MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
RENCANA JAHAT YUNA


__ADS_3

"sudah bangun sayang, masih pusing?" tanya Andra yang masih khawatir dengan keadaan istrinya.


"sedikit, mas. mas kok sudah pulang?" tanya Emma bingung.


"aku mengkhawatirkan istri aku ini, kita ke dokter saja ya! sekalian mengecek keadaan kamu." ucap Andra yang sudah duduk di samping Emma.


"tidak usah mas, aku hanya kecapean saja. hanya butuh istirahat sejenak." jawab Emma tersenyum manis.


"aku sangat khawatir dengan keadaan kamu sayang." ucap Andra sambil menggenggam erat tangan istrinya.


"gak apa, mas. aku baik saja. hanya butuh istirahat sebentar nanti juga hilang sendiri pusingnya." jawab Emma membesarkan hati Andra.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. aku akan menemani kamu di sini." ucap Andra sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Emma tersenyum sambil merapatkan tubuhnya di samping suaminya. perasaan nyaman menyelimuti perasaan Emma kali ini. Andra masih setia menemani istrinya tidur di sampingnya, sedangkan dia masih melanjutkan menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah.


melihat istrinya kembali tidur dengan pulas, Andra tersenyum dan sesekali mengusap lembut rambut istrinya. dia berharap istrinya besok akan kembali sehat seperti sedia kala, malam ini Andra mengurungkan niatnya untuk mengajak istrinya pergi jalan-jalan.


Andra beranjak dari duduknya dengan sangat pelan, dia melangkah berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka berdua. tadi dia sempat berbelanja bahan makanan dan juga buah-buahan.


"mas, kok gak bangunin aku sih! aku juga ingin membuat makan malam untuk kita berdua." protes Emma yang sudah berdiri di samping Andra.


"gak usah kamu duduk saja, biar aku yang membuat makan malam untuk kita hari ini. mana mungkin aku tega menyuruh istri aku yang sedang sakit untuk memasak. bagaimana keadaan kamu sayang? apa sudah baikan?" ucap Andra panjang sambil menyiapkan bahan makanan untuk makan malam.


"sudah mendingan kok, mas. ada yang bisa aku bantu?" tanya Emma yang melihat Andra begitu sibuk.


"kamu duduk saja, sudah siap semuanya. kamu mau buah apa sayang?" tanya Andra menawarkan Emma.


"aku mau apel saja mas, sini biar aku bawakan ke meja makan." ucap Emma menawarkan bantuannya.


selesai makan malam bersama, kini mereka bersantai di ruang keluarga. Emma duduk di samping suaminya yang kini sedang mengupas buah apel untuknya.


"mas, ada yang menelpon." ucap Emma memberitahu Andra.


Andra segera menaruh buah apel yang sudah dikupas dan dipotong olehnya. dia lalu bergegas mengangkat panggilan telpon yang dari tadi menghubunginya. kening Andra berkerut melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Iya Yuna, ada apa? ini sudah larut malam masih ada hari besok untuk membahas pekerjaan." tanya Andra dari balik telpon genggamnya.


"Ya sudah aku yang ke apartemen kamu, bagaimana? kamu bisa share lokasi alamat apartemen kamu?" ucap Yuna mendesak Andra.


"kita akan bahas pekerjaan besok, aku ingin menikmati malam ini dengan istri aku." jawab Andra yang langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Klik!

__ADS_1


panggilan telpon berakhir dengan diputusnya oleh Andra secara sepihak, dia kesal dengan Yuna karena ini sudah malam dan dia sudah lelah ingin beristirahat sambil memperhatikan istrinya yang masih kurang sehat. ada saatnya bagi Andra jika pekerjaan yang masih bisa dia bicarakan besok maka akan dia kerjakan besok juga. dia tidak suka saat sedang bersantai dengan istrinya diganggu apalagi itu tentang pekerjaan.


"kenapa mas? ada masalah?" tanya Emma penasaran.


"tidak, sudah kamu makan saja apel itu. apa masih kurang?" tanya Andra tersenyum.


"gak mas, ini sudah cukup." jawab Emma sambil menggelenkan kepalanya.


usai berbincang bersama, kini Andra meminta Emma untuk segera beristirahat karena waktu sudah larut malam. Andra membimbing istrinya untuk memasuki kamar mereka dan beristirahat.


sementara di tempat lain, Yuna yang kesal akan sikap Andra membuat rencana untuk tetap bisa berdekatan dengan Andra. ada rasa tidak rela jika Andra lebih memilih Emma. dia masih berambisi untuk memiliki Andra dan juga semua kekayaan milik keluarga Pradipta Wijaya, dia masih bermimpi ingin menjadi nyonya besar Pradipta Wijaya.


"apa yang harus aku lakukan untukbisa tetap dekat dan memiliki Andra seutuhnya." gumam Yuna lirih.


"kamu masih berambisi untuk tetap bisa menikah dengan Andra?" tanya kakak Yuna sambil mengeryitkan keningnya menatap ke arah Yuna.


"kamu pikir Emma yang pantas memiliki Andra? aku yang pantas menjadi nyonya Pradipta Wijaya. Emma bukan apa-apa dibanding dengan aku!" jawab Yuna dengan senyum tipis.


"aku akan membantu kamu, besok ajak saja dia membicarakan pekerjaan bersama. nanti aku yang akan mengurus semuanya." ucap kakak Yuna lagi.


"kamu memang kakak aku yang paling berjasa bagi aku. terima kasih!" ucap Yuna tersenyum senang.


"jangan lupa bagian aku jika memang telah berhasil." ucap kakak Yuna mengingatkan.


