MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
MENGUNJUNGI SAHABAT


__ADS_3

Sesudah makan malam bersama di keluarga Pradipta Wijaya. Andra membawa Emma pulang ke apartemennya walaupun Mami Indira sebenarnya ingin Emma tetap tinggal di rumahnya, tapi Andra terlalu bersikeras untuk kembali ke apartemen.


"mas, boleh ya besok aku ingin bertemu dengan Qonita. aku merindukannya, aku di Jakarta tapi belum berkesempatan untuk bertemu dengannya." ucap Emma memohon yang kini mereka tengah bersantai di ruang televisi.


Andra membuang napas panjangnya sampai terdengar oleh Emma.



"baiklah, tetap dengan pengawasan tidak lebih dari 3 jam saja." ucap Andra pasrah, mana mungkin dia memisahkan sahabat satu-satunya Emma. Qonitalah yang selama ini selalu bersama Emma.


"terima kasih, mas." ucap Emma dengan senyum bahagianya, sebenarnya dia takut tidak diizinkan oleh Andra.


Emma terus berusaha mencoba dan syukurlah Andra akhirnya memberikan izin untuknya bertemu dengan Qonita, walaupun tetap bersama Vega dan kedua anak buah Andra yang ditugaskan untuk mengawalnya. bagi Emma itu tidaklah masalah yang terpenting baginya adalah bisa bertemu dengan Qonita.


"istirahatlah Emma ini sudah larut malam!" perintah Andra yang menatap lekat Wajah Emma yang berada di sampingnya.


Emma mengangguk dan segera beranjak pergi untuk memasuki kamarnya, dia terlalu bersemangat untuk menunggu hari esok. pagi telah tiba, Emma sudah menyiapkan sarapan untuk Andra tidak lupa dia juga sudah menyiapkan makanan untuk sahabatnya. pagi ini setelah Andra berangkat Emma juga akan bersiap menuju kontrakan Qonita sahabatnya.


"hmm... Istri aku ini, selalu bisa memanjakan lidah dan perut suaminya." gurau Andra yang kini sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"hmm... istri? siapa istri, mas? perasaan aku masih single belum menikah!" tanya Emma pura-pura, dia mencoba menahan tawanya tapi akhirnya pecah juga tertawa Emma.


"ampun mas geli, cukup becandaannya! iya iya, aku minta maaf!" ucap Emma sambil mengatur napas dan tertawanya.


Andra yang langsung berhenti menggelitiki Emma lalu tangannya mencubit gemas hidung Emma.


"sudah mulai berani sekarang ya?" ucap Andra dengan gemas.


"ampun mas, aku hanya bercanda tapi bukannya benar kalau kita belum menikah. pernikahan kita masih bulan depan." ucap Emma berusaha mengingatkan ditengah canda tawa mereka.


"awas ya, setelah menikah kamu tidak akan aku lepaskan, ingat akan ada hukuman untuk kamu, sayang!" ucap Andra sambil mengedipkan sebelah matanya.


"aku bukannya sudah minta maaf, mas." gerutu Emma dengan wajah masih menahan tawa.

__ADS_1


"hmm... nanti malam aku akan buatkan makan malam spesial untuk kamu, mas. sekarang buruan sarapan sudah siang." perintah Emma pada Andra dengan senyuman manisnya.


"aku bosnya, sayang. terserah aku mau berangkat jam berapa? kamu mengusir aku?" jawab Andra dengan wajah datar.


"hmm... kenapa sensitif banget sih mas pagi ini? bukan mengusir mas, bukankah akhir-akhir ini mas sibuk sekali? katanya setelah menikah akan menikmati liburan. mas gak jadi bawa aku berlibur? lagi pula itu sarapan nanti keburu dingin!" gerutu Emma yang masih berada di dalam pelukan Andra setelah Emma di gelitikinya.


"baiklah nona manis, mari kita sarapan bersama!" ucap Andra sambil mengacak rambut Emma dengan penuh sayang.


selesai sarapan Andra langsung berpamitan untuk bekerja, kini Emma memanggil asistennya Vega untuk segera datang ke apartemennya. Emma membutuhkan bantuan Vega untuk menemaninya.


"nona Emma, apakah anda akan membawa semua hidangan makanan ini?" tanya Vega heran mengeryitkan keningnya.


"Iya Vega, ini adalah makanan kesukaan sahabat aku selama ini yang selalu membantu dan mendukung aku, aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Ah, sudahlah nanti kamu juga akan tahu. aku ke kamar dahulu ganti baju." ucap Emma dan segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. jika mengingat kejadian beberapa bulan terakhir membuat hatinya nyeri dan sedih.


"semoga pelangi ini akan selalu memberikan warna dalam kehidupan aku kedepannya." gumam Emma lirih di depan cermin kamarnya.


Emma tersenyum menghapus kenangan buruk yang dia jalani.


"Vega, ayo kita berangkat." ucap Emma mengajak yang sudah berganti pakaian dan siap berangkat menemukan sahabatnya.


Emma mengetuk pintu kontrakan Qonita, dia berharap Qonita masih berada di rumah kontrakannya.


"Emma!" pekik Qonita yang kaget saat membuka pintu rumah kontrakannya, dia menghambur ke dalam pelukan sahabatnya.


"akhirnya kamu mau menemui aku juga, aku kira setelah menjadi nyonya Andra tidak mau menemui aku lagi." ucap Qonita senang.


