
Emma ragu akan membuka isi dari amplop coklat yang barusan Farhan berikan. tapi dia juga penasaran apa isi dari amplop ini. apakah sesuatu hal yang menyenangkan atau hal buruk.
"bukalah, Emma. setelah membukanya kamu akan tahu apa isi dari amplop itu. tidak usah ragu, percayalah." ucap Farhan menyakinkan untuk Emma membuka dan melihatnya.
Emma membuka amplop tersebut dan betapa terkejutnya dia saat ini. Emma melihat semuanya dengan seksama. batinnya menjerit, ingin menolak kenyataan tapi ini semua seperti nyata baginya. seketika air matanya meleleh menetes membasahi wajah cantiknya, dia tidak ingin mempercayainya tapi ini? astaga?
"Emma jangan menangis yah!" kata Farhan mencoba menenangkan dan berjongkok mengusap air mata Emma yang terus menetes.
"maafkan aku, Emma. aku tidak bermaksud membuat kamu menangis atau bersedih seperti ini." sesal Farhan di hadapan Emma.
"tapi, kamu harus mengetahuinya yang sebenarnya Emma. aku lakukan semua ini hanya ingin mengubah cara pandang kamu terhadap Andra. aku sudah kehabisan cara untuk memberitahu kepada kamu, hanya ini bukti yang terakhir untuk mengingatkan kamu." penjelasan Farhan penuh ketulusan.
"aku tidak tahu, mas. antarkan aku pulang." pinta Emma dan menghapus sisa air matanya.
"baiklah, ayo aku antarkan kamu pulang. tenangkanlah pikiran kamu, Emma." pinta Farhan terhadap Emma.
di dalam perjalanan menuju apartemen, Emma hanya diam memandang keluar jendela. pikirannya bercabang kemana-mana saat dia sudah melihat foto yang diberikan oleh Farhan.
"terima kasih mas, sudah mengantarkan aku. aku ke atas dahulu, selamat malam." pamit Emma dan dia bergegas keluar dari mobil Farhan masuk ke dalam apartemennya.
"apa yang harus aku lakukan, apa aku harus mempercayai semua ini." batin Emma, dia terus menangis tersedu di sepanjang koridor menuju huniannya.
Emma merebahkan dirinya di atas ranjang kamarnya. dia kembali mengeluarkan amplop coklat yang diberikan oleh Farhan waktu di restoran tadi. dia kembali melihat satu persatu foto tersebut. apakah ini foto asli atau rekayasa?
"mengapa semua menjadi seperti ini. apa foto ini benar adanya? jika benar, aku harus bagaimana? mengapa hati ini sakit sekali? ada apa dengan aku? apa aku sebenarnya mulai manaruh hati kepadanya? aku hanya orang biasa yang kebetulan mempunyai hutang budi dengannya. apakah pantas jika aku merasa kecewa dan ada rasa takut mengetahui kenyataan ini?" gumam Emma di kamarnya sambil menangis terisak.
Arrrrgggghhhhhhhhh PRANK!!!!
botol yang berada di tangannya hancur membentur kerasnya dinding itu dan berakhir menjadi serpihan kaca.
dia kesal kenapa lagi dan lagi selalu Farhan bisa memanfaatkan keadaan.
"lihatlah nanti siapa yang akan mendapatkan Emma seutuhnya. aku pastikan kamu tidak akan bisa berjumpa dengannya kembali." cetus Andra yang masih diliputi oleh amarahnya.
Andra meraih kunci mobilnya dan keluar, dia butuh hiburan yang menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh hebat. dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam yang padat untuk menuju ke club malam yang cukup terkenal. dia memesan satu minuman untuk menemaninya malam ini. dia butuh pelampiasan untuk saat ini, malam yang panjang dia habiskan berada di club tersebut.
Pagi hari Andra memimpin rapat dengan tidak fokus. pikirannya tertuju pada Emma dan Farhan. tangan Andra menggulir ponselnya melihat betapa intimnya mereka menjalin hubungan.
__ADS_1
"lihat saja apa yang bisa aku lakukan." ucap Andra menahan amarahnya sorot matanya terus menatap tajam foto yang ada di dalam ponsel genggamnya tersebut.
Andra lupa waktu kalau dia sedang memimpin rapat proyek yang dia jalani saat ini. dia tersadar saat Rayken menepuknya dan buru-buru Andra meletakkan ponselnya lalu berdehem sebentar.
"hmm... jadi bagaimana?" ucap Andra seketika terkaget.
"bagaimana, maksud pak Andra apa?" tanya klien Andra yang duduk di hadapannya.
"kami menunggu keputusan pak Andra saat ini." ucap klien yang lainnya.
