MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
BERBAGI KABAR DENGAN SAHABAT


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Andra segera berpamitan kepada Emma untuk segera berangkat bekerja. Emma mengantarkan suaminya hingga di depan pintu.


"hati-hati di jalan, mas." ucap Emma sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Iya kamu di rumah saja istirahat, jika ada apa-apa segera hubungi aku. aku akan usahakan pulang cepat." ucap Andra sambil mencium kening Emma lalu mengusap perut Emma.


"Hei anak Papi! jagain Mami selama Papi bekerja jangan buat Mami kewalahan oke." ucap Andra senang mengajak calon bayinya berbicara.


"ya sudah aku berangkat dahulu, sayang." pamit Andra dan segera masuk ke dalam mobilnya.


setelah mobil yang dikendarai suaminya menghilang dibalik pagar rumah, Emma segera bergegas masuk ke dalam rumah.


"ibu Emma ada yang anda inginkan?" tanya Vega yang mengetahui majikannya sudah masuk ke dalam rumah.


"tidak Vega, aku mau tidur siang saja." jawab Emma singkat.


"baik ibu Emma, silahkan beristirahat jika membutuhkan sesuatu bisa panggil saya lagi." ucap Vega yang selalu siap melayani Emma.


"Iya Vega terima kasih, aku ke atas dahulu." ucap Emma sambil berjalan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.


sesampai di kamarnya Emma merebahkan dirinya sambil memeriksa ponselnya, dia teringat semalam dia baru saja mendapatkan laporan penjualan dari cafenya yang berada di Bali. dia mempercayai semuanya kepada adiknya selama dia bisa memantau cafenya secara langsung. Emma juga bersyukur ada adiknya yang bisa menggantikannya.


"Hei Qonita apa kabar?" sapa Emma kepada sahabatnya, dia mengirim pesan singkat WhatsApp, sudah lama sekali dia tidak bertukar kabar dengan sahabatnya.


"Hei nyonya Andra, kabar baik dong! Kamu bagaimana? apa masih di Dubai?" tanya Qonita membalas pesan Emma.


"tidak Qonita, aku sudah kembali. aku merindukan kamu, sudah lama kita tidak bertemu." balas Emma dengan senang.


"Iya apa kamu di Bali?" tanya Qonita balik.


"aku di Jakarta, mas Andra meminta aku untuk tinggal sampai aku melahirkan di Jakarta, jika ke Bali hanya sesekali saja." balas Emma dengan cepat.

__ADS_1


"wah, seru ya? punya suami orang kaya raya, suami terpandang pula. kemarilah Emma cafe pelangi banyak perubahan tapi menu dessert masih sama saja, belum ada yang berani mengotak atik resep dessert buatan kamu dahulu." balas Qonita bercerita panjang lebar.


"sebenarnya ingin tetapi suami aku belum mengizinkan aku untuk keluar kemana-mana selama satu minggu ini. tahu sendiri suami aku semakin hari semakin posesif, apalagi kami baru saja melakukan perjalanan jauh maka dari itu aku harus banyak istirahat." kata Emma tersenyum membalas chat dari sahabatnya.


"seperti bukan pak Andra saja kalau begitu, hahahahaa." tawa Qonita terkekeh.


"Iya suami aku sudah banyak berubah, dia lebih humoris dan tidak searogan seperti dahulu." balas Emma senang menceritakan perubahan besar sifat Andra.


"kamu beruntung Emma, kamu bisa merubah sifat pak Andra, pasti hidup kamu sekarang ini lebih bahagia sekali Emma." balas Qonita menebak apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga sahabatnya.


"Iya aku bersyukur suami aku bisa pelan-pelan berubah, besok kapan-kapan aku akan mampir ke cafe pelangi." balas Emma antusias.


"wajib itu Emma, aku ingin bertemu dengan kamu." balas Qonita senang.


"Iya Qonita, ya sudah aku ingin tidur siang dahulu. kamu selamat bekerja." pamit Emma kepada sahabatnya.


"selamat beristirahat nyonya Andra." balas Qonita mengakhiri pesan singkatnya kepada Emma.


