
Pagi-pagi sekali Andra mendatangi Emma seperti biasa, dia memilih sarapan yang di buatkan Emma. baginya masakan Emma sangat menyenangkan perutnya.
"mas Andra sudah disini? sebentar mas, aku siapkan kopinya dahulu. mas sarapan saja." ucap Emma yang sehabis menjemur pakaiannya di teras balkon samping apartemennya.
"Emma nanti aku akan pergi ke Dubai ada perjalanan bisnis di sana, kurang lebih sekitar 2 mingguan. aku harap kamu tetap menempati apartemen ini, masih ingat persyaratan yang sudah aku berikan bukan?" ucap Andra sambil menikmati sarapannya.
"Iya mas aku ingat, aku akan tetap berada disini menjaga apartemen ini mas." jawab Emma dengan senyumnya.
"baiklah kalau kamu sudah jelas, dan untuk kamu bekerja ada sopir yang akan mengantar jemput kamu setiap harinya. ini kartu untuk keperluan kamu, gunakan sesuai kebutuhan kamu." ucap Andra sambil memberikan black card pada Emma.
"maaf mas Andra, mas tidak perlu kasih aku kartu ini. kebutuhan selama mas pergi semuanya masih cukup, lagi pula aku masih ada uang juga mas." tolak Emma dengan halus.
"tidak apa Emma kamu bawa saja jika kalau ada keperluan mendadak, uang kamu simpan saja. pergunakan kartu ini sebaik-baiknya, dan ingat tidak ada penolakan." ucap Andra tegas.
"baiklah mas aku ambil kartunya, terima kasih mas Andra. mas mau membawa bekal atau tidak?" tanya Emma menawarkan.
"siapkan saja bekal untuk aku." jawab Andra singkat.
"baik mas nanti tinggal dibawa saja, aku sudah menyiapkannya." ucap Emma lagi.
"ayo berangkat, aku akan mengantarkan kamu terlebih dahulu, dan nanti pulangnya biar sopir yang menjemput kamu." ucap Andra sambil memakai jasnya.
"Iya mas aku ambil tas sebentar." jawab Emma lagi.
Emma bergegas mengambil tas dan tidak lupa bekal makan siang untuk Andra dan dirinya nanti.
__ADS_1
"terima kasih mas Andra, hati-hati di perjalanan nanti." ucap Emma berpesan.
"Ingat pesan aku Emma, nanti sore biar sopir yang menjemput kamu jangan kemana-mana." peringatan Andra kembali.
entah mengapa saat Andra mengatakan bahwa dirinya akan melakukan perjalanan bisnis selama 2 minggu lamanya, ada perasaan hampa menyelimuti hati Emma, ada rasa sedih ditinggal sosok pria yang selama beberapa ini tinggal bersamanya.
"ada apa dengan pikiran aku ini tentang mas Andra, harusnya aku bahagia tidak berada di dekatnya. aku bisa bebas melakukan apa pun, tentang sopir nanti bisa aku atur saja bukan?" batin Emma terhibur.
"Emma kamu kenapa senyum-senyum sendiri masih pagi, baru di lamar pak Andra bukan?" tanya Qonita yang penasaran akan tingkah Emma.
"pikiran kamu Nit, tidak jauh-jauh dari menikah dengan mas Andra. aku bahagia mas Andra sedang melakukan perjalanan bisnis selama 2 minggu, jadi aku sedikit bebas darinya." protes sekaligus penjelasan Emma.
"Wah berarti kamu bisa kembali ke kontrakan Emma. sepi tahu tidak ada kamu aku hanya sendiri, biasanya ada kamu yang ngeramain dari pagi sampai malam hari." ucap Qonita sambil tersenyum lebar.
"kalau menginap aku tidak bisa, Qonita. tapi kalau menghabiskan waktu lebih lama di kontrakan itu mah bisa di atur, kita bisa masak-memasak lagi seperti dahulu." ucap Emma menjelaskan dengan senang untuk menghibur sahabatnya.
"baiklah nanti aku menyusul pak." ucap Emma dengan senyumannya.
"baik aku tunggu di kantor." ucap Farhan meninggalkan Emma yang masih berdiri di kasir depan.
"ada yang aneh tidak sih Emma, dengan pak Farhan?" tanya Qonita mengeryitkan dahinya.
"tidak tahu juga sih Nit, aku ke ruangannya dahulu." pamit Emma bergegas menemui Farhan.
Tok! tok! tok!
"masuk." teriak Farhan dari dalam ruangannya.
__ADS_1
Emma membuka pintu ruangan itu dengan tersenyum setelah di persilahkan masuk oleh Farhan.
"ada apa kamu mencari aku, mas?" tanya Emma penasaran.
"silahkan duduk dulu Emma." ucap Farhan mempersilahkan Emma.
"apa ada masalah mas?" tanya Emma kemudian setelah dia duduk di sofa ruang kerja Farhan.
Farhan membuang napas panjangnya lalu berkata.
"Emma kamu jawab jujur ke saya, apa kamu dipaksa untuk tinggal di apartemen Andra?" tanya Farhan selidik.
Emma terkejut saat Farhan menanyakan perihal itu kepadanya.
"kamu tahu dari mana mas, jika aku tinggal di apartemen mas Andra?" tanya balik Emma.
"kamu jelaskan saja, apa benar kamu sekarang tinggal di apartemen Andra? jujur sama aku Emma, kalau kamu butuh bantuan dari aku untuk keluar dari sana, aku akan dengan sangat senang membantu kamu." ucap Farhan menawarkan bantuan.
Emma terdiam sejenak, sambil membuang napasnya dan menjawab pertanyaan Farhan.
"Iya mas, sekarang aku tinggal di apartemen mas Andra. aku tidak terpaksa untuk mau tinggal di sana, anggap saja aku memiliki hutang budi kepadanya. karena dia aku bisa selamat, makanya saat mas Andra menawarkan aku untuk menjaga apartemennya aku langsung menyetujuinya, dan mas Andra masih tetap mengizinkan aku untuk masih bisa bekerja disini." penjelasan Emma dengan panjang.
"apa tidak ada cara lain untuk kamu tidak tinggal di sana lagi? aku khawatir dengan keselamatan kamu. aku tahu siapa Andra sebenarnya, bagaimana sifatnya." ucap Farhan mencoba untuk menjelaskan agar Emma keluar dari apartemen itu.
"kamu tenang saja mas. mas Andra memperlakukan aku dengan amat sangat baik, lihat aku masih sehat dihadapan kamu bukan? lagi pula mas Andra tidak tinggal di sana mas, dia tetap tinggal di rumahnya. dia kesana hanya untuk menjemput aku bekerja saja, tidak lebih dari itu." ucap Emma mencoba menjelaskan kepada Farhan.
"tapi Andra memiliki sifat yang tidak baik Emma, percaya dengan saya. berapa yang dibutuhkan Andra agar kamu terlepas darinya? aku akan membayarnya, aku akan memberikan semua yang Andra minta agar kamu terlepas darinya. aku merasa khawatir Emma, kamu sudah aku anggap seperti adik aku sendiri." ucap Farhan menceritakan kecemasannya.
Farhan menghembuskan napasnya dengan kasar dan terlihat ada gurat ke khawatiran tentang nasib Emma nantinya. apakah dia akan tetap tinggal diam dan menghilangkan rasa khawatir terhadap Emma? karena dia tahu siapa Andra dan bagaimana sifat Andra yang sebenarnya.
__ADS_1