"keputusan? Rayken yang akan memutuskannya, saya permisi." pamit Andra tergesa-gesa.
"tapi pak Andra?" pekik Rayken terkejut.
"tidak ada tapi-tapian lakukan saja. aku mempercayai kamu, Ray." ucap Andra sambil menepuk pundak Rayken.
Andra pun langsung meninggalkan ruang meeting tersebut dan segera keluar dari kantornya. dia sangat penat dan pusing banyak sekali masalah yang akhir-akhir ini menggangu pikirannya, dia butuh menenangkan dirinya.
Ting!
"apa yang diberikan Farhan kepada Emma? kenapa Emma sampai menangis seperti itu?" gumam Andra resah.
"Arrrggghhhh sialan awas kamu Farhan!" teriak Andra mengepalkan tangannya hingga kubu-kubu jarinya terlihat memutih menahan amarahnya.
Andra menghubungi seseorang untuk memata-matai Farhan.
"awasi semua aktivitas yang Farhan lakukan, cari tahu apa saja yang dia lakukan." perintah Andra dengan suara bergetar.
" .... "
__ADS_1
anak buahnya belum juga menjawab tapi sambungan sudah dia putuskan.
Andra menepikan mobilnya di tepi danau dan dia membuka laptopnya untuk melihat apa yang Emma lakukan setelah pulang dari makan malam itu.
"mengapa kamu menangis, Emma? apa yang keparat itu berikan hingga kamu seperti ini?" batin Andra bersedih.
Andra memperbesar kertas yang Emma letakkan di meja riasnya. betapa terkejutnya jika itu semua foto dirinya.
Ya, memang Andra sudah menyuruh orang untuk meletakkan kamera CCTV di kamar tersebut, karena aktivitas Emma lebih banyak di dalam kamarnya saat dia tidak berada di sana.
"sialan kamu bisa-bisanya memberikan Emma foto seperti itu, kamu ingin menghasut Emma untuk meninggalkan aku, kamu tidak tahu siapa aku Farhan!" geram Andra di dalam mobil.
pagi-pagi sekali Emma berbelanja bahan-bahan untuk membuat dessert box pesanannya. dia akan membuat di apartemennya saja lalu mengantarnya ke cafe pelangi. Emma ingin menenangkan hatinya sejenak. kalau saja hari ini tidak ada pesanan, mungkin dia akan pergi berlibur dan menenangkan dirinya.
Ting!
sebuah pesan masuk di ponselnya. Emma membuka ponselnya dan membacanya. terlihat di layar ponselnya nama pesan yang menghubunginya ternyata dari Qonita yang menanyakan dirinya berada saat ini. Emma hanya membacanya tanpa membalas pesan tersebut.
berkali-kali ponselnya berdering, dia tidak menghiraukannya. Emma hanya fokus membuat pesanan dessertnya saja.
tepat pukul 11 siang Emma telah usai membuat pesanannya. dia memesan taksi dan segera membawa pesanan itu ke cafe. Emma sengaja tidak menggunakan sopir seperti biasanya. rencananya dia setelah mengantar pesanannya dia akan menenangkan diri sejenak dan melupakan fakta yang dia ketahui dari Farhan semalam.
"Emma kamu membuat aku khawatir. kamu kemana saja? kenapa aku menghubungi kamu tapi tidak kamu angkat?" tanya Qonita melayangkan protesnya.
"maaf, Nit. aku sibuk membuat pesanan ini. Ini pesanan spesial untuk ibu Indira, aku hanya fokus membuat dessert ini agar ibu Indira merasa puas, maafkan aku yah!" ucap Emma memberi penjelasan dengan senyumnya seperti biasa.
"baiklah aku hanya mencemaskan kamu saja, tidak biasanya kamu menghilang tanpa kabar. aku takut kejadian seperti dulu menimpa kamu kembali." ucap Qonita yang kini sudah tidak khawatir lagi.
"tenang, Nit. aku baik-baik saja, apa pak Farhan ada di ruangannya?" tanya Emma sambil tersenyum dan meletakkan dessert pesanannya di tempat khusus.
"ada Emma. dia sepertinya juga mencari kamu, dia yang meminta aku untuk menghubungi kamu tadi." jawab Qonita jujur.
"Ya sudah, aku ke ruangannya dahulu. ada yang ingin aku sampaikan dengannya, dan minta tolong nanti kalau ada yang mau mengambil dessertnya tolong tunggu aku sebentar." ucap Emma sambil tersenyum dan meninggalkan Qonita.
"aku merasa ada yang aneh dengan kamu. apa kamu sedang ada masalah, Emma? kamu tidak seperti biasanya hari ini?" batin Qonita saat melihat Emma pergi ke ruangan Farhan.
__ADS_1