MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
FITTING BAJU PENGANTIN UNTUK EMMA


__ADS_3

Sudah satu minggu Emma berada di kediaman rumah kedua orang tuanya. kini dia sudah dijemput oleh Andra untuk bersiap pulang kembali ke Jakarta. Emma masih ingin berada di kediaman kedua orang tuanya. namun, tuntutan pekerjaan membuatnya harus segera kembali. mungkin dalam waktu dekat dia akan kembali ke Bali beberapa saat untuk mengecheck kedainya.


sesampainya di apartemen Andra Emma langsung beristirahat, perjalanan jauh membuatnya lelah. apalagi besok dia harus ke butik untuk memesan baju pernikahannya. pernikahan Emma diadakan 1 bulan lagi. namun, yang mengurus semuanya Indira Pradipta Wijaya dan dibantu juga oleh Reina. Reina sendiri sudah kembali ke Jakarta terlebih dahulu daripada Emma. Reina akan kembali ke Italia sesudah acara pernikahan Emma dan Andra.


"pagi mas, ini sarapannya. maaf aku cuma buat sarapan seadanya, di dalam kulkas cuma ada bahan-bahan ini saja yang bisa aku masak." ucap Emma menjelaskan sambil menyerahkan sepiring nasi goreng seafood favorit Andra.


"Iya aku lupa belum belanja, rencananya nanti sore baru akan berbelanja. ya sudah ,ayo sarapan nanti aku antar kamu ke rumah Mami dan nanti biar Vega juga anak buah aku mengawal kamu ke butik." ucap Andra sambil menikmati sarapannya.


"Hmm... masih pakai pengawal juga." ucap Emma protes dengan wajah cemberut.


"wajib!" jawab Andra tegas sambil memasukkan satu sendok nasi goreng seafood ke dalam mulutnya.


Emma hanya menghela napasnya saja, apapun keputusan yang Andra buat WAJIB bagi dirinya menurutinya.


"Emma kamu hati-hati! ingat jangan lupa makan." ucap Andra yang telah mengantarkan Emma ke rumah Maminya.


"Iya mas, mas juga hati-hati." ucap Emma balik mengingatkan Andra.


"Vega, kamu jaga Emma." ucap Andra memerintah.


"baik pak Andra." balas Vega sambil menganggukkan kepalanya.


Andra melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah keluarga Pradipta Wijaya. hari ini dia ada rapat penting di perusahaannya ditambah dia harus menemui Farhan. Farhan meminta kepada Alex bahwa dia ingin bertemu dengannya.


"selamat pagi Mami." sapa Emma ramah yang sudah memasuki rumah.


"pagi sayang, Andra tidak mengantar kamu?" tanya Indira tersenyum ramah.


"mas Andra buru-buru ke kantornya, jadi dia hanya mengantarkan sampai halaman depan saja." jawab Emma singkat.


"dasar anak nakal selalu seperti itu, dia sama seperti Papinya yang gila bekerja." ucap Indira menggerutu kesal.


Emma yang mendengar itu hanya tertawa, memang jika Andra sudah fokus bekerja dia akan lupa waktu. Emma sudah mulai mengerti sifat Andra.


"Reina kemana Mami?" tanya Emma sambil matanya melihat sekeliling.


"Reina belum datang, mungkin sebentar lagi dia akan datang, sekarang dia tinggal di apartemen Sony." ucap Indira memberitahu kepada Emma.

__ADS_1


Andra memilih bertemu Farhan saat jam makan siang, dia ingin tahu apa yang membuat Farhan begitu ingin bertemu dengannya saat ini. sepenting apakah urusannya? setahu Andra dia sudah tidak mengobrak-abrik perusahaan maupun cafenya.


"apa kabar pak Andra?" sapa Farhan yang baru saja tiba di restoran dimana Andra berada saat ini.


"baik pak Farhan, ada apa meminta aku untuk bertemu?" tanya Andra penasaran.


"sepertinya anda tidak sabaran pak." ucap Farhan tersenyum tipis.


"baiklah saya akan bertanya, apakah anda benar-benar serius dengan Emma?" tanya Farhan dengan tatapan sinis.


"pertanyaan yang tidak bermutu, jadi anda membuang-buang waktu aku hanya untuk pertanyaan seperti ini." jawab Andra kesal sekaligus marah.


"aku hanya ingin memastikan Andra, aku tahu bagaimana diri kamu! selama ini aku selalu berusaha melindunginya dengan baik-baik." ucap Farhan dengan suara tinggi.


"kamu cemburu, Emma lebih memilih aku daripada kamu?" tanya Andra dengan senyuman tipis mengejek.


"aku tidak cemburu, aku hanya khawatir dengannya. Emma gadis baik-baik." ucap Farhan lagi menatap tajam kearah Andra yang sekarang duduk di hadapannya.


"yang jelas sebentar lagi aku akan menikahinya, tunggu saja undangannya." ucap Andra dengan penuh menyakinkan.


"kamu yang selalu cemburu dan takut Emma kabur lagi. kenapa kamu membatasi aku untuk tetap berhubungan dengannya?" tanya Farhan dengan suara keras.