"huusss sembarangan kamu Qonita. aku selalu mengingat kamu, tapi kamu tahu sendiri aku sibuk sekali akhir-akhir ini. makanya aku selalu bercerita kepada kamu bukan?" ucap Emma menjelaskan.


"Iya iya, nyonya besar bos Andra. mari masuk sekarang kemana-mana selalu di kawal nih. benar-benar sudah menjadi orang penting kamu, Emma? bagaimana rasanya menjadi orang penting, Emma?" tanya Qonita yang melihat bahwa di dalam mobil terdapat orang yang sedang mengantar dan mengawasi Emma.


apalagi dia juga sudah tahu bahwa Emma diberikan satu asisten khusus untuk membantu dan menemaninya kemanapun Emma pergi.


"sudahlah Qonita, ini aku buatkan makanan kesukaan kamu." ucap Emma sambil menyerahkan paperbag yang berisi makanan untuk sahabatnya.

__ADS_1


"wah terima kasih Emma, kamu memang sahabat terbaik aku. aku sudah lama sekali tidak makan masakan kamu, sekarang terpaksa masak sendiri." ucap Qonita mengenang saat-saat masa susah bersama sahabatnya.


kini nasib hidup sahabatnya berubah drastis karena mendapatkan keberuntungan yang dia peroleh dari seorang pria yang tampan dan kaya raya yang terpesona akan kecantikan Emma, saat sahabatnya itu masih bekerja bersama dengannya di cafe pelangi milik Farhan.


"dahulu sebelum ada aku, kamu juga selalu beli makan, Qonita." ucap Emma lagi mengingatkan sahabatnya.


"Iya Emma, tapi boros kalau beli makan terus menerus, bagaimana aku bisa menabung seperti kamu. bagaimana mungkin hidup aku cuma begini-begini saja. kamu enak sekarang, sudah menjadi istri milyader tampan kaya raya pula, tidak usah bekerja uang mengalir terus." ucap Qonita panjang lebar, dia sedikit protes.


"ralat, calon istri belum menjadi istri, Qonita!" protes Emma seketika dengan wajah memerah.


Vega yang menyaksikan interaksi antara bosnya dengan sahabatnya tersenyum dan terharu. baru kali ini dia melihat Emma tertawa lepas dan bahagia. sayangnya dia sendiri nasibnya berbanding terbalik dengan sahabatnya yang telah pergi meninggalkannya saat dia terpuruk. kini dia harus menanggung menjadi tulang punggung keluarganya setelah ayahnya pergi entah kemana dan ibunya jatuh sakit.


tawaran menjadi asisten untuk Emma sangatlah menggiurkan, dia juga merasa bahagia uang yang dia dapatkan bisa membantu mengobati sakit ibunya. apalagi Emma juga sangat baik kepadanya. Vega sangat beruntung bekerja kepada Andra yang bertugas mengurusi Emma yang sangat baik, walaupun Vega tahu konsekuensinya jika bekerja dengan Yosandra Regan Pradipta Wijaya sebisa mungkin dia akan patuh dan mengikuti perjanjian yang telah dia tandatangani sebelumnya.


"Vega kenalkan ini Qonita sahabat dekat aku, tempat aku berkeluh kesah dahulu hingga sekarang. dahulu disinilah aku tinggal selama hampir tiga tahun lebih." ucap Emma menjelaskan kepada Vega.


Vega tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"nona Qonita salam kenal." ucap Vega ramah dan sopan.


"aduh Vega jangan panggil aku nona! aku cuma orang biasa, panggil saja aku Qonita atau Nita. Nah kalau yang di dekat kamu itu baru nyonya sesungguhnya." ucap Qonita bercanda sambil matanya melirik ke arah Emma, dia terus menggoda sahabatnya tersebut.


Emma memelototkan matanya dan segera mencubit lengan Qonita yang berdiri di sampingnya.


"Qonita! sudahlah buruan kamu simpan makanannya dan kamu sarapan, aku tidak bisa lama berada disini, kita habiskan waktu ini seperti dahulu." ucap Emma memarahi Qonita. Ya, waktu yang diberikan oleh Andra terbilang sangat sebentar oleh Emma. namun, bagi Emma sudah cukup untuk bertemu dengan sahabatnya. mungkin lain kali dia akan meminta izin kepada Andra lagi untuk bertemu dengan Qonita kembali.


tidak terasa waktu berlalu begitu cepat 3 jam sudah Emma berada di kontrakan Qonita, bercanda dan bersenda gurau waktu bagi Emma mengunjungi sahabatnya telah habis. kini Emma akan segera kembali pulang, dia sempat mengantarkan Qonita berangkat kerja di cafe pelangi, ingin rasanya dia datang ke sana dan bertemu dengan Farhan tapi dia terhalang oleh waktu.


"selamat bekerja, Qonita. salam buat Pak Farhan." ucap Emma sebelum Qonita masuk ke dalam cafe tempat dia bekerja.


"siap nyonya muda." jawab Qonita menggoda sambil bergegas menuju pintu masuk cafe pelangi.


Emma tersenyum memandangi sahabatnya.

__ADS_1


"semoga aku bisa berkunjung lain waktu." ucap Emma sambil terus memandangi cafe tempat dimana dia merintis usahanya. Cafe tempat perjuangannya untuk meraih kesuksesan seperti sekarang ini.


__ADS_2