, maka kita sebagai orang tuanya ikut bahagia bukan?" tanya sekaligus nasehat Yoga untuk Indira istrinya.
Iya Pih. Ya sudah Mami ikuti saja kemauan Papi." ucap Indira lagi.
"Ini bukan kemauan Papi saja tapi ini juga keinginan Andra. kita masih mempunyai anak lain bukan? dan Sony akan segera menikah jadi kita fokuslah dahulu pada persiapan pernikahan Sony dan Reina." ucapan Yoga mengingatkan.
"astaga, Mami lupa sebentar lagi Sony akan menikah. besok Mami akan ajak Reina ke butik langganan Mami. Mami buatkan janji dahulu pada teman Mami dan besok Mami juga akan mengenalkan Reina pada seseorang yang ahli membuatkan makanan penutup malam ini." jawab Indira senang dengan mengutarakan keinginannya.
sementara itu, Sony tengah mencoba menghubungi Andra agar dia bisa lebih berhati-hati oleh Yuna, dia yakin Yuna mempunyai cara licik agar bisa mendapatkan semua keinginannya, dia curiga akan semua sikap Yuna saat ini.
__ADS_1
"kemana Andra kenapa sulit sekali dihubungi?" batin Sony gelisah.
"ada apa Sony? apa ada masalah?" tanya Reina, saat ini mereka sedang ada di apartemen Sony.
"aku mencoba menghubungi adik aku Andra, tapi tidak dapat tersambung. aku hanya ingin mengingatkannya saja, kamu tahu Yuna bukan? aku mencurigainya, dia memiliki rencana licik untuk Andra. aku tidak mau Andra terjebak nantinya." keluh Sony kepada kekasihnya.
"aku sebenarnya juga merasa aneh dengannya, sebaiknya kamu juga berhati-hati jaga diri kamu sendiri. mungkin Andra sedang sibuk mengurus pekerjaannya jadi tidak mau diganggu." ucap Reina berpikir positif.
"Iya sayang, terima kasih atas perhatian kamu." ucap Sony dan mencium kening kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Reina tersipu malu akan hal yang dilakukan oleh Sony. walaupun dikenangnya tetap saja dia masih tersipu malu.
"istirahatlah besok pagi kita ke rumah utama. Mami akan mengajak kamu untuk berkeliling, jadi sekarang beristirahatlah agar besok lebih siap jika Mami mengajak kamu berkeliling seharian." ucap Sony sambil mengusap puncak kepala Reina.
setelah Reina memasuki kamarnya, Sony memilih untuk memasuki ruang kerjanya. dia akan memeriksa email laporan yang terkirim oleh sekretarisnya.
Sony sekarang memegang perusahaan yang berada di Italia sejak perusahaan itu bermasalah dan terancam bangkrut karena ada orang yang sengaja menggelapkan dana dan membuat informasi yang merugikan perusahaan tersebut.
Pagi harinya Sony dan Reina sudah rapi dan bersiap untuk mengunjungi ke rumah utama. rumah yang ditempati oleh kedua orang tua angkatnya ini. perjalanan ke rumah utama Sony dari apartemen tidak terlalu memakan waktu lama hanya sekitar 40 menit perjalanan mereka sudah tiba.
saat mereka memasuki halaman rumah utama, sudah terlihat Nyonya Indira Pradipta Wijaya berada di gazebo taman depan dan siap menyambut kedatangan mereka.
"selamat pagi tante Indira." sapa Reina saat setelah turun dari mobil.
"selamat pagi Reina, jangan panggil tante lagi dong, sebentar lagi kamu akan menjadi anak Mami juga. jadi panggil Mami saja yah." ucap Indira sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"baik tan... maksudnya Mami Indira." jawab Reina dengan senyumannya.
"pagi Mami." sapa Sony dan langsung mencium kedua pipi wanita yang membesarkannya itu.
"pagi, sayang. kamu sungguh membuat Mami bahagia sekali Sony, ayo kita masuk dan sarapan bersama. Papi kalian pasti sudah bersiap." ucap Indira berjalan menuju pintu utama.
Indira menggandeng tangan Reina dan berjalan bersama memasuki ke dalam rumah itu meninggalkan Sony di belakang mereka.
"hmm... mentang-mentang mendapatkan, anak perempuan aku di tinggal begitu saja." gerutu Sony dibelakang Mami Indira.
"kamu sudah sering Sony, gantian Reina sekarang dia anak perempuan Mami." ucap Indira tertawa bahagia.
"Iya Mami. asal Mami bahagia Sony akan ikut bahagia juga." jawab Sony yang terus mengikuti langkah Indira.
sesampai di meja makan mereka sudah di tunggu oleh Yoga Pradipta Wijaya.
"pagi Papi." sapa Sony dan duduk di samping kiri Papinya.
"selamat pagi Papi." sapa Reina yang duduk di samping Sony.
"pagi anak-anak, kalian terlihat serasi sekali." ucap Yoga memuji.
"kalau kita tidak serasi mana mungkin kita memutuskan untuk menikah, Pih." jawab Sony santai.
"dasar kamu Sony. hmm, bagaimana kabar Andra?" tanya Yoga membuka obrolan di meja makan sambil menikmati sarapan pagi.
__ADS_1