
Alex melanjutkan menata semua barang yang dipesan oleh Emma beberapa hari yang lalu. semuanya sudah siap tertata rapi. Esok jika sudah membaik tinggal berbelanja bahan saja dan memulai pembukaan.
"nona kenapa ada di luar? nona sebaiknya beristirahat saja di kamar." tanya Alex menegur.
"hmm... aku bosan di kamar Alex, aku hanya ingin melihat-lihat saja. kamu habis dari mana?" tanya Emma balik.
"maaf nona Fani, saya baru habis dari kedai. bukankah nona kemarin pesan barang? maka dari itu saya kesana." jawab Alex menjelaskan.
"astaga, aku lupa Alex. maaf kembali merepotkan kamu." jawab Emma cepat.
"nona Fani tadi saya mendapat telpon dari nona Reina. dia mengatakan ingin bertemu anda untuk membahas menu yang ingin dibuat di pesta pernikahannya."ucap Alex panjang.
"apa aku harus bertemu Alex?" tanya Emma meminta saran.
"nona bisa menghubunginya di ruangan khusus saja bisa menggunakan ponsel saya." ucap Alex lagi.
"Ya sudah besok saja." jawab Emma menganggukkan kepalanya tanda dia mengiyakan.
sementara di tempat terpisah 3 orang sedang duduk bersama. Ya Sony, Andra, dan Reina mereka terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Andra menginginkan Emma kembali seolah sulit dia tempuh. nomor yang di gunakan tadi juga tidak bisa di lacak oleh Sony.
"Andra kita hanya bisa menunggu Emma menghubungi kita kembali, atau nanti bertemu di pesta pernikahan aku dengan Reina." ucap Sony membuka suaranya terlebih dahulu.
"itu terlalu lama." ucap Andra gelisah.
"Andra maaf sebelumnya bukan aku ingin ikut campur atau bagaimana tapi jika Emma menghindari kamu pasti ada masalah besar, apalagi ini dia tidak diketahui keberadaannya. aku turut prihatin, tapi tolong biarkan dia menyelesaikan permintaan aku." ucap Sony memberikan pilihan.
Andra bangkit berdiri dari duduknya meninggalkan Sony dan Reina yang masih duduk di kursi taman rumahnya. dia kembali ke dalam kamarnya. Amarah di dalam dirinya belum sirna dia masih mencari-cari orang yang menyembunyikan Emma. baru kali ini dia dipermainkan oleh orang lain.
"lihat saja jika aku menemukan kamu." geram Andra di dalam kamarnya.
sedangkan di taman Reina masih memikirkan jika Andra nantinya merusak keinginannya. katakanlah dia egois dalam hal ini, tapi menurutnya pernikahannya lebih bermakna karena sekali seumur hidupnya.
"sayang sudahlah aku janji semuanya tidak akan berantakan. biar aku yang mengurus Andra." ucap Sony membesarkan hati kekasihnya.
"mas janji." tanya Reina penuh harap.
"Iya Reina, aku janji." jawab Sony memenuhi harapan kekasihnya.
dering ponsel milik Andra membuyarkan lamunannya, dia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, bagaimana?" tanya Andra antusias.
"Farhan baru saja melakukan panggilan telepon dengan Alex, yang kami ketahui Alex berada di Bali saat ini." ucap seseorang dari seberang telponnya.
__ADS_1
"suruh anak buah kita mengecek bandara sekali lagi dan suruh mereka terbang ke Bali untuk mencari, Alex." ucap Andra lagi dan langsung memutuskan sambungan telponnya.
sambungan telpon pun terputus sepihak oleh Andra. Alex bukanlah orang sembarangan, yang bisa melawannya hanya Ruly orang kepercayaan Papinya. Andra turun dari lantai atas kamarnya, dan dia berpapasan dengan Papinya.
"Andra bisa kita bicara?" ucap Yoga ketika melihat Andra menuruni anak tangga.
"baik pih." jawab Andra singkat.
Andra mengikuti dari belakang Yoga untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. jika Papinya sampai memanggilnya dan mengajaknya berbicara tentulah itu hal yang penting.
"ada apa Papi sebenarnya." tanya Andra penasaran.
"ada hubungan apa kamu dengan gadis ini?" tanya Yoga menghembuskan napasnya dan langsung menyerahkan foto seorang gadis kepada putranya.
Andra menautkan alisnya, tidak menyangka foto yang diberikan oleh Papinya adalah foto Emma. itu berarti otomatis Papinya sudah mencari tahu tentangnya dengan Emma.
"bukan siapa-siapa Papi, hanya karyawan aku." jawab Andra gugup.
"apa kamu serius? hanya memastikan Papi tidak ingin jika kamu memiliki jalan yang salah kembali." ucap Yoga tegas.
"kenapa Papi bertanya seperti itu, Papi tenang saja aku bisa mengatasinya sendiri." ucap Andra kesal.
"bagaimana dengan Yuna?" tanya Papi mengeryitkan keningnya.
