
Aku bergegas keluar dari kamar pak Andra, saat aku membuka pintu kamar ini semerbak bau harum masakan pun memenuhi indera penciumanku. penasaran akan bau masakan yang sungguh nikmat aku bergegas melangkah ke dapur apartemen ini, dan ternyata yang sedang memasak pak Andra sendiri.
selain tampan, kaya, pintar dalam bidang pekerjaan ternyata pak Andra juga jago dalam mengolah masakan. kagum iya, aku terkagum dalam melihat pesonanya.
saat aku masih dengan pikiranku yang membayangkan pak Andra, lagi-lagi aku dikagetkan atas perkataannya. sungguh aku malu karena kedapatan secara diam-diam sedang memperhatikannya.
otomatis aku membantah perkataan pak Andra. lalu dia menyuruhku menata makanan yang telah siap di meja makan. setelah selesai makan aku pun dimintanya untuk mencuci piring dan semua peralatan kotor yang dipakainya untuk memasak tadi.
aku berjalan ke arah sumber suara dan ternyata pak Andra sedang menonton berita tentang bisnis.
sejenak aku mengambil napas dan memberanikan diri untuk berbicara dengan pak Andra perihal permintaan maaf kejadian tadi sore dan meminta agar segera diantarkan pulang ke kontrakan karena sudah malam.
mana mungkin aku tidur berdua dengan pak Andra disini. tapi apa yang aku dapatkan justru penolakan dari pak Andra untuk mengantarkan aku pulang. Oh Good apalagi ini? kami pun bertengkar dan apa yang kudapatkan saat aku mengejar pak Andra? justru kepalaku terbentur pintu kamarnya, seketika pusing menderaku, aku menangis, menangisi nasib burukku hari ini.
aku berjalan menuju sofa depan dengan perasaan yang sangat kacau. aku menangis meringkuk di sofa, entah berapa lama aku menangis akhirnya aku tertidur.
saat aku terbangun pagi harinya aku kaget kenapa aku berada di dalam kamar ini? bukankah kamar ini kamar pak Andra? itulah pemikiranku saat terbangun.
__ADS_1
aku mengecek seluruh pakaianku dan ternyata masih lengkap, aku melihat cermin dan ternyata dahiku sudah di obati.
aku segera bangun dan merapikan tempat tidurnya dan bergegas mandi dan keluar dari kamar ini. kulihat ruangan ini sepi, dimana pak Andra berada? lebih baik aku membuatkan sarapan saja, siapa tahu dia bisa luluh hatinya dan mengantarkan aku pulang untuk bekerja kembali.
tepat pukul 7.00 pagi pak Andra keluar dari kamar sebelahnya dengan pakaian rapi untuk kekantor kupersilahkan untuk sarapan dan menyiapkan kopi untuknya.
begitu sarapan selesai aku utarakan keinginanku untuk kembali bekerja tapi ditolaknya, aku tidak menyerah begitu saja. kukejar dan mencekal tangannya tepat di depan pintu tapi membuat nyali ini menciut kembali, melihat raut wajah pak Andra yang mengerikan. aku hanya menangis pasrah saat aku ditinggalkan di dalam apartemen ini sendirian.
setelah tenang aku berjalan ke dapur dan membereskan peralatan masak tadi, lalu aku membuka pintu balkon samping dapur dan duduk di sana sambil merenungkan nasib yang menimpaku kemarin dan hari ini. tidak terasa aku tertidur kembali di kursi balkon ini.
saat terbangun lagi dan lagi aku sudah berada di dalam kamar kembali. aku tahu siapa yang memindahkanku ke dalam kamar pasti pak Andra.
pak Andra akhirnya memberikan aku perjanjian bahwa aku harus tetap tinggal di apartemen ini dan membolehkan aku kembali bekerja dengan syarat-syarat yang dia berikan. aku pun menyetujuinya semua perjanjian dan syaratnya, hitung-hitung sebagai balas budi dariku.
pagi-pagi aku membuatkan sarapan sederhana untuk kami sarapan sebelum memulai aktivitas pagi ini. pak Andra pun juga menepati janjinya mengantarkan aku untuk kembali bekerja dan menyerahkan tasku kembali, akhirnya tas aku kembali juga, betapa bahagianya aku hari ini.
begitu aku sampai di cafe, aku di sambut oleh sahabatku Qonita. dia terlihat cemas dan bahagia saat melihatku kembali bekerja. tidak hanya Qonita yang menanyakan keberadaanku selama ini tapi mas Farhan juga ikut menanyakan hal serupa.
__ADS_1
aku menjelaskan kepada semuanya hanya saja aku belum bisa menjelaskan kemana selama 2 hari 2 malam kemarin.
jam kerjaku telah usai kupikir pak Andra tidak menjemputku karena tadi dia tidak mengatakan akan menjemput dan tidak memberi kabar juga.
aku berpikir bisa kembali ke kontrakan bersama Qonita, tapi harapan hanyalah harapan semu, kulihat pak Andra berdiri di samping mobilnya begitu tampan dan mempesona dengan kemeja putih yang lengannya di gulung sebatas siku. banyak wanita yang diam-diam memotretnya, ada rasa tidak suka di hati ini saat banyak wanita yang memuji ketampanannya.
"mengapa aku jadi seperti ini?" kata hatiku.
aku berjalan menghampirinya, memanggilnya dengan sebutan mas Andra karena dia memintaku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan pak Andra.
aku tidak enak jika memanggilnya Andra begitu saja, akhirnya aku memanggilnya dengan kata Mas sebagai gantiku memanggil Pak sebelumnya.
aku mengatakan beberapa keinginanku untuk mengambil pakaian di kontrakan, saat aku mengutarakan keinginanku, kulihat raut wajahnya yang entah tidak bisa di artikan, dan akhirnya dia menyetujuinya dengan catatan dia yang akan mengantarkan aku.
sebelum kembali ke apartemen aku meminta untuk mampir sebentar untuk membeli sayur sayuran karena isi kulkas di apartemen mas Andra kosong, agar aku bisa memasaknya nanti seperti biasa keinginannya tidak bisa aku tolak dasar keras kepala, aku pun memilih bahan pokok untuk stok di dalam kulkas, dan lagi-lagi kami menjadi pusat perhatian di swalayan tersebut. aku buru-buru memilih bahan dan secepatnya ingin kembali pulang ke apartemennya saja.
apakah sebegitu mas Andra hingga menjadi pusat perhatian banyak orang? ada rasa sungkan dan tidak enak, aku belum terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang.
__ADS_1
sebenarnya ada rasa bahagia di hati ini dengan sikap mas Andra yang begitu baik hari ini, begitu tulus menemaniku berbelanja, berbagi pendapat saat memilih bahan makanan.
huft sebenarnya apa yang kamu rasakan ini apakah aku jatuh cinta kepada mas Andra? mana mungkin seorang pelayan cafe bisa menjadi pendamping hidup seorang Yosandra Regan Pradipta Wijaya, seorang pengusaha terkaya se-Asia ini?