
Setelah mereka sarapan, Reina dan Mami Indira kembali pergi bersama, sedangkan Sony akan ke kantor pusat dan menemui Andra. dia ingin menanyakan semuanya karena setelah kembalinya di Jakarta Sony belum juga bertemu dengan Andra adiknya.
Sony menunggu Andra di kantor pusat, dia menemui Rayken yang sedang menggantikannya sebagai tangan kanan adiknya.
"Rayken kemana Andra sekarang, tidak mungkinkan kalau Andra masih di luar negeri?" tanya Sony gelisah.
"Andra masih di luar kota, Sony. jadi untuk sementara waktu aku yang menghandle pekerjaan Andra disini, tapi dia akan berangkat ke kantor agak siang karena ada yang ingin di bahas secara langsung." jawab Rayken sambil duduk santai.
"aku dengar kalian membuat perusahaan FAN'S Group hampir bangkrut, apa benar itu perbuatan Andra?" tanya Sony penasaran.
Rayken menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya. Rayken dan Sony adalah teman masa kecilnya dahulu, teman yang sama-sama melindungi Andra dari apa pun. apalagi pak Yoga Pradipta Wijaya yang dahulu sempat menjabat menjadi anggota dewan yang membuat banyak musuh yang mendekatinya dan selalu mengancam keselamatannya maupun keluarganya.
maka disinilah peran Rayken dan Sony yang selalu melindungi Andra. hingga saat ini mereka selalu bekerja sama melindungi Andra dari musuh-musuh yang mengincarnya. kesuksesan di usia muda Andra, membuat banyak sekali orang yang iri maupun dengki terhadapnya hingga selalu mencoba mencelakainya.
"Ya sudah biar itu nanti menjadi urusan aku. kamu kerjakan yang lainnya saja." ucap Sony sambil memainkan ponselnya.
"Sony apa Andra ada hubungan dengan Yuna?" tanya Rayken antusias.
Sony mengerutkan alisnya mendengar perkataan Rayken barusan.
"kemarin Yuna datang kemari mencari Andra, dia mengatakan bahwa dia tunangannya Andra. apa benar itu Sony?" tanya Rayken penasaran.
"tidak benar, Ray. kamu harus menjauhkan dia dari Andra dan lindungi Andra, aku merasa Yuna bukanlah Yuna yang dahulu kita kenal dia sudah berubah." jawab Sony menghembuskan napas beratnya sambil menggelengkan kepalanya, membuat Rayken menyadari bahwa beban yang dimiliki Sony cukup berat.
"baiklah Sony aku akan menjaganya, sepertinya ambisi Yuna untuk memiliki Andra cukup besar kali ini. aku hanya takut jika dia membujuk dan melakukan segala cara untuk membuat Andra menikahinya." ucap Rayken dengan wajah seriusnya.
"benar sepertinya Mami juga ingin Andra dan Yuna bersatu, melakukan pernikahan bisnis tapi Andra tidak setuju." ucap Sony menjelaskan.
"waktu di Dubai tante Indira mengajak Yuna untuk bertemu dengan Andra dan meminta Andra menemaninya berlibur." ucap Rayken memberi informasi.
terdengar helaan napas panjang dari Sony kembali, dia tidak menyangka bahwa Maminya melakukan hal yang terlalu jauh, bahkan Papinya terang-terangan menolak pernikahan bisnis. pernikahan tidak bisa di campur adukkan bersama bisnis tidak ada yang namanya jodoh demi bisnis yang menguntungkan.
sementara di apartemen Andra, Emma tengah sarapan bersama. tidak ada pembicaraan apapun hanya ada keheningan diruang makan mereka. bahkan Emma enggan menatap Andra ataupun berbicara dengannya. rasa kesal, kecewa, terluka masih membekas di dirinya. bahkan dia merasa direndahkan oleh Andra yang tiba-tiba berada di dalam kamarnya sambil memandanginya.
"cepat habiskan sarapannya jangan diaduk aduk saja." ucap Andra dengan suara tinggi.
"hmm." rasa kesal dihatinya membuat Emma malas membuka mulutnya walau hanya sekedar mengucap sepatah kata untuk Andra.
__ADS_1
"aku ada urusan di kantor, kamu mau ikut atau di apartemen saja." ucap Andra dengan memberi penawaran.
tanpa menjawab apa pun Emma bangkit berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Andra sendirian di ruang makan. dia memilih mengakhiri sarapannya dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Emma lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut tebal.
Andra merenggangkan dasinya dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak habis pikir jika Emma akan mendiamkannya seperti ini. bahkan sarapannya saja tidak dihabiskan olehnya. segera Andra bangkit berdiri melangkah berjalan menyusul Emma dikamarnya. namun, langkahnya terhenti saat ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Andra segera mengangkat ponselnya lalu menggeser icon berwarna hijau tersebut karena itu panggilan dari Maminya.
"Iya Mami ada apa?" tanya Andra lirih.
"akhirnya kamu angkat juga, telepon Mami. kamu kemana saja Ndra, pulanglah ke rumah kakak kamu mau menikah." ucap Mami memberi kabar bahagia kepada Andra.