Yuna tentu sangat puas jika rencananya berhasil. jika Emma pergi meninggalkan Andra maka dia akan mudah untuk mendekati Andra kembali.


"sebentar lagi kita akan bersatu Andra." gumam Yuna sambil tersenyum sinis.


Andra bangun lebih awal dari Emma, dia melihat istrinya begitu pulas dengan tidurnya. Andra bergegas bangun dan membersihkan badannya terlebih dahulu, sebelum membuat sarapan pagi untuknya dan istrinya. Andra turun dari ranjangnya dia mengecup kening Emma dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


selesai dengan ritual mandinya, Andra masih melihat istrinya tertidur nyenyak. bergegas dia keluar dari kamar tidurnya dan pergi melangkah menuju dapur untuk membuatkan sarapan pagi.


Emma terbangun dari tidurnya dan melihat suaminya sudah tidak ada di sampingnya. bergegas dia keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya disekitar ruangan apartemen.


"mas, mas sudah rapi sekarang malah membuat sarapan." protes Emma yang menemukan Andra sedang sibuk dengan peralatan masaknya.


"tidak apa, duduklah dan kita sarapan bersama sayang! aku ada rapat pagi ini lebih awal. apa kamu sudah baikan? jika masih sakit kita ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan kamu. aku sangat mengkhawatirkan kesehatan kamu, sayang." ucap Andra panjang sambil menata menu sarapan paginya.


"sudah aku tidak apa-apa, mas. aku lebih baikan kok, mas pergi bekerja saja." jawab Emma dengan senyuman manisnya.


"tapi aku mengkhawatirkan kamu, sayang." ucap Andra khawatir.


"aku sudah tidak apa-apa, percayalah." ucap Emma sambil tersenyum, dia mencoba menyakinkan suaminya agar mempercayainya bahwa dia sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


sejujurnya Emma masih sedikit kurang enak badan, tetapi dia tidak ingin membebani suaminya. Andra datang kemari karena ada pekerjaan yang begitu penting, maka dari itu dia mencoba menyakinkan suaminya bahwa dia baik-baik saja.


"sayang, setelah sarapan aku segera berangkat. aku akan kembali sebelum jam makan siang. kita makan siang bersama." ucap Andra mengajak.


"baiklah mas, aku tunggu di apartemen ini." jawab Emma dengan senang.


"terima kasih, sayang. aku berangkat dahulu." pamit Andra sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Andra segera berpamitan dengan istrinya dan segera berangkat bekerja, dia juga sudah menyiapkan sebuah kejutan spesial untuk istrinya nanti malam. maka dari itu sebisa mungkin dia akan menyelesaikan pekerjaannya secepatnya.


pagi ini Andra akan menyelesaikan pekerjaannya dan memimpin meeting bersama dan segera meninjau lokasi pembangunan proyek yang dia tandatangani dan kerjakan. proyek ini nantinya proyek yang akan membuat Andra semakin berjaya.


"Andra!" panggil Yuna seketika yang berjalan menghampiri Andra.


kening Andra mengerut mendapati wanita yang dia ingin hindari. Ya, Yuna wanita yang ingin dia hindari muncul di hadapannya saat ini. wanita yang membuatnya harus berhati-hati terutama yang berhubungan dengan Emma istrinya. Andra tahu bahwa Yuna mencintai dirinya dan menginginkannya sejak dahulu, tetapi dia tidak bisa mencintainya.


"Andra kamu ingin ke proyek pembangunan? aku ikut dengan kamu, soalnya aku juga ingin meninjau proyek kita!" ucap Yuna menjelaskan tujuannya.


"aku buru-buru!" ucap Andra sambil berjalan melangkah pergi meninggalkan Yuna.


"Andra tunggu!" pekik Yuna mengejar Andra.


Yuna mencekal tangan Andra secepat mungkin, dia tidak ingin sampai usaha dan rencananya gagal begitu saja.


"aku ikut dengan kamu, aku tidak membawa mobil." ucap Yuna meminta.


Yuna langsung menggandeng tangan Andra dan bersandar di bahu Andra sampai masuk ke dalam mobil dengan senyum yang mengembang, tanpa dia sadari bahwa rencana pertama Yuna telah berhasil tinggal menunggu rencana selanjutnya.


"lepaskan Yuna, tidak seharusnya kamu berbuat seperti itu!" ucap Andra marah dengan suara baritonnya, dia menatap tajam kearah Yuna.


"Andra kita sama-sama sudah tahu, sejak dahulu aku memang seperti ini. kamu bahkan dengan santai membiarkan aku bersandar di bahu kamu tanpa protes sedikitpun." ucap Yuna kesal.


"itu dahulu, jangan samakan dahulu dengan yang sekarang. kita sudah berbeda!" ucap Andra dengan suara tinggi.


setibanya di lapangan Andra bergegas turun dan meninggalkan Yuna sendirian. Yuna segera menyusul Andra untuk melancarkan rencananya yang kedua. Yuna selalu mendekat dan sesekali bermesraan dengan Andra walaupun hasilnya tetap dia mendapatkan tatapan tajam dari Andra.


"cukup Yuna!" pekik Andra marah.


Andra yang sudah kehabisan kesabarannya langsung menyeret tubuh Yuna ke tempat sepi dan mencengkram tangannya.


"kamu tidak akan pernah bisa untuk mencegah aku tetap berada di samping kamu Andra. kita dari kecil sudah bersama." ucap Yuna menantang Andra.


"apa mau kamu." tanya Andra sengit.

__ADS_1


"jadikan aku satu-satunya di hati kamu!" ucap Yuna tersenyum lebar.


__ADS_2