"wanita itu, aku tidak berminat." jawab Andra sambil bangkit berdiri dari duduknya berjalan melangkah keluar meninggalkan ruangan Papinya. sebelum dia keluar dari balik pintu, Andra menghentikan langkahnya.
Andra memarkirkan mobilnya di parkiran khusus sebuah hotel ternama di Jakarta tersebut. dan memesan ruangan VVIP lalu memasukinya. tanpa pikir panjang lagi dia langsung memesan minuman yang bisa mengatasi rasa galaunya. dia sudah terbiasa dengan berbagai merek jenis minuman.
"Andra ternyata kamu ada disini?" tanya wanita tersebut yang datang tiba-tiba dari arah belakangnya.
Andra menatap wanita yang baru saja bergabung dengannya di dalam ruang VVIP tersebut dengan memicingkan matanya.
"Andra aku merindukan kamu." ucap wanita itu lagi.
Andra tidak menghiraukannya, dia langsung mendorongnya. wanita itu langsung terjatuh dengan sekali dorongan dari Andra.
"stop Yuna! jika tidak ingin terluka menjauhlah dari aku untuk selamanya." teriak Andra dengan suara baritonnya.
"Andra apa salah aku, kita sudah dijodohkan! aku calon istri kamu." pekik Yuna dengan napas yang memburu, dia tidak terima akan perilaku Andra.
"cukup Yuna! aku tidak sudi menerima barang bekas!" hardik Andra penuh dengan kebencian.
"suka tidak suka kita akan menikah, Ndra. ingat itu!" ucap Yuna mengancam.
Andra yang tidak suka diancam oleh siapapun mulai terpancing emosinya. Andra langsung mendekati Yuna.
"jangan pernah mengancam aku atau kamu akan tahu akibatnya!" desis Andra di telinga Yuna.
__ADS_1
Yuna dengan susah payah menelan salivanya sendiri, dengan perasaan takut dia menatap Andra. Yuna mencoba menepis rasa takutnya dan mencoba terlihat berani.
"kita lihat saja, Yosandra Regan Pradipta Wijaya!" ucap Yuna lalu pergi dari hadapan Andra secepat mungkin.
"sial! kita lihat saja Andra, apa yang bisa aku lakukan semua keinginan aku harus terpenuhi." gumam Yuna sambil terus berjalan meninggalkan hotel tersebut.
Andra menghembuskan napas beratnya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Mood Andra sedang rusak ditambah dia bertemu dengan Yuna di hotel tadi membuat Andra menjadi tambah emosi.
"Ray, apa perusahaan YN'S Crop bekerja sama dengan kita?" tanya Andra dari seberang telponnya.
"Iya Andra kita kerja sama dengan mereka." jawab Rayken.
"cabut kerja sama itu buat perusahaan itu bangkrut." perintah Andra.
"tapi-"
"aku tidak butuh bantahan! lakukan sesuai perintah aku." ucap Andra dengan suara keras dari balik telpon genggamnya yang memotong perkataan Rayken.
setelah mengatakan itu Andra langsung mematikan ponselnya, dia melempar ponsel pintarnya dijok samping kemudinya.
Arghhhh!
Andra berteriak di dalam mobilnya, dia frustasi memikirkan kepergian Emma dan sekarang Yuna datang dan mengancamnya.
"lihatlah Yuna, seberapa usaha kamu jika aku yang berkuasa!" gumam Andra di dalam mobilnya.
Andra memilih kembali ke apartemennya sendiri, dia akan menenangkan dirinya di sana. kenangan bersama Emma membuat dirinya merasa hancur, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini saat bersama Mita terdahulu. dia kembali membuka laptopnya dan memutar video, yang dimana ada Emma di dalamnya.
"aku seperti orang bodoh, Emma. kamu tahu aku sekarang merasa kehilangan diri kamu, kemana kamu bersembunyi?" gumam Andra sedih.
dering ponsel membuyarkan lamunan Andra, ternyata Sony yang menghubunginya sejak tadi.
"Halo ada apa Sony?" sapa Andra dari balik telpon genggamnya.
"kamu dimana Ndra, bisa kita bertemu?" tanya Sony tergesa.
"datanglah ke apartemen aku." jawab Andra memberitahu.
"baiklah aku kesana sekarang." jawab Sony mengakhiri panggilan telponnya.
tidak butuh waktu lama, Sony telah sampai di apartemen adiknya. dia ingin membicarakan perihal keinginan kekasihnya kepada Andra. semoga dia mau mendengarkan keinginan Reina.
"ada apa? apa ada hal penting?" tanya Andra pada Sony yang sudah berada di hadapannya.
Sony duduk di hadapan Andra, dia tersenyum tipis memandangi adiknya. adiknya tidak pernah berubah sejak dahulu.
"Andra untuk kali ini aku memohon kepada kamu, biarkanlah pernikahan aku berjalan dengan lancar sesuai keinginan Reina. inilah keinginannya sekali seumur hidupnya. setelah pernikahan aku usai kamu boleh lakukan apapun terhadap Emma. tapi ingat Emma gadis baik jangan di rusak atau kamu sakiti hatinya." ucap Sony memohon sekaligus memperingatinya.
__ADS_1