"aku masih membiarkan kamu menikmati hidup ini, jadi jangan kamu ganggu lagi Emma. dia telah menjadi milik aku, jadi jangan ganggu yang sudah menjadi milik aku!" geram Andra dengan rahang mengeras sambil mengepalkan tangannya hingga kubu-kubu jarinya terlihat memutih.


Andra meninggalkan Farhan yang masih duduk di kursinya, napasnya memburu menahan amarah yang sudah berkobar di dalam hatinya.


"Ray, tolong kamu handle rapat nanti, mintalah kepada Sony untuk mewakili aku." bunyi pesan Andra kepada Rayken asistennya, dia selalu percaya akan kemampuan Rayken untuk menghandle pekerjaannya.


"kamu kemana, tidak sedang menghajar orang bukan?" tanya Rayken menggoda.


Andra hanya membaca pesan dari Rayken tanpa membalasnya, dia masih diselimuti perasaan kesal dalam hatinya sehingga butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


sementara di tempat lain Emma, Reina dan Indira sedang memilih gaun pengantin untuk Emma di butik langganan Indira Pradipta Wijaya. seperti pernikahan Reina Indira meminta hal yang sama kepada Sonya.


"Sonya tolong buatkan gaun yang indah untuk anak perempuan aku yang ini. bulan depan adalah acara pernikahannya." ucap Indira menjelaskan.


"baik bu Indira, maaf sebelumnya waktu pernikahan nona Reina saya tidak bisa hadir dan membuatkannya secara langsung." ucap Sonya yang tidak enak hati sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aah, tidak masalah sudah ada Lina yang menghandle gaun Reina. saya tahu kamu sibuk sekali." ucap Indira tersenyum ramah.


"halo nona Emma, saya Sonya designer kepercayaan ibu Indira Pradipta Wijaya! salam kenal. mari ikut saya, saya tunjukkan hasil koleksi terbaru saya." sapa Sonya senang. dan tersenyum ramah.


"salam kenal Sonya." ucap Emma dengan senyuman.


"ikutlah Emma, Mami dan Reina akan memilih gaun sendiri." perintah Indira yang langsung diangguki oleh Emma.


Emma mengikuti Sonya ke dalam ruangannya, tidak lupa Vega juga mengikuti Emma kemana pun Emma berada.


"silahkan nona Emma dilihat-lihat dulu koleksi rancangan Sonya. ini memang belum saya buat, jika nona Emma menginginkannya saya akan membuatnya segera." ucap Sonya antusias.


"terima kasih Sonya. sepertinya ini exclusive sekali, Sonya." ucap Emma sambil tersenyum dan menerima desain-desain baju pengantin yang di berikan oleh Sonya.


"iya nona Emma, cocok sekali dengan anda yang ingin menikah." jawab Sonya tersenyum manis menyakinkan Emma.


"aku ingin yang ini Sonya, pasti cantik jika sudah menjadi gaun pengantin bukan?" tanya Emma antusias.


"pilihan yang sangat cantik, mari kita ukur dahulu agar aku segera membuatnya. karena waktu kita tidak banyak." ucap Sonya tertawa, ya pernikahan ini memang sangat mendadak maka dari itu semuanya serba harus cepat.


selesai mengukur baju Emma segera menemui Indira Pradipta Wijaya dan Reina yang masih memilihkan baju untuknya.


"Mami aku sudah selesai, minggu depan aku harus segera kembali lagi untuk fitting pengepasan gaun pengantin dengan mas Andra." ucap Emma menjelaskan panjang.


"aku jadi penasaran gaun pengantin seperti apa yang Emma pilih." ucap Reina sambil tersenyum.


"akhirnya Mami bisa pensiun hidup tenang di rumah, tanpa memikirkan Andra yang belum mau menikah. terima kasih Emma kamu sudah hadir di kehidupan Andra." ucap Indira tersenyum bahagia.


"jangan berterima kasih kepada aku Mami, ini semua sudah takdirnya." ucap Emma mengingatkan sambil tersenyum.


"Oh iya, Mami juga sudah memilihkan baju untuk kedua orang tua kamu dan adik-adik kamu. besok kamu kirimkan untuk mereka semua, kemarin Mami lupa menitipkannya saat Andra menjemput kamu." ucap Indira lagi menjelaskan.


"tidak apa Mami, besok Emma yang kirimkan." ucap Emma tersenyum lebar.


"ini sudah siang, kita makan siang dahulu setelah itu kita lanjut membeli keperluan lainnya." ucap Indira mengajak Emma dan Reina berjalan melangkah pergi menuju restoran keluarga Pradipta Wijaya.


kini Indira Pradipta Wijaya, Emma dan Reina tengah menikmati makan siang bersama di restoran milik keluarga Pradipta Wijaya yang akan mereka serahkan kepada Emma. Emma terpanah melihat restoran tersebut, betapa mewah dan elegan restoran tersebut. restoran ini jelas menjadi restoran termewah yang pernah Emma kunjungi.

__ADS_1


"apa aku bisa mengelolanya?" batin Emma masih tidak mempercayainya, dia begitu takjub melihat design restoran tersebut.


__ADS_2