MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
KECEWA


__ADS_3

POV ANDRA


aku pergi dari villa saat masih pagi, sebelum pergi sengaja aku buatkan sarapan untuk Emma. aku tidak ingin pergi sebelum berpamitan kepada Emma, tapi aku lihat dia masih tertidur begitu pulas. tidak tega aku bangunkan akhirnya aku tulis memo dan aku tempelkan di pintu lemari pendingin.


Pagi ini aku harus segera menyelesaikan urusanku terhadap orang-orang yang mengganggu milikku. sungguh lelah hari ini, aku langsung masuk ke kamar Emma dan merebahkan tubuhku di sampingnya. tidak ada respon apapun darinya, sepertinya dia sedang melamun bahkan saatku buka pintunya dia tidak menoleh atau melihatku.


"Emma!" panggilku dan aku terus memanggilnya hingga dia terlihat terkejut akan kehadiranku di sampingnya.


"kamu memikirkan apa?" kataku lagi.


"hmm... gak mas, aku tidak memikirkan apa-apa." itulah jawaban Emma, dia menutupi sesuatu dariku.


"aku dari tadi berada di kamar ini, tapi kamu tidak menghiraukan kehadiranku. mana mungkin kamu tidak memikirkan apa-apa, jangan berbohong Emma!"


aku menunggu jawaban darinya dan dia malah terlihat melamun kembali. akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat saja siang ini, mungkin nanti aku bisa membahasnya kembali.


"Ya sudah aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku satu jam lagi." ucapku sambil memejamkan mata.


Ceklek!



pintu kamar ini terbuka, dan aku segera memejamkan mataku kembali. aku ingat tadi sebelum tidur sempat memintanya untuk membangunkanku satu jam lagi. ternyata dia mengingatnya dan dia mungkin akan membangunkanku. aku menahan senyum ini sebisa mungkin dan rasa bahagia ada di hatiku.


Ya aku mengakui aku jatuh cinta padanya. aku tidak bisa membohongi hati ini, perasaan ini beda dengan saat aku menjalin hubungan dengan Mita.


kutunggu-tunggu tidak ada jawaban atau panggilan yang membuatku harus segera bangun. aku membuka mata ini, dan mendapati Emma tengah melamun lagi dengan menatapku.


"sudah cukup yang memandangiku. aku memang tampan, Emma." ucapku sambil tersenyum.


Ah Emma sangat lucu sekali jika terkejut seperti itu. makin gemas saja rasanya ingin segera kumiliki dia seutuhnya.


kutarik tangannya hingga dia terjatuh diatas tubuhku. memandangi wajah cantik dan manisnya membuat hati ini terlena. entah mengapa aku secara refleks menekan tekuknya untuk kucium.

__ADS_1


Plakkk!



tiba-tiba Emma menampar pipiku dan langsung mengeluarkan amarahnya.


"mas, jangan kurang ajar terhadap saya. mas, pikir aku sama dengan wanita-wanita di luaran sana yang dengan mudahnya luluh dan bisa mas pakai begitu saja, bahkan dengan mudahnya mereka rela dijamah, mas! maaf mas aku bukan wanita seperti yang mas pikir atau mas bayangkan. aku berbeda dari mereka yang rela mendapatkan uang dengan menyerahkan tubuhnya kepada, mas." ucap Emma penuh dengan kemarahan.


betapa panas tamparan dari Emma, bisa-bisanya dia berbuat itu kepadaku. segera kukeluarkan foto-foto yang dahulu diberikan oleh Farhan kepada Emma. Ya aku memang sempat meminta Rayken untuk mengirim foto itu. niat hati ingin membicarakan dengan Emma, tapi dia meluapkan emosinya sekarang. amarah ini kembali memuncak, segeraku ambil foto itu di dalam laci nakas samping tempat tidur, dan kulemparkan foto-foto itu.


"aku laki-laki normal, Emma. aku butuh pelepasan dan hiburan. wanita-wanita itu juga butuh uang, apa salahnya aku jika aku memakainya dan memberikan mereka uang. aku puas dan mereka pun puas dengan uang yang aku berikan. bukankah wanita juga butuh biaya lebih besar, maka aku dengan senang hati memberikan uang lebih jika mereka memuaskan aku."