"kita tidur ya sayang, kamu harus selalu sehat hingga lahir nanti." gumam Emma sambil mengusap perutnya.


tidak terasa sudah hampir satu bulan lamanya Emma tinggal di Jakarta, hari ini adalah jadwal untuk memeriksakan kandungannya. Andra sudah siap siaga menemani untuk mengunjungi dokter kandungan, bahkan dia meminta Rayken menggantikannya hari ini di kantornya. Andra tidak ingin meninggalkan momen dimana dia dapat melihat perkembangan calon buah hatinya.


hari ini tidak hanya Andra saja yang ikut menemani Emma tetapi ibu mertuanya Indira juga ikut menemani menantunya. dia sungguh tidak sabar ingin melihat perkembangan calon cucunya. Andra juga sudah meminta Vega membuatkan juice buah untuk dibawa Emma ke rumah sakit, untuk masalah makanan Andra sangat pemilih apalagi ini untuk buah hatinya. dia menginginkan apapun makanan yang di makan oleh istrinya itu penuh dengan gizi dan higenis. sebagai istri tentunya Emma menurutinya apalagi ini menyangkut buah hatinya.


"Emma sudah siap? ayo kita segera berangkat." ucap Indira, ini adalah momen kali pertama baginya menemani anak dan menantunya untuk memeriksakan kandungan.


"Iya Mami kami sudah siap. Vega juice dan buah potong yang aku pesan sudah siap?" tanya Andra kepada Vega asisten Emma.


"sudah pak Andra, ini juice dan buah potong untuk ibu Emma." ucap Vega sambil menyerahkan paperbag berisi juice buah dan aneka buah potong agar memudahkan Emma memakannya.


setelah membawa pesanan Emma, Indira dan juga Andra segera berangkat menuju rumah sakit. tidak membutuhkan waktu lama bagi Andra untuk sampai ke rumah sakit. Andra, Emma dan Indira menunggu di kursi depan ruangan dokter kandungan. mereka menunggu giliran untuk masuk.

__ADS_1


sambil menunggu panggilan Emma memakan buah yang dia bawa dari rumah. semenjak hamil Emma merasa cepat lapar dan ingin makan terus menerus.


"Ibu Emma Pradipta Wijaya, silahkan masuk ke dalam." panggil suster dari dalam ruangan yang ditugaskan memanggil pasien-pasien yang akan memeriksakan kandungannya. Emma, Andra beserta ibu mertuanya ikut masuk ke dalam ruangan dokter Aluna.


"siang dokter Aluna." sapa Emma ramah.


"siang ibu Emma, pak Andra, ibu Indira. silahkan duduk." ucap dokter Aluna mempersilahkan kepada pasien dan para tamunya.


"Iya ibu Emma Pradipta apa ada keluhan atau tidak." tanya dokter Aluna tersenyum ramah.


"tidak ada dokter Aluna, hanya semakin hari semakin berat saja badan saya." jawab Emma tersipu.


"Iya itu wajar ibu Emma. mari kita periksa kandungannya, silahkan tiduran di ranjang. saya akan melakukan USG." perintah dokter Aluna dengan ramah.


Emma menuruti dokter dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang ruangan dokter Aluna. dokter Aluna menuangkan gel pada perut Emma dan segera mengambil alat USG.


"Ibu silahkan dilihat semuanya normal ya, ini untuk jenis kelaminnya masih susah ditebak sepertinya belum mau menunjukkan jenis kelaminnya. detak jantungnya juga normal." ucap dokter Aluna menjelaskan dengan detail.


"dokter Aluna waktu yang tepat buat kami untuk melihat jenis kelaminnya kira-kira kapan?" tanya Indira yang sudah tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin cucunya, dia tidak mempersalahkan jika bayi yang dikandung Emma laki-laki atau perempuan. semuanya sama saja baginya, dia juga sudah mendapatkan cucu laki-laki dari Sony dan Reina.


"kita tidak bisa memastikannya bu Indira. kita coba cek bulan depan, semoga bulan depan sudah terlihat jenis kelaminnya." jawab dokter Aluna membesarkan hati Indira.


"baik dokter, terima kasih." ucap Indira tersenyum bahagia.


"Ibu Emma ini saya resepkan vitamin dan asam folat buat ibu Emma. nanti diminum setiap hari ya? jangan sampai lupa, ada pertanyaan lagi ibu Emma?" tanya dokter Aluna memberikan pasiennya waktu untuk bertanya.


"tidak dokter, terima kasih untuk hari ini." jawab Andra tersenyum ramah.


"baik pak Andra, ibu Emma bulan depan kita bertemu kembali ya." ucap dokter Aluna menjadwalkan pemeriksaan selanjutnya.


"baik dokter Aluna, kami permisi dahulu." pamit Emma dan kemudian mereka beranjak berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan dokter Aluna.

__ADS_1


kini Andra sedang mengantri obat di apotik sedangkan Emma menunggu Andra di taman rumah sakit. Emma jenuh harus berlama-lama di dalam rumah sakit, dia ditemani Indira di taman rumah sakit.


__ADS_2