"Iya Mih, nanti aku pulang sekarang masih ada urusan di kantor." jawab Andra singkat.
"Ya sudah Mami tunggu malam ini kamu di rumah." balas Mami sambil mematikan sambungan telponnya.
panggilan telpon berakhir Andra memutuskan untuk pergi saja ke kantor, masalah Emma bisa nanti sepulang bekerja. dia akan mampir pulang dahulu ke rumah nanti sore.
tengah hari Emma beranjak dari ranjangnya, dia mencuci muka dan keluar dari kamarnya. dia yakin jika Andra saat ini sudah berangkat kerja. dia mengeryitkan keningnya saat melihat ada wanita paruh baya sedang membersihkan dapur.
"maaf ibu siapa?" tanya Emma menghampiri.
Emma menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti dia tersenyum ramah kepada ibu tersebut. seketika Emma mempunyai ide, mumpung Andra pergi dan di apartemen ini baru dibersihkan lebih baik dia keluar dari apartemen ini.
"Bu saya pergi berbelanja sebentar yah, tadi pak Andra sudah menyuruh saya." ucap Emma berbohong kepada ibu tersebut.
"maafkan aku ya bu, bukan maksud aku untuk berbohong tapi karena terpaksa aku harus melakukan ini." batin Emma.
"Iya neng saya juga sebentar lagi juga selesai." jawab wanita paruh baya lagi.
"baik bu saya keluar dahulu." pamit Emma lalu berjalan menuju kamarnya.
sebelum Emma pergi dia berganti pakaian terlebih dahulu, dia memakai celana jeans dan sweater tidak lupa dia memakai topi dan kacamata guna menyamarkan dirinya. setelah siap dia segera keluar dari kamar dan menyelinap pelan keluar dari apartemen Andra. Emma
menundukkan kepalanya saat dia berjalan dan dia memilih turun dengan tangga darurat dan menuruninya dengan langkah cepat. jika turun memakai lift dia yakin jika di lobby sudah ada mata-mata yang Andra tugaskan untuk mengikutinya.
"akhirnya aku sampai juga." gumam Emma sambil terengah-engah kecapaian dan segera memesan taksi lalu menaikinya.
"pak tolong antarkan saya ke cafe pelangi yah." ucap Emma kepada sopir taksi tersebut.
__ADS_1
tidak membutuhkan waktu lama, dia telah sampai di cafe tersebut. senyumnya mengembang saat dia melihat sahabatnya berada di dalam sana, dia juga melihat ada mobil milik Farhan yang terparkir.
Emma segera membayar ongkos taksi lalu segera masuk menemui sahabatnya dan juga Farhan untuk meminta pertolongan darinya.
"Qonita." seru Emma dan segera memeluknya, dia merindukan sahabatnya ini.
"Emma aku merindukan kamu. apa kabar kamu, Emma? kamu susah sekali aku hubungi." ucap Qonita tersenyum senang.
"aku baik-baik saja Qonita, di sana tidak ada sinyal jadi aku tidak bisa memakai ponsel aku. aku kemari ingin bertemu dengan pak Farhan Qonita ada yang ingin aku sampaikan kepadanya." ucap Emma menjelaskan.
"kamu mau berhenti Emma? ya sudah sana temui pak Farhan, tadi dia datang." ucap Qonita memberi informasi.
"entahlah Nit, aku tidak tahu lihat saja bagaimana nantinya. aku ke ruangan pak Farhan dahulu yah." pamit Emma segera meninggalkan Qonita sendirian dan segera masuk ke ruangan pak Farhan.
"semoga pak Farhan mau menolong aku." gumam Emma, dia segera mengetuk pintu ruangan pak Farhan.
Tok! tok! tok!
Emma dengan perlahan membuka pintu ruangan kerja Farhan setelah dia mendapatkan jawaban dari Farhan. Farhan yang tidak menyadari kehadiran Emma membuatnya terkejut saat Emma menyapanya.
"mas Farhan sibuk ya?" tanya Emma sambil tersenyum manis.
dengan spontan Farhan mengangkat kepalanya dan menatap Emma yang sudah duduk manis di sofa ruangan itu. dia melebarkan matanya seolah dia tidak percaya akan penglihatannya.
"Emma!" pekik Farhan terkejut namun dia senang.
dengan senyuman khasnya Emma menganggukkan kepalanya.
"astaga Emma? aku mengkhawatirkan kamu. kamu kemana saja? apa kamu baik-baik saja? kamu tidak terluka bukan?" tanya Farhan memberondong pertanyaan kepada Emma.
"maafkan aku mas, mas apa tawaran waktu itu masih berlaku untuk aku?" tanya Emma balik.
Farhan mengeryitkan dahinya akan perkataan Emma barusan. selama ini Emma selalu menolak apapun yang Farhan tawarkan kepadanya.
"apapun permintaan kamu aku akan berusaha kabulkan Emma, kamu adik aku satu-satunya." ucap Farhan tersenyum lebar.
__ADS_1