"ada yang salah dengan perkataan aku Emma. bukankah wanita memang seperti itu?" sambungku kembali.


entah kenapa setelah aku mengungkapkan semuanya, hati ini terasa lebih sakit. melihat wanita yang aku cintai menangis membuatku menjadi bersalah.


Ini semua salah Farhan, jika dia tidak mengungkap masa laluku ini tidak akan terjadi.


"Emma! jika kamu berani keluar dari sini, kamu akan tahu akibatnya!" teriak Andra yang melihat Emma lari turun dari kamarnya.


Emma tidak menghiraukan perkataan Andra, dia hanya ingin pergi menjauh sejauh-jauhnya dari Andra, berharap tidak pernah bertemu kembali. tujuan utamanya adalah ke rumah bik Siti, karena dia yakin kunci dan tasnya tertinggal di bawa oleh Santi.


Emma terus berlari meninggalkan villa milik Andra, dengan hati yang terlanjur terluka Emma tidak peduli bahwa kakinya terluka. luka di kakinya tidak sesakit luka yang dia rasakan di hatinya.


"Santi." panggil Emma, saat dia melihat Santi yang tengah mengangkat jemurannya.


merasa dipanggil Santi segera membalikkan badannya, dan dia terkejut melihat Emma telah berada di halaman rumahnya.


"kak Emma." sahut Santi, dan segera mendekati Emma.


Santi menuntun Emma ke dalam rumah, yang terlihat kecapaian dan lemas.


"kakak duduk dulu disini, Santi ambilkan air minum sebentar, yah." ucap Santi sambil melangkah berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Emma hanya mengangguk saja, karena dia begitu lelah sekali berlari dari villa Andra hingga kemari. jarak yang lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.


"kak diminum dulu tehnya." kata Santi sambil memberikan secangkir teh hangat manis kepada Emma.


Emma segera menerima lalu meminumnya. tenggorokannya begitu terasa kering sekali saat berlari tadi.


"terima kasih Santi." ucap Emma setelah dia meneguk habis teh yang diberikan oleh Santi.


"maaf kak, kalau boleh tahu kakak dari mana?" tanya Santi bingung.


"aku dari villa mas Andra, kamu ingat yang menolong kita waktu dipemandian?" tanya Emma mengingatkan.


"Iya kak aku mengingatnya, sebentar aku ambilkan dahulu kotak obat buat obati kaki kakak yang terluka." pamit Santi saat dia melihat kaki Emma terluka.


Santi segera membersihkan luka di kaki Emma dan mengobatinya. dia ingin bertanya lebih jauh tapi dia tidak berani bukan haknya untuk ikut campur masalah orang lain.


Santi maafkan aku yang pergi meninggalkan kamu waktu itu. aku benar-benar sudah shock saat itu. aku tahu, aku harusnya mengajak kamu juga bukan malah meninggalkan kamu sendirian, kita sama-sama menjadi korban." ungkap Emma menyesali.


"sudah tidak apa kak, aku diantarkan oleh anak buah pak Andra. aku yang salah, harusnya tidak mengajak kakak kesana. jadi maafkan aku yah kak, liburan kakak menjadi liburan yang tidak menyenangkan bahkan membuat kakak hampir celaka.


"tidak apa-apa Santi, sudahlah musibah tidak ada yang tahu bukan. terima kasih kamu sudah mengajak aku berlibur, sepertinya aku akan pulang malam ini." ucap Emma sambil memeluk Santi.


"Owh iya, dimana bik Siti?" tanya Emma yang dari tadi tidak melihat keberadaan bik Siti.


"Ibu baru diladang kak, sebentar lagi juga pasti kembali." jawab Santi menjelaskan.


Emma menanggapinya dengan senyum, sebaiknya sebelum dia kembali ke Jakarta lebih baik dia meminta maaf dahulu kepada bik Siti. dia akan menunggu saja di rumah ini, akan lebih aman jika dia berada di sini sementara waktu.


"kak, ini tas kakak." ucap Santi sambil memberikan tas milik Emma.


"terima kasih Santi boleh aku meminjam pengisi dayanya, sepertinya ponsel aku habis baterainya." kata Emma dan segera mencharger ponselnya.


sambil menunggu daya ponselnya terisi, Emma memejamkan matanya dan dia tertidur di ruang tamu milik bik Siti.

__ADS_1


__